ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MEMINTA IZIN


__ADS_3

Sudah larut malam Tika dan Shin masih duduk berdua di ruang tamu menunggu suami masing-masing pulang.


Di atas meja ada pesan dari orang tua untuk segera disetujui, tapi para pria belum ada yang kembali.


"Kenapa sudah larut malam belum kembali?" Tika menatap pintu dengan wajah sedih.


"Sepertinya acaranya sudah berakhir Tik, seharusnya tadi kita pergi berdua saja." Bibir Shin monyong ke depan merasa kesal.


Helaan napas keduanya terdengar, memejamkan mata sebentar untuk melepaskan penat duduk menunggu.


Tidak terasa keduanya terlelap tidur sambil berpelukan, tidak menyadari jika Genta dan Juna sudah kembali.


"Kenapa tidur di sini?"


"Kak, lihat ini. Sepertinya ingin liburan, ada tiket pesawat." Juna menatap selembaran pulau untuk liburan bagi para pengantin baru.


Pelan-pelan Genta menggendong istrinya, memindahkan ke dalam kamar. Juna juga berdiri diam menatap Genta masuk ke kamarnya.


Juna kebingungan dia harus membangunkan atau menggendong ke lantai atas. Hubungannya dan Shin tidak sebaik Genta dan Tika.


"Shin, bangun. Pindah ke kamar, jangan tidur di sini." Juna mengusap lembut wajah istrinya yang masih menolak keberadaannya.


Saat tidur Shin sangat sulit bangun, tapi sentuhnya Juna membangunkannya yang langsung membuka mata.


"Ay baru pulang?"


"Iya, ada operasi besar. Kamu pindah ke kamar, aku tidur di kamar tamu. Hati-hati jalan menaiki tangga,"


"Gendong, Shin lemas sekali." Tubuh Shin langsung terkulai.


Tanpa bertanya, Juna langsung menggendong menaiki tangga. Kedua tangan Shin tergantung di leher mencium bau tubuh suaminya yang seharian tidak pulang, tapi masih wangi.


"Ay mandi parfum atau ...."


"Aku sudah mandi di rumah sakit Shin, tidak mungkin aku pulang dalam keadaan bau keringat." Juna menatap wajah terkejut, merasa dirinya salah bicara lagi.


"Ay mandi dengan siapa?"


Tawa Juna terdengar, meletakkan Shin di atas ranjang yang langsung cemberut memalingkan wajahnya hampir menangis.


"Memangnya boleh jika aku ingin mandi bersama kamu?" bisikkan di telinga Shin terdengar membuatnya merinding karena suara Juna.


Pukulan Shin mendarat membuat Juna meringis kesakitan. Darah keluar dari lengan Juna, dia mengalami luka yang sudah lama tidak diobati, tapi masih melakukan operasi.


"Ay, kenapa?"


"Lukanya berdarah lagi,"

__ADS_1


"Buka bajunya, Shin obati." Cepat Shin mengeluarkan obat, Juna tersenyum kecil melihat wajah cemas Shin.


Suara Shin mengomel terdengar karena luka tidak langsung diobati, pasti Juna menahan sakit berhari-hari.


"Sakit tidak?"


"Sakit, tapi di sini. Setiap kamu menolak, dada aku terasa sesak dan sakit, tapi tidak tahu obatnya." Tangan Juna menyentuh dadanya.


"Apa Shin menyakiti Ay? bahkan Shin juga pernah menampar." Lembut Shin mengusap wajah Juna yang pernah merah karena tamparan kuat.


Senyuman Juna terlihat, melepaskan bajunya melihat luka yang sudah Shin obati. Juna mencari bajunya, tapi Shin menghentikan.


"Tidak perlu menggunakan baju, Shin lebih suka begini. Bukan maksudnya lengan Ay luka, nanti berdarah lagi jika terkena baju. Obatnya bisa lengket di baju ... anu, jangan berpikir Shin punya pikiran kotor, sebenarnya." Shin menundukkan kepalanya menahan malu, memukul mulutnya yang bisa-bisanya keceplosan hal yang tidak pantas.


Wajah Shin memerah, cepat dia naik ke atas tempat tidur. Memeluk guling, menarik selimut mengabaikan Juna yang mengganti baju.


"Kamu tidak masalah tidur sendiri?"


"Ay mau ke mana?"


"Tidur di kamar Mama Citra, tidak mungkin tidur dengan Genta." Tawa kecil Juna terdengar, merapikan bekas obat.


