
Pintu rumah terbuka, Alt menggendong Aliya melangkah ke kamar mereka. Tatapan mata Juna tajam langsung berlari, membukakan pintu kamar mempersilahkan Papanya masuk.
"Kenapa belum tidur Juna?"
"Kita bicara nanti pagi saja Pa, selamat malam." Juna melangkah pergi ke kamarnya untuk tidur kembali.
Altha meletakan Aliya di atas ranjang, melihat wajah cantik Al yang disinari lampu.
"Perempuan pengacau, siapa yang mengizinkan kamu mabuk?" Alt melotot mendapatkan serangan mendadak.
"Aku laki-laki normal Aliya, jangan salahkan aku." Alt melangkah mundur, menyentuh bibirnya yang terasa perih.
"Altha, aku lelah." Al duduk memeluk tubuhnya yang terasa menggigil.
Tangannya melambai, meminta Alt mendekat dan duduk disisinya. Senyuman tipis terlihat, Altha mendengarkan cerita Aliya yang tidak jelas.
"Aku ingin bercerita, hanya sama kamu. Tidak ada satupun orang yang tahu, bertapa sialnya hidupku."
"Tidak ada kata sial, semua anak sama memiliki keistimewaan masing-masing. Kamu juga spesial Aliya, aku yakin ada kebaikan di hati kamu." Alt mengusap rambut Aliya yang berantakan.
"Aku masih sadar, jadikan aku istri kamu seutuhnya."
Kepala Altha menggeleng, dirinya lelaki normal yang kesulitan mengontrol nafsu, tetapi hubungan hanya boleh terjadi jika kedua belah pihak menikmatinya.
Altha tidak bisa menyentuh Al sebagai seorang istri, dirinya belum siap untuk memulai kembali hubungan serius, rasa sakit dan kecewa terlalu besar.
Tubuh Altha baik, tetapi tidak dengan hatinya. Tubuhnya terluka lahir dan batin, tapi tersimpan sangat dalam. Alt harus tetap berdiri kokoh demi anak-anak.
"Jangan pernah kamu mengizinkan lelaki yang tidak kamu cintai menyentuh Al, kamu harus mencintai diri sendiri baru bisa mencintai orang lain." Altha memeluk Aliya, mengusap punggungnya untuk beristirahat.
Suara lembut Aliya terdengar, menceritakan sebuah kasus sekitar lima belas tahun yang lalu.
Sebuah rumah mewah yang jauh dari keramaian, ada kasus pembantaian sepasang suami istri saling memukul, ada satu wanita yang tertawa bahagia melihat pertengkaran.
Ada banyak orang di sana, tapi tidak ada satupun yang menghentikan. Suara tembakan terdengar menembus tepat di kepala.
Altha langsung menutup mulut Aliya, memintanya untuk berhenti bercerita dan beristirahat.
"Aku mengingat jelas wajah mereka, dan Al akan hidup sampai mereka semua mati." Aliya menatap tajam Altha langsung memejamkan matanya.
Tangan Altha terasa dingin, menyentuh wajah Aliya yang langsung terlelap. Terdengar suara menangis, meskipun tidak ada air mata yang keluar.
"Aku pernah melihat berkas kasus ini, apa alasannya kita dipertemukan Aliya?" Alt mengacak-acak rambutnya, pasti Al memiliki banyak rahasia.
Altha membawa ponselnya ke kamar mandi, menghubungi Dimas yang lebih dulu mengenal Aliya.
__ADS_1
Mungkin bisa mendapatkan petunjuk soal kasus lima belas tahun yang lalu, dan ada banyak rahasia yang tersembunyi.
Dimas memang mengenal Aliya, tapi dia sosok anak yang ceria dan di sangat tertutup. Tidak ada yang bisa mengerti Aliya, kapan dia marah dan kapan dia menangis.
Aliya memiliki banyak rahasia, satu hal yang Dimas ketahui. Aliya bukan anak kandung Papanya, dia hanyalah putri yang memiliki kekayaan dan kehilangan keluarganya.
Mama Papanya orang yang membesarkan Aliya, juga meninggalkan bekas trauma yang besar.
Awalnya Dimas berpikir jika Aliya gadis yang mengalami depresi, tapi tidak ada bukti. Dia hidup dengan normal, tapi terkadang menjadi orang yang menakutkan.
[Dari mana kamu tahu jika Aliya seorang hackers?]
[Aku tidak tahu pasti, hanya saja Aliya bisa mengetahui kasus yang tidak terpecahkan. Dia selalu memilih kasus tertentu, selama mengenal dia aku melihat Al terlibat dalam tiga kasus penganiayaan, pelecehan, dan perjudian, satu lagi kasus Hariz.]
[Aku minta semua laporan dari tiga kasus, termasuk Hariz dan kasus kecelakaan yang baru kita selesaikan. Pasti ada sangkut pautnya.] Al meminta Dimas merahasiakan dari siapapun, jika Altha akan menyelidiki siapa Aliya.
[Apa ada sesuatu yang terjadi Alt?] Dimas merasakan cemas.
Altha tidak bisa menjelaskan banyak, mereka akan bicara jika sudah bertemu.
Selesai membersihkan diri, Alt melangkah ke tempat tidur mengambil ponsel Aliya melihat wallpaper.
Foto Aliya bersama kedua putrinya, Alt yakin Aliya memiliki tujuan tertentu sampai ingin masuk ke dalam kehidupannya.
"Apa yang kamu inginkan Aliya?" Alt membuka kode sandi menggunakan sidik jari, tetapi tidak berhasil.
"Kenapa sekarang kami bisa tidur sekamar?" Altha melihat kaki Al sudah memeluknya.
"Mulai besok kita pisah kamar." Altha menyingkirkan kaki yang menimpa perutnya.
***
Pagi-pagi Altha sudah bangun, berolahraga dan sarapan bersama anak-anak. Helen sudah mengendong Mora, mendudukkannya di kursi khusus.
"Bangunkan Aliya."
"Baik tuan."
Aliya sudah menguap besar, Tika ada di atas punggungnya sambil tertawa melihat Maminya baru bangun.
"Good morning, Papi." Aliya dan Tika mencium pipi Altha membuatnya berhenti mengunyah makanan.
"Aliya cuci muka." Alt meminta Tika duduk dan mulai sarapan.
Aliya langsung memercikkan sedikit air ke wajahnya, Helen menepuk pundak Aliya membisikan sesuatu.
__ADS_1
Al tersenyum mengerti, meminta Helen segera menemani Mora makan.
Juna menatap Aliya tajam, ingin mengatakan sesuatu kepada Papanya, tapi Aliya menendang kakinya untuk diam.
"Hari ini Juna pergi sekolah bersama Mami."
Juna menganggukkan kepalanya, Altha membiarkan saja karena Juna tidak mungkin menuruti apapun yang Aliya katakan.
Altha langsung pergi bekerja, Al dan Tika tidak berhenti memeluk membuat Mora juga heboh ingin dipeluk dan dicium.
Senyuman Altha terlihat, mencium kening putrinya menyatukan hidung mereka. Tika juga mendapatkan bagian yang sama.
"Aliya belum." Al berteriak melihat Altha pergi begitu saja.
"Kasihan Mami tidak mendapatkan kiss." Tika tertawa langsung berjalan ingin pergi sekolah.
Juna juga melangkah keluar, Aliya meminta Helen menemaninya mengantar anak-anak pergi sekolah.
Mobil melaju, Mora dan Tika terlihat sangat bahagia. Aliya menatap tajam Juna yang hanya diam saja duduk di sampingnya.
"Kamu yang bertindak atau Mami yang mengambil tindakan?"
"Jangan ikut campur." Tatapan Juna tajam, tidak menyukai cara bicara Aliya.
"Mami berikan kamu waktu dua hari, jika masalah ini tidak bisa kamu selesai. Jangan salahkan Mami jika bertidak keterlaluan." Al menaikkan nada suaranya.
Juna memukul dasbor mobil, membentak Aliya untuk tidak ikut campur dengan masalah keluarganya. Hanya Papanya yang berhak mengambil keputusan, tidak ada sangkut pautnya dengan Aliya.
Mobil sampai di sekolah Juna langsung melangkah keluar, membanting pintu mobil kuat karena kesal dengan ibu tirinya.
"Elen turunlah, awasi Juna dan cari tahu apa yang terjadi." Al mengambil Mora langsung meninggalkan Helen, melanjutkan mengantar Tika ke sekolah.
"Siapa yang berani menyentuh anakku, maka akan berurusan dengan Maminya." Aliya tersenyum sinis, mencium pipi Mora yang terus tertawa.
"Mami, sudah sampai." Tika mencium pipi Aliya.
"Ingin Mami antar ke dalam?"
"No Mami, Tika sudah besar." Senyuman Atika terlihat, mencium tangan Al dan melangkah keluar.
***
DONE 2 BAB
jangan lupa like coment Dan tambah favorit
__ADS_1
follow Ig Vhiaazara
vote hadiahnya ya.