ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
KECELAKAAN BERENCANA


__ADS_3

Di dalam kelasnya Ria tidak bisa berkonsentrasi, melihat sekitarnya yang hening karena fokus mengerjakan tugas. Ria langsung menggendong tasnya berjalan keluar kelas.


Siapapun yang menegur tidak Ria pedulikan, guru sudah menahan Ria yang ingin pulang sekolah lebih dulu.


Dikarenakan seluruh gerbang dikunci, Ria memanjat pagar, sekalipun guru sudah mengancamnya akan melaporkan kepada orangtuanya.


"Maaf ya Buk, Ria punya urusan penting." Senyuman Ria terlihat, berjalan sendirian menyelusuri jalan.


Seorang pemuda yang seumuran Ria melewatinya, tapi berhenti menatap ke arah Ria.


"Apa kamu sedang sakit? kenapa pulang lebih dulu?"


"Orang miskin lebih kamu menyingkir, perhatian siapa yang sedang kamu ajak bicara." Ria menatap sinis melanjutkan jalannya.


Pemuda yang Ria hina langsung pergi, tapi tidak tega melihat wanita berjalan sendiri.


"Kamu ingin aku antar?"


"Sialan! bawa pergi sepeda butut kamu. Apa kamu pikir aku bersedia naik, lebih baik kaki aku patah berjalan." Tendangan Ria menyebabkan pemuda yang bersepeda jatuh.


Ria masih saja berjalan, membiarkan pemuda miskin yang mengikutinya dari belakang. Ria tidak punya waktu meladeni karena pikirannya masih di rumah pelangi Shin.


"Kenapa kamu menatap rumah ini?"


"Ada apa dengan rumah ini?"


"Banyak orang meninggal di sini, setiap makam pasti melihat penampakan."


"Kamu pernah melihat langsung?"


Kepala pemuda yang mengikuti Ria geleng-geleng, dia masih kecil tidak mungkin jalan malam hanya untuk melihat hantu.


"Pemilik tanah ini dulunya seorang mafia, ada ruangan penyiksaan, dan baru-baru ini ada yang meninggal,"


"Bukannya ini bagian dari bisnis, aku merasa ada orang yang memanfaatkan tempat ini untuk keutungan pribadi. Orang miskin seperti kamu tidak mungkin mengerti." Tangan Ria menunjuk pemuda di sampingnya.


Kepala pemuda di samping Ria mengangguk, dia mengerti jika kemungkinan besar ada seseorang yang menginginkan lahan rumah untuk kepentingan pribadi. Jika rumor tersebar, tidak akan ada orang yang berani mengunjungi rumah dan otomatis terbengkalai.


Kesempatan yang bisa dimanfaatkan, banyak kasus penjahat yang bersembunyi di rumah angker.


"Ternyata kamu paham juga, aku pikir bodoh."


"Kamu jangan mencoba masuk sendirian bahaya, aku pulang dulu." Pemuda yang berdiri di samping Ria mengusap hidungnya yang berdarah.

__ADS_1


Tatapan mata Ria melihat anak muda yang bersepeda, dari jarak yang dekat. Mobil tanpa plat melaju dengan kecepatan tinggi ke arah anak kecil.


Ria langsung berlari mengejar, menarik tubuh pemuda sampai berguling dipinggir jalan. Sepeda yang dikendarai terpental ke jalanan.


Jantung Ria berdegup kencang, kepala pemuda berdarah dan jatuh pingsan, punggung Ria juga sakit menghantam pagar rumah pelangi.


Sebuah besi menusuk pinggang Ria, menyebabkan banyak darah. Ria mencari ponselnya menghubungi Shin jika dia mengalami kecelakaan di rumah pelangi.


Banyak pengendara yang berlalu lalang, beberapa orang juga melihat kejadian namun tidak ada satupun yang bersedia mendekati Ria.


"Manusia berhati iblis, tidak ada satupun yang berniat menolong. Woy, laki-laki lemah, cepat bangun. Seharusnya aku membiarkan kamu mati saja." Ria menarik tubuhnya yang tertusuk, menutupi dengan jaketnya agar menghentikan pendarahan.


Tangan Ria menarik pemuda yang masih jatuh pingsan, menggendongnya di punggung untuk mencari tempat aman sambil menunggu Shin datang.


"Inilah yang Ria tidak sukai dengan hadirnya orang lain karena menjadi beban." Teriakkan Ria terdengar, merasakan tubuh anak laki-laki yang bersamanya panas.


Ria baru mengerti, jika pemuda yang mengikutinya sedang sakit sehingga pulang lebih dulu.


