ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
TIDAK MENGERTI


__ADS_3

Di ruangan tamu Aliya duduk sendirian, hatinya masih terluka melihat pertunangan Juna yang tidak sesuai harapan. Shin melangkah masuk melihat Mami Al melamun.


"Mi, kenapa sudah pulang? tamu masih berdatangan memberikan selamat atas pernikahan Tika dan pertunangan Kak Juna." Shin duduk di samping Mami Al yang mengusap wajahnya.


Senyuman Al terlihat, mengangumi kekuatan hati Shin. Jika dirinya yang ada di posisi Shin mungkin kepala Juna sudah putus, nyawa Hana melayang, setinggi gunung bisa dia daki, dan dalamnya lautan bisa di arungi. Dunia bisa Aliya hancurkan jika seseorang yang di cintai tidak mampu dimiliki.


Sangat berbeda jauh dengan Shin yang hanya tersenyum tenang, tidak menunjukkan sedikitpun luka hatinya. Shin berhasil menyimpan perasaannya dengan sangat rapi.


Jangankan mengungkap, baunya saja tidak tercium. Al sangat yakin jika sakitnya hati Shin sungguh luar biasa.


"Ini semua salah Mami Shin, seharusnya aku mengatakan dengan jelas kepala Helen soal pembatalan itu. Mami salah paham saat keluarga Hanna mengatakan bisa memaklumi Juna. Aku bodoh sekali, menggali kubur untuk putraku." Al memukul kepalanya yang lambat berpikir.


"Maksudnya Mami lamaran hari ini tidak pernah ada?"


"Pastinya Shin, tidak mungkin kita diam saja jika ada acara lamaran. Juna Putra utama, aku ingin pernikahan yang terbaik." Al memukul meja siapa dalang yang membuat keluarga mereka terjebak dalam masalah.


Tatapan Shin melihat ke arah langit rumah, pikirannya masih kosong karena hatinya masih remuk hancur berkeping-keping. Tidak ada yang bisa Shin lakukan dia hanya bisa menerima nasibnya yang tidak mungkin memiliki.


"Sudahlah Mami, ikuti saja permainan takdir." Shin mengulurkan tangan meminta Aliya kembali ke tempat pesta diadakan.


"Dasar wanita keras kepala, kejam sekali kepada diri sendiri," batin Al di dalam hatinya.


Pintu rumah terbuka lebar, Ria berjalan ke arah Maminya yang menelan ludah pahit melihat Putrinya.


"Ria mendengar berita jika Dina berhasil melarikan diri dari penjara? semua ini rencana dia Mi?"


"Mungkin, tapi apa untungnya untuk dia. Kenapa harus mengadu domba keluarga kita?"


Suara high heels terdengar, Tika melangkah masuk melihat ke arah Shin. Tangan Shin ditarik ke dalam kamarnya untuk membantu mengganti baju.


"Dina berhasil melarikan diri, kita harus menemukannya."

__ADS_1


"Tik, bukannya pernikahan ini impian terbesar kamu. Berbahagialah, habiskan malam indah yang selalu kamu bayangkan. Masalah Dina akan diurus banyak orang, kamu tidak harus turun tangan. Dina bukan lawan yang imbang." Shin memegang kedua pundak Kakak iparnya untuk kembali ke kamar pengantin.


Kepala Tika menoleh ke arah lain, dia memang memiliki mimpi menikmati malam pertamanya. Tika sangat bahagia atas pernikahan, tapi bagaimana dia bisa tertawa bersenda gurau sedangkan sahabatnya sedang patah hati. Luka hati yang tidak pernah ditunjukkan kepada siapapun.


"Kamu habiskan waktu bersama Kak Genta, aku akan pergi sementara." Shin tersenyum manis.


"Jangan pergi Shin,"


"Aku hanya ingin beristirahat di rumah Mama, bukan pergi jauh. Besok aku akan tinggal bersama kalian." Tepukan pelan di pundak Tika terasa.


Shin melangkah ke kamarnya, kehadiran Diana, Mam Jes dan Anggun tidak disadari. Berita soal Dina sudah terdengar, dan hati semuanya semakin gelisah melihat kondisi Shin yang lebih tertutup lagi.


Setidaknya dia harus menangis di depan Mamanya, mengatakan jika hatinya terluka, atau menemui Papanya meminta saran atas perasaannya.


