ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MOMEN INDAH


__ADS_3

Sesampainya di rumah Altha langsung menidurkan Tika di kamarnya, merangkul Aliya untuk menuju kamar mereka.


Sebelum masuk kamar, Altha mengetuk kamar Juna memperingatinya untuk segera tidur karena hari ini cukup melelahkan bagi mereka.


"Kamu mau mandi dulu?" Alt membukakan pintu, Aliya langsung melangkah masuk.


Senyuman Altha dan Aliya terlihat, kamar mereka sudah dihias oleh Tika dan Alin tanpa sepengetahuan Aliya dan Altha.


"Ayang mau mandi?" Al membuka kancing baju kemeja Altha yang hanya menganggukkan kepalanya.


Altha mengunci pintu kamar mereka, kebiasaan tengah malam selalu kedatangan dua bocah perusuh yang akan tidur memeluk mereka.


Aliya melangkah masuk kamar mandi lebih dulu, membuka bajunya dan berendam di dalam bathtub.


"Al, aku boleh masuk tidak?" Altha mengetuk pintu langsung membukanya perlahan setelah mendapatkan izin untuk masuk.


Senyuman Alt terlihat, duduk di samping bathub menatap wajah cantik istrinya. Rambut panjang Aliya terurai menutup lehernya.


"Ayang, bagaimana bisa membedakan akuntansi Alina?"


Altha memasukkan tangannya ke dalam air, mengambil tangan Aliya menggenggam jari-jemari.


"Karena aku mencintai kamu, aku sudah melihat baik dan buruknya kamu. Semirip apapun kalian, hati aku bisa merasakannya." Alt meletakan tangan Aliya di dadanya.


Al tersenyum menepuk pelan dada suaminya yang tidak menggunakan baju, rasa cinta memang aneh dan sulit dipahami.


Alt langsung mandi menggunakan shower, me meminta Aliya mempercepat mandinya karena sudah malam dan dingin.


Tatapan Altha melihat ke arah perutnya, Al memeluknya erat dari belakang. Al menyentuh tangan istrinya sambil menoleh ke arah Al yang tersenyum.


"Peluk." Al melingkarkan tangannya di leher Altha yang langsung dipeluk erat.


Selesai mandi Altha membantu Aliya mengerikan rambutnya agar tidak dingin, sambil tersenyum melihat tingkah konyol Aliya yang sebenarnya sangat jahil.


Al mengusap wajah suaminya yang ternyata sangat tampan, apalagi tidak menggunakan baju, rambutnya basah membuat Al ingin menciumnya.


"Ayang."


"Kenapa?" Altha merapikan rambut Al yang sudah kering, lanjut mengerikan rambutnya.


Aliya duduk di atas meja rias, menakup wajah suaminya sambil mendaratkan ciuman. Al kesal melihat Altha yang membuang waktu, jika Al yang mulai dirinya malu.

__ADS_1


"Ayang, Al sudah menunggu satu tahun untuk bisa melakukannya."


"Melakukan apa? bukannya alasan kita dulu menikah karena sudah melakukan lebih dulu. Kamu tidak lelah?"


Aliya tersenyum membisikkan sesuatu kepada suaminya, jika dulu mereka berdua tidak melakukan apapun. Jangankan berhubungan, saling peluk juga tidak.


Altha hanya tertawa kecil, dia sudah lama tahu tapi sengaja ingin mendengar kejujuran Aliya soal hubungan mereka.


"Ayang, Al ingin jujur satu hal, tapi janji tidak marah." Al memberikan jari kelingkingnya.


Altha menganggukkan kepalanya, membalas jari kelingking Aliya. Secara langsung Altha terdiam saat Al mengatakan jika kemungkinan dirinya sudah pernah tidur dengan lelaki lain.


"Maafkan Aliya."


"Emh, aku tidak perduli Aliya. Masa lalu kamu biarlah menjadi masa lalu. Semua orang mempunyai masa lalu, dan aku tidak ingin tahu soal itu cukup masa depan saja yang kita bicarakan." Altha mencium kening istrinya, cinta Altha tidak memandang baik buruknya Aliya.


"Ayang, I love you."


"Aku juga memiliki banyak kekurangan Aliya, mencintai kamu dan memilih kamu menjadi pendamping hidup menjadi keputusan paling benar. Kekurangan kamu dan kekurangan aku akan tertutupi selama kita saling memperbaiki diri." Alt tidak menunggu jawaban Aliya yang baru saja ingin membuka mulutnya untuk mengatakan jika dirinya berbohong.


Mata Al terpejam, memeluk leher suaminya yang sudah mencium bibirnya sangat lembut. Alt memperlakukan Aliya sangat lembut, karena selama satu ini mereka tidak berhubungan.


Menahan diri selama satu tahun, sangat sulit bagi Alt. Dia sudah cukup lama menunggu hari akhirnya bisa menyentuh Aliya secara saling mengingatkan.


Al langsung mendorong suaminya, Aliya kehabisan nafas langsung ngos-ngosan. Altha cukup liar dalam berciuman.


Kepala Altha mendekati leher putih Al memberikan tanda merah, tangan Al meremas lengan Altha sampai meninggalkan warna merah.


"Ayang, jangan banyak-banyak nanti Tika kepo, terus minta juga mampus kita." Al melihat ke kaca melihat lehernya.


Masih bisa mengigat Tika di saat panas begini Aliya." Altha langsung menggendong membawa Al ke atas ranjang.


Ciuman panjang terjadi di atas rajang, Aliya tidak bisa bergerak sama sekali saat Alt ada di atasnya.


Suara Aliya mulai terdengar, satu tangan Al menyentuh dadanya membuat rajang mulai berhamburan.


Tangan Al hanya bisa mencengkram seprai dan menahan suara menjijikan yang membuat Altha semakin menggila.


Suara bisikan ditelinga Aliya membuatnya tersenyum malu-malu, hanya memejamkan matanya tidak ingin melihat wajah suaminya yang tidak bisa dirinya bohongi.


"Al, aku mencintai kamu." Ciuman Altha mendarat di kening Aliya.

__ADS_1


Cengkraman Aliya semakin kuat, bibir bawahnya digigit kuat merasakan sakit atas perbuatan suaminya.


Kedua tangan Al langsung memeluk tubuh suaminya, pelukan Aliya langsung melemas dan terlepas.


Satu lengan Al menutup matanya, Altha tersenyum menarik selimut menutupi tubuh mereka yang tidak menggunakan sehelai benang.


"Kamu lelah, tidurlah. Malam ini cukup satu kali, aku tidak ingin besok pagi tubuh kamu remuk." Alt duduk di pinggir ranjang, mengambil baju dan menutupi tubuhnya.


Aliya menahan tangan Altha yang ingin melangkah pergi untuk menghilangkan keringat dari tubuhnya yang masih mengalir.


"Kenapa sayang? masih sakit."


"Ayang tahu dari mana jika aku tidak bisa disentuh."


"Karena aku mencintai kamu, dan tahu kapan kamu jujur dan bohong. Sekarang istirahat." Alt mencium seluruh wajah Aliya yang kelelahan.


Al meminta waktu istirahat satu jam, setelahnya dia ingin mencobanya lagi. Aliya sudah cukup lama penasaran.


Altha hanya menganggukkan kepalanya, langsung melangkah tidur lagi sambil memeluk istrinya yang sudah tidur.


Tatapan Altha masih memperhatikan istrinya, satu jam yang Al janjikan tidak dia tepati karena tubuhnya terlalu lelah karena pesta, dilanjutkan lagi dengan malam panas mereka.


"Aku takut kehilangan kamu lagi Al, teruslah ada dalam pelukan aku. Satu-satunya orang yang akan aku percaya hanya kamu, jangan pernah meninggalkan aku dengan alasan apapun." Alt mengusap wajah istrinya yang tersenyum.


Al hanya memberikan jempolnya, dia kehabisan tenaga hanya sekedar untuk menjawab.


"Masih berapa menit lagi satu jam?"


"Masih ada enam puluh menit, kamu mempunyai banyak waktu untuk beristirahat." Altha tersenyum gemes melihat wajah istrinya.


Malam pertama yang singkat, tapi Altha bahagia karena istrinya yang pembohong tidak menunjukkan kesedihan, tapi meminta lagi padahal dia sudah kehabisan tenaga.


Keduanya terlelap tidur saling berpelukan, tidur pertama bagi Aliya yang paling melelahkan, tapi membuatnya sangat bahagia.


Rasanya ada mimpi indah, seorang anak laki-laki yang menggenggam tangan Aliya dengan sangat erat sambil tersenyum.


***


Jika ada TYPE mohon dimaafkan, aku GK mau edit ulang.


***

__ADS_1


__ADS_2