
Tangan Genta ditarik oleh Gemal, meminta Juna melakukan pertolongan pertama. Tubuh Genta juga penuh luka, dia bertahan lebih dari dua jam sampai kehabisan tenaga.
Suara tembakan terdengar, Gemal melihat ke bawah yang gelap, beberapa penerangan dibawa melihat Shin dan Tika bergerak cepat, dan beberapa kali mengelak sesuatu.
"Tidak perlu mengkhawatirkan mereka, aku lebih takut Tika bersama Genta dia pasti terlihat lemah, berbeda saat bersama Shin. Keduanya sama-sama gila." Diana dan Aliya saling pandang melihat ke bawah dua wanita bergelantungan.
Berkali-kali suara tembakan terdengar di bawah sampai akhirnya Tika naik ke atas langsung berlari keluar bangunan, diikuti oleh Shin yang panik ketakutan.
"Ayo kita keluar." Gemal menggendong Genta untuk keluar.
Teriakan Tika dan Shin terdengar, Altha yang berjaga di luar dengan perasaan cemas khawatir sedangkan Putrinya terlihat sangat heboh tanpa luka parah.
"Alhamdulillah mereka kembali Alt." Papa Calvin tersenyum melihat Tika dan Shin yang lari kencang, sedangkan Genta berada di punggung Kakaknya.
Selesai semuanya keluar bangunan roboh, terkikis masuk ke dalam jurang. Beberapa tanah habis longsor ditarik ke dalam jurang.
Altha menatap Yandi yang memberikan gambar apa yang ada di dalam jurang, sempat tertangkap oleh kamera. Ular berukuran sangat besar hidup di dalamnya sudah beranak Pinak.
Tidak ingin terjadi sesuatu yang lebih buruk lagi, semuanya memutuskan untuk pulang daripada bermunculan hewan yang keluar dari dalamnya.
Di dalam mobil Tika gemetar, memeluk Maminya sangat erat begitupun dengan Shin yang mencengkram baju Al memeluk erat.
Mata Al terpejam memeluk keduanya yang masih belum ingin berbicara, Al sangat menyayangi keduanya yang memiliki ketakutan sama.
"Suami Tika ketinggalan Shin!" Tika menatap Maminya yang menahan.
"Genta ada di mobil depan, dia harus dilarikan ke rumah sakit." Al mencium kening Putrinya yang menyandarkan kepala di dada.
"Mami, ini sangat menakutkan." Shin menatap tangannya yang masih gemetaran.
"Apa ularnya sangat besar?" Di menatap ke belakang melihat Tika dan Shin yang mengukur ular dengan tangannya.
Tawa Diana terdengar, ternyata ular yang dulu hampir membunuh Di masih hidup di bawah jurang dan menambah besar.
"Hutan ini masih sangat asri, dan satu-satunya tempat persembunyian paling aman bagi para penjahat atau orang-orang yang yang ingin ketenangan." Di menghela napasnya tidak menyangka akan kembali ke tempat yang paling mengerikan baginya.
__ADS_1
"Kak Diana tahu tempat ini?" Shin berteriak kuat.
Kepala Diana mengangguk, saat kembali dari luar negeri Di mendapatkan misi rahasia. Dia bersama komplotan bersembunyi di hutan, banyak hal yang Diana temukan bahkan beberapa rekannya juga hilang ditelan hewan penunggu hutan.
Diana bisa mengetahui keberadaan Genta karena dia pernah meninggalkan sebuah pelacak aktif. Bangunan tempat Dina bersembunyi sudah Diana ketahui dan dulunya menjadi tempat tidurnya.
Apa yang Tika dan Shin temukan belum seberapa, hutan sangat luas bahkan ada sebuah goa yang mengerikan. Diana pernah terjebak di sana selama tiga hari, dia bahkan hampir mati kelaparan dan kehausan.
"Kak Di yang menghancurkan bangunan?" suara Tika terdengar pelan menghela napasnya karena apa yang dia lalui belum sesulit Diana pada masanya.
"Iya, sudah waktunya bangunan itu hancur. Tempat ini tidak layak didatangi oleh manusia, jika masih nekat datang maka tanggung sendiri resikonya." Mata Diana melihat ke arah samping, tersenyum manis karena dirinya datang bukan untuk bersembunyi, tapi menjemput keluarganya.
