
Teriakan Altha terdengar, meminta Juna membawa Tika dan Mora keluar. Citra yang sedang patah hati dan emosi sulit dikontrol.
Sekuat tenaga Altha menghentikan keduanya yang saling tampar, pukul bahkan jambak. Rambut Altha juga habis berada dalam genggaman Aliya.
"Aliya Citra berhenti, kalian memberikan contoh yang buruk kepada anak-anak." Altha menarik keduanya dengan kasar.
"Sakit Alt." Citra melihat cengkraman kuat di lengannya.
"Apa ini sikap seorang ibu? di mana Citra yang dewasa dan berpendidikan tinggi? kamu memalukan Citra." Tatapan Altha tajam, kecewa melihat tingkah Citra yang kekanakan.
"Apa maksudnya Alt? apa menurut kamu contoh ibu yang baik seperti dia?" tangan Citra menunjukkan ke arah Aliya yang merapikan rambutnya.
Altha tersenyum bukan hanya rasa cinta Citra yang berubah, tapi sikap Citra juga berubah. Wanita yang paling mengerti Altha sudah tidak ada, dulu hal sepele tidak pernah menjadi pertengkaran, tapi sekarang tatapan mata Citra juga sudah terasa asing.
"Aku tidak akan pernah membiarkan kamu merebut anak-anak." Citra langsung menabrak Aliya, melangkah pergi.
Aliya ingin mengejar, tapi tangan Altha menahannya. Al tidak ingin menambah keributan lagi, setidaknya apa yang terjadi membuat Aliya puas karena melihat Citra patah hati, dan rasa sesal mengambil keputusan untuk pergi.
"Hidung kamu berdarah." Altha mencari tempat obat.
Perlakuan lembut Altha membersihkan hidung Al dengan tisu, wajah keduanya semakin dekat. Ekspresi Altha terlihat merasakan sakit padahal Al tidak merasakan apapun.
"Sakit tidak?"
"Dikit." Senyuman Al terlihat menatap rambut Altha acak-acakan.
"Ganti baju kamu, lihat basah semua." Mata Altha melotot melihat Aliya.
Aliya membuka bajunya di depan Altha membuat Alt menelan ludah, mata Altha langsung terpejam melihat tubuh putih Aliya tanpa baju.
"Kenapa tutup mata kita sudah pernah berduaan tanpa busana?"
"Aliya, kamu ini perempuan jaga sikap kamu sama laki-laki, sudahlah jangan debat langsung ganti baju." Altha memalingkan wajahnya, membelakangi Aliya yang hanya menggunakan dalaman.
"Kenapa tidak mengejar Citra? pergilah tenangkan perasaan anak-anak. Bagaimanapun Citra ibu kandung mereka?" Al tersenyum, melihat Altha pergi tanpa mengatakan apapun.
Ada perasaan sedih saat Altha menuruti ucapan Aliya, sebenarnya Al berharap Altha menolaknya.
Di ruang tamu Citra marah-marah menunggu Altha turun, Tika dan Juna menundukkan kepalanya sedangkan Mora sudah bersama baby sister.
"Kalian lihat sendiri jahatnya ibu tiri yang Papa bawa ke rumah ini." Nafas Citra ngos-ngosan, dia puas sekali bisa memukuli Aliya.
"Mama yang nakal, kenapa menyiram Mami yang sedang tidur? memukul Mami juga. Tika marah sama Mama." Tatapan Tika tajam, langsung melangkah pergi.
__ADS_1
Citra berteriak meminta Tika berhenti, membentak putrinya yang membela wanita murahan.
Nada bicara Citra sangat tinggi, mengatakan jika Aliya hanya berpura-pura baik dan akan membuat Altha membenci anak-anaknya.
"Mama sebaiknya pulang, jangan membuat keributan di pagi hari." Nada tinggi Juna terdengar, tanpa menatap wanita yang sangat dihormati sebelum pergi meninggalkannya.
"Kamu bicara apa Juna? di mana sopan santun putra Mama?"
Juna meneteskan air matanya, melihat Papanya bersama wanita lain sudah cukup menyakitkan bagi Juna, melihat Mamanya bersama pria lain juga menghacurkan hati Juna.
Sebagai seorang putra, juga seorang kakak dari adik-adiknya Juna memiliki harapan kedua orangtuanya bersatu kembali, tapi Juna sadar jika harapnya terlalu besar dan akan menyakiti kedua belah pihak.
Keputusan Mamanya ingin pergi sudah tepat, karena hanya berpisah yang bisa menghentikan keributan dan rasa saling menyakiti.
"Aku ini kandung kamu Juna? tega kamu mengusir Mama?"
"Juna tidak mengusir Mama, tapi Mama yang memutuskan pergi. Kenapa Mama marah kepada wanita lain saat Mama sendiri tidak bisa bertahan?"
"Kurang ajar kamu Juna? siapa yang mengajari kamu bicara tidak sopan?" Citra mencengkram kuat lengan putranya.
"Mama tahu kenapa Tika bahagia bersama mami? karena Mami selalu jujur dan tulus. Mama sudah banyak berubah, kami merasa asing." Juna menundukkan kepalanya, bibirnya bergetar karena menangis, merasakan sesak dadanya.
Altha berjalan menuruni tangga, meminta Citra mengikutinya. Alt tidak ingin bicara di rumah yang bisa memperburuk keadaan.
Suara ketukan pintu terdengar, Aliya membuka pintu melihat Tika membawakan susu membuat Aliya tertawa.
"Mami tidak meminum susu bayi."
"Ini susu Tika." Bibir Tika monyong.
Suara kuat barang jatuh terdengar, Aliya langsung berlari menuruni tangga mendengar suara tangisan Amora yang terjatuh bersama baby sister.
Aliya terkejut melihat Mora tergeletak di lantai sambil tengkurap, kepalanya berdarah. Aliya langsung menggendong Mora yang menangis histeris.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Maafkan saja Nona, tadi saya tinggalkan sebentar ...."
Aliya tidak mendengarkan penjelasan lagi, langsung berlari mengendong Mora. Arjuna dan Tika juga berlari mengikuti Al masuk ke dalam mobil.
"Juna gendong Mora, Tika duduk di belakang."
Tangisan Mora belum juga berhenti, jalanan yang padat membuat laju mobil lambat.
__ADS_1
"Sabar ya sayang, Mami tidak akan tinggal diam." Aliya menerabas jalanan yang macet, tidak memperdulikan kemacetan.
Juna merasakan cemas melihat tingkah Aliya yang bisa kebut-kebutan, bahkan tidak memperdulikan keberadaan polisi.
"Mami, Mora kenapa tidak gerak?"
"Jangan bicara sembarang Juna, Mora hanya sedang menahan rasa sakit."
Tangisan Tika dan Juna terdengar, tangan Aliya bergetar sampai tiba di rumah sakit.
Amora langsung dilarikan, bajunya penuh darah membuat Aliya sangat khawatir.
"Ya Allah apa yang terjadi sampai banyak sekali darahnya." Al menatap Mora masuk ke dalam ruangan rawat.
"Juna kamu membawa ponsel tidak?" Al bahkan lupa membawa ponselnya.
"Ini Mi."
Aliya langsung mengecek CCTV, tubuh Aliya langsung terkulai lemah melihat rekaman CCTV memperlihatkan Mora terjatuh dari lantai dua, karena kelalaian pengasuhnya yang sibuk telponan sambil bermesraan, tidak menyadari jika Mora berjalan ke arah tangga dan jatuh tergelincir.
"Mi apa yang harus kita lakukan?"
"Hubungi Papa kamu, keadaan Mora sepertinya tidak baik." Al memijit pelipisnya, mencengkram kuat tangannya.
Altha mempekerjakan seorang pengasuh yang masih labil, pikirannya masih ingin bersenang-senang dan berpacaran.
Bekali-kali Juna menghubungi Papanya, tapi tidak ada jawaban.
"Hubungi Mama kamu Juna?"
Arjuna melakukan panggilan, Citra langsung menjawab mengatakan sedang bersama papanya.
Juna menceritakan jika Mora jatuh, sudah dilarikan ke rumah sakit. Kepalanya terluka cukup parah.
Dokter keluar, meminta Aliya untuk mendengarkan jika kondisi Mora lemah, dia membutuhkan beberapa kantong darah untuk persiapan.
"Dokter bagaimana keadaan anak saya?" Altha menatap tajam, Citra sudah menangis histeris.
"Dia membutuhkan beberapa kantong darah untuk persiapan, kondisi anak bapak masih lemah, kita akan bantu sebaik mungkin. Golongan darahnya ... silahkan kedua orang tua untuk di cek golongan darahnya.
"Saya Ayahnya Dok, tapi kenapa golongan darah ...." Altha menatap Citra yang wajahnya pucat, golongan darah mereka berbeda dengan Mora.
***
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT
FOLLOW IG VHIAAZAIRA