
Pintu terbuka, para krucil masuk. Isel langsung naik ke atas kursi menatap bayi yang digendong oleh Mamanya. Memperhatikan wajah baby girl yang sangat cantik.
"Kenapa kamu menatap baby begitu?" Di menatap putrinya yang celingak celinguk.
"Ini anak siapa?"
"Anaknya Kak tika, itu anaknya ...."
"Oh, anaknya Kak Shin belum lahir." Isel meringis kesakitan karena dipukul oleh Mamanya yang menjawab sebelum orang tua selesai bicara.
Tatapan mata Isel taja, memukul kepala bayi yang langsung menangis. Tangisan bayi yang ada dalam gendongan Aliya juga terdengar karena terkejut.
"Isel kurang ajar, kamu sudah besar Isel, masih saja memukul anak kecil. Kamu bukan cucu satu-satunya lagi karena sudah ada wanita baru. Anak nakal seperti kamu memang tidak pantas di sayang,"
"Mama yang pukul Isel duluan, jahat. Tidak sayang Isel lagi, tidak mau sama Mama lagi." Teriakan Isel terdengar membuat Gemal menggendong Putrinya.
Senyuman Genta terlihat mengambil putrinya yang baru saja dipukul oleh cucu perempuan pertama yang merasa iri mendapatkan dua saingan.
"Siapa namanya Genta?" Mam Jes menatap dua bayi yang ada di dalam boks.
"Aku dan Tika belum membicarakan pastinya nama mereka, hanya ada beberapa pilihan karena tidak tahu jenis kelaminnya." Genta duduk di samping istrinya yang sudah membaik.
"Tika memberikan nama Mama Citra di tengah namanya. Citra Leondra, tapi untuk nama depannya belum dipastikan." Atika menatap Shin yang sudah bangun. Menatap ke arah boks anaknya.
Juna mengambil baby, menyerahkan kepada Shin yang mencium anaknya dengan sangat lembut.
"Namanya Almora Shinar Gentari Rahendra, Almora mengambil nama si kecil kesayangan Tika dan Juna, Shinar sama seperti Mama Cahya yang bersinar dan Gentari mengikuti nama Shin, begitupun Rahendra mengikuti nama Papanya." Senyuman Shin terlihat menatap putri kecil yang terlihat sangat cantik.
Semua orang tersenyum, nama yang Shin berikan sangat bagus dan memiliki arti yang berharga baginya dan Juna. Si kecil akan terus bersinar di antara yang lainnya.
"Kenapa tidak ada nama Ria? aku juga kesayangan Kak juna." Ria langsung protes, menatap marah dengan nama yang diberikan.
"Bukan seperti itu adikku sayang, kalau nama kamu diikutsertakan maka nama kalian sama. Memangnya boleh?" Senyuman lembut Juna terlihat menatap adiknya yang geleng-geleng kepala.
Helaan napas keluarga terdengar, merasa tenang karena akhirnya Ria tidak protes lagi dan membenarkan ucapan kakaknya.
"Jadi namanya Almora Shinar Gentari Rahendra. Nama panggilnya Mora atau Shinar?"
"Mora," jawab Juna dan Shin bersamaan.
__ADS_1
Semua orang menyukai nama baby Mora yang terlihat sangat menggemaskan, gabungan wajah Juna dan Shin menjadi satu.
"Lalu kakak ini namnya siapa?" Altha menyentuh hidung baby Tika yang belum memiliki nama.
"Almira Citra Gentara Leondra, itu saja namanya. Wajah mereka juga kembar. Mora dan Mira." Ria menatap wajah dua baby yang wajahnya sulit dibedakan.
"Tidak mau namanya Mei dan Mai, tidak suka Mora dan Mira." Isel protes dengan nama baby yang tidak cantik.
"Jika namanya Mei dan Mai beda cerita Ghiselin." Gemal mencium wajah putrinya gemes.
"Almaira dan Aymeira,"
"Mira dan Mora titik, jika kamu ingin Mei dan Mai, tunggu saja sampai kamu punya anak sendiri." Suara Ria menimpali membuat perdebatan panjang.
Nama panggilan dimenangkan oleh Ria, Isel kalah debat sampai menangis karena nama yang dia berikan tidak diterima. Sedangkan Haidir langsung diterima.
Genta menegangkan si kecil, nanti memiliki anak lagi, barulah akan ada Mai dan Mei atau ada boy juga.
"Isel tidak boleh kecewa nama itu doa sayang. Isel harus doakan nama yang diberikan kepada baby Mira dan Mora." Dengan penuh kelembutan Genta menasihati si kecil yang langsung menurut.
Senyuman semua orang terlihat, menyambut kehadiran dua baby cantik. Keluarga baru yang akan menjadi penambah kebahagian mereka.
"Perasaan Dean juga tidak enak, syukurnya tahun ini sekolah luar negeri." Dean bernapas lega karena terbebas dari calon pengacau.
Senyuman Juan juga terlihat, dia juga harus sekolah di luar, berpisah sementara dengan dua keponakan kesayangannya.
Tangan juga menyentuh tangan baby Mora dan Mira yang langsung mengenggam tangannya.
"Cantik, tunggu Uncle pulang, nanti kita main bersama. Tidak peduli jika kalian nakal, Uncle tetap sayang." Senyuman Juan terlihat menatap dua lesung pipi yang muncul di pipi kanan dan kiri dua baby.
"Bagaimana nasib Gion, tidak bisakah aku sekolah di luar negeri saja?"
Kepala Gemal menggeleng, tidak ada yang bisa keluar negeri selain Juan dan Dean yang harus belajar mandiri.
Persiapan pulang baby Mora dan Mira disambut di rumah, dua baby tinggal di rumah yang sama dengan penjagaan yang ketat.
***
Larut malam Tika terbangun, mendengar suara bayinya yang sedang bersuara. Membawanya keluar kamar untuk menyusui, tidak tega jika suaminya bangun padahal baru saja tidur.
__ADS_1
"Shin, kenapa di luar?"
"Mora rewel, Ay Jun baru tidur. Kasihan jika tidurnya terganggu." Shin mengusap wajah anaknya yang sedang menyusu.
Tika juga langsung duduk, menyusui anaknya yang matanya terbuka lebar. Senyuman Tika terlihat merasa bahagia melihat anaknya tubuh sehat.
"Mira ada tanda lahir di kakinya?" Shin menyentuh kaki baby Mira.
Kaki Mira menendang kaki Mora, begitupun sebaliknya. Sambil menyusu keduanya saling tendang membuat Tika dan Shin saling tatap.
"Gawat, dari bayi sudah main tendang," Shin langsung cemas jika anaknya dan Tika sama nakalnya seperti dirinya.
"Kenapa sudah ada tanda-tanda calon pengacau?"
"Seperti kita harus mengumpulkan kesabaran seperti Mami Aliya dan Kak Di?" Shin mengerutkan keningnya.
Tangan Tika menepuk keningnya, merasa cemas memikirkan anak mereka yang sejak bayi sudah memberikan tanda-tanda.
Tatapan mata sinis Mira juga terlihat, mulutnya masih menyusu, tapi matanya melirik ke sekitarnya.
"Kita berpikir positif saja Shin, satunya anak yang lemah lembut, bisa menjadi air yang mematikan api." Tika yakin ada sisi baiknya.
Sampai matahari terbit, Tika dan Shin tidak tidur lagi, sibuk mengurus anak dan suaminya yang harus bekerja.
"Assalamualaikum, Tika Shin, mami bawa baby Mora dan Mira ya?" Aliya memasukkan dua bayi ke dalam kereta dorong untuk membawanya berjemur pagi.
Di depan rumah Aliya duduk bersama Mam Diana, Anggun dan Salsa yang memperhatikan dua bayi yang masih tidur.
Suara Ria jatuh tersungkur terdengar, Aliya langsung berlari melihat kepala putrinya berdarah. Diana dan Anggun juga mendekati, mengecek kondisi Ria.
"Awas ... Isel mau lewat. Anggun teriakan kaget melihat Isel mengendong bayi memasukkan ke dalam keranjang sepedanya, dan yang satunya di belakang.
Di lantai atas Tika dan Shin menarik napas melihat anaknya yang dibawa sepeda.
"Isel! mereka masih bayi, nanti jatuh." Diana mengejar Putrinya yang sudah berlari kencang.
"Isel mendengarnya menangis, niat menenangkan,"
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira