
Suara Tika lompat-lompat, tersenyum lebar tidak ada perasaan haru sama sekali. Tika hanya tertawa melihat Genta yang gugup hingga menyelesaikannya ijab kabul.
Al hanya bisa tersenyum, melihat putri kecilnya sudah tumbuh dewasa dan menjadi seorang istri.
"Tika, menikah tidak selamanya soal bahagia. Kamu akan melihat sikap suami kamu, dan begitupun sebaliknya. Mungkin akan banyak perbedaan, menikah bukan hitungan jam, hari, minggu, bulan ataupun tahun namun seumur hidup." Al memegang kedua pundak Tika ikhlas melepaskan Putrinya untuk bersama suami yang dicintai.
"Tika akan selalu mengingat pesan Mami, pasangan hidup dia yang bisa menjadi partner." Tika memeluk erat Maminya, kesepakatan keduanya untuk terus tersenyum tanpa tangisan.
"Sudah waktunya keluar,"
"Kemarilah Ria, Mami ingin memeluk kalian berdua. Kedua Putri kesayangan Mami, nyawa dan hidup Mami." Pelukan Al erat terhadap kedua Putrinya.
Tangan Juan terulur, berjalan beriringan bersama Tika yang tersenyum manis. Juna sudah menunggu di depan pintu, tersenyum melihat Adiknya yang terlihat sangat cantik.
Kedua tangan Tika mengandeng kedua saudara lelakinya, Juan yang paling terlihat sedih karena akan berpisah dengan Kakak perempuannya.
"Jadi istri yang baik Tika, aku tahu Genta buta sudah memilih kamu. Dia belum tahu saja bencana yang akan kamu buat, intinya jangan libatkan Kak Juna." Suara Juna pelan, hatinya sangat merasa kehilangan satu pengacau di dalam hidupnya.
"Sekalipun Tika menikah, menjadi istri ataupun Ibu. Setiap hari Tika akan terus menganggu Kak Juna, menyusahkan Juan dan mengacau kalian semua." Kepala Tika bersandar di pundak kakaknya yang tersenyum.
"Juan sedih, kita akan berpisah rumah."
"Jarak rumah kita hanya lima langkah Juan, jangan bersikap cengeng. Aku tahu kalian senang aku pindah, apalagi perempuan di belakang." Kepala Tika menoleh ke arah belakang melihat Ria yang menari di belakang Maminya sambil bernyanyi kecil.
Sampai di tempat ijab kabul, Altha memeluk Putrinya yang sudah menjadi seorang istri. Tidak ada yang bisa Altha katakan, dia bahagia melihat putrinya memilih lelaki yang tepat, karena menasihati Putrinya tidak akan dituruti hanya Genta yang bisa mengendalikannya.
Senyuman Tika terlihat duduk di samping Genta yang juga tersenyum melihat istrinya yang sangat cantik.
"Suami." Tawa Tika dan Shin langsung pecah, tendangan Shin mendarat di pinggang Tika yang membuatnya jijik.
"Balas Gen, istriku." Gemal memancing Genta yang geleng-geleng kepala merasa geli.
Tika mencium tangan suaminya, mendengar Genta membaca doa untuk pernikahan mereka agar menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah, dan saling melengkapi kekurangan, dan lebih taat lagi agar bisa beribadah bersama.
"Ayang, malam ini kita langsung ibadah. Sudah halal buka-bukaan." Kejahilan Tika membuat wajah Genta memerah.
"Tika jaga ucapan." Suara Genta berbisik terdengar sangat pelan.
"Kenapa? mereka semua sudah pengalaman Ayang. Jangan khawatirkan Shin, adik ipar tersayang otaknya paling kotor." Tawa Tika diikuti banyak orang terdengar.
"Bukan Shin tahu, itu kamu sama Rindi." Teriakan Shin terdengar kesal.
"Iya, Rindi paling tahu jika soal ranjang, semua lubang sudah aku cobain." Rindi menatap Isel yang mengaga.
"Lubang apa Aunty? Isel boleh lihat tidak?"
"*** ...." mulut Rindi ditutup oleh suaminya.
