
Pintu terbuka, Gemal melihat Daddy mertuanya yang ada di depan pintu masih menangis, memegang pundak Gemal mempertanyakan keadaan Putrinya.
Tangan Gemal memeluk mertuanya, mengusap punggung Dimas yang sudah menangis sesenggukan.
Melihat seluruh keluarga menangis, Gemal tidak bisa menahan air matanya. mengucapkan syukur berkali-kali.
"Daddy, selamat sudah menjadi kakek dari dua bayi laki-laki dan satu batu perempuan." Suara Gemal bicara sangat jelas.
Dimas meminta Gemal mengulangi ucapannya sampai tiga kali, telinganya mendengar kabar gembira, jika ibu dan tiga bayi selamat.
"Katakan lebih jelas Gem?"
"Diana dan baby twins boy anda girl sudah lahir dengan selamat." Gemal mengusap air matanya.
"Anggun, aku tidak salah dengar?" senyuman Dimas terlihat, langsung memeluk erat istrinya.
Mam Jes juga menangis, langsung memeluk erat Putranya. Rasanya hampir pingsan hanya menunggu di luar tanpa bisa melakukan apapun.
Calvin juga keluar bersama Arjuna, melihat istrinya, Anggun dan Dimas sujud syukur. Masih tidak percaya bertapa beratnya ujian selama tujuh bulan.
Setiap hari selama lima waktu bersujud memohon keselamatan, perasaan terus diaduk-aduk. Sesaat memiliki semangat yang tinggi, secara tiba-tiba semangat hancur dan. runtuh, ingin rasanya menyerah.
Tangisan Aliya juga terdengar, memeluk suaminya yang juga mengusap mata bisa merasakan ketakutan keluarga. Terutama keselamatan Diana.
"Sudah jangan menangis lagi." Al mengusap wajah istrinya.
Senyuman Dika juga terlihat, menutup matanya mengucapkan syukur karena adiknya selamat, wanita yang selalu menjadi musuh Dika, tetapi sangat disayanginya.
"Alhamdulillah ya Allah, begitu besar ujian dan diakhiri dengan bahagia." Dika menatap bayinya yang ada di tangan Aliya.
Tangan Papa Calvin mengusap air mata istrinya, mengizinkan Jessi menghubungi Kakek Nenek Gemal. Tidak ada yang berani memberitahu kondisi kehamilan Diana, karena tidak ingin mengecewakan.
"Papa Ken dan Mama pasti bahagia, jika Gemal memecahkan rekor langsung anak tiga." Senyuman kebahagiaan terlihat sekali.
"Arjuna, kenapa kamu ada di sini?" Al menatap Putranya yang masih berdiri diam.
Juna melangkah mendekati Maminya, langsung memeluk lembut. Juna mengusap wajah si kecil Dev yang belum pernah ditemuinya.
"Lucu sekali kamu Dev, anak pinter dan baik." Juna mengusap wajah bayi mungil.
__ADS_1
"Jawab Arjuna, kenapa kamu bisa berada di sini?" Alt mengulangi pertanyaannya yang sama.
Arjuna menjelaskan jika beberapa minggu yang lalu Salsa menghubungi Hendrik, saat itu juga ada Arjuna.
Mendengar kabar Diana hamil cukup mengejutkan, karena keluarga yang ada di sana tidak mengetahui sama sekali.
Salsa meminta bantuan Hendrik sebagai dokter spesialis anak yang sangat memahami kondisi bayi, sejak awal Salsa sudah tahu jika ada tiga bayi.
Ukuran tubuh kecil, karena pertumbuhan Diana memang lambat. Secara tiba-tiba Salsa mengetahui pertumbuhan bayi membaik, meksipun resikonya masih besar.
Pembicaraan Hendrik dan Salsa berakhir dengan hasil hanya 50% sisanya antara ibu yang gagal, salah satu anak, atau bisa saja semuanya.
"Juna datang untuk mengirimkan pesan dari Dokter Hendrik."
"Kamu membantu Salsa di dalam?"
"Tidak Mi, Juna hanya membantu doa, menyemangati, juga memantau. Segala sesuatunya dilakukan oleh dokter Salsa." Arjuna meminta pembelaan dokter Salsa.
Kepala Salsa mengangguk, membenarkan ucapan Juna. dirinya dan Diana beruntung karena Juna memberikan sisi positif.
"Anaknya Bunda diam bersama Aunty Al, kesayangan Bunda hebat sekali." Salsa mengambil anaknya yang langsung menangis karena lapar.
