ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
BUKTI TERTINGGAL


__ADS_3

Suara tembakan terdengar, Citra menembak foto Aliya yang ada dihadapannya. Dirinya tidak akan hidup dengan tenang jika Aliya masih bisa tersenyum.


Sebuah tangan memeluk pinggang Citra, mencium pundaknya yang terekspos. Tatapan Citra tajam agar segera mempercepat menghancurkan Altha.


"Sayang, aku belum bisa keluar secara bebas sampai kita bisa menjadikan Altha kambing hitam atas kematian putriku Sita dan Erna." Senyuman Wadi terlihat, dia sudah lama menyimpan dendam kepada Altha sejak usia muda.


Altha yang selalu unggul di sekolah, memiliki banyak teman dan ada Citra di sisinya. Altha yang sempurna memilih menjadi polisi dan mengabdi kepada negara.


Wadi yang tidak menyukai Altha memilih menjadi anggota dewan, menggunakan kekuasaan Ayahnya untuk menjadi orang yang hebat, agar suatu hari nanti bisa mengalahkan Altha.


Kehadiran Citra disisinya membuat Wadi mengetahui banyak kelemahan Altha, dan menjalin kasih bersama mantan istri Alt dan perlahan akan menghacurkan Alt.


Selama ini Wadi sudah perlahan mendekati Altha, tapi ada Alina yang berhasil menghentikan dan melindungi anak-anak juga Altha.


"Aku tidak perduli bagaimanapun caranya, hancurkan Altha." Senyuman licik Citra terlihat, dia lebih baik mati daripada melihat Altha bahagia.


Wadi tersenyum, sehebat apapun Altha dia tidak mungkin bisa menemukan bukti apapun. Karena seluruh barang bukti sudah dibereskan oleh kejaksaan.


Kepolisian juga tidak bisa membela Altha, karena jika sampai kasus penganiyaan Sita terbongkar bukan hanya Wadi yang masuk penjara, tapi banyak juga yang lain tertangkap.


Citra menatap Wadi, siapa sebenarnya orang yang melakukan penganiayaan dan melakukan pelecehan yang kasusnya langsung ditutup.


Tatapan Wadi tajam, dirinya yang menyiksa Sita karena dia selalu ingin pergi dari rumah dan menemui ibunya. Setiap hari Sita disakiti.


Soal pelecehan, Wadi tidak bisa mengungkapkannya karena kejadian saat pesta mabuk sehingga jika terungkap banyak yang terlibat.


"Kamu tidak marah, melihat putrimu meninggal tragis?"


"Aku lebih mengutamakan yang menguntungkan, kematian lebih baik dan tidak perlu diungkit lagi." Senyuman Wadi terlihat, meminta Citra jangan membahas soal putrinya.


Kepala Citra mengangguk, dia tidak perduli bagaimana proses Wadi menyingkirkan Altha dan Aliya. Saat ini tujuan Citra hanyalah melihat keduanya hancur.


Sebuah panggilan masuk, Wadi langsung tertawa saat mendengar kabar Altha masuk perumahan tanpa menemukan hasil apapun.


Citra juga menerima panggilan, tapi tidak ada suara yang terdengar. Kening Citra berkerut saat ada nomor baru masuk mengirimkan sebuah video.


Mata Citra menatap tajam, langsung melempar ponselnya membuat Wadi kebingungan dengan kemarahan Citra.


"Ada apa?"


"Kamu bilang tidak meninggalkan bukti apapun, tapi kenyataannya apa itu." Citra menunjuk ke arah ponselnya.

__ADS_1


Wadi langsung mengambil ponsel, melihat rekaman soal penyiksaan Sita. Dia sangat yakin sudah menghapus dan memecahkan ponsel Sita, tapi kenapa bisa muncul kembali.


Suara Citra tertawa terdengar, dia sangat yakin ini permainan Aliya sama seperti saat Al merampas perusahaan dengan cara licik.


***


Di kediaman Altha, Aliya tidak tidur sama sekali sambil memeluk putrinya Tika juga memainkan ponselnya.


Anggun juga tidak tidur hanya duduk di depan laptop menyelesaikan pekerjaan, sesekali melihat ponselnya.


"Apa yang kamu lakukan Al?"


"Lihat saja sendiri kak, sudah Al katakan tidak ada penghapus permanen di dunia digital." Al tersenyum melihat rekaman yang ditinggalkan oleh Sita.


Ponsel yang dibuang oleh Wadi, bukti yang tertinggal dan berhasil Aliya dapatkan. Jangankan ponsel satu garis tertinggal bisa menjadi bukti.


Anggun menghela nafasnya, antara senang dan sedih. Senang karena akhirnya ada bukti penganiayaan, juga sedih melihat anak kecil yang dipukuli.


Tatapan Aliya tajam melihat rekaman, ada beberapa foto yang tertinggal di ponsel Sita, foto kebersamaannya dengan Mama Papanya yang masih dia simpan dan digunakan wallpaper.


Sungguh tega hati Wadi menyakiti putrinya, sedangkan Sita masih menyayangi kedua orangtuanya meskipun sudah berpisah.


Air mata Aliya menetes, apa yang terjadi kepada Sita hampir sama dengan Tika dan Juna, meskipun pada akhirnya Mora yang menjadi korban.


Kebahagiaan yang dia impikan hanyalah masa lalu, kehilangan sosok ibu juga menjadi korban kemurkaan Papanya.


Tangan Tika menyentuh air mata Aliya, langsung menangis saat melihat Maminya juga menangis.


"Kenapa Tika bangun tidur menangis?"


"Kenapa Mami menangis? Tika juga sedih." Pelukan Tika erat membuat Aliya dan Anggun terharu.


Aliya langsung menghapus air matanya, tersenyum melihat Tika yang sesenggukan.


"Ya Allah, perbanyak lagi anak baik dan penyayang seperti Tika. Kamu mengemaskan sekali." Anggun mengusap rambut Tika, ingin sekali rasanya Anggun memiliki seorang putri yang bisa menjadi sahabatnya.


"Mami sayang sekali sama Tika, tidak rela jika ada yang menyakiti kamu. Bisa gila Mami jika kamu disakiti." Al menciumi wajah putrinya yang tertawa merasakan geli.


"Mami jangan menangis, Tika tidak suka Mami menangis." Kepala Atika tertunduk, berapa hari ini hatinya tidak tenang dan susah tidur.


Biasanya rumah mereka penuh canda dan tawa, tapi Mami dan Papinya terlihat ada Pekerjaan serius membuat Tika takut jika hal buruk terjadi lagi.

__ADS_1


Aliya tersenyum, meyakinkan Tika selama ada Mami dan Papi semuanya akan baik-baik saja.


"Mi, kenapa ponsel Juna tidak ada jaringan?" Arjuna membuka pintu langsung mendekati Aliya menyerahkan ponselnya.


Al langsung mengambil ponsel putranya dan mengembalikan jaringan yang sempat terputus, senyuman Juna terlihat memeluk Aliya.


"Ada apa? tidak biasanya kamu bersikap manja."


"Tidak, hanya ingin dipeluk saja." Juna mengeratkan pelukannya.


Suara teriakan Juna terdengar, Tika menjambak rambutnya karena memeluk Maminya. Anggun meringis melihat kemarahan Tika yang memukuli Juna.


"Mami lihatlah nakalnya Tika." Juna ingin memukul adiknya.


"Sayang, tidak boleh menyakiti kak Juna." Al memeluk Tika yang cemberut.


"Mami punya Tika."


Al tersenyum dirinya punya Al sendiri, tidak ada yang berhak atas dirinya. Tika tidak boleh ingin berkuasa sendiri.


"Bagaimana jika Tika punya adik?" Anggun menatap Tika yang melipat tangannya di dada.


"Adiknya Tika perempuan, nanti kita menjadi teman."


"Bagaimana jika laki-laki?" Anggun menatap penasaran.


Tika terdiam sesaat, langsung menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin ada laki-laki, jika adiknya laki-laki akan menjadi musuhnya sama seperti Juna.


Aliya dan Anggun saling pandang, jika sampai dapat laki-laki sepertinya Tika akan semakin berkuasa. Menjajah tiga laki-laki di rumah.


Pintu kamar diketuk, Helen memberitahu Aliya jika Altha dan Dimas sudah kembali.


Aliya langsung berdiri, Tika sudah berlari kencang menemui Papinya. Anggun dan Al hanya bisa tersenyum.


Al menatap Altha yang sudah menggendong Tika, merangkul Juna untuk turun bersama Anggun.


"Anggun, kenapa kamu di sini?" Yandi melihat Anggun yang memeluk Dimas.


"Jomblo diam saja." Dimas memukul kepala Yandi yang menatap tajam.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazara


__ADS_2