"Terus Shin sendiri, ya sudah. Aku pindah saja ke kamar Tika." Shin lompat dari atas tempat tidur ingin tidur bersama Tika dan Kakaknya.


Pergelangan tangan ditahan oleh Juna, mengunci pintu melarang keluar. Juna tidak habis pikir dengan Shin yang ingin tidur bertiga.


"Besok?"


Juna menakup wajah Shin, jika sudah tidur satu kali maka seterusnya akan sama. Juna mencium bibir tipis Shin yang langsung salah tingkah.


Shin kembali ke atas tempat tidur, menarik selimut menutupi tubuhnya. Juna juga naik melingkarkan tangannya di pinggang Shin, mengecup pundak membuat Shin mencengkram kuat seprai.


"Good night,"


Senyuman Shin terlihat, menyentuh tangan Juna yang masih ada di perutnya. Merasakan tangan, Juna langsung menggenggamnya.


"Mami dan Kak Di datang ke rumah,"


"Kenapa?"


"Mami ingin mengadakan pesta pernikahan kita, bagaimana menurut Ay?"


Pelukan langsung lepas, Shin melihat ke arah Juna yang menatap matanya. Jantung Shin berdegup, merasa cemas jika dia akan dilahap hidup-hidup.


"Aku menyetujuinya, bagaimana menurut kamu?"


"Shin ikut Ay saja,"

__ADS_1


Wajah Juna kembali mendekat, hanya saling tatap tanpa mengatakan apapun. Juna tidak menyukai dirinya yang terlalu tergila-gila, takutnya dia membuat Shin tidak nyaman.


"Shin, apa kamu menganggap aku sebagai suami?"


Kepala Shin mengangguk, menarik selimut menutupi tubuhnya hanya menyisakan kepalanya saja.


Perasaan cinta Shin sangat besar kepada Juna, tapi dia terlalu malu untuk mengakuinya jika menginginkan lebih. Rasa canggung masih terlalu besar.


"Good night Ay." Mata Shin terpejam membuat Juna tertawa.


"Kenapa tidur? berarti kamu tahu tugas sebagai istri?" jantung Juna berdegup tidak menyangka dirinya bisa mengatakannya.


Mata Shin terbuka kembali, dirinya tahu jika seorang istri memiliki tugas mengandung, melahirkan dan menyusui. Selebihnya bisa dilakukan bersama-sama.


"Kapan aku mendapatkan izin untuk memiliki kamu seutuhnya?" Juna tidur satu bantal dengan Shin yang kesulitan menelan ludahnya.


Selimut langsung menutupi kepala Shin, dia malu ditatap terlalu lama. Malu juga berhubungan suami istri.


"Ay Jun sama seperti Tika,"


"Kenapa?"


"Pikirnya liar sekali." Shin berteriak karena Juna memeluknya erat.


"Aku juga lelaki normal. Shin, aku menginginkan seorang Putri yang cantik seperti kamu, jahil, cerewet, tapi jangan nakal. Setidaknya nanti dia mirip aku saja." Juna menyatukan hidung keduanya sampai hembusan napas terasa.


"Bagaimana jika dia menjadi wanita dingin? seperti Ay." Shin mengusap wajah Juna yang ada bekas cakaran.


"Kita buat banyak-banyak." Pelukan Juna semakin erat, Shin juga memeluknya merasakan tubuh keduanya tidak berjarak sama sekali.


Bisikkan Juna kembali terdengar, meminta izin jika dia menginginkan wanita yang dicintainya.


"Ay, bagaimana dengan acara pernikahan?"


"Kita selesaikan saja dulu malam ini, boleh ya sayang?" suara Juna memelas terdengar, seperti seseorang yang sudah terlalu lama menunggu.


"Bagaimana jika Shin sudah tidak itu lagi?"


"Aku tidak peduli, cukup aku mencintai kamu. Aku ingin memiliki kamu bukan hanya karena berhubungan suami istri, tapi aku ingin kita menjadi satu penuh ketulusan." Ciuman Juna mendarat di mata indah Shin.


Kepala Shin mengangguk, memberikan izin kepada suaminya untuk memilikinya meksipun masih ada ketakutan di hati Shin.


Tangan Juna membuka selimut, suara ketukan pintu terdengar. Kening Juna DNA dan Shin berkerut menatap pintu kesal.


Jari telunjuk Juna berada di bibir Shin untuk diam, mengabaikan ketukan pintu.


****

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2