
Sebuah mobil kebut-kebutan melaju melewati mobil Diana yang jalan santai, tatapan Di tajam tidak menyukai ada yang melebihi kehebatan dirinya.
Aksi balap liar terlihat, suara mobil polisi terdengar menghentikan dua mobil yang menganggu jalanan.
Satu mobil lolos, sedangkan mobil Diana ditahan polisi. Di memukul setir mobilnya mengumpat kasar merasa kesal dipermainkan.
"Diana."
"Maaf pak, saya buru-buru ada operasi dadakan, tahan saja mobil izinkan Diana pergi."
"Kamu boleh pergi Diana, tolong perlambatan kecepatan kamu. Demi keselamatan kamu dan pengendara lain." Senyuman polisi lalu lintas terlihat.
Diana tersenyum, meminta maaf karena dia terlalu kecepatan dan tidak akan mengulanginya lagi.
Cepat Diana langsung menjalankan mobilnya, mengutuk pengemudi yang berhasil lolos dan Diana kalah.
Sesampainya di rumah sakit, Diana melihat mobil yang balapan bersamanya juga ada di rumah sakit. Seorang pria keluar dari mobil sambil tersenyum jahil.
Diana tersenyum sinis, langsung mengambil batu dan melempar kuat mengenai sasaran tepat di kepalanya.
"Woy, kenapa kamu melempar batu?"
"Aku bukan hanya bisa melempar batu, tapi bisa membuat gegar otak." Di langsung melangkah masuk.
"Di mana sopan santun kamu kepada orang yang lebih tua?"
"Setua apa? usia kamu 90 tahun. Jika seperti itu bersiaplah untuk menemui ajal." Di menjulurkan lidahnya.
Wajah kaget terlihat, kepala geleng-geleng terheran-heran melihat seorang wanita muda yang sangat kurang ajar dan tidak sopan.
"Usia saya tiga puluh lima tahun, belum terlalu tua."
"Bau apa ini? oh ... ternyata ada manusia yang sudah bau tanah."
Suara panggilan terdengar, Diana langsung melangkah masuk ke ruangannya. Memeriksa catatan soal pasiennya.
Rapat diadakan secara dadakan, seluruh dokter berkumpul dan melihat seorang dokter baru yang akhirnya bergabunglah dengan mereka.
"Dia dokter hebat Di?" Salsa melihat nama Delta Albar yang terkenal di dunia kedokteran.
Diana hanya diam saja, merasa binggung dengan dirinya sendiri yang tidak mengenal dokter Albar yang beberapa kali bertemu di setiap seminar.
Tatapan dokter Albar juga melihat Diana, tersenyum manis saat tahu jika wanita yang bertengkar dengannya Dokter Natasya Dirgantara.
"Tasya, lama tidak bertemu." Albar mengejar Diana yang keluar dari ruangan rapat.
__ADS_1
"Panggil saja dokter Di, kita memiliki pangkat yang sama. Abaikan aku jika sesuatu yang tidak penting." Di merapikan bajunya.
Alber tersenyum, Diana belum berubah sama sekali. Masih angkuh dan sombong.
"Tidak menyangka kita bisa bertemu dan bekerja di rumah sakit yang sama."
Banyak hal yang di bicarakan, Diana tidak merespon sama sekali. Di tidak bisa membuat hatinya bisa dekat dengan orang lain lagi seperti sebelumnya.
"Di, apa kamu sudah menikah?"
"Jangan bicara padaku sesuatu yang tidak penting." Tatapan mata Diana langsung tajam, melangkah pergi meninggalkan dokter Alber yang binggung melihat Diana kesal.
Salsa menghela nafasnya melihat Diana yang sekarang, sudah satu minggu kepergian Gemal membuat lebih banyak diam, bicara saja hal yang penting.
Di menutup dirinya untuk sesuatu yang tidak penting, bahkan menolak ada seseorang yang mencoba mendekatinya.
***
Seminggu tidak pulang ke rumah membuat Diana kelelahan dan memutuskan libur beberapa hari, dan pulang ke rumah orangtuanya.
"Baru pulang Di, sepertinya hujan lebat."
Diana tetap berjalan, melihat di luar yang memang hujan lebat. Menunggu sebentar, tanpa mengatakan apapun.
"Kamu sekarang banyak berubah Di?"
Tatapan Alber tajam, dia sudah mengenal Diana sejak awal sekolah kedokteran. Segala cara Alber lakukan agar bisa bekerja sama dengan Diana.
"Kenapa sekarang kamu menutup diri? tidak seperti Diana yang aku kenal."
"Apa aku mengenal kamu?" Di menepis tangannya.
"Diana, aku selalu menunggu kamu."
"Kamu tidak akan mungkin bisa menerima masa lalu aku yang mengerikan, sejak awal sudah aku katakan. Aku berbeda dengan wanita lain, berhenti mendekati aku jika kamu tidak ingin menyesal." Suara Diana menggelegar sama dengan suara langit.
Alber menghela nafasnya, akan membuktikan kepada Diana keseriusannya. Alber ingin tahu masa lalu mengerikan apa yang Diana sembunyikan.
Di langsung berlari menerobos hujan, masuk ke dalam mobil langsung menangis melihat tubuhnya terkena air hujan.
Melihat sikap Alber yang kembali mengejarnya membuat Diana risih, dia tidak menyukai lelaki yang mengejar cintanya.
"Gemal, ini menyebalkan." Di menjalankan mobilnya sampai akhirnya tiba di rumah.
Melihat Diana pulang, Dean langsung berlari ke arahnya dan memeluk Di. Tatapan Dean binggung melihat kakaknya menangis, membuang tas, jaket bahkan menendang ponselnya.
__ADS_1
Diana duduk di lantai sambil menangis tidak jelas, Dean mengaruk kepalanya mengusap punggung kakaknya.
"Jangan menangis kak, Dean sudah memaafkan. Jika hari ini belum sempat membeli kado, masih ada hari esok." Dean mengusap air mata.
Anggun langsung berlari, melihat Diana yang menangis. Segala cara sudah Dean lakukan untuk menghibur kakaknya, tapi tidak bisa membuat Diana berhenti menangis.
Diana mengungkapkan kekesalan hatinya, selama satu minggu dia berjuang melupakan Gemal dengan bekerja secara gila-gilaan.
Albar mengingatkan kembali pertemuan pertama Di dan Gemal, mereka juga melakukan balapan di jalanan. Gemal bahkan membawa Di menuju kantor polisi.
"Ini akibatnya tidak mendengarkan kata Mommy, sudah dikatakan jika kamu berat jangan dipaksa." Suara Anggun meninggi, menatap Diana yang tertunduk.
Melihat kakaknya di marah, Dean juga menundukkan kepalanya. Mommynya jarang marah, tapi jika marah bisa hancur seisi rumah.
"Ada apa ini?" Dimas yang baru pulang bekerja binggung melihat istrinya berbicara dengan nada yang tinggi.
"Ini semua gara-gara kamu!" Tangan Anggun menunjukkan Dimas.
Kening Dimas berkerut, duduk di samping Dean yang menelan ludah saja tidak berani.
Berkali-kali Anggun sudah memperingati Diana, perasaan yang paling sulit dikendalikan. Saat bersama mungkin rasa biasa saja, tetapi setelah berpisah baru tahu rasanya kehilangan.
"Sekarang apa yang bisa kamu lakukan? menangis seperti ini."
"Ada apa kamu ini?"
"Ini ajaran kamu Dimas?"
"Kenapa memanggil nama? tidak sopan sayang." Melihat kemarahan Anggun Dimas ikutan kesal, dirinya tidak tahu apapun namun disalahkan.
"Diam saja Daddy, masih mending di panggil nama, daripada aku, kamu, kalian, mereka, kita dan dia, akhirnya babi, anjing bisa berubah menjadi binatang kita." Suara Dean pelan berbisik kepada Daddy-nya.
Akhirnya tiga orang diam mendengar ceramah hampir satu jam, Dimas berkali-kali ingin menjawab, tapi menahannya.
"Kenapa juga kamu menyetujui pemberhentian Gemal?"
"Bukan aku. Altha yang melakukannya." Dimas melotot.
"Aku kamu sudah keluar, sebaiknya Dean melarikan diri." Pelan-pelan Dean merangkak berlari ke luar rumah untuk mengungsi di rumah Juan.
Diana langsung memeluk Anggun, menyalahkan kehadiran Albar yang mengingatkan Diana kepada lelaki pecicilan yang benar-benar pergi.
"Kamu menikah saja dengan Albar, mereka keluarga terpandang dan baik. Dia putra seorang hakim yang pernah berhubungan baik dengan Mommy, mereka juga mengutarakan niat untuk melamar kamu. Sudah saatnya kamu menikah Di." Anggun menatap Diana yang langsung melangkah pergi.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira