ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MIRIP PAPA


__ADS_3

Suara teriakan terdengar, Gemal langsung melangkah mundur saat ada di gerbang perumahannya.


Terheran-heran melihat tiga orang aneh yang lewat seperti suara lebah, Gemal langsung berlari kencang untuk pulang.


Bukan hanya Gemal yang melihat, Altha, Calvin, Dimas dan Kakek Ken sedang berbicara di depan rumah untuk mengatur jalanan.


"Gila itu motor, kenapa bisa masuk perumahan? jika ada anak-anak bahaya." Alt menatap kaget.


Gemal tiba, mengatakan soal gerbang aman, motor yang lewat muncul kembali membuat semua orang terdiam.


"Kenapa wanita yang di tengah mirip putriku." Altha mengaruk kepalanya.


"Suara apa besar sekali?" Aliya dan seluruh keluarga keluar, suara motor sampai terdengar keluar.


Diana juga berjalan mendekati suaminya, mempertanyakan suara teriakan menggema. Di seperti mengenali suaranya.


"Ada apa Ayang? anak-anak sampai bangun l." Di melihat motor lewat kembali untuk ketiga kalinya.


Calvin berteriak meminta berhenti, semua penjaga keamanan dikerahkan. Tidak ada yang boleh melewati gerbang.


Kening Diana dan Aliya berkerut mengenali tiga orang yang menggunakan motor, meskipun rambut ketiganya mirip singa.


"Genta, Atika dan Shin." Aliya dan Diana berteriak bersamaan.


Semua orang kaget, langsung cemas melihat cara bermotor Genta mirip orang gila. Aliya langsung panik.


"Benar mereka." Mam Jes menunjuk ke arah tiga orang yang sudah dikawal puluhan orang.


Genta berjalan tertunduk berjalan malu, harga dirinya sudah diinjak-injak. Rasanya tidak ingin ada di muka bumi.


Bajunya sobek, rambutnya acak-acakan. Genta mendorong motor yang berhasil pengawal hentikan.


Kondisi Atika tidak kalah menyedihkan, rambut panjangnya sudah mengembang. penampilan acak-acakan, sepatunya hilang sebelah.


Shin juga sama kacaunya, sepatunya hilang semua, tangannya masih memeluk buku, sedangkan tas Genta tergantung di lehernya.


Suara tawa Diana dan Gemal langsung pecah, Anggun menutup mulutnya menahan tawa melihat Jessi dan Aliya sudah duduk sambil tertawa terpingkal-pingkal.


Dimas menggelengkan kepalanya, memalingkan wajahnya tersenyum lucu jika mengingat motor lewat.


Tatapan Altha dan Calvin sangat tajam, terutama Calvin yang pertama kalinya melihat Genta melakukan hal yang tidak masuk akal.


Alt tidak bisa menahan tawanya, melihat putrinya yang berantakan. Tatapan Tika tajam melihat Genta, bersumpah akan membalasnya.


Tatapan Genta sama tajamnya, bertemu Tika petaka baginya. Tidak ada hal baik yang terjadi.

__ADS_1


"Pulang ke rumah Tika, dan Shin." Aliya menarik tangan dua wanita. Shin melempar tas Genta sampai mengangkut di kepala.


Melihat kondisi Genta yang compang camping, Calvin tertawa puas di dalam hatinya. Tetapi tidak ingin menunjukkan kepada Genta.


"Apa yang kamu lakukan Genta? ini lucu."


"Maafkan saya tuan, tas ini diambil orang, saya meminjam motor, ternyata rem blong." Genta meminta maaf sudah membuat heboh.


Suara tawa kembali terdengar, Calvin dan Altha juga ikut-ikutan tertawa. Diana memukul punggung Genta, meminta alasannya membawa dua remaja.


Secara singkat Genta menjelaskan, tiba-tiba saja dua remaja sudah naik. Dirinya buru-buru, akhirnya gas lepas kendali.


Tika meminta lebih mengebut lagi, sampai akhirnya memalukan.


"Ya Allah kasihan si ganteng." Di langsung melihat Gemal.


Tawa Gemal langsung berhenti, memanyunkan bibirnya melihat Diana yang masih memuji Genta.


Mengidam hanya alasan saja, padahal bukan anak-anak yang menyukai Genta, tetapi Diana yang memang pengagum pria tampan.


"Pulang, urus anak di rumah." Tatapan Gemal tajam.


