
Puluhan orang bergerak menjalankan perintah yang Genta berikan untuk menemukan keberadaan Tika, tatapan mata dingin dan penuh amarah terlihat dari sorot mata tajamnya.
Bawahan Genta tidak ada yang berani membantah, pertama kalinya Genta bersikap aneh dan tidak bisa dipahami orang lain.
Genta yang biasanya diam, tidak banyak bicara, berpikir tenang dan bersikap sopan hanya demi mencari seseorang langsung berubah drastis.
Perubahan sikap Genta bisa dirasakan seluruh bawahannya, bahkan menunjukkan sikap yang menakutkan.
"Di mana dia?"
"Nona Tika tidak bisa dilacak, tapi kekasihnya berada di hotel ...."
"Kekasih?! siapa yang mengatakan dia kekasih Tika!" suara Genta meninggi, mengambil alamat yang didapatkan.
Mobil Genta melaju pergi begitu saja, perintah untuk menemukan keberadaan Tika masih dilanjutkan. Genta meminta dipastikan Tika baik-baik saja.
Sepanjang perjalanan pikiran Genta kacau, memikirkan keberadaan Tika yang ada di hotel termewah di negaranya.
"Jangan sampai saja aku temukan kalian di sana? tidak akan selamat kamu Andre." Tangan Genta mencengkram kuat setir mobilnya.
Genta hanya sesekali menatap ponselnya, berharap bawahan memberikan kabar keberadaan Tika. Genta tidak berpikir untuk menghubungi Tika, ataupun mengingat siapa Tika.
Dia terlalu fokus dengan kemarahan, padahal Genta tahu jika tidak pernah bisa dilacak jika ada yang dirinya kerjakan. Rekaman apapun bisa Tika hentikan hanya dengan mengotak-atik ponselnya.
"Sialan!" Genta memukuli setir mobil karena terkena macet.
Kepala Genta dibenturkan di setir mobil, tangannya memegang dadanya yang terasa sakit tanpa luka. Perasaan Genta hancur memikirkan Tika dan Andre di hotel.
"Tidak mungkin, Tika tidak mungkin pergi bersama Pria ke hotel. Ini tidak benar." Kepala Genta geleng-geleng.
Panggilan masuk ke ponsel Genta, Papa Calvin menghubungi karena mendapat laporan Genta emosian.
[Pulang sekarang Genta,]
[Tidak bisa Pa, Genta masih ada urusan.]
[Kamu Kenapa? banyak laporan kamu terlihat aneh. Jangan bersikap kekanakan, pulang dan bicara sama Papa.]
[Iya, setelah urusan Genta selesai.] Panggilan mati Genta langsung terdiam.
"Kenapa dengan aku? ini bukan kamu Genta yang emosian." Tangan Genta mengusap wajahnya, merasa binggung dengan sikapnya sendiri.
Suara Genta menarik napas terdengar, mengatur perasaannya yang gelisah, marah, kecewa dan campur aduk. Genta berusaha mengatur dirinya sendiri agar tidak lepas kendali.
Perasaan yang aneh mengendalikan Genta, sehingga emosi yang sulit dipahaminya.
__ADS_1
"Oke, tenang Genta. Cari Tika pelan-pelan, dia tidak mungkin bisa dilacak. Jangan marah, kamu terlihat memalukan." Senyuman Genta terlihat, menjalankan mobilnya pelan-pelan menuju hotel.
Perjalanan menuju hotel lebih lama karena Genta mencoba menenangkan dirinya, tidak ingin berpikir buruk. Genta percaya Atika wanita yang terhormat dan bisa menjaga dirinya.
Tiba di hotel Genta langsung berlari kencang, bersusah payah mengendalikan dirinya tapi saat tiba tidak bisa dikendalikan.
Beberapa orang menahan Genta yang berlari kencang, penjagaan hotel sangat ketat sehingga tidak bisa masuk tanpa laporan.
"Lepaskan!" Genta menunjukkan identitasnya, menepis tangan yang menahannya.
Seluruh penjaga menundukkan kepala, pertama kalinya melihat Genta secara langsung.
"Dia Putra ketiga keluarga Leondra, ini pertama kalinya dia menunjukkan wajah dan identitasnya." Penjaga mengagumi ketampanan Genta.
"Aku hanya mengetahui Gemal, dan Dokter Hendrik sedangkan Genta selalu menutupi wajahnya." Penjaga merinding membayangkan tiga Putra Leondra.
