ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
PENCEMARAN NAMA BAIK


__ADS_3

Satu minggu kebahagiaan menyelimuti Altha dan keluarga kecilnya, Al hanya menghabiskan waktu bersama anak-anak dan menunggu suaminya pulang bekerja.


Al juga menghabiskan waktunya untuk kuliah, meskipun belum banyak yang berubah dari Al. Dia jarang muncul dan hanya sesekali hadir dengan banyak alasan.


"Sekarang apa lagi yang harus aku lakukan?" Al menatap Elen yang hanya tertawa kecil melihat Al yang selalu mencari kesibukan.


"Permisi Bu, ini ada surat." Penjaga rumah menyerahkan sebuah amplop coklat tanpa ada nama pengirim.


Al mengerutkan keningnya, langsung membuka dan membaca isinya. Tatapan Aliya langsung tajam dan berlari ke kamarnya mengambil kunci mobil dan ponsel lalu melangkah pergi.


Pertanyaan Helen tidak di dengarkan sama sekali, Al langsung masuk mobil dan meninggalkan kediamannya.


Sepanjang perjalanan Al menghubungi Anggun, tapi tidak mendapatkan jawaban. Langsung menuju kantor Anggun yang pastinya sedang berkerja.


Sampai di kantor Al langsung berjalan, langkah Al terhenti langsung melihat ke arah ruangan sidang dan langsung masuk.


Tatapan Al tajam melihat Anggun yang sedang ada sidang, dan seseorang yang dia bela juga bukan seseorang yang baik sehingga wajah Anggun tidak bersahabat.


"Kenapa kamu ada di sini?" tatapan Dimas tajam melihat Aliya yang berdiri menatap Anggun.


"Ada urusan dengan kak Anggun."


"Soal apa?" Dimas menatap penuh rasa penasaran.


"Kenapa kak Dimas kepo sekali? ini urusan perempuan." Al melotot melihat Anggun memijit pelipisnya.


Selesai persidangan Aliya langsung mengejar Anggun yang berjalan tanpa bertenaga, ada hal yang tidak bisa dibocorkan, tapi menyakitkan jika disembunyikan.


"Kak, Al ingin bicara." Aliya menahan tangan Anggun.


"Nanti saja Al, aku ingin sendiri."


Aliya menghela nafasnya, hanya bisa membiarkan Anggun pergi meninggalkannya. Dimas langsung merangkul Al dan memintanya memahami Anggun.


Perjuangan Anggun menjadi pengacara tidaklah mudah, hidup sebagai anak yatim pintu dan harus bertahan hidup di dunia yang kejam.


"Kamu ingin bicara apa Al?" Dimas melihat ponselnya yang mendapatkan panggilan tugas.


Al membiarkan Dimas pergi, hanya bisa berdiri diam dan mengikuti Anggun yang melangkah pergi.

__ADS_1


Hati Al merasakan sesak, tujuan Anggun sebuah makam dan dari kejauhan Al melihat Arjuna juga hadir di pemakaman.


Juna juga melihat Al dan langsung berlari ke mobil Maminya, melangkah masuk dan melihat ke arah pandang Maminya.


"Kenapa Mami bisa ada di sini?"


"Siapa yang meninggal Juna?"


Arjuna menceritakan jika salah satu teman kelasnya mengalami kekerasan, dan dirawat di rumah sakit dan sekarang meninggal karena kondisinya sangat buruk.


Al mengambil amplop coklat dan melihat kembali isinya sambil menghela nafasnya, Juna langsung melihat isi amplop dengan wajah kaget.


"Kenapa dia mengirim surat untuk Mami? apa Mami mengenal dia?" Juna melihat ke arah pemakaman yang semakin ramai.


Al merangkul putranya, anak yang baru saja meninggal sepertinya salah satu tetangga mereka.


Beberapa kali Aliya melihat dia berdiri di ujung jalan sambil menangis, tapi Al tidak sempat menemuinya karena tiba-tiba saja Ayahnya datang dan merangkulnya pulang.


Surat yang dikirimkan bukti jika dia di aniaya dan dilecehkan oleh ayahnya, keadaan tidak baik karena pengacara Ayahnya Anggun yang diminta secara paska untuk membelah di pengadilan.


Pelaku sudah divonis penjara dengan tuntutan ringan, dia tidak terbukti melakukan kekerasan. Orang-orang kaya memang hebat dalam menutupi kejahatan.


"Entahlah, mami tidak tahu banyak dan kita terlambat menolong dia." Al turun dari mobil, melangkah bersama Juna untuk melihat pemakaman.


Selesai pemakaman Anggun didorong kuat, cacian dan makian terdengar dari ibu yang anaknya baru saja meninggal.


Putrinya korban, dia meninggal karena kekejaman dan ketidakadilan hukum. Sudah tahu mantan suaminya salah, tapi Anggun masih membelanya.


Satu tahun penjara tidak sebanding dengan trauma anaknya yang dibawa sampai mati, hanya satu tahun lalu dibayar uang dan bisa bebas secara bersyarat.


"Kalian pembunuh."


"Maafkan saya bu, ini hanya tugas. Jika memang ...." Anggun memegang pipinya yang mendapatkan tamparan kuat.


Aliya langsung menghentikan keributan, mereka masih ada di pemakaman dan bunga kuburan saja belum layu.


Tamparan kuat juga menghantam Aliya, putrinya mengatakan jika Al tahu soal kekerasan dan pelecehan, tapi diam saja dan tidak melakukan apapun.


Al mengerutkan keningnya, kenapa dirinya menjadi disalahkan. Al tidak tahu jika Ayahnya bersikap kasar, lalu di mana sosok ibu yang seharusnya melindunginya anaknya.

__ADS_1


"Benar kata Citra, kamu wanita perebut suami orang dan menghancurkan kebahagiaan orang lain. Wanita kotor seperti kamu tidak mungkin memiliki belas kasihan." Wajah Aliya ditunjuk dengan penghinaan dan tuduhan di depan banyak orang.


"Kenapa menyalahkan saya? lalu di mana sosok ibu yang sempurna?" Al menatap tidak suka dengan ucapan yang tidak sesuai kenyataan.


Anggun menghentikan Aliya, dia harus mengerti jika baru kehilangan anak rasanya dunia hancur.


Anggun meminta maaf dan turut berdukacita, permintaan maaf Anggun tidak diterima karena tidak bisa menghidupkan anaknya kembali.


"Kalian berdua harus bertanggung jawab, dan aku pastikan tidak akan melupakan kejadian ini."


Al menggenggam kuat tangannya, kesal sekali hatinya mendengar ancaman. Kesalahan mereka di mana? jangan karena mereka tetangga sehingga bisa disalahkan.


Anggun meneteskan air matanya, menatap batu nisan dan meminta maaf karena tidak bisa berbuat banyak.


Dari kejauhan Citra tersenyum melihat keributan di pemakaman, satu rencana untuk mencemarkan nama baik Aliya mulai berjalan.


Surat yang dikirim sebenarnya Citra yang melakukan agar Aliya juga terbawa-bawa dan tidak disukai orang sekitar.


"Rasakan enaknya mendapatkan julukan pelakor." Citra melangkah pergi.


"Mami tidak seperti itu, Mama yang meninggalkan kami." Juna menatap tajam Mamanya, Citra langsung melangkah pergi tanpa menghiraukan Arjuna.


Citra bukan hanya memutuskan hubungan dengan Altha, tapi juga dengan anak-anaknya yang tidak bersalah.


Siapapun yang membela Aliya, berarti dia juga musuh Citra. Seseorang yang menyimpan sakit hati bisa melakukan segala cara untuk terus membenci.


Al menyadari kehadiran Citra, memperhatikan surat yang sudah bisa Al pikirkan. Dia akan mengikuti permainan Citra, jika memang dengan kelicikan bisa membuatnya puas akan Al ladeni.


"Kak Anggun, buka kembali kasus ini. Jadilah pengacara Aliya yang akan melaporkan ulang soal kepergian dia dan kita ungkap siapa saja orang yang terlibat dibaliknya." Al tersenyum sinis.


Dirinya tidak bisa bernafas tenang selama apa yang terjadi belum terungkap kebenaran, Al ingin tahu sekuat apa sosok Citra yang berani menyentuhnya apalagi ingin merusak nama baiknya.


Jangankan Citra, iblis juga Aliya lawan jika mencoba bermain-main dengannya.


"Kematian bukan akhirnya, masih ada manusia hidup yang akan mengungkapkan kebusukan pelaku." Al menepuk pundak Anggun untuk meninggalkan pemakaman.


***


follow Ig Vhiaazara

__ADS_1


__ADS_2