ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MENGINAP


__ADS_3

Mobil Genta berhenti di perumahan kecil, karena Gemal memintanya membawa berkas penting yang sengaja Genta tinggalkan di rumahnya.


"Kalian berdua tunggu di mobil, aku hanya sebentar." Pintu mobil terbuka, Genta langsung berlari ke arah rumahnya.


Mobil belum dimatikan, lampu mobil menyinari di depannya. Kepala Tika dan Shin langsung melihat ke atas, saling pandang melangkah keluar mobil.


"Wow, mantap." Tika tersenyum melihat buah mangga yang ada di pagar rumah.


Shin menggunakan ponselnya menyinari buah mangga, langsung lompat naik pagar dan mencium bau wangi mangga yang hampir masak.


"Aman tidak, mungkin saja ada duri di pagar?" Tika meminta Shin memperhatikan lebih detail.


"Aman sayang, ayo naik." Shin tersenyum melihat Tika yang sudah melompat naik.


Keduanya mengambil buah mangga tanpa izin, padahal Tika tahu jika pohon mangga berada di rumah tetangga Genta, berarti bukan milik Genta.


Tatapan Shin melihat ke arah mobil yang sudah melaju pergi, Tika hanya mengerutkan keningnya langsung menepuk pundak Shin.


Suara lompatan kaki terdengar, Tika dan Shin berguling dengan buah mangga di halaman rumah.


"Tunggu, kita ketinggalan." Tika berusaha mengejar mobil Genta yang sudah melaju pergi.


"Dasar Om tua bodoh, susah naik pagar mencuri mangga, sekarang jatuh semua." Shin memungut buah mangga yang berserakan, diletakkan di bajunya untuk membawa ke dalam rumah.


"Shin, bagaimana kita pulang?"


"Tunggu saja Om tua balik lagi, nanti juga menyesal sendiri. Cepat buka pintu rumah Tika." Kenop pintu di tarik oleh Shin, tapi pintu terkunci.


Kepala Tika pusing, meskipun rumah Genta kecil, tapi keamanan sangat ketat, bahkan ada alarm keamanan.


Kaki Shin ingin menendang pintu, tapi ditahan oleh Tika. Perbuatan Shin akan membangunkan seluruh orang yang ditinggal disekitar rumah Genta, dan pasti ketahuan mencuri mangga.


"Aku tidak membawa ponsel, laptop juga di mobil. Bagaimana cara masuk?" Tika menatap beberapa keamanan Genta yang sulit ditembus.


"Gunakan ponselku." Shin menyerahkan ponselnya.


Tika langsung duduk santai, menggunakan password dirinya untuk merusak sistem keamanan Genta. Tika yakin pasti Genta mengetahuinya, karena untuk seorang polisi yang tinggal di rumah kecil tidak harus menggunakan keamanan ketat. Hanya Genta satu-satunya, Tika sangat yakin jika Genta ahli merakit benda-benda yang bersangkutan dengan negara.

__ADS_1


"Masih lama tidak?" Shin memukul nyamuk yang ada di depan wajahnya.


"Keamanan Genta cukup hebat, tapi Tika jauh lebih hebat." Senyuman Atika terlihat, mematikan seluruh alarm, juga rekaman CCTV.


Hanya menggunakan kartu yang Tika buat sendiri dan sudah dimodifikasi, pintu terbuka. Shin langsung masuk lebih dulu, membawa buah mangga untuk dinikmati.


Pintu rumah langsung Tika kunci, menatap seisi rumah yang sangat rapi, perabotan rumah lengkap, bahkan ada ruangan rahasia yang tidak bisa Tika masuki.


Kamar tidur Genta juga tidak pernah tersentuh, dan masih sangat rapi. Kesibukannya membuat tidak punya waktu untuk pulang.


"Om tua pembersih juga." Tika melihat sebuah bingkai foto, kening Tika berkerut melihat foto yang mulai buram, karena sudah terlalu lama.


"Aduh, baju Shin kotor. Om tua punya baju tidak?" Shin membuka lemari, langsung mengambil baju kaos dan memakainya.


"Shin, coba kamu lihat foto orangtuanya Genta, Ayahnya sangat mirip Om tua, sedangkan Bundanya mirip kamu." Tika menunjukkan bingkai, tapi tidak terlalu yakin. Gambar sudah terlalu buram.


"Sialan, kamu menyamakan aku dengan wanita tua. Mirip dari mana? sudah buta." Shin mengembalikan foto, dirinya tidak mengenali foto sama sekali.


