
Suara tawa terdengar mengiringi Salsa yang sudah boleh pulang, beristirahat sementara di rumah.
"Subhanallah suaminya Ria." Tatapan Ria melihat Gemal yang berjalan pelan.
Semua orang fokus melihat ke arah pandang Ria yang mengagumi ketampanan pria dewasa di hadapannya.
Atika langsung berlari mengejar langkah Gemal yang berhenti dihadapannya Tika yang menghadangnya.
"Kak Gem, kenapa di rumah sakit?" Tika menatap binggung melihat bekas infus di tangan Gemal.
"Atika, kenapa kamu juga di sini?"
"Orang bertanya dijawab, bukan balik bertanya." Tika melotot, meletakan kedua tangannya di dada.
Diana memukul punggung Gemal membuatnya teriak kesakitan, Di menatap tajam seorang pasien melepaskan paksa infus.
"Kamu ingin melarikan diri? tidak ingin membayar biaya rumah sakit." Di melihat tangan Gemal yang berdarah.
Tatapan Gemal melihat ke arah seorang wanita yang tersenyum sinis melihatnya, kening Gemal berkerut tidak mengenali sama sekali.
Aliya juga melihat ke arah wanita yang menatap Gemal, tatapan Al tajam dan sangat menyeramkan.
"Apa dia polisi yang menolong Salsa?" Al melangkah mendekati Diana.
Diana menganggukkan kepalanya, melihat ke arah Aliya yang terlihat sangat serius.
"Berhati-hatilah, mereka menginginkan kematian kamu." Al menatap Gemal yang menganggukkan kepalanya mengerti.
Altha langsung merangkul Aliya, agar menjauhi Gemal karena ketampanan Gemal bisa membuat Al berpaling.
"Ada orang yang masuk kamar kamu?" Al menepuk tangan Altha agar menyingkir.
"Apa ada orang yang ingin menculik suaminya Ria?" tanpa takut Adriana memeluk Gemal.
Atika menarik tangan adiknya yang sangat genit, juga berlebihan saat melihat pria tampan.
Gemal melihat seorang wanita masuk ke kamarnya, mencari sesuatu yang tidak Gemal ketahui apa yang dia inginkan.
Altha melihat ke arah Dimas, meminta Gemal menunjukkan barang apa yang dia miliki.
"Kamu menyembunyikan sesuatu Gemal?"
"Tidak ada, aku tidak menyimpan apapun."
"Sebaiknya, Mommy, dokter Salsa, anak-anak pulang. Gemal kembali ke kamar kamu." Diana meminta bubar.
__ADS_1
Senyuman Gemal terlihat, berjongkok melihat Atika yang masih terlihat kesal karena pertanyaan tidak dijawab.
"Kak Gem baik-baik saja Tika, hanya luka kecil dan sudah diobati. Tika jangan nakal dan sering bertengkar, wanita harus anggun." Gemal mengusap kepala Tika yang tersenyum.
"Adriana juga anak baik, cantik, imut dan menggemaskan." Ria tersenyum melihat Gemal.
"Kamu genit." Gemal tertawa melihat Adriana melotot tajam mirip sekali matanya dengan Diana jika marah.
Altha langsung menggendong putrinya, meninggalkan Gemal bersama Diana yang melambaikan tangannya.
"Apa wanita itu mencari obat yang kamu sembunyikan?" Gemal melihat ke arah Diana.
"Mungkin, tidak ada yang lain." Diana tersenyum meminta Gemal kembali ke kamarnya.
Keduanya melangkah bersama, Gemal penasaran dengan Riana yang sangat cerewet dan wajahnya mirip sekali dengan Diana.
"Apa dia putri kamu?"
"Ria anaknya Altha dan Aliya, wajar saja mirip, aku dan Maminya kembar. Sikap Ria sama dengan aku." Diana tersenyum merasa lucu dengan Ria yang bodoh.
"Wajah kamu dan Aliya tidak mirip, Al terlihat lembut, manis dan penyabar."
"Istri orang itu bodoh! kamu tidak mengenal kami, lebih baik diam." Diana menatap sinis, Aliya tidak semanis wajahnya.
Diana juga penasaran kenapa Gemal bisa mengenal Atika, bahkan terlihat akrab.
Diana memasang infus, meminta Gemal beristirahat karena Diana ada operasi selama sepuluh jam, meminta Gemal tetap diam di kamarnya.