Kesalahan terbesar Shin tidak pernah mengakui jika dia memiliki rasa, diam dan menyembunyikan seakan-akan pilihan terbaiknya.


"Apa benar jika mereka saling mencintai?" Mam Jes menatap Aliya yang hanya mengedipkan matanya.


Demi keamanan seluruh orang acara dipercepat, hanya tersisa Altha, Calvin yang berbicara dengan rekan kerjanya di ruangan khusus.


Pernikahan yang tertutup membuat banyak orang tidak menyadari keganjalan yang terjadi, masalah apa yang sedang di lalui.


"Apa ada masalah serius?" Hana bicara sangat pelan, dia masih binggung melihat satu-persatu orang terlihat canggung.


"Ini terjadi karena Kak Hana, sejak awal Kak Hana tidak cocok dalam keluarga kami." Tatapan Ria tajam, dia tidak memiliki hubungan baik dengan keluarga Helen dan tidak memiliki hutang apapun di masa lalu.


Suara Aliya meninggi, Ria tidak punya hak untuk memutuskan suka tidaknya. Keluarga tidak meminta persetujuannya.


"Kak Juna sudah ...."


"Ria cukup, kembali ke rumah sekarang. Kak Juna tidak ingin mendengar kamu berbicara lebih banyak lagi," pertama kali bagi Juna membentak adik kesayangannya.

__ADS_1


Ria langsung melangkah pergi meninggalkan kediaman Leondra untuk kembali ke rumah, pintu juga ditutup kuat sampai barang sekitar berjatuhan.


"Kalian semua juga pergi dari rumah Isel, apa kalian tidak punya rumah masing-masing? keluarga kami tidak menerima tamu orang asing." Dari lantai atas Isel menatap tajam, tidak takut sama sekali dengan tatapan mamanya.


"Isel, tidak boleh bicara seperti itu." Mam Jes meminta jangan ada yang mengambil hati.


"Kenapa hanya orang dewasa yang benar? hanya demi kehormatan dan harga diri keluarga rela menyakiti salah satunya. Apa kami para penerus akan dijadikan perdagangan untuk kalian menjaga nama keluarga." Senyuman sinis terlihat, kepala Isel tertunduk melihat Abangnya mendekat.


"Tidak ada yang salah Isel, ini urusan orang dewasa. Kita tidak pantas angkat bicara, apa yang menurut kamu baik, mungkin ada jalan yang lebih baik. Maafkan ucapan Isel, dia hanya belum mengerti." Ian menundukkan kepalanya mewakili adiknya untuk rasa bersalahnya.


Pintu kamar Isel kembali tertutup, Juna sudah melangkah pergi untuk kembali ke rumahnya. Cincin pertunangan masih melingkar di jari manisnya.


"Juna, sebenarnya apa yang terjadi? apa semuanya masih marah soal Dina?"


Kepala Juna menggeleng, soal Dina sudah berlalu. Juna memahami kondisi Hana yang tidak tahu apapun. Bahkan soal pertunangan juga bukan kesalahan Hana.


"Kak Hana, Juna ingin meminta maaf karena sudah membuat tidak enak hati. Nanti kita bicara lagi, dan Juna akan mengatakan kebenarannya, mungkin saat itu akan menyakitkan." Juna melangkah pergi melepaskan cincin di jarinya.


Senyuman Hana terlihat, Juna tidak pernah memanggilnya Kakak sejak mereka tumbuh dewasa, tapi sekarang panggilan itu terdengar jelas. Di depan mata Hana dia melepaskan cincin sudah menjadi pertanda ada hal yang tidak benar terjadi.


"Apa Juna tidak menginginkan lamaran ini? tapi kenapa dia mengirim hantaran bahkan selalu mengirimkan bunga." Hana masih bingung dengan keadaan yang terjadi.


Seseorang menyapa Hana, kepala Hana terduduk saat melihat Reza yang menyapanya karena melihat Hana terdiam seperti patung.


"Selamat atas pertunangan Kak Hana, Reza do'akan segera menikah,"


"Alhamdulillah Reza, bagaimana kabar kamu? bukannya menjadi koki di hotel, apa sekarang sudah pindah?"


Reza hanya mengangguk pelan, sejak Dina terungkap akhirnya Reza memutuskan keluar dari hotel dan bekerja di restoran berada di bawah ajaran Shin.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2