
Sudah larut malam, Al melangkah masuk ke rumah sakit. Suasana rumah sakit sepi dan menakutkan.
"Dari mana kamu Aliya?" langkah Altha mendekati Al yang terlihat lemas.
"Hanya mencoba menenangkan diri, aku lelah melihat kamu bertengkar dengan Citra yang tidak berkesudahan." Al langsung duduk di kursi tunggu sambil menundukkan kepalanya.
Sejak muda Al selalu melihat pertengkaran, dirinya sangat bosan dengan orang dewasa yang tidak bisa menyelesaikan masalah secara baik-baik.
Altha langsung duduk di samping Al, dia sama lelahnya. Banyak kemarahan yang ingin Altha luapkan, tapi apa dengan meluapkan bisa memperbaiki keadaan atau bahkan memperburuk.
"Kebohongan cepat atau lambat akan terbongkar, aku lebih akan berlapang dada jika mendengarkan kejujuran." Alt meminta Aliya untuk beristirahat di kamar Mora bersama Tika dan Juna.
Aliya langsung melangkah masuk meninggalkan Altha sendirian di luar, pasti ada banyak hal yang Alt pikirkan.
Pintu terbuka, Al melangkah masuk melihat Juna yang belum tidur. Mengusap punggung adik kecilnya yang tidak bisa tidur tenang, karena tangannya ada infus, kepalanya juga terbalut.
"Kamu istirahat saja Juna, Mami yang akan menjaga Mora." Al naik ke atas ranjang, langsung menggendong bayi kecil yang baru berusia satu tahun.
Air mata Mora menetes merasakan sakit, Al memeluknya mengusap punggungnya agar tenang.
Hujan kembali turun di tengah malam, Al melihat Juna dan Tika tidur tanpa selimut, melihat Mora yang terus bergumam tidak jelas.
Al sangat kasihan melihat anak-anak, mereka masih terlalu kecil untuk menerima kenyataan jika harus hidup mandiri.
Pintu terbuka, Altha melangkah masuk melihat Aliya yang tidak tidur. Menenangkan Amora yang menangis saat rasa sakitnya datang.
"Alt, berikan selimut ini untuk Juna dan Tika."
"Bagaimana dengan kamu?"
"Aku tidak pernah menggunakan selimut, jangan sampai mereka berdua sakit, kita bakal semakin repot." Al berbohong, dia tidak bisa tidur tanpa selimut, tapi demi anak-anak Al bisa.
"Kamu bohong." Alt tersenyum melihat wajah Aliya.
"Papi, Tika ingin tidur bersama Mami."
Aliya mengizinkan Tika tidur di sampingnya, tapi dilarang berisik dan menyentuh Mora, karena si kecil baru saja terlelap.
"Mami, guling Tika mana?"
"Guling busuk kamu di rumah." Al meminta Tika memeluk lengannya saja.
"Tika tidak bisa tidur tanpa guling." Bibir Atika monyong, memaksa ingin guling.
"Tidak bisa tidur, tapi tahi mata kamu sudah banyak, air iler sudah membuat banjir." Al menunjuk ke arah mata, dan bibir Tika membuatnya tertawa.
__ADS_1
Altha dan Juna juga tertawa kecil, Tika sangat bahagia saat bersama Aliya, dia sangat terbuka dan bisa menceritakan banyak hal.
"Mami."
"Tidur Atika, mami pulangkan kamu." Al membuka matanya melihat Tika yang memeluknya.
"Tika punya pacar tampan sekali." Senyuman bocah tengil terlihat.
"Baiklah, nanti kenalkan kepada Mami." Al menahan tawa.
"Mami jaga rahasia, nanti jemput Tika pulang sekolah, lalu kenalan sama pacarnya Tika." Suara Atika dibuat sangat pelan agar tidak menggangu Mora.
"Kamu pernah melihat senjata Papi tidak?"
Kepala Atika mengangguk, dia melihatnya di foto Papinya yang memegang senjata, tapi belum melihat secara langsung.
"Ingatan pacar kamu, takutnya kepalanya bolong."
"Menjadi sendal bolong dong?" Tika berteriak sambil melotot, Aliya menutup mulut bocah tengil karena Mora, Juna dan Altha sudah tidur.
"Sendal bolong dipunggung bukan kepala." Al meminta Tika jangan teriak.
"Kalau begitu berarti menjadi kepala bolong." Tika menghela nafasnya.
Aliya menahan tawa, sungguh Tika bisa menjadi sahabat kecil yang mengemaskan. Bicara terlalu ceplas-ceplos.
***
Sudah satu minggu akhirnya Mora keluar dari rumah sakit, keadaan sudah sangat sehat. Mora sudah kembali tertawa dan bermain.
Altha juga sudah mulai bekerja kembali, meskipun masih membatasi waktu untuk mengawasi anak-anak yang sudah tidak memiliki Baby sister, Aliya sepenuhnya mengurus Mora dan Tika.
Al kehilangan banyak waktu untuk bersenang-senang sejak kecelakaan Mora, dia harus mengawasi si kecil yang aktif dalam pengawasannya.
"Tika kamu tidur sekarang, Papi pulang malam jadi jangan ditunggu."
"Tika tidak pernah menunggu Papi pulang, tapi Tika suka menunggu Mami. Good night." Tika memeluk guling langsung memejamkan matanya.
Amora juga sudah tidur di kamar Altha yang lebih luas, Aliya juga tidur di sana.
"Arjuna, kenapa kamu belum tidur?" Al melangkah masuk ke kamar Juna, melihatnya masih sibuk belajar.
"Jangan belajar terlalu berlebihan, jika sudah malam waktunya tidur. Jangan memaksa pikiran, pintar tidak tetapi kamu bisa drop dan mengacaukan semuanya. Lakukan sesuatu sewajarnya saja." Al menutup buku Juna, menatap wajah anak tampan yang sangat pendiam.
"Sudah satu minggu, Mama tidak mempertanyakan keadaan Mora. Bukannya ini keterlaluan?" Tatapan Juna tajam melihat ke arah Aliya.
__ADS_1
"Ada banyak hal yang dilakukan orang dewasa yang tidak bisa kamu mengerti." Senyuman Al terlihat, meminta Juna jangan terlalu memikirkan.
Prioritas Juna cukup belajar dengan baik, hidup sehat dan bisa menikmati setiap harinya, mengawasi adik-adiknya dan tidak memikirkan kehidupan orang dewasa.
Aliya menepuk pundak Juna, memintanya untuk tidur langsung mematikan lampu melangkah keluar.
Aliya duduk di ruang tamu, memainkan game di ponselnya mendengarkan musik dengan volume yang sangat tinggi.
Suara mobil Altha tiba juga tidak terdengar, langkah kaki Altha juga tidak diketahui. Altha memanggil Aliya yang bermain game di dalam kegelapan.
Panggilan Altha tidak dihiraukan, Alt langsung melepaskan earphone ditelinga Aliya. Kepala Aliya langsung terangkat melihat wajah tampan Altha yang hanya disinari handphonenya.
"Kamu kehujanan?" Al menyentuh wajah Altha.
"Kenapa belum tidur?"
"Aku tidak bisa tidur jam segini, seharusnya aku masih dugem." Al tersenyum.
"Lalu kenapa tidak pergi?" Altha menatap tajam, menatap mata Aliya.
"Tidak ada yang menjaga anak-anak, kamu harus mencari pengasuh baru agar aku bisa bebas."
"Bagaimana jika aku tidak akan membiarkan kamu bebas?"
Aliya mengerutkan keningnya, tidak ada yang bisa menghentikan Aliya jika dia menginginkan sesuatu termasuk Altha.
"Alt, kamu tidak bisa menggenggam air." Aliya menepis air yang menetes dari rambut suaminya.
Altha masih diam menatap wajah Aliya, wajahnya terlihat sekali kacau membuat Aliya khawatir dan merasa kasihan.
Kedua tangan Aliya menyentuh wajah Altha, mengusap air yang tersisa meminta untuk mandi dan beristirahat.
"Aku harus bagaimana?" Altha memejamkan matanya, mencengkram kuat sofa yang menopang tubuhnya agar tidak menimpa Aliya.
"Ayo istirahat, kamu terlihat sangat lelah."
"Mora bukan anakku." Alt menatap Aliya yang menganga.
Tidak ada kata-kata yang bisa Aliya keluarkan, Altha akhirnya mengatakan sesuatu yang sudah dia tahan.
"Apa yang harus aku lakukan Aliya?" Altha mendekati wajahnya kepada Aliya, Al mengusap punggung Alt yang terlihat terpukul.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT
__ADS_1
FOLLOW IG VHIAAZAIRA
VOTE HADIAHNYA DITUNGGU.