ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
BEBAN RUMAH TANGGA


__ADS_3

Kondisi Al sudah jauh lebih baik, Tika tidak bisa jauh dari dirinya. Hanya Arjuna yang jarang terlihat.


Altha juga hanya muncul sesekali, kemunculan Altha hanya soal Aliya dan terus mendesak Alina untuk menentukan keberadaan Al.


"Mami, Tika ke ruangan Mama dulu ya." Tika mencium Al dan langsung melangkah pergi.


Senyuman Alina terlihat, langsung turun dari ranjang mendekati jendela. Tidak menyangka dirinya masih hidup setelah mendapatkan tusukan dan pukulan berkali-kali.


"Sudah tahu di mana keberadaan Aliya?" Altha melangkah mendekati Alin yang langsung mengumpat karena kaget.


"Kamu tidak melihat kondisiku, sabar." Alin menatap tajam, dia tidak ingin muncul dan melibatkan status Aliya di dalam dunia hitam.


Alin meminta waktu untuk berpikir, dan berjanji akan menemukan keberadaan Aliya. Dia juga tidak akan tinggal diam, Al harus kembali.


"Selama Al belum ditemukan, tolong kamu jangan ungkap siapa aku." Alin memukul jendela kesal.


"Aku berikan kamu waktu dua bulan, terbaring di sini selama satu bulan sudah membuang waktu." Nada bicara Altha tinggi.


Alin menendang kursi, Altha terlalu keras kepadanya. Alin juga hampir mati dan saat sadar harus menuruti keinginan Altha.


Alt saja tidak mampu menemukan istrinya, dan sibuk mendesak Alin yang baru kembali dari maut.


"Bagaimana pencarian kamu?"


"Tidak ada hasil, Aliya bagaikan ditelan bumi." Alt tidak ingin terang-terangan mencari Aliya, karena akan ada masalah yang lebih buruk lagi.


Suara Alina tertawa terdengar, dia cukup kasihan melihat Altha yang sulit sekali untuk bahagia.


Melihat Alin yang tertawa, Alt langsung ingin melangkah pergi. Waktu yang diberikan hanya dua bulan, jika Alin tidak menemukan Aliya maka Altha akan memprosesnya melalui hukum untuk semua kejahatannya.


"Alt, bagaimana kamu bisa mengenali aku?"


Altha mengerutkan keningnya, mudah baginya untuk membedakan Alin dan Al. Aliya selalu bersikap manja dan mengemaskan di depan Altha, tetapi saat dia terluka Al selalu akan mengatakan aku baik-baik saja.


Melihat Altha pergi, Alin langsung mengambil infusnya ikut melangkah keluar. Mengendap-endap lambat melihat ke arah satu ruangan.


Citra sudah pulih dan duduk di kursi roda, senyuman Alin terlihat menatap wanita sombong dan angkuh tidak bisa berjalan lagi.


Terdengar pembicaraan Citra dan Tika, sikap licik Citra dia pergunakan untuk mendapatkan Altha kembali, menggunakan anaknya untuk menaklukan hati mantan suaminya.

__ADS_1


"Perempuan licik, akan aku bereskan kalian semua." Alin melepaskan infusnya langsung melangkah pergi, langka Alin terhenti saat melihat Juna.


"Temukan Mami secepatnya, berhentilah melakukan kejahatan." Juna menatap sinis, langsung duduk di kursi tunggu.


Alin tertawa pelan, Juna juga mengenali dirinya. Bapak sama anak memiliki kesamaan, mudah membedakan wanita yang mereka sayangi.


"Lindungi Mama kamu, jika dia macam-macam aku akan menyingkirkannya." Alin langsung melangkah pergi meninggalkan Juna yang hanya diam saja melihatnya pergi.


Tidak butuh waktu lama, Juna melihat Alina balik lagi langsung duduk di samping Juna dengan tatapan binggung.


"Ada apa balik lagi?"


"Aku sebagai Aliya, dia punya uang tidak? jika aku pergi lalu menjadi gelandangan, terus Citra menikah lagi dengan Altha lalu Aliya kembali menjadi janda. Pasti aku yang Al salahkan?" Alin tidak akan pernah pergi, dia harus menyingkirkan Citra menjauhi suami adiknya.


Juna menatap Alin memintanya menjelaskan apa yang terjadi kepada Maminya, dan apa yang Alin rencana sehingga berpura-pura menjadi Maminya.


Sejujurnya Alin juga binggung apa yang terjadi saat malam setelah Al ditusuk, dia berdiri di depan Alina menghadang benda tajam yang menembus perutnya.


Karena ada kabut, Alin tidak bisa melihat jelas, tapi dia tahu siapa orang yang sudah menusuk Aliya.


Alin menyentuh perutnya, masih ada rasa sakit yang terasa. Akan Alin pastikan untuk menemukan Aliya dan orang yang sudah menusukkannya.


Seseorang yang menyimpan dendam kepada Aliya yang melakukannya, sebelum Al kembali Alin akan membereskan mereka semua.


Pintu ruangan Citra terbuka, Tika langsung menggenggam tangan Alin yang berdarah karena melepaskan infus secara paksa.


Citra mendorong kursi rodanya, menatap Al penuh kebencian. Citra sudah mendapatkan izin pulang, begitupun dengan Al.


"Papi, tangan Mami berdarah."


Altha langsung mendekat, merangkul Al untuk kembali ke kamarnya dan memanggil perawat untuk mengobati tangan.


Alina tersenyum melihat Altha, dia bersandiwara di depan Citra agar bisa menutupi siapa Alina.


***


Alt membuka pintu untuk Aliya, langsung membantunya untuk berjalan ke dalam rumah.


"Altha, bagaimana caranya aku keluar?"

__ADS_1


"Beban rumah tangga." Alin menatap Citra yang memelas.


Altha langsung memanggil penjaga, meminta bantuan untuk menggendong Citra ke kursi roda, dan Altha juga sudah menyiapkan asisten pribadi untuk Citra yang akan menemaninya dan membantunya dalam segala hal.


Suara tawa Alina terdengar, merasa lucu dengan keluhan Altha. Dia harus memelihara dua wanita yang membuat hidupnya kacau.


Mantan istri yang keluarganya membunuh kedua orangtuanya, dan juga adik istrinya yang membunuh putrinya.


Di dalam kamar Alin terus tertawa mendengar Altha memarahinya, Alin berjanji dia akan segera membawa Aliya kembali juga membuat Citra angkat kaki dari kehidupan Altha.


"Bagaimana caranya aku menyingkirkan Citra? dia ibu anak-anak."


"Ayah Citra masih ada, Aliya tertusuk karena ayah Citra. Cepat atau lambat dia akan muncul kembali, dan membalas dendam untuk Citra dan cucunya." Alin menatap tajam.


"Kamu membuat kami memiliki banyak musuh, psikopat seperti kamu bisa tidak sadar diri."


"Sialan, haruskah aku membunuh kamu." Alin mengarahkan senjata kepada Altha.


Tangan Altha langsung merampas senjata Alin, sedikit saja Alin melakukan kejahatan akan tahu betapa jahatnya seorang Altha.


Alin hanya memiliki satu kesempatan untuk menemukan Aliya, gunakan seluruh koneksinya dalam kejahatan untuk menemukan istrinya.


Kebaikan Altha hanya dua bulan, Alin juga tidak bisa melakukan apapun di luar pengawasan Alt.


"Kamu hanya memiliki dua pilihan, menghilang selamanya atau perbaiki diri. Aliya sudah cukup tersakiti karena kekejaman kamu." Altha melangkah keluar meninggalkan Alina.


Suara teriakan Alina terdengar, bayangan kematian orangtuanya, juga ucapan terakhir Aliya membuat dadanya sesak.


"Kalian pikir aku ingin seperti ini? aku juga ingin hidup normal, tapi keadaan tidak mengizinkan." Alin menendang kuat tempat tidur.


Pintu kamar Alin terbuka, Tika tersenyum langsung masuk dan mendekati Maminya.


"Mami, Tika tidur sama Mami ya? soalnya kamar Tika ada Mama, pusing kepala Tika mendengar Mama mengomel."


Al tersenyum meminta Tika mendekat, mengusap kepalanya. Alin tidak mengerti kenapa Aliya sangat menyayangi Tika, bahkan berpesan untuk melindungi putri kecilnya.


"Maafkan Mami ya Tika ... karena tidak bisa membawa Mami kamu kembali secepatnya. Semoga dia baik-baik saja, dan kembali bersama kalian." Alin tersenyum melihat Tika yang tidak mengerti ucapannya.


***

__ADS_1


__ADS_2