ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
DUA PENGACAU


__ADS_3

Cukup lama Tika menunggu Genta baru kembali ke mobilnya setelah menyelesaikan anak ugal-ugalan agar mendapatkan ajaran, apa yang mereka lakukan bisa merusak dirinya dan orang lain.


Langkah kaki Genta terdengar, langsung menarik pintu mobil. Suara Genta teriak kaget, sampai jantungnya lemas.


Atika tertawa lepas, Genta sudah duduk sambil memeluk setir mobilnya, memalingkan wajah tidak ingin melihat Tika yang rambutnya menutupi wajah.


"Siapa kamu? kurang pekerjaan!" teriakkan Genta dengan nada tinggi terdengar


Shin yang mendengar langsung kaget, jatuh dari kursi belakang. Tika yang duduk di samping Genta tertawa sambil memegang perutnya.


Kepala Genta geleng-geleng, sudah mengenali dua wanita pengacau yang muncul kembali. Bertemu dengan keduanya tidak pernah memberikan sisi baik, hanya masalah dan selalu saja ada masalah.


"Kenapa kalian berdua hari ini di kantor polisi?"


"Berantem, jambak-menjambak bersama orang gila." Tika menutupi wajahnya tidak kuat menahan tawa.


"Apa tidak ada lawan lain? orang gila juga dipukuli." Tangan Genta mengusap dada, tidak habis pikir melihat dua remaja yang sudah dewasa, tapi tingkah laku belum berubah juga.


Tangan Tika merapikan rambut, meminta Genta jalan mengantar pulang, karena hampir malam.


"Astaghfirullah Al azim, ya Allah. Setan dari mana di dalam mobil ini? hei ... kamu tutupi baju dan paha kamu, astaghfirullah." Genta langsung keluar mobil, tidak nyaman dengan penampilan Shin.


Pukulan Tika menghantam punggung Shin, jika sudah tidur lupa dunia nyata. Baju Shin sobek memperlihat belah dadanya, celaannya yang pendek juga memperlihatkan pahanya.


Ketukan kaca jendela mengagetkan Tika, Genta meminta keluar. Kaca mobil dibuka, mata Genta terpejam, memberikan jaket untuk menutupi tubuh Shin.


"Kamu masuk, kita beli baju sebentar, ke salon merapikan penampilan."


"Tutup dulu tubuh teman kamu, aku risih." Genta mengacak-acak rambutnya.


Setelah Shin bangun, dan merapikan bajunya barulah Genta masuk memintanya untuk duduk diam.


"Ish busuk, Shin tidak mau." Jaket Genta di lempar ke arah Tika, dan Tika melempar ke arah Genta.


"Kalian berdua bisa keluar dari mobil aku!" Genta menatap marah, dirinya sedang menyetir ditutup menggunakan jaket.


"Jangan marah-marah Om, nanti semakin tua." Tika meminta Shin duduk diam, dan menutupi dadanya.


Berkali-kali Genta mengusap wajahnya, menatap Tika yang duduk diam, melirik ke arah Shin yang lanjut tidur lagi.

__ADS_1


"Kamu ... yang duduk di belakang. Siapa nama kamu?" Genta mengetuk dasbor mobil.


"Nama dia Shin Om, aku Atika." Senyuman manis Tika terlihat.


"Aku bertanya ke dia, bukan kamu. Apa kamu Shin?" Tatapan Genta sinis, mata Tika tajam langsung memalingkan wajahnya.


Kepala Shin terlihat, menatap Genta yang kaget melihat rambut panjang, meminta Shin duduk diam di belakang.


Nada bicara Genta sangat pelan, tetapi Shin dan Tika bisa mendengar dengan jelas. Ucapan Genta membuat Shin menatap tubuhnya.


"Kamu cantik, tapi lebih cantik jika ditutup. Kita tidak pernah tahu musibah apa di depan mata, jangan biarkan lelaki melihat betapa indahnya kamu, karena bisa memancing kejahatan." Genta menghentikan mobilnya.


Ucapan Genta masih belum selesai, meminta Shin lebih mencintai dirinya sendiri. Sebaik apapun seorang wanita, akan dipandang sebelah mata, jika tidak bisa menghargai dirinya sendiri.


Kecantikan Shin bukan hanya bisa dikagumi, tapi menggoda lelaki yang akan memancing syahwat.


"Siapa kamu? kenapa bisa mengkritik? apa kita punya hubungan? apa kamu Papa aku, Kakak, Om, Kakek. Siapa kamu?" Shin membentak Genta, sambil berderai air mata.