Senyuman Diana terlihat, memeluk lengan suaminya berjalan pulang ke rumah. Suara tangisan Isel terdengar sampai keluar.


Diana berjalan cepat, mengambil Putri cantiknya yang rakus, mengalahkan kedua kakaknya.


"Jangan jahil, nanti Gheon juga bangun." Di menatap sinis suaminya.


Mata Diana fokus melihat Putrinya, mata Isel jiplakan Gemal. Diana sangat bahagia melihat Gemal versi wanita.


"Lihat apa? jangan lama-lama meminjam punya Papa." Gemal menunjuk dada Diana.


Suara tangisan Gheon terdengar, Diana memukul lengan suaminya yang tidak bisa diam.


Mam Jes masuk kamar Diana, menyerahkan susu untuk Gheon yang tangisannya sama besarnya dengan Isel.


"Pegang Gem."


Mam Jes langsung membawa Ian yang paling tenang, bahkan Diana sering binggung jika Ian lapar tidak ketahuan.


Anaknya sangat tenang, jarang menangis. Saat lapar diam, tidak bisa tidur. Banyak yang menyukai Ian, dia berwibawa seperti kedua Kakeknya.


"Tiga bayi ini berbeda karakter ya Sayang?" Gemal menggendong Putranya yang mengemaskan.


Diana membernarkan ucapan suaminya, masih binggung dengan sikap Gheon, jika Isel sudah bisa dibaca sebelas dua belas dengan Ria.

__ADS_1


Suara ketukan pintu terdengar, Gemal langsung mendekati pintu. Tawa Gemal tidak tertahankan, melihat Genta meminjam baju.


Diana meletakkan Isel di dalam boks, meminta Genta masuk untuk melihat si cantik Isel yang sangat menyukai Genta.


"Masuk saja Genta, ganti dulu baju kamu." Diana menyerahkan baju suaminya.


Genta masuk kamar mandi, mengganti bajunya. Selesainya langsung melihat Isel yang mirip Papanya. Senyuman Genta terlihat, menunjukkan lesung pipinya.


"Gen, kamu mempunyai adik?" Diana penasaran dengan Genta yang memiliki senyuman mirip Shin.


"Tidak, aku tunggal."


Gemal membenarkan ucapan Genta, Papa Calvin sudah menunjukkan identitas Genta yang hanya tunggal.


"Kak Gem,. wajahnya mirip Shin. Satunya tampan dan Shin sangat cantik." Di masih tidak percaya.


"Mirip saja, setiap manusia memiliki kembaran di negara yang berbeda." Gemal tersenyum melihat Genta yang mencoba menggendong Isel.


"Dia cantik sekali, wajahnya mirip kak Gemal yang tampan." Genta menatap kagum.


Gemal tertawa, menggoda Genta untuk menikah muda. Setidaknya dia mempunyai teman hidup.


Di tidak menyetujui ucapan diminta, Genta harus puas menghabiskan masa mudanya. Usianya baru dua puluh, bagi Di seorang lelaki tidak harus menikah jika hanya mencari teman.


"Genta permisi keluar, terima kasih bajunya."


Di menahan lengan Genta, memintanya menyelidiki soal keluarga Shin.


"Siapa Shin?"


Sebelum Diana menjelaskan, Gemal sudah memintanya keluar. Gemal tidak ingin Diana ikut campur soal keluarga Shin, apalagi dia bukan keluarga sembarang. Shin bukan gadis yang beruntung soal keluarga, tetapi status Shin tidak bisa Diana ungkap, maka urusannya panjang.


"Kita fokus saja kepada anak-anak, utama pertumbuhan mereka."


Kepala Diana menganggukkan, meminta maaf jika dirinya sensitif jika berurusan dengan Shin. Meskipun tidak tahu asal-usulnya, Shin berpengaruh dalam memahami anaknya.


Panggilan Aliya masuk, meminta bantuan Diana soal Putrinya Tika. Rambut Tika tidak bisa sisir, sudah bergulung menjadi satu.


Tawa Diana terdengar, menjelaskan sesuatu kepada Aliya agar mudah disisir.


"Putrinya Papa jangan nakal seperti Aunty Tika, dia wanita tangguh yang pekerjaan bertengkar." Gemal mengusap wajah Putrinya, meletakkan Putranya yang sudah tidur.


Senyuman Diana terlihat, melihat tingkah Gemal tidak mungkin Putrinya gadis yang pendiam, wajah dan sikap mengikuti Papanya.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2