"Kondisi Diana masih dalam pemulihan, nanti akan dipindahkan ke ruangan khusus. Ketiga bayi saat ini dalam keadaan baik, meksipun masih harus dipantau juga dalam perawatan khusus, karena bayi lahir prematur.
Keluarga diizinkan untuk melihat saat bayi sudah dipindahkan, dan baru bisa dikeluarkan jika kondisinya benar-benar aman.
"Bayi pertama beratnya satu kilo setengah, kondisinya baik, bayi kedua sempat jantungnya berhenti berdetak, beratnya hanya satu kilo. Saat ini sudah membaik." Salsa menjelaskan kondisi bayi agar keluarga tidak khawatir.
"Bayi ketiga bukannya girl?"
"Beratnya 1.9kg, dia yang menguasai segala ruangan di dalam kandungan. Saat mengetahui kondisi kandungan tidak baik, dia bersembunyi. Saat kandungan lima bulan, aku melihat dia sangat jelas, dan bayinya aktif sejak dalam kandungan." Salsa memastikan bayi ketiga sangat baik.
Calvin sempat binggung, karena bayi ketiga tidak menangis, bahkan Salsa tidak merasakan detak jantungnya.
Senyuman Salsa terlihat, dirinya meminta secara langsung sebagai seorang Dokter. Kondisi terlalu menegangkan, bisa melihat satu bayi selamat, meksipun yang kedua lemah cukup baginya.
Langsung fokus kepada Diana, saat mengeluarkan bayi ketiga tidak menangis, tanpa cek detail Salsa langsung menyerahkan kepada asistennya.
"Terima kasih Dokter Salsa." Dokter Calvin merunduk, sangat berterima kasih.
__ADS_1
"Sama-sama, sudah tugas saya. Kata Diana Putrinya hanya tidur. Jika dia tahu akan lahir, mungkin kedua kakaknya sudah ditendang dia lahir duluan." Senyuman Salsa terlihat, langsung pamit ke ruangannya untuk menyusui Putranya.
Keluarga langsung mempersilahkan, mengucapkan terima kasih tanpa henti karena Salsa bekerja di jadwal cuti, membawa anaknya ke rumah sakit demi Diana.
Pintu terbuka, tiga bayi dalam tabung inkubator dibawa keluar, teriakan keluarga terdengar menatap tiga bagi yang sudah bersih, matanya terpejam.
"Kenapa lidahnya dikeluarkan?" Dimas mengusap air matanya.
"Kamu menjadi wanita tercantik, diantara Yandra, Devan, kedua kakak kamu. Wanita satu-satunya keluarga Leondra, juga Dirgantara. Anak emas." Al tersenyum melihat bayi cantik, mungil, wajahnya mengemaskan.
Ketiga bayi dibawa pergi, diawasi dengan sangat ketat. Diana yang masih terlelap tidur, juga dibawa keluar, Dimas menggenggam tangan Putrinya.
Bangga kepada Diana yang sangat luar biasa, mempertaruhkan nyawanya demi buah hatinya. Perjuangan Diana memberikan hasil terbaik.
"Mami, Papi. Juna langsung kembali pagi ini?_
"Kenapa? bertemu dulu dengan adik-adik kamu." Alt menatap putra sulungnya.
Kepala Juna menggeleng, jika sudah melihat Tika dan Ria, Arjuna berat melepaskannya. Juna meminta kedua orangtuanya tidak mengatakan apapun soal kedatangan Arjuna.
Al menakup wajah Putranya, mengkhawatirkan Arjuna yang pergi seorang diri. Pertemuan mereka baru saja, Aliya masih sangat merindukan anaknya.
"Tidak bisa menunggu sampai besok Nak, Mami masih kangen."
"Besok Arjuna ada ujian Mami, tapi jika Mami memaksa Juna akan tinggal." Melihat Maminya bersedih, Juna tidak mampu melepaskannya.
Kepala Aliya langsung menggeleng, mengizinkan Arjuna untuk pergi dan meneruskan pendidikannya.
Al memeluk Putranya, mengusap kepala lembut. Al hanya ingin makan bersama Putranya, karena sudah lama tidak makan bersama.
Altha mengusap punggung istrinya, Al selalu berat berpisah dengan Juna, apalagi target pendidikan Juna untuk menjadi dokter sepuluh tahun. Selama itu mereka akan berpisah.
"Kita lama tidak bertemu Juna, kamu tidak kangen?" Al menangis sesenggukan.
"Juna pasti kangen Mi, berikan Juna setidaknya waktu enam tujuh tahun untuk menyelesaikannya, waktu itu tidak lama, sesekali Juna akan pulang." Senyuman Juna terlihat, meminta restu orang tuanya.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1