Kedua telinga Isel ditutup oleh Juna, meminta semuanya berhenti bicara yang tidak seharusnya di dengar oleh anak-anak.
Pengantin menanda tangani buku nikah, meminta doa kepada seluruh keluarga, tidak ada suasana sedih sama sekali hanya penuh canda dan tawa. Tidak ada yang perlu menangis karena keluarga mereka semakin besar dan tali persaudaraan semakin erat.
"Siap-siap menambah anggota lagi, Tika akan merasakan karma dari kenakalannya." Di memberikan selamat memeluk Tika yang matanya sinis.
__ADS_1
Tamu undangan juga memberikan selamat, ikut bahagia melihat pengantin tersenyum lebar.
Tiba-tiba hening, semua mata melihat ke arah tempat musik. Suara pemainan musik Ria terdengar, tidak ada yang tahu jika dirinya hebat dalam bermusik.
"Ria punya lagu untuk Kak Tika dan Kak Shin, kalian ingin mendengarnya?"
"Tentu, aku tahu suara kamu jelek." Dean berjalan ke samping Ria, merapikan rambutnya agar lebih santai.
Suara piano yang Dean mainkan terdengar, menatap Ria yang tersenyum sangat manis meminta Shin dan Tika ikut dirinya bernyanyi.
(DENGARKAN LAGU BETRAND ANETH, SAHABAT TIDAK AKAN PERGI)
Tika melangkah sambil mengenggam tangan Shin, mengikuti irama musik yang dimainkan.
Sahabat, coba kita arungi
Lautan luas kita seberangi
Gunung yang tinggi 'kan kita daki
Tak merasa letih
Senyuman Shin terlihat, menahan air matanya. Berusaha mengendalikan dirinya yang menyukai suara lembut Tika.
Melangkah ku ke ujung samud'ra
Kar'na tanpa kamu, aku hampa
Sahabatku di setiap langkah
Kau selalu ada
Kamu begitu berarti
Dan istimewa di hati
Selamanya rasa ini
Sahabat takkan terganti
Air mata Shin juga menetes, mengeratkan genggaman tangannya.
Dan ingatlah hari ini
Sampai kita tua nanti
Sahabat tidak pernah pergi
Selamanya di dalam hati
Keduanya saling merangkul, tersenyum meneteskan air mata. Tidak terasa persahabatan keduanya sudah sangat jauh.
Ria menyambung lagu, karena keduanya sudah menangis saling berpelukan. Tangisan bahagia karena mengantarkan salah satu ke hari bahagianya.
__ADS_1
Kau sahabatku, takkan terganti
Ho-oh (ho-oh)
(Kau sahabatku)
Melangkah ku ke ujung samud'ra (ke ujung samud'ra)
Kar'na tanpa kamu, aku hampa (sahabatku)
Sahabatku di setiap langkah (langkah)
Kau selalu ada (selalu ada)
Kamu begitu berarti (begitu berarti)
Dan istimewa di hati (istimewa di hati)
Selamanya rasa ini (rasa ini)
Sahabat tak akan terganti (tak akan terganti)
Dan ingatlah hari ini (hari ini)
Sampai kita tua nanti (tua nanti)
Sahabat tidak pernah pergi (pergi)
Selamanya di dalam hati (hati), oh-oh (ho-oh)
Sahabatku s'lalu di hati
Suara indah Ria yang diiringi oleh Dean terdengar sangat indah, bukan hanya Tika dan Shin yang menangis, tapi semua orang yang melihat juga meneteskan air mata.
"Ye, Ria menang. Satu orang lima puluh juta." Ria meminta Shin dan Tika membayarnya.
"Apa?" rasa haru keduanya langsung lenyap saat Ria meminta bayaran.
"Kita taruhan hari ini tidak ada yang menangis, tapi kenyataanya semua orang menangis. Ria berhasil membuat banjir air mata,"
"Dasar perempuan licik," Tika menatap Shin yang mentransfer ke Ria.
"Kamu licik sekali Ria, suasana haru kita hancur." Shin menunjukkan bukti uang masuk.
"Makanya jangan lebai, ekspetasi tidak pernah sesuai realita." Lidah Ria terulur melangkah pