ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MERELAKAN


__ADS_3

Operasi yang direncanakan sesuai jadwal tertunda, secara tiba-tiba hasil tes pasien berubah. Dokter tidak bisa memastikan jika operasi berjalan lancar.


"Apa kendalanya seburuk itu? anak ini tidak mungkin bertahan lebih dari satu minggu jika terus ditunda." Juna berjalan masuk ke dalam ruangan membaca detail hasil pemeriksaan.


Di luar ruangan Juna melihat Reza yang terlihat sangat gelisah, tertundanya operasi pertanda kondisi Adiknya memburuk.


"Kita lakukan operasi setengah jam lagi, tidak peduli kesempatannya berapa. Tim yang bertugas bersiaplah." Juna mengembalikan catatan yang sudah detail dan mampu dia pahami kondisi pasiennya.


Juna melangkah pergi, tapi di depan pintu Reza menghentikannya menanyakan kondisi Adiknya.


Tidak ada yang Juna tutupin dari Reza, menjawab jujur kondisi pasien. Kemungkinan besar gagal atau berhasil, resiko jika terus menunda.


"Selama ini bisa bertahan, kenapa kamu mengatakan dalam satu minggu tidak mungkin bisa bertahan?"


"Bertahan ada batas waktunya, dia sudah melewati delapan tahun dan ada masanya tumbuhnya tidak berfungsi lagi. Jika operasi ditunda dia dinyatakan mati otak. Pasien yang sudah mati otak, tidak mungkin bangun lagi." Juna menjelaskan secara detail sampai air mata Reza menetes.


Melihat Reza menangis, Juna merasa memahami perasaan. Jika Juna ada di posisi Reza tidak mungkin mampu bertahan selama delapan tahun berjuang untuk kesembuhan adiknya.


Tangan Juna memegang pundak, menyakinkan Reza agar berpikir positif jika semuanya akan baik-baik saja.


Kehidupan seseorang tidak bisa dipastikan oleh seorang dokter, hanya saja Juna akan berjuang memberikan yang terbaik.


"Jangan memohon, perbanyak berdoa saja." Senyuman Juna terlihat melangkah pergi.


Di dalam ruangannya, Juna mempelajari ulang. Memperhatikan masalah yang akan terjadi di ruangan operasi.


Pintu diketuk, Diana melangkah masuk saat Juna meminta bantuannya soal pasien yang harus melakukan operasi berbahaya.


Kening Diana berkerut, Juna cukup mengambil resiko. Meksipun Di menyadari jika ditunda memang lebih memperburuk keadaan.


Diana dan Juna terlibat pembicaraan yang cukup lama hingga menemukan titik terangnya.


"Assalamualaikum Ay,"


"Kenapa kamu ke sini Shin?" Diana menatap satu pengacau yang muncul.


Senyuman Shin terlihat langsung melangkah masuk duduk di samping Juna yang sedang membahas seorang pasien.


"Lihat tangan Shin, Ria yang melakukannya." Senyuman Shin terlihat menunjukkan telapak tangannya yang terluka.

__ADS_1


"Jun, sepertinya pembicaraan kita sudah selesai. Semoga operasinya berjalan lancar." Di mengacak-acak rambut Shin langsung melangkah ingin pergi.


Shin langsung ingin mengikuti Diana, tapi Juna menahan pergelangan tangannya untuk tetap melihat layar komputer.


Konsentrasi Shin fokus di depan komputer, sedangkan Juna membalut tangan yang darahnya sudah kering.


"Shin yakin operasi ini berhasil,"


"Dia sudah tertidur delapan tahun, aku harap kali ini bangun setelah perjuangan panjangnya untuk bertahan." Juna berdiri bersiap untuk masuk ruangan operasi.


Kepala Juna menoleh ke arah Shin yang ingin pergi menemui Papanya, Juna memberitahu jika keluarga pasien mungkin sangat Shin kenali.


"Jika kamu punya waktu temui dia,"


"Shin sibuk, ini juga datang karena Papa yang minta. Semangat Ay." Pintu dibanting kuat membuat Juna kaget melihat Shin yang datang dan keluar sesuka hatinya.


Pintu diketuk terdengar, Juna membuka pintu melihat Shin dan Reza berpapasan. Senyuman Reza terlihat menatap Shin dan Juna secara bersamaan.


"Kenapa kamu ingin bertemu dengan Juna?"


"Dia Kakak pasien yang aku ceritakan," ucap Juna singkat.


"Aku pergi ke ruangan Papa dulu,"


Arjuna melangkah bersama Reza, senyuman Reza tulus melihat ke arah Shin. Apalagi hubungannya dan Juna terlihat baik-baik saja meksipun ada acara pertunangan.


"Kamu belum menyatakan perasaannya? jaga Shin dengan baik." Setulus hati Reza mensupport Juna untuk menaklukkan hati Shin.


"Siapa kamu yang punya hak mengatakannya?"


Senyuman Juna terlihat, sebelum meminta Reza untuk mundur dengan sukarela menyerah lebih dulu.


"Kita akan bertemu delapan belas jam setelah ini." Juna melangkah masuk ke ruangan operasi diikuti oleh tiga dokter ahli bedah, enam ahli anestesi dan sedikitnya delapan perawat yang melakukan operasi. Karena mencapai delapan belas jam operasi ini dikatakan sebagai operasi besar.


Dari kejauhan Shin menatap punggung Reza, bukan tugas Shin untuk menghiburnya dan berharap operasi berjalan lancar.


Tanpa sengaja Reza melihat ke arah Shin tersenyum menatapnya meminta Shin mendekat dan memberikan sedikit dukungan.


"Bu Shin, doakan adik saya. Ini mungkin akan menjadi operasi terakhirnya." Senyuman Reza terlihat mempercayai Juna jika Adiknya akan bertahan.

__ADS_1


"Tenang saja, Kak Juna dokter yang hebat. Dia pasti berhasil menyelesaikan operasi ini. Bahkan Kak Juna pernah melakukan operasi selama 30an jam." Shin memberikan minuman agar Reza memiliki tenaga untuk menunggu.


"Aku juga mempercayai Juna,"


"Berapa usia adik kamu? kenapa dia bisa berada di sini?"


"Delapan belas tahun, dia gadis kecil yang sangat aktif, tapi ada tragedi yang hampir membunuhnya." Reza menundukkan kepalanya, Reza berat untuk mengungkit kembali karena terlalu menyakitkan.


Shin sangat mengerti, dia akan menemani Reza untuk menunggu si kecil keluar. Berharap dia bangun dan menikmati hidupnya yang sudah tertunda selama delapan tahun.


Saat terbangun sudah tumbuh menjadi seorang remaja pasti sangat menakutkan untuk beradaptasi dengan dunia baru.


Berjam-jam Reza dan Shin menunggu, bahkan Shin beberapa kali pergi hanya sekedar untuk makan dan tidur. Reza tidak beranjak sedikitpun, dia makan dan minum dengan apapun yang Shin berikan.


"Za, kamu tidak lelah duduk selama sepuluh jam?"


"Tidak, mereka yang di dalam jauh lebih lelah, aku bisa tidur menunggu di sini. Kamu juga tidak pulang, nanti dicari oleh orang tua kamu." Reza berdiri melihat ke dalam ruangan operasi yang terlihat ada kendala.


Panggilan masuk di ponsel Shin, Ria menghubungi jika sudah mengetahui keberadaan Dina. Atika sedang dalam perjalanan, Dina terlihat di sebuah Bar bersama beberapa wanita malam.


"Dina sudah ditemukan? apa kepolisian tahu?" Shin langsung bergegas pergi tanpa pamitan dengan Reza.


"Dina, Shin kamu tidak boleh pergi." Reza berlari mengejar Shin, namun terlambat Shin sudah menjalankan mobilnya.


Reza langsung mengumpat, dia sibuk mengurus Adiknya sampai lupa dengan Dina yang memiliki rencana jahat ingin menyingkirkan gadis yang bernama Ria.


"Aku harus menghubungi kepolisian, mungkin bisa menghentikan Dina." Reza langsung bergegas pergi untuk menuju kantor polisi.


Belum sempat Reza pergi jauh, seseorang memukulnya dari belakang membawanya masuk ke dalam mobil.


Beberapa orang sudah lama menunggu Reza keluar, dan mulia menyusun rencana untuk menghacurkan keluarga Rahendra.


Kesadaran Reza masih terasa, mengirimkan lokasi kepada Shin. Handphone Reza disita dan langsung dibuang. Kepala Reza dipukul kembali sampai jatuh pingsan.


***


Jangan lupa like coment Dan tambah favorit


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2