"Ini pandangan aku sebagai orang yang tidak mengenal kamu, tapi setidaknya aku tidak ingin melihat aurat yang terpajang. Lihat teman kamu, meskipun tidak menutupi seluruhnya, setidaknya tidak memperlihatkan paha dan dada." Genta langsung mengucap istighfar.


Tangisan Shin terdengar, menyalahkan orang gila yang menyobek bajunya sampai mendapatkan teguran dari Genta.


Shin langsung ke arah depan, mengambil tisu mengeluarkan ingus, menatap tajam Genta yang memalingkan wajahnya.


Punggung Shin juga terlihat, karena bajunya sobek. Tika mendorong Shin ke belakang agar tidak menganggu Genta.


"Pikiran Om tua kotor, Shin cantik menggunakan baju seperti ini." Shin mengambil jaket Genta menutupi tubuhnya.


"Cantik banyak bagian, kamu cantik di mata orang yang tulus kepada kamu. Kecantikan tidak abadi." Pintu mobil terbuka, Genta langsung berjalan ke arah tempat makan menunggu Shin dan Tika membeli baju dan merapikan rambutnya.


Minuman Genta tidak berkurang sedikitpun, wajah Shin sangat tidak asing bagi Genta. Meksipun foto Almarhum Mamanya sudah kusam, wajahnya sekilas mirip Shin.


Ucapan Diana beberapa tahun yang lalu teringat kembali, jika dirinya mirip dengan Shin. Seiring bertambahnya usia, wajah Shin mengingatkan kepada Mamanya.


"Om tua, bayar." Shin menunjukkan nota.


Genta menyerahkan kartu, dan memberitahukan pin kepada Shin yang langsung berlari kembali.


"Ya Allah masalah aku sudah banyak, ini tidak mungkin. Ayo Genta, lupakan saja. Mama meninggal saat aku bayi, tidak mungkin memiliki adik." Tatapan Genta melihat ke arah langit malam, memohon agar tidak timbul masalah baru.

__ADS_1


Suara tawa Shin dan Tika terdengar, menunjukkan penampilan baru yang sudah cantik kembali.


"Ini Om, Shin belikan jaket baru. Kata penjualnya anti peluru, tapi aku yakin dia bohong." Shin memberikan bingkisan.


"Kamu menggunakan uang siapa?"


"Uang Om." Tawa Shin terdengar, mengambil minum Genta tanpa bertanya.


Suara Shin muntah terdengar, langsung berlari kencang keluar, mengeluarkan isi perutnya.


"Astaga Shin hamil?" Tika langsung ingin menangis.


"Innalilahi, kamu pergaulan bebas?" Mulut Genta menganga kaget.


Tubuh Shin langsung lemas, mengusap perutnya yang tidak nyaman. Tika sudah memeluk Shin, mengusap perut pelan.


"Perempuan bodoh, lelaki mana bapaknya?" Tika panik, mengelus perut.


"Gila kamu Tika, mulut kamu kotornya. Mirip panasnya neraka, bukan hanya hati aku yang terbakar, sampai seluruh tubuh hangus." Tendangan Shin melayang.


Suara Shin berteriak memanggil pelayan, memintanya mencoba minuman yang hampir membunuhnya.


"Ada apa dengan minumannya?"


Shin meminta Genta meminumnya, begitupun dengan Tika menyebabkan keduanya langsung mual dan berlari keluar.


"Shin gila, minuman sampai dimasukkan ke dalam mulut." Tika tidak terima, langsung berlari ke dalam memukul kepala Shin yang hampir membunuhnya.


Wajah Genta pucat, dirinya memang terkena sial bertemu Tika dan Shin. Jika keduanya menjadi satu hanya ada kekacauan.


Genta menarik tangan keduanya, memintanya masuk ke dalam mobil untuk pulang. Bisa mati cepat Genta jika tidak segera pulang.


"Alhamdulillah, kita mendapatkan uang ganti rugi." Senyuman Shin terlihat, membagi tiga uang.


"Tambah lagi, Genta hanya muntah saja, kita berdua yang mengamuk. Dia mendapatkan jatah paling sedikit." Tika tertawa bersama Shin yang bagi-bagi uang ganti rugi.


Kedua tangan Genta mengusap wajahnya, membenturkan kepalanya di setir mobil. Ingin sekali rasanya meninggalkan keduanya.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2