"Sudah sakit, sekarang hampir mati. Aku terkena sial bertemu kamu." Ria mengacak-acak rambutnya merasa kesal.


Mobil Shin tiba, tangan Ria melambai meminta Shin segera mendekatinya. Saat Shin keluar dari mobil, kendaraan yang sama melintas ingin menabrak Shin.


Gerakan Shin cepat, melompati mobil yang ingin membunuhnya. Senyuman sinis Shin terlihat melemparkan sesuatu ke arah mobil.


"Kak Shin hebat, Ria juga ingin melompati mobil seperti itu." Kedua tangan Ria bertepuk tangan.


"Kamu perdalam lagi bela diri kamu, suatu hari pasti bisa. Apa yang terluka?"


Ria menunjukkan luka di bagian belakang, kondisi Ria masih mampu berjalan berbeda dengan pemuda yang ada di sampingnya sudah tidak sadarkan diri sejak terjadinya kecelakaan.


"Dia pacar kamu?"


"Kak Shin gila! mana mungkin Ria pacaran sama si jelek ini." Tangan Ria masih sempat memukul.


Senyuman Shin terlihat, mengusap kepala Ria. Menggendong anak laki-laki untuk membawanya ke rumah sakit.


"Ayo Ria,"


"Kak, punggung Ria sakit sekali. Ini sulit untuk berdiri." Ria memegang pinggangnya.


Shin langsung menggendong Ria, memindahkan ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Shin mencoba menghubungi Juna, namun tidak mendapatkan jawaban.


Pilihan terakhir Shin menghubungi Diana, kemungkinan besar Di ada di rumah sakit. Panggilan Shin langsung dijawab, menjelaskan kondisi Ria yang membutuhkan operasi.

__ADS_1


Dia mengalami perdarahan, dan satu anak lagi kepalanya terbentur. Melihat dari kondisi panas badannya, juga keluar darah dari hidung. Shin memprediksi ada penyakit yang di derita.


Mendapatkan kabar Ria kecelakaan, Diana langsung terduduk lemas saat rapat. Menatap Papanya yang mengerutkan kening.


"Ada apa Di?"


"Ria kecelakaan, kemungkinan besar ada pendarahan. Dia harus melakukan operasi, apa Di harus menghubungi Aliya? bagaimana ini Pa?" Di menatap Juna yang duduk jauh darinya.


Rapat langsung dihentikan, Papa Calvin meminta dokter terbaik untuk bersiap di ruangan operasi.


"Ada Apa Dokter Di?" Juna menatap serius.


"Ada yang kecelakaan,"


"Siapa?"


Diana ragu mengatakan kepada Juna, takut jika langsung panik. Ria si bungsu kesayangan Kakaknya, Juna pasti akan sangat terkejut jika tahu Ria terluka.


Juna menatap ponselnya, memanggil balik Shin yang langsung menjawab panggilan. Dari ponsel Juna tahu ada sesuatu yang terjadi.


[Bagaimana kondisinya Shin? apa dia masih sadar?]


[Keduanya sudah jatuh pingsan, Di sebentar lagi sampai. Kak Juna bersiaplah.]


[Siapa yang terluka? Tika, Ria atau Juan.] Juna bisa menebak jika salah satu adiknya terluka.


Jawaban Shin menyebut nama Ria membuat jantung Juna rasanya berhenti berdetak, tepukan tangan Di menyandarkannya.


Cepat Juna berlari untuk menunggu pasien datang, Diana juga menghubungi Aliya memintanya ke rumah sakit tanpa mengatakan siapa yang sakit.


Mobil Shin tiba, Juna langsung membuka pintu. Menggendong Adiknya yang sudah tidak sadarkan diri. Juna melihat luka di pinggang, punggung dan bagian pundak Ria yang terluka.


"Ria, kamu masih bisa mendengar suara Kakak." Juna meminta Ria dilarikan ke ruangan yang sudah dipersiapkan.


Tangan Shin menahan Juna, menunjuk ke arah anak laki-laki yang sudah kejang-kejang. Juna langsung mendekatinya.


"Kepala cendera, kemungkinan besar dia memiliki penyakit bawaan lahir di bagian otak." Juna meminta timnya menukar posisi dengan Ria.


"Jun, kamu yakin tidak masuk ruangan Ria?"


"Tidak Kak, aku tahu Ria wanita kuat, tapi jika anak ini yang tewas. Ria akan memiliki trauma juga rada bersalah. Tolong jaga Ria Kak Di." Juna berlari ke ruangan lain.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2