ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
DUA SIFAT


__ADS_3

Sudah larut malam, Genta berjalan ke arah taman belakang rumah Tika. Bukan ingin menemui Tika, tapi atas perintah Mami Aliya.


"Assalamualaikum, Kak." Genta menundukkan kepalanya melihat Aliya yang menatap langit malam.


"Kak, kamu tidak pantas lagi memanggil Kak. Panggil saja Mami,"


"Maaf, belum terbiasa." Pandangan Genta melihat ke arah langit yang menunjukkan sinar bulan yang sangat terang.


"Duduk Gen, kuat sekali kamu kamu duduk terus." Al tersenyum menatap pria tampan yang dicintai Putrinya.


Selama mengenal Genta, Aliya bahkan kesulitan menatap lama wajahnya karena selalu tertunduk dan menutupi wajahnya.


"Maaf, Genta tidak nyaman jika tidak ada Om Altha,"


"Kenapa? Altha bukan tipe pria yang mudah cemburu. Kami sudah terlalu tua," tawa Al terlihat menatap Genta yang masih menundukkan kepalanya.


Aliya meminta Genta mengangkat kepalanya, melepaskan topi yang selalu menutupi wajahnya. Al ingin melihat wajah asli Genta yang terkenal dingin, juga tidak bisa basa-basi.


"Gen, kenapa harus Tika dari sekian banyak wanita? Mami bisa mencarikan wanita yang lebih dari dia."


"Aku tidak menginginkan wanita lebih, cukup satu saja. Kak Al, bukannya pertanyaan itu terlalu terlambat? kami sudah menyusun impian bersama, kenapa rasanya ingin dipisahkan?"


Kedua jari telunjuk Aliya melambai pelan, tawa Al juga tidak tertahankan. Dia tidak mungkin memisahkan karena Putrinya yang memilih. Aliya hanya ingin tahu jawaban Genta yang ternyata sesuai ucapan Diana.


"Kamu ternyata panik juga jika dipisahkan, sekarang tahu rasanya jatuh cinta?" Al memaksa Genta untuk duduk.


Kursi ditarik menjauh, Genta duduk diam mendengarkan tawa Aliya yang masih terdengar.


Batin Genta berbicara, tidak ada yang lucu dari dirinya sehingga membuat Aliya tertawa. Genta bahkan tidak tersenyum apalagi tertawa.


"Kak Aliya normal?"


"Maksudnya kamu?"


"Kenapa memanggil Genta ke sini? Kak Al mirip kuntilanak yang tertawa ...."


"Memangnya kuntilanak tertawa?"

__ADS_1


"Apa selama ini dia menangis?" Genta memijit pelipisnya malas berdebat.


Senyuman dan tawa Aliya kembali terdengar, putrinya yang heboh, ceria, banyak bicara bisa jatuh cinta kepada pria kaku seperti Genta suatu hal yang wajar. Genta bisa menjadi lawan yang menyenangkan dalam perdebatan, namun berakhir dia yang mengalahkan.


Ucapan Genta tidak menyakitkan, tapi membuat kesal. Tika jatuh cinta karena ada keunikan dari sikap diamnya yang membuat penasaran, jika mencoba mencari maka tidak mungkin bisa berpaling.


"Gen, aku sangat mencintai Tika, kamu tahu itu?"


"Ya, semua Ibu pasti mencintai anaknya." Kepala Genta mengangguk memahami pikiran Aliya.


"Menyakiti perasaannya, sama dengan menghacurkan hati Mami. Meksipun Tika hanya anak tiri, dia segala bagi aku Gen." Al menatap langit kembali.


Puluhan tahun yang lalu Aliya bukan wanita baik, dia seorang remaja yang haus kasih sayang juga cinta. Al tidak tahu cinta kepada ayah apalagi ibu, selama hidup Aliya hanya tahu bertahan.


Bertemu dengan Altha hanyalah percobaan untuk mengenal cinta, juga rasa kesal Al melihat tingkah laku Citra.


Menjadi seorang Ibu sambung dari dua anak yang sudah mengerti artinya Mama juga Papa, lalu ada Ibu lain yang pastinya sangat diketahui jika tidak mungkin baik.


"Juna memperlakukan aku layaknya musuh, tapi berbeda dengan Tika. Aku melihat tatapan mata marah, tapi bibirnya tersenyum. Dia mendekat dan mengatakan ucapan manis, tapi matanya membunuh. Kamu tahu apa yang aku rasakan saat itu?" Al menetes air matanya.


