ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
RAHASIA LIANA


__ADS_3

Bekali-kali pintu apartemen dibuka namun hasilnya gagal, ketukan pintu terus terdengar membuat Genta mengerutkan keningnya. Baru saja Genta ingin tidur, tapi sudah ada yang menganggu.


Langka kaki Genta sangat pelan, melihat siapa tamu yang datang ke apartemennya. Kehadiran Li cukup mengejutkan karena tidak banyak orang yang tahu keberadaan apartemennya.


"Kak Genta buka, tolong Li." Suara ketukan pintu semakin kuat.


"Tunggu aku di restoran depan, tidak baik jika masuk ke dalam," balas Genta pelan.


Li menggelengkan kepalanya, tidak bisa ke tempat umum. Li hanya ingin bicara sebentar, dan meminta Genta mendengarkan ucapan yang tidak lebih dari lima menit.


Menerima tamu perempuan sangat menganggu Genta, apalagi dia tinggal sendirian dan tidak ingin ada fitnah apalagi ada hal yang tidak diinginkan.


Satu-satunya perempuan yang boleh masuk apartemen hanya Shin, itupun harus ada Atika meskipun mereka saudara kandung. Tika memang pernah menginap di apartemennya, tetapi dalam keadaan kepepet.


"Kak Genta, aku mohon. Ini soal Mami." Li melipatkan kedua tangannya.


Pintu apartemen terbuka, Genta tidak ingin tetangga keluar hanya karena suara Li yang mulai menangis.


Senyuman Li terlihat, melangkah masuk ke dalam dan melihat Genta menghidupkan semua lampu karena sempat dimatikan sebelum dirinya beristirahat.


"Kenapa kode sandi apartemen Kak Genta berubah?"


"Aku juga tidak tahu apa kodenya ... kamu tahu dari mana sandi aku?" tatapan Genta penuh tanda tanya.


Tawa Liana terdengar, dirinya sangat mengenal Genta yang hanya menggunakan sandi hari kepergian kedua orangtuanya.


Siapapun pasti tahu, sejarah hidup yang tidak bisa Genta lupakan saat kehilangan keluarganya hingga menyisakan dirinya sendiri.


"Kenapa tiba-tiba kamu membahas hari itu?"


"Maaf, karena itu perkenalkan pertama kita padahal kedua orang tua kita sahabat." Li duduk di ruang tamu, menatap punggung Genta yang mengambil air minum.


Pelukan dari belakang melingkar di pinggang Genta yang sedang menuang air ke dalam gelas.


Cepat Genta menepis tangan Liana, menatapnya penuh tanda tanya juga kekhawatiran. Genta meminta Li mengendalikan dirinya dan menjaga sikap jika tidak ingin menyesal.

__ADS_1


"Liana mundur! apa yang kamu pikirkan?"


"Aku juga sedang bertanya-tanya Kak, kenapa aku tidak pernah penting di mata Kak Gen? aku wanita pertama yang Kak Gen kenal." Nada bicara Li penuh kesedihan.


"Aku tidak mengerti,"


"Aku mencintai Kak Genta, tapi Kenapa tidak pernah ada balasannya?"


Kedua mata Genta terbuka besar, menatap tajam antara terkejut dan merasa mimpi karena hubungan dengan Li hanya sebatas sahabat. Genta juga menganggapnya adik dan menghormati Maminya Liana.


"Jangan bercanda kamu, sebaiknya pergi. Jangan merusak hubungan kita." Genta berjalan ke arah pintu, membukakan meminta Li keluar secara baik-baik.


Senyuman Li terlihat, memperhatikan wajah tampan yang sejak muda sangat dikaguminya. Meksipun perasaan tidak pernah terbalaskan karena Genta pria yang sudah mati rasa.


"Jika Li pergi, mungkin adik kandung Kak Gen bisa dalam bahaya. Sekarang kita tidak harus mempunyai rahasia lagi." Senyuman sinis Li terlihat, Genta menutup pintu dengan kasar sampai mengeluarkan suara cukup kuat.


Genta sangat sensitif jika bersangkutan dengan Adiknya, saat ini Shin harta yang paling berharga dalam hidup Genta. Tidak ada yang berhak melukainya selama Genta masih hidup.


Tatapan mata Li dan Genta sama-sama tajam, sikap Liana yang biasanya lembut berubah drastis menjadi wanita yang mengerikan.


Banyak pertanyaan di kepala Genta, tidak banyak orang yang tahu hubungan keduanya kecuali keluarga Leondra. Li hanya orang luar yang tidak punya kekuasaan untuk tahu.


"Aku tidak selemah itu Li, dan adikku jauh lebih kuat dari aku. Hati dan mentalnya sudah kuat menghadapi orang-orang jahat karena selama dua puluh tahun dia hidup dalam penjara, tapi tidak berhasil kalian hancurkan. Aku harap pikiran aku tentang kamu salah." Kening Genta berkerut, masih berharap dirinya yang salah.


"Apa yang Kak Gen pikirkan tentang aku?" cara duduk Li sangat anggun, menggoda Genta yang masih terlihat tenang.


Tatapan Genta melihat ke arah pergelangan tangan Li yang terbalut kain putih seperti ada luka, tapi Genta tahu ada tanda lahir di sana saat mereka kecil.


Saat Tika membicarakan lambang, Genta langsung tahu dengan tanda lahir di tangan Li sebenarnya sebuah tato kecil berwarna merah sebagai tanda mereka agen yang aktif.


Bukan hanya Li, tapi Maminya juga memilikinya. Genta menyadari jika keluarga Liana ada sangkut pautnya dengan hilangnya Shin kecil dan kecelakaan kedua orangtuanya.


"Kak Genta jahat sekali menuduh Li dan Mami, padahal Mami sangat menyayangi Kak Gen." Liana membuka balutan ditangannya.


"Kamu tidak menyesal, atau merasa takut jika semuanya terbongkar?"

__ADS_1


"Takut, apa yang membuat Liana takut? tidak ada bukti Kak. Seharusnya Kak Genta bersyukur atas kehadiran Li." Tanda di tangan Liana terlihat jelas.


Sejauh apapun Genta mencari kebenaran tidak akan ada bukti yang tertinggal, Liana tidak mengakui jika dirinya terlibat karena pada kenyataannya kehadiran Liana alasan mengapa Genta masih hidup.


"Lupakan soal masa lalu Kak, jalani saja masa depan. Singkirkan Shin jika Kak Gen masih ingin hidup, jika sampai Mami tahu kalian sudah bersatu, aku pastikan salah satu akan mati." Liana memperingati Genta karena hidup Li tidak akan bisa diselamatkan.


Hidup dan mati Li ada ditangan Maminya, jika sudah waktunya Li mati maka Genta sendiri tidak akan mampu menyelamatkan karena di dalam tubuh Li tertanam benda yang bisa membunuhnya.


Meksipun Li memiliki kehidupan bebas, hidupnya ada di genggaman Lian. Jika Genta ingin Adiknya masih berkeliaran seharusnya menjauhinya.


"Kenapa Lian sangat membenci Li? apa salah adikku? apa salah keluarga kami?"


"Aku tidak tahu, ini hanya peringatan karena aku mencintai Kak Genta dan tidak ingin Mami lepas kendali." Li langsung berdiri, meminta Genta menghentikan Tika dan Shin jika tidak banyak yang akan terluka.


Ketukan pintu terdengar pelan, Liana langsung berjalan ke arah pintu. Melihat Arjuna yang fokus menatap ponselnya.


"Katakan, kedatangan aku untuk memeriksa keadaan Kak Gen." Liana membuka pintu tersenyum manis saat melihat Juna.


Tatapan dingin Juna terlihat, tidak mengeluarkan sepatah kata. Li meminta Genta beristirahat dan memeriksa rutin kondisinya.


"Aku permisi." Liana melangkah pergi.


Setelah Liana menghilang, Juna juga langsung melangkah pergi tanpa mengatakan apapun.


"Jun, kamu tahu soal Liana?"


"Maju saja, jangan goyah hanya karena ucapan. Aku datang hanya memastikan jika Kak Gen baik-baik saja." Juna langsung pamit pergi.


"Ditubuh Shin, ada benda yang tertanam dan Lian yang mengendalikan." Genta menutup pintu apartemennya untuk mencari Shin.


Arjuna menahan pergelangan tangan Genta, menyerahkan benda yang Juna ambil dari tubuh Shin saat operasi mata. Juna meminta Genta menjaganya agar tetap aktif, jika ingin Shin baik-baik saja.


"Terima kasih Juna, bantu aku meyelamatkan Shin." Genta menepuk pundak Juna yang menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2