ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
BERMAIN AIR


__ADS_3

Matahari bersinar dengan cerah, suara berlarian di pinggir pantai terdengar sangat bahagia.


Alt dan Aliya melangkah bersama melihat indahnya matahari terbit, melihat putrinya bisa berlari kecil, lompat-lompat dengan riang gembira.


Altha memeluk Aliya dari belakang, menatap ke arah laut yang sangat indah. Dari kejauhan terlihat burung berwarna putih berterbangan.


"Al, I love you." Altha memeluk perut istrinya, dirinya sangat bahagia memiliki Aliya di sisinya.


Senyuman Al terlihat, mengusap tangan suaminya yang terus-menerus tidak ingin lepas darinya.


Suara Tika berlari mengejar Juna yang bermain mobil-mobilan, langsung berlari ke pinggir pantai membuat Aliya langsung teriakan panik.


Yandi langsung mengambil Tika yang mencari kesempatan bermain air, padahal sudah diperingati tidak boleh main air.


"Tika ... dia nakal sekali, tidak senang dia jika tidak membuat rusuh." Altha tersenyum melihat tingkah putrinya yang sudah berada di atas pundak Yandi lanjut melihat keindahan pantai.


Al tidak melihat Dimas dan Anggun, tersenyum melihat suaminya langsung memeluk Alt sambil mencium bibirnya.


"Ayang, ayo ke kamar." Al melingkarkan kedua tangannya di leher.


Altha menyentuh hidung istrinya, Al yakin jika Aliya ingin ke kamar kemungkinan mereka tidak bisa pulang.


"Kamu mau apa? tiga jam lagi kita pulang." Alt mengusap rambut Al yang terurai.


"Kak Dimas sama Anggun pasti masih berpanas-panasan di kamar, Al juga mau." Tangan Aliya memohon, bibir juga monyong membuat Altha gemes.


"Al, aku sangat mencintai kamu, sampai aku kehabisan cara mengekpresikannya. Kita lanjut di rumah agar kamu tidak kelelahan, juga demi keamanan kandungan kamu. Kebahagiaan kamu prioritas utama aku Al, tapi kesehatan kamu juga penting." Altha melepaskan jaketnya, menutupi kepala mereka.


Altha mencium bibir istrinya yang langsung membalas, Alt melepaskan jaket membersihkan bibir mereka agar tidak dilihat oleh anak-anak juga yang lainnya.


Aliya hanya tersenyum dalam pelukan Altha, dirinya juga sangat bahagia bisa bermesraan dan mendengar suara pelan dan lembut suaminya.


Alt pamit pulang lebih dulu untuk istirahat karena Aliya mulai mual-mual, Juna diminta mengawasi adiknya agar tidak bermain air.


Tika melambaikan tangannya melihat Mami dan Papinya sudah kembali ke villa, karena sejak ada adiknya Maminya sering muntah, lemas di pagi hari.


Diana hanya duduk diam melihat ke arah pantai, matanya masih mengantuk dan sangat lelah karena kekurangan tidur.

__ADS_1


Tubuh Di langsung tergeletak di pasir, matanya terpejam langsung tidur tidak memperdulikan suara Tika bermain bersama Helen. Bahkan suara mobil Juna yang berlalu lalang tidak dipedulikan.


Hanya demi bisa melihat matahari pagi Di rela bangun dan melihat matahari, tapi karena terlalu mengantuk lanjut tidur di pasir.


Juna berhenti melihat Diana langsung melepaskan jaketnya dan memasangkan kepada Di, mengangkat kepala Di untuk menggunakan pahanya sebagai bantal.


"Di masih tidur?" Dika membawa ikan yang baru saja dia dapatkan saat memancing.


"Wow, ikannya besar. Tika mau." Atika berlari mengikuti Dika dan Kenan yang menghidupkan api ingin membakar ikan.


Diana membuka sebelah matanya, tersenyum melihat di depan matanya sangat indah. Bekali-kali Di menutup dan membuka matanya.


"Indahnya, aku pikir ini hanya mimpi bisa melihat cahaya terang." Di memejamkan kembali matanya.


"Kak Di tidak menyukai cahaya?"


"Suka, sangat suka tapi hanya kegelapan yang ada di depan mata. Dua puluh tahun aku melihat kegelapan, berjalan hanya dengan keyakinan dan pasrah apa yang akan terjadi. Mata tidak berguna, hanya melihat kematian, darah, korban, pelaku, kejahatan, kekejaman, saling menyakiti, siapa lemah pasti mati. Kak Di bahkan tidak tahu bentuk kupu-kupu." Air mata Diana mengalir di pelipis matanya.


Juna tersenyum, meminta Diana tarik nafas buang nafas, anggap saja kegelapan sebagai mimpi buruk dalam hidup dan sekarang buka mata lihat indahnya cahaya.


Langit biru putih, matahari bersinar cerah, air laut sangat tenang, burung berterbangan, suara tawa terdengar berlarian menyambut kebahagiaan.


Diana penasaran, bisa menjadi apa seorang Arjuna saat besar nanti. Dia bukan hanya tampan, tapi sangat pintar.


Diana langsung bangun, menyerahkan jaket Juna. Di berlari kencang ke arah laut, Tika melihatnya langsung berlari kencang mengikuti Diana.


Helen yang melihat juga langsung berlari, karena Tika dilarang bermain air, Juna juga teriakan meminta Tika berhenti.


Diana langsung lompat ke dalam air, diikuti oleh Tika yang sudah mirip bebek, tertawa memeluk leher Diana.


Tatapan Helen langsung ingin menangis melihat Tika basah kuyup, Juna hanya bisa menghela nafasnya.


Suara semua orang berteriak terdengar saat Diana bermain jetski, meksipun pertama kalinya dia sangat hebat.


Tika menangis histeris ingin ikut Diana, Juna membiarkan adiknya bermain dengan menggunakan baju pelampung.


Suara tawa terdengar, bahkan semuanya ikut basah kuyup bermain jetski berjam-jam sampai lupa waktu.

__ADS_1


Altha dan Dimas saling pandang saat melihat rumah masih sepi, mereka seharusnya sudah berkumpul untuk berangkat pulang.


"Tumben sekali suasana tenang?" Al menatap keluar yang masih sepi.


"Di mana anak-anak?" Anggun juga binggung.


Suara menggigil terdengar, Tika menggerutu kedinginan dalam gendongan Dika yang langsung melangkah ke dalam villa.


Di belakang Dika ada Diana dan Helen yang wajah dan mata sudah merah karena banyak main air, Kenan juga melangkah masuk ingin segera mandi karena kedinginan.


"Di mana Juna?" Al menatap Kenan.


"Di sini Mi." Juna menggigil berjalan memeluk tubuhnya yang basah bersama Yandi langsung masuk.


"Astaghfirullah Al azim, sabar Dimas harus sabar. Yan kamu paling tua tidak malu mengikuti anak-anak bermain air di pagi hari?" Dimas menatap tajam sambil menggeleng kepala.


"Tidak bisa menolak kak Dim, soalnya seru dan menyenangkan." Yandi tersenyum ingin membereskan barang-barangnya.


Altha mengacak-acak rambutnya, tidak ada yang bisa membawa mobil. Dika, Kenan, Yandi pasti kelelahan dan berbahaya membawa mobil karena bertingkah bodoh bermain air selama berjam-jam.


Aliya menjatuhkan kopernya, meminta tolong suaminya mengeluarkan baju Tika dan Juna yang sudah di rapikan.


"Mommy, baju Di mana? dingin." Diana berteriak kuat.


Anggun sudah menarik koper Diana yang sudah rapi untuk dibongkar lagi.


Rencana pulang di pending, karena tidak ada yang bisa membawa mobil. Aliya dan Anggun tidak diizinkan mengendarai sendiri.


Alt menatap putra dan putrinya yang lanjut tidur, bahkan tidak mengingat makan lagi karena lelah bersenang-senang.


Al memeluk Tika yang kedinginan, tersenyum melihat putri dan putranya terlihat sangat bahagia.


"Sayang, kamu juga boleh tidur lagi." Alt mengusap kepala istrinya.


"Ayang juga ayo tidur." Al tersenyum melihat Altha mengusap kepala Juna yang tidur sambil tersenyum.


Alt sangat mengkhawatirkan kondisi Juna yang semakin hari bertambah pendiam, tapi sekarang cukup lega bisa melihatnya bermain sampai puas.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazara


__ADS_2