Kepala Genta menggeleng, dirinya pernah melihat tatapan itu saat pertama bertemu tika, senyuman dengan tatapan mematikan.


"Lalu apa yang Mami lakukan?"


"Mengikutinya, aku ingin mengubah tatapannya hingga perlahan berubah menjadi senyuman tulus. Mami akhirnya mengerti, Putriku terlalu baik dan ingin melindungi Papanya." Al menatap Genta yang mendengarkan dengan serius.


Senyuman Genta terlihat, bisa merasa Tika kecil yang kehilangan kasih sayang. Setiap orang memiliki luka masingmasing, namun berjuang untuk bangkit hingga tumbuh dewasa.


"Perlakuan dia sebaik mungkin, maka dia akan menuruti kamu. Jangan sakiti dia karena aku sudah berjuang mengubahnya menjadi gadis yang ceria. Mami percaya kamu laki-laki yang tepat untuk melindunginya." Al mengusap air matanya, selalu merasa sedih jika teringat dengan Tika kecil.


"Genta tidak bisa berjanji, tapi aku pastikan akan memperjuangkan dia, menyayangi dan mencintainya sebesar cinta keluarganya. Mami bisa menegang keyakinan Genta, bukan janji." Langkah Genta mendekat, memberikan tisu yang ada di meja.


"Bagaimana menurut kamu soal Juna?"


"Arjuna? dia pria dingin dan sangat cuek,"


"Salah, dia pria yang sangat lembut dan penuh kasih sayang. Begitulah jika tidak dipahami hanya melihat di luar saja. Juna jahat dari luar, tapi baik dari dalam sedangkan Tika kebalikannya. Berhati-hatilah." Aliya menatap ke belakang melihat Putranya Juna yang baru pulang larut malam.

__ADS_1


"Membicarakan apa? bagaimana acara lamarannya? maaf Juna tidak bisa datang,"


"Adik kamu bersama Isel terbang,"


"Apa?" Juna ingin berlari ke dalam, tapi langsung ditarik oleh Aliya untuk duduk.


"Dia baik-baik saja, jangan khawatir." Al geleng-geleng melihat Juna, inilah alasan Al tidak memberitahu jika Juna tahu Ria terluka pasti paling khawatir.


"Juna ingin melihat dulu untuk memastikan,"


"Duduk di sini, kamu lihat sendiri Genta. Apa dia pria dingin dan cuek?" Al mengerakkan kedua alisnya membuat Genta mengangguk.


Bertahun-tahun mengenal Juna, Genta belum pernah melihatnya peduli kepada siapapun. Ternyata Juna hanya akan peduli kepada orang yang dicintainya.


"Siapa wanita yang kamu cintai Juna?"


"Pertanyaan apa itu Mami?"


"Ayolah, Mami sudah lama tidak mendengarnya?"


"Mami, Mama, Tika Ria, Isel Shin." Juna menghitung bintang di langit sambil menyebutkan nama.


"Huuu ... ada berubah? kamu peduli juga kepada Shin?"


"Dia Adiknya Genta, berarti Adiknya Juna juga." Senyuman Juna terlihat menatap Genta yang tersenyum juga.


Aliya langsung diam, menatap ekspresi wajah Juna. Al menepis pikirannya, tidak ingin memikirkan hal yang tidak mungkin.


Obrolan terdengar, Genta merasa nyaman mengobrol bersama Aliya dan Juna yang ternyata menyenangkan jika bersama Maminya. Juna pria yang memiliki dua sifat yang baru Genta pahami.


"Jun, di hotel Shin hampir bertengkar bersama Dina sahabatnya Ana. Shin tidak sengaja menabrak, tapi Dina mendorong balik mengatakan tidak sengaja. Mami tidak menyukainya." Al menatap Juna yang mengerutkan keningnya.


"Apa Shin baik-baik saja?"


"Kamu ini? jika Shin sampai terluka maka hotel hancur. Di sana ada Calvin, Gemal, Genta, bisa rata hotel jika sampai ada satu goresan." Al meminta Juna menasihati Hanna untuk menjauhi Dina.


Kepala Juna menggeleng, masalah pertemanan Hanna bukan urusannya. Selama tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga, bukan kuasa Juna. Apalagi Juna tidak tahu siapa Dina.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2