Di sengaja memberikan obat agar Gemal bisa tidur, langsung memasang sesuatu untuk keamanan
Diana juga penasaran dengan wanita yang membawa Hendrik, dia bukan hanya mengenal Hendrik kemungkinan juga rekan kerjanya.
***
Operasi Diana selesai, langsung melangkah ke ruangannya untuk beristirahat sesaat. Belum sempat mata Diana terpejam langsung berlari kencang ke kamar Gemal yang terbuka.
"Siapa kamu sebenarnya? dokter atau apa?" Gemal menunjukkan kamera pengintai yang Diana pasang, bahkan ada pelacak juga.
Diana langsung merampas dari tangan Gemal, berharap mereka berdua tidak bertemu lagi dengan alasan apapun.
"Alina, aku pikir kamu sudah mati, tapi psikopat seperti kamu tidak mungkin mati dengan mudah." Gemal menatap tajam Diana yang juga menatapnya tajam.
Tamparan Diana kuat mendarat di wajah Gemal, Di menarik tangan Gemal yang masih sakit karena bekas tusukan pisau.
Diana memasang kamera untuk melihat jika ada yang menyakiti Gemal bukan untuk menunjukkan taringnya.
__ADS_1
"Kamu lupa siapa yang membawa kak Hendrik menjadi seperti sekarang? itu kamu Alina, kamu orang yang mengajari dia." Gemal menepis tangan Diana, karena merasa jijik disentuh oleh Di.
Gemal langsung melangkah pergi, meminta Diana tidak pernah muncul dihadapannya karena bagi Gemal najis melihat wajah penipu seperti Alina.
Air mata Diana menetes, mendengar pintu dibanting kuat. Di menepis air matanya saat mendengar Gemal memanggilnya Alina.
"Apa aku dulu mengenal Hendrik?" Di duduk memejamkan matanya mencoba mengingat.
Panggilan dari Dimas masuk, meminta Diana pulang tepat waktu. Mereka akan mengadakan makan malam keluarga.
Di langsung bergegas untuk pulang, meksipun perasaan sedang sedih dan terluka, bertemu keluarga mungkin akan mengobati kesedihan Diana atas ucapan Gemal.
Sepanjang malam Diana banyak diam, candaan Tika, Ria, Dean dan Juan tidak bisa menunjukkan tawa lepas Diana.
Di hanya tersenyum tipis, tertawa tapi tidak terlihat bahagia. Ada perasaan bersalah yang sangat besar dalam hati Di.
Diana langsung melangkah pergi, meninggalkan ruangan makan yang masih ribut. Air mata Diana menetes melihat malam yang sangat indah.
"Ada apa Diana?" langkah Dika mendekat memperhatikan Diana yang tidak terlihat bahagia.
"Di baik-baik saja."
"Jangan bohong, Mommy sama Daddy kamu juga menyadarinya. Di kamu tahu besarnya kasih sayang mereka, dan sangat mengetahui emosi kamu." Dika tidak memaksa Diana bercerita, tapi belajar kontrol diri.
Arjuna melihat Diana menangis, mengusap air matanya bekali-kali tidak bisa mengontrol dirinya yang sedang bersedih.
"Aku memang seorang pembunuh, tapi jangan panggil nama itu, rasanya menyakitkan sekali." Diana memukul dadanya.
"Minum dulu kak." Juna tersenyum duduk di samping Diana.
"Alina Natasya nama yang cantik, kenapa menakutkan?" Juna memberikan jaketnya untuk Di membersihkan ingusnya.
"Sebaik apapun kak Di masa lalu yang kelam tidak bisa dihindari."
"Jangan dihindari kak, lawan. Apa kak Di pernah membunuh secara langsung? kecuali puluhan orang yang ada di rumah mewah Mami." Kepala Juna melihat ke atas langit yang penuh bintang.
Diana menganggukkan kepalanya, ada beberapa orang yang tewas karena kesalahan Di, salah satunya Amora.
"Kak Di melupakan beberapa hal? aku tidak bisa mengingatnya. Apa aku mengenal dia?"
"Kenapa bertanya kak? jujur saja kak Diana sangat jenius, melebihi kemampuan banyak orang. Jika kak Di tidak mengingat, berarti bukan kak Di."
Diana mengerutkan keningnya, langsung berdiri. Sekarang Diana tahu siapa wanita yang bersama dengan Hendrik.
"Itu bukan Alina Gemal!" Diana berteriak kuat meluapkan amarahnya.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira