ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
TERIMA KASIH


__ADS_3

Sepanjang perjalanan ke rumah sakit Gemal hanya diam, satu sisi dia masih mencemaskan Salman yang berhasil melarikan diri, dan satu sisi lagi menahan sakit di tubuhnya.


Diana juga mengkhawatirkan kondisi Gemal, jika dia sudah diam berarti tidak baik-baik saja.


Mobil tiba di rumah sakit saat subuh, suara azan berkumandang terdengar membuat Diana tahu jika matahari akan segera terbit.


Gemal langsung dilarikan ke ruangan rawat, begitupun dengan Paman yang sudah tidak sadarkan diri.


Diana melihat tubuh Gemal yang penuh luka, dan tidak heran jika dia meringis kesakitan, tubuhnya penuh goresan pisau.


Mata Gemal sudah terpejam, obat yang disuntikkan ke tubuhnya sudah mulai bekerja sehingga membuat Gemal harus beristirahat.


"Gem, aku kembali ke ruangan dulu." Diana langsung melangkah pergi ke ruangannya untuk beristirahat.


Sebelum tidur Di membersihkan tubuhnya yang kotor, sholat baru lompat ke atas ranjang untuk tidur sesaat.


Matahari sudah bersinar sangat tinggi, Diana masih tidur mengorok tidak ingin bangun. Salsa langsung membuka ruangan Di melihatnya tidur dengan wajah lelah.


"Diana, Daddy Mommy kamu ada di rumah sakit?"


"Menjenguk siapa?" Di langsung duduk menguap besar.


Pintu ruangan Diana terbuka, Dimas langsung masuk menatapnya tajam. Diana tidak pulang semalaman, membuat Dimas dan Anggun tidak bisa tidur sampai pagi.


"Kenapa kamu tidak menghubungi Daddy?"


"Memangnya ada apa Dad?" Di menatap binggung.


Dimas mendapatkan panggilan jika Diana terluka dan dirawat, nomornya tidak bisa dilacak dan terlihat terakhir ada di rumah sakit.


"Gemal?" Di langsung turun ranjang.


"Kenapa lagi dengan anak satu itu?" Dimas mengikuti langkah putrinya.


Di ruangan tunggu Anggun sudah menangis, tapi saat melihat Di langsung mengerutkan kening karena Diana baik-baik saja.


Ruangan Gemal terbuka, dia masih tidur dalam keadaan seluruh tubuhnya dibalut. Dimas membangunkan Gemal yang untuk kesekian kalinya di rumah sakit.


"Suster, pasien di ruangan sebelah masih ada?"


"Sudah pergi Dok, beberapa jam yang lalu."


Gemal terbangun, binggung melihat Anggun dan Dimas ada di ruangannya, Diana juga terlihat cemas.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Kalian berdua yang ada apa? kenapa kamu selalu masuk rumah sakit?" Dimas menatap tajam Gemal yang berusaha untuk duduk.


Gemal dan Diana tidak memberikan jawaban, Paman sudah pergi dari rumah sakit, menghubungi orang tua Diana, dan sudah pasti menghubungi orang tua Gemal.


Suara tangisan terdengar, Diana langsung melihat ke arah Mam Jes yang sangat terkejut melihat kondisi Gemal.


"Gemal, kenapa kamu nak?" Jessi menyentuh tubuh Gemal yang sudah dibalut.


"Kamu apakan Gemal? seharusnya seorang psikopat bisa melindungi Gemal. Jika tidak busa melindungi Gemal, setidaknya melindungi diri sendiri." Calvin membentak Diana sangat besar.


Dimas langsung menatap tajam, melihat putrinya dibentak di depan matanya.


"Kamu memanggil apa tadi? psikopat! dia putriku tidak ada kewajiban melindungi seorang petugas kepolisian. Jika Gemal mati juga sudah kewajiban dia melindungi rakyat." Tatapan Dimas tajam, menantang Calvin yang juga menatapnya tajam.


Anggun dan Diana langsung menahan Dimas, jika ada yang menghina Diana Dimas pasti langsung sensitif dan keluar semua kata-kata kasar dari mulutnya.


Diana meminta Daddy-nya tenang, meminta Calvin juga tenang. Kondisi Gemal baik-baik saja begitupun dengan Diana.


Dalam pertarungan ada yang terluka hal yang normal, Gemal hanya membutuhkan pemulihan.


Secara singkat Diana menjelaskan apa yang terjadi kepada mereka berdua, dari yang awalnya diikuti mobil, bertemu Salman dan berakhir di rumah sakit.


"Kita berdua kembali dalam keadaan selamat, dan membutuhkan istirahat. Tolong jangan bertengkar di rumah sakit."


"Maafkan Papa Di, dia tidak bermaksud menyinggung keluarga Dirgantara." Mam Jes mewakili suaminya.


"Aku meminta dia, ucapannya menyakiti putriku."


Anggun memukul punggung suaminya, langsung menatap Dimas agar berhenti bicara. Diana dan Gemal kembali dalam keadaan baik sudah lebih dari cukup.


Perdebatan tidak ada untungnya, Anggun menarik suaminya keluar untuk pulang karena Diana masih harus di rumah sakit.


"Gemal, cepat sembuh. Kamu punya waktu dua jam untuk kembali ke kantor, jika tidak saya pecat." Dimas melangkah keluar, menyindir Calvin yang menatap sinis.


"Beraninya dia memerintah?" Calvin menatap punggung Dimas.


Diana memijit pelipisnya, Daddy-nya dan Calvin sama saja kekanakan. Gemal masih duduk memejamkan matanya, dan menghela nafas bekali-kali.


"Ada apa Gem? ada yang tidak nyaman?"


"Tidak, aku hanya mengatur nafas. Aku harus kembali ke kantor dan mencari keberadaan Salman. Dia berbahaya." Gemal tersenyum melihat Mam Jes yang mengusap kepalanya.

__ADS_1


"Kamu harus istirahat."


"Gemal baik-baik saja, ini luka kecil." Senyuman Gemal terlihat.


"Luka besar kamu seperti apa?" Calvin melotot melarang Gemal untuk pergi.


Diana setuju dengan Calvin, dan memintanya untuk pulih terlebih dahulu. Calvin yang akan mencari keberadaan Salman.


Tatapan Calvin terlihat terluka, langsung melangkah pergi. Diana juga langsung pamit untuk melihat pasien yang lain.


Jessi meminta Gemal tidur kembali, tidak memikirkan soal Salman yang melarikan diri.


"Tuan Calvin, ada yang ingin saya bicarakan?" Di tersenyum, meminta Calvin mengikutinya.


Diana mengungkapkan kembali soal Salman, apa yang selama ini Calvin lakukan sudah benar, karena Salman sangat kuat dan memiliki banyak pengikut.


"Tuan mengetahui jika Salman seorang Musuh dalam selimut?"


"Aku tidak mengetahuinya, Salman selalu ada di sisiku. Jika aku tahu tidak mungkin diam saja." Calvin langsung duduk menatap ke depan.


Calvin sudah mengerakkan penjaganya, mereka harus menentukan keberadaan Salman yang mungkin sekarang sedang bersembunyi.


"Apa Gemal baik-baik saja?"


"Iya, dia baik. Dan Gemal sangat hebat dalam bela diri."


"Hebat dari mana, orang hebat tidak mungkin terluka."


Diana langsung tertawa, Calvin memang sangat dingin sesuai yang Salman katakan. Mudah bagi wanita jatuh cinta kepadanya, tapi sekilas juga wanita patah hati.


Berbeda dengan Gemal, dia merespon semua wanita, tapi saat wanita terpesona dia hanya menganggap biasa saja.


Karakter Calvin sulit ditebak, karena Diana juga tidak bisa memprediksi sikap Gemal yang berubah-ubah, dan memiliki banyak hal yang disembunyikan.


"Terima kasih, dan maaf jika ucapan saya menyakiti kamu. Dimas sangat menyayangi putrinya, aku tidak punya hak menilai buruk masa lalu." Calvin menatap Diana yang tersenyum menganggukkan kepalanya.


Diana juga meminta maaf, dia salah menilai Calvin dan memandangnya lelaki rendah yang tidak punya tata Krama, padahal Calvin seseorang yang sangat cerdik dan bertahan seorang diri untuk menjaga keluarganya.


"Gemal, pasti menyukai kamu?"


"Tidak, aku dan dia tidak ada hubungan apapun." Di menggelengkan kepalanya, tidak membenarkan ucapan Calvin yang coba mengetes perasaan Diana.


Calvin hanya tersenyum melihat Diana salah tingkah, jawaban dan ekspresi berbeda.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2