"Terdengar juga kabar keluarga Leondra juga memiliki seorang Putri, tapi tidak ada yang tahu wajahnya." Seorang wanita cantik berdiri di antara para penjaga.
"Nona benar, berita ini cukup heboh. Berapa banyak keturunan Leondra generasi ini karena menurut cerita hanya ada satu penerus."
"Faktanya tidak seperti itu," Shin tersenyum menutupi wajahnya menggunakan topi.
"Ada kabar terbaru, Dokter Hendrik akan segera menikah menyusul Gemal."
Suara langkah kaki berlarian terdengar menggema, Genta mengeluarkan kunci milik Tika yang sudah bertahun-tahun ada di tangan Genta. Pertama kalinya bagi Genta menggunakan kunci yang selalu Tika pertanyaan.
"Aku mencintai kamu atau tidak urusan belakang," Genta membuka pintu kamar tanpa mengetuk lagi.
Suara pintu terbuka kuat terdengar, Genta berjalan melihat ke arah ranjang. Teriakan Genta menggema, menarik kerah baju Andre siap memukul wajahnya.
Teriakan seorang wanita terdengar, Genta dan Andre saling pandang melihat kekasih Andre teriak histeris sampai berlari keluar.
"Apa yang tuan muda lakukan?" Andre berlari keluar mengejar pacarnya.
Genta masih terdiam, mengusap wajahnya yang menganggu orang sedang bermesraan.
"Atika, Tika, di mana kamu?" Genta membuka kamar mandi, mengecek seluruh ruangan yang kosong.
Di luar kamar Shin sudah tertawa lepas, mengeluarkan uang membayar wanita yang bersama dengan Andre untuk memanasi Kakaknya.
"Shin, kamu gila membuat Tuan muda Genta marah. Dia hampir memukul aku." Andre tertawa bersama Shin yang berhasil mengerjai Genta.
"Rasa cinta memang gila, thanks Dre bantuan." Shin menepuk pundak Andre, melambaikan tangannya melangkah pergi.
"Arshinta cantik sekali, tapi hal yang mustahil bisa dimiliki."
__ADS_1
"Di mana Tika, Andre?" suara Genta berteriak terdengar.
Kening Andre berkerut, menatap Genta yang nampak gelisah. Tidak berhenti menyebut nama Tika, seperti ayam yang kehilangan induknya.
"Aku tidak tahu Tika di mana?"
"Kamu yang menjemput di rumah, bagaimana bisa tidak tahu?"
Kedua pundak Andre terangkat, dia memang menjemput Tika, tapi mereka hanya keluar sebentar. Atika meminta ditinggalkan di jalan, Andre tidak tahu tujuan Tika.
Secara sepihak Tika memaksa untuk meninggalkan, Andre tidak punya pilihan langsung menemui kekasihnya di hotel.
"Tuan bisa mencari Tika, apa gunanya kekuasaan?" Andre melangkah pergi kembali ke kamarnya.
Mata Genta tidak berkedip sama sekali, mengambil ponselnya. Genta baru tahu manfaat ponselnya jika bisa digunakan untuk menghubungi seseorang.
"Kenapa otak tidak berjalan?" Genta langsung melakukan panggilan.
Bekali-kali panggilan Genta diabaikan oleh Tika, sampai panggilan yang kesepuluh barulah suara tika berteriak terdengar memarahi Genta yang sangat berisik.
[Di mana kamu?]
[Ada apa?]
[Kamu di mana Tika?] suara dingin Genta terdengar memaksa.
[Museum kuno ....] Tika menjelaskan lokasinya yang tidak terlalu jauh dari hotel.
Genta meminta Tika menunggunya dan tidak beranjak pergi ke manapun, bahkan selangka saja Tika tidak boleh meninggalkan tempatnya.
Setelah mengetahui keberadaan Tika, Genta berlari kencang menuju mobilnya untuk menemui Tika yang sedang melakukan penelitian di museum.
Jarak yang ditempuh tidak terlalu jauh, Tika sudah menunggu di dalam museum sambil melihat beberapa barang kuno yang sudah digantikan oleh teknologi canggih pada masanya.
"Om tua kenapa terdengar khawatir sekali?" Tika menghela napasnya menatap sebuah kamera lama.
Pelukan lembut terasa dari belakang, Tika tidak bisa bergerak sama sekali. Namun Tika tahu dari bau parfum jika Genta memeluknya.
"Ada apa Om?"
"Kamu membuat aku gila,"
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1