Kepala Tika mengangguk, kemungkinan dirinya memang salah. Tidak mungkin wajah mirip, apalagi Shin anak orang kaya berbeda dengan Genta.


"Kembalinya kamu ke sini untuk mengambil alih perusahaan keluarga kamu?" Shin menatap Tika yang menganggukkan kepalanya.


"Kak Juna tidak mungkin meneruskannya, dia sudah sibuk dengan tugasnya sebagai dokter. Mami tidak mengizinkan, Juan maupun Ria terlibat dengan AT GRUP." Tika tersenyum sudah siap menunaikan janjinya kepada Maminya tiga tahun yang lalu.


Shin menganggukkan kepalanya, Mami Al mempertahankan perusahaan demi Juna dan Tika, tidak mengizinkan Juan dan Ria terlibat, karena sejak awal Mama Tika yang memperjuangkan AT GRUP.


Al hanya mengambil alih, dan mengembalikan kepada anak-anak Citra yang punya hak penuh untuk mempertahankan perusahaan keluarga Rahendra.


"Tenang saja, soal bisnis Shin jagonya. Kita bisa saling membantu."


"Aku tahu, karena itu aku memberitahu kamu. Kita kembali ke markas lama, restoran Love yang sudah ditinggalkan selama tiga tahun." Tika berjabatan tangan dengan Shin.


Suara pintu terbuka terdengar, Tika dan Shin tersenyum lebar saat melihat Genta balik lagi. Dia menyadari kedua wanita tidak ada di mobil saat tiba di perumahan.


"Hai Om tua, kita ketinggalan." Shin tertawa lucu langsung membawa makanan ke atas meja.


Senyuman Tika terlihat, wajah Genta pucat mengacak-acak rambutnya kehabisan kata-kata untuk meladeni dua wanita.

__ADS_1


Jika dirinya tidak menghormati Altha, sudah lama ditinggal di jalanan. Tika dan Shin menguji kesabarannya.


"Ayo, kita makan Om. Isi perut sudah habis, karena minum jus buah busuk." Tika membawa mangga yang sudah diolah menjadi puding.


Tidak ada sedikitpun suara yang keluar dari mulut Genta, dia langsung mandi dan mengganti baju.


"Aku capek, terserah mereka berdua. Otak aku ingin pecah berpikir." Genta menenggelamkan kepalanya.


Mata Genta terbuka, baru menyadari dirinya tertidur karena sudah hampir dua minggu kerja lembur. Rencana mengantar pulang Shin dan Tika juga batal.


Pintu kamar terbuka, Genta menatap Shin dan Tika sudah tidur di sofa, bekas makanan belum di bersihkan, masih berantakan.


"Kesalahan apa yang aku perbuat kepada kalian berdua?" Genta merapikan bekas makan, melihat sebuah tulisan untuk makan malam Genta.


"Setidaknya kalian berdua punya niat menyisakan makanan." Senyuman Genta terlihat, langsung memakan masakan Shin yang memang sangat enak, rasa lapar langsung terpuaskan.


Seluruh makanan habis, jus mangga juga bersih, puding juga lenyap disantap habis oleh Genta yang sudah lama tidak makan enak. Genta bukan tidak punya uang, tapi memang tidak memiliki waktu untuk makan enak.


Selesai merapikan bekas makan, mencuci piring, barulah Genta mendekati dua wanita yang terlelap tidur.


"Maafkan aku Shin, bukan bermaksud tidak sopan." Tubuh Shin langsung diangkat untuk dipindahkan ke kamar.


Selesai meletakkan Shin di kamar, Genta kembali lagi ke ruang tamu untuk memindahkan Tika yang tidur nyenyak.


Mata Genta menatap wajah Tika yang cantik saat tidur, mulutnya yang cerewet tidak bisa diam, kejahilannya sejak kecil membuat pusing.


"Tidak terasa kamu sudah besar, dulu saat di hotel kita bertengkar pertama kali, dan sekarang bertemu lagi." Tubuh Tika terangkat dalam gendongan.


Tangan Tika bergerak, langsung memeluk leher Genta, pelan-pelan Genta meletakkan di atas tempat tidur agar tidak membangunkan Shin maupun Tika.


Genta kesulitan melepaskan tangan Tika yang masih bergelantungan di lehernya, kaki Shin menghantam kepala Genta sampai bibirnya menyentuh bibir Tika.


Wajah Genta langsung panik, melangkah mundur, melihat kaki Shin sudah ada di leher Tika.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2