"Tempat ini sudah di jamah oleh manusia, cepat atau lambat manusia itu sendiri yang akan menghancurkannya." Al mengusap lengan Di dari belakang, memahami jika kakaknya sedang teringat masa menyakitkan.
Tangan Diana menyentuh tangan Adiknya, Di jauh lebih baik dari dugaan Al. Dia tidak takut sama sekali, bahkan Diana datang untuk mengatakan selamat tinggal kepada masa lakunya.
"Kak Di, senjata milik Kak Di masuk ke dalam mulut ular,"
"Sialan kamu Shin!"
Pukulan Aliya kuat menghantam Di, ternyata orang yang mengajari Tika bela diri secara diam-diam Kakaknya sendiri. Dia menjadi Tika wanita petarung bukan karir.
"Kita pulang ke rumah duku,"
"Kenapa Kak Di?"
Tatapan mata Diana tajam melihat ke arah Shin, Mamanya menangis histeris seperti seorang ibu yang ditinggal mati oleh anak-anaknya.
"Bisa kamu melupakan Mama, dia sangat menyayangi Kamu Shin. Kehadiran kamu mengambil posisi aku, tapi teganya kamu tidak mengakui Mama sebagai restu Ibu." Diana menghela napasnya, dirinya pergi karena tidak sanggup melihat Mama mertuanya terus menangis.
"Mama, maafkan Shin." Kepala Shin tertunduk, dia tahu besarnya kasih sayang Mam Jes kepadanya.
Sesampainya di rumah Shin langsung berlari kencang ke dalam rumah melewati penjagaan yang sangat ketat.
"Nenda, jangan menangis terus. Makan es krim saja, rasanya manis dan menyembuhkan luka hati. Percaya kepada Isel, ini enak sekali." Wajah Isel murung melihat Neneknya menangis tidak ingin berhenti mengkhawatirkan putra dan putrinya.
__ADS_1
Tangan Ian mengusap punggung Mam Jes, memijit tangannya tanpa mengatakan apapun. Tanpa terasa air matanya menetes mengkhawatirkan Neneknya.
"Aunty pasti pulang, Nenda percaya saja kepada Gion." Pelukan lembut terasa, Mam Jes memeluk kedua cucu lelakinya.
Mommy Anggun sudah lelah menasihati, namun mengerti perasaan seorang Ibu yang mencemaskan anak-anaknya.
"Sabar Mam Jes, Kak Dimas sudah memberikan kabar jika semuanya selamat." Mommy Anggun menunjukkan pesan dari suaminya.
"Kenapa belum pulang? aku harus melihat anak-anaknya. Genta akan segera menikah, dan Shin baru saja menemukan kakaknya. Kenapa masalah tidak pernah usai? ingin sekuat apa lagi kamu bertahan." Tangisan semakin kuat tidak kuat lagi menunggu.
"Mama." Shin berlari menatap Mamanya.
"Awas Aunty, jangan salahkan Isel!" kedua tangan Isel menutup matanya, Shin terjatuh terlungkup setelah menabrak menabrak Isel yang bermain mobil.
Semua orang berlari mengangkat Shin, mulut Shin mengeluarkan darah, bibirnya sampai pecah, kepalanya berdasar dan benjol karena menghantam lantai.
"Astaghfirullah Al azim Isel, kenapa ditabrak?" Mam Jes mengusap wajah Shin yang langsung jatuh pingsan.
Satu rumah heboh kembali, Gemal masih dalam perjalanan ke rumah sakit ditambah lagi Shin jatuh pingsan karena terbentur kepalanya.
Tika dan Aliya yang awalnya tertawa langsung diam, tidak menyangka Shin yang kuat bisa pingsan karena ulah manusia nakal.
Tatapan Diana sudah mematikan, Isel langsung berlari menggendong mobilnya ke dalam kamar karena takut mobilnya dibakar.
"Kamu kenapa menabrak Aunty Shin? dia pingsan." Isel memarahi mobilnya.
"Kamu yang mengendarai, kenapa menyalahkan benda?" Diana menarik telinga Putrinya untuk bertanggung jawab atas pingsannya Shin.
"Bukan salah Isel Mama, jago Isel tidak salah jalan. Aunty Shin yang lari-larian."
"Kenapa main mobil di dalam rumah? jika bisa Mama masukkan lagi kamu ke rahim,"
"Rahim itu apa? bisa main mobil di sana, besok Isel main mobil di sana saja." Senyuman tidak berdosa terlihat, Diana mencekik lehernya sendiri.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira