
Segala cara sudah Gemal dan Diana lakukan agar bisa bertemu dengan Citra, tapi menolak siapapun untuk datang berkunjung.
Di mengumpat kasar, bahkan meminta polisi untuk mengatakan jika ini soal masa depan anak-anaknya. Citra tetap masih menolak untuk bertemu.
Gemal menghela nafasnya, meminta petugas menunjukkan foto kepada Citra dan mengizinkan mereka masuk.
Senyuman Diana terlihat, akhirnya dia bisa masuk dan berbicara dengan nenek lampir yang hampir enam tahun di penjara.
Citra mengerutkan keningnya melihat Diana, dia tidak mengenali Alina sama sekali begitupun dengan Gemal.
"Siapa kalian?"
"Perkenalkan saya Gemal, dia Diana."
"Hai Citra, lama tidak bertemu. Kamu masih harus membusuk di sini selama sepuluh tahun, karena Mommynya melakukan pembelaan sehingga hukuman dikurangi." Di langsung duduk menatap Citra.
Diana tidak berbasa-basi langsung ke intinya saja, kemungkinan Citra mengetahui sesuatu soal obat yang Diana miliki.
"Kamu menitipkan sesuatu kepada Salsa?"
Tatapan Citra tajam melihat ke arah CCTV, menggunakan gerakan jarinya menjelaskan sesuatu kepada Diana.
Gemal tidak mengerti apa yang sedang dibahas keduanya, karena hanya orang jenius yang memilki bahasa kode.
Diana juga menggerakkan jarinya, Citra hanya menggelengkan kepalanya. Tatapan Citra ke arah Gemal yang tidak tahu arti tatapan Citra.
"Foto yang kamu berikan, rahasia yang dicari selama ini." Citra melangkah pergi, meminta Diana tidak pernah datang menemuinya.
"Baiklah, aku doakan kamu berumur panjang." Di langsung melangkah pergi bersama Gemal.
Di dalam mobil Diana menatap tajam ke depan, dia tidak menyangka jika kasus yang dulunya Aliya singkirkan belum selesai.
"Ayahnya Roby mengetahui soal Hendrik dan wanita ini, berarti ini kasus lama yang belum selesai." Di mengacak-acak rambutnya.
"Apa yang kalian bicarakan tadi?"
"Tidak ada?"
Diana tersenyum, Citra tidak pernah menitipkan obat apapun kepada Salsa, tapi dia memberikan sebuah gelang yang menyimpan rahasia soal pembuat obat dan kejahatan Hendrik, juga beberapa Professor yang sudah bekerja sama membuat obat berbahaya.
"Dari mana dia mendapatkan gelang itu?"
"Mertuanya dari suami kedua, lelaki yang tewas karena Alina." Di tersenyum tidak merasa berdosa.
Gemal menunjukkan foto yang dia berikan kepada Citra, kemungkinan gelang yang dititipkan menjadi incaran Hendrik.
"Kamu dapat dari mana gambar ini?"
"Aku sudah mengejar Alina selama lima tahun, tapi tidak ada hasil hanya beberapa jejak peninggalan kak Hendrik yang tersisa." Gemal hanya menemukan desain gelang, dan menyempurnakan gambarnya.
Diana tersenyum ternyata Gemal memiliki bakat juga, tidak hanya menjadi pahlawan kesiangan.
__ADS_1
"Kamu lebih cocok menjadi pelukis desain daripada polisi." Di tersenyum mengejek.
Gemal melotot merasa tidak terima Diana mengejeknya tidak pantas menjadi polisi, padahal dia ahli bela diri juga sangat pintar menebak.
"Ayo kita bertarung, dan adu menembak." Gemal menantang Diana dengan sombongnya.
Diana langsung tertawa konyol, Gemal yang masih pemula dengan sombongnya menantang padahal Di sudah bermain senjata sejak dia berusia lima tahun.
"Kamu yakin, tidak menyesal."
Gemal langsung melajukan mobil ke tempat menebak, Diana tertawa sepanjang jalan jika pria yang selisih dua tahun darinya menantangnya.
"Taruhannya apa?"
"Siapa yang kalah traktir makan satu bulan." Gemal berharap dialah yang menang.
"Aku yakin kamu akan menangis." Diana langsung request makanan kesukaannya harus Gemal antar setiap makan siang.
Diana dan Gemal sudah memakai atribut lengkap, Diana meminta Gemal lebih dulu sebagai pemanasan.
Senyuman Gemal terlihat, karena tembakan tepat sasaran. Langsung mengejek Diana yang menembak selalu meleset.
"Kamu yakin Di, mentraktir selama satu bulan. Lumayan." Suara Gemal tertawa terdengar receh, karena dia sudah lupa baru saja bertengkar dengan Diana.
"Baiklah lumayan, daripada lumanyun." Di dan Gemal bersiap-siap.
Keduanya fokus ke depan, menembak secara bersamaan menggunakan lima peluru. Diana tersenyum sinis memutar senjatanya.
"Makanya jangan sombong." Di tertawa kuat.
Diana melepaskan atributnya, meminta Gemal menyiapkan makan siang dan harus diantarkan ke rumah sakit.
"Kamu masih kurang sehat, sebaiknya pulang beristirahat karena aku memiliki banyak pekerjaan." Di tersenyum langsung meninggalkan lapangan.
Gemal mengerutkan keningnya, menarik nafas langsung mengikuti Diana dengan wajah cemberut.
"Nanti kita bertarung lagi."
"Baiklah, tunggu kamu benar-benar pulih. Kita bertarung di dalam ring." Diana tertawa kecil melihat ekspresi Gemal yang manyun mirip Tika jika dimarah oleh Papinya.
Diana meminta Gemal mengantarnya ke rumah sakit, karena harus mengecek kondisi pasiennya dan malamnya ada operasi.
"Kamu juga periksa dulu, aku ingin melihat luka tembak kamu." Di meminta Gemal mengikutinya ke ruangan pribadi.
Gemal menurut saja menunggu Diana yang sedang menganti baju berjas putih, baru mengecek tangan Gemal yang sudah dia gunakan untuk menembak.
"Buka baju kamu?"
"Gila, kamu ingin apa?"
Diana memukul kepala Gemal, karena memiliki pikiran kotor saat bertemu dokter.
__ADS_1
"Aku dokter kamu pasien, cepat buka."
"Siapa tahu kamu dokter yang mencari kesempatan." Gemal membuka bajunya, menunjukkan bahunya yang masih sakit.
Suara Gemal meringis terdengar, senyuman Diana terlihat karena suara Gemal sangat menggemaskan.
"Sakit, ya Allah." Tangan Gemal menyentuh pinggang Diana, menyadarkan kepalanya di lengan Di.
"Dasar lemah." Di meminta Gemal memakai kembali bajunya.
Diana memberikan beberapa obat untuk Gemal konsumsi, beristirahat beberapa hari dan tidak boleh bergadang.
"Gem, nanti aku akan melihat kondisi ibu kamu, dan mencari jalan keluarnya agar segera melakukan pengobatan."
"Iya, aku tunggu. Terima kasih sebelumnya."
Diana meminta Gemal menyelidiki ulang soal gelang, karena jika mereka berhasil mendapatkannya kemungkinan besar bisa mengobati ibunya Gemal lebih cepat.
Kepala Gemal mengangguk, mencoba untuk mencari tahu soal gelang yang berisi memori penting.
Suara ketukan pintu terdengar, Diana mempersilahkan masuk dan melihat seorang anak kecil menghampiri.
"Dokter Di, tangan Nana berdarah lagi."
"Kenapa bisa berdarah?" Diana menggendong langsung melihat tangan yang terluka.
Tatapan Diana tajam, memperingati anak kecil berusia lima tahun untuk lebih berhati-hati.
"Ini terakhir kali, jika sampai terluka lagi dokter Di potong tangan kamu."
"Maafkan Nana dokter Di, jangan dipotong nanti Nana makan menggunakan apa?" tatapan mata yang sangat tenang.
Diana mengusap kepalanya, sebelum operasi Nana harus mengikuti prosedur meksipun dirinya masih kecil.
"Malam ini Nana tidur ya dokter Di, boleh tidak berkenalan dengan pacar dokter Di?" Nana mengulurkan tangannya, Gemal langsung menyambut.
Diana tersenyum meminta Nana keluar, beristirahat sebelum operasi dimulai.
"Sakit apa dia?"
"Bocor jantung, peluangnya sangat kecil dan resikonya sangat besar. Aku tidak tahu ini akan berhasil atau tidak." Di menghela nafas kasar.
Gemal tersenyum, menyentuh tangan Diana yang memiliki keistimewaan yang harus Di gunakan untuk menolong banyak orang.
"Kamu istimewa, banyak orang menaruh harapan. Semangat dokter Di."
***
follow Ig Vhiaazaira
jangan lupa like coment Dan tambah favorit
__ADS_1
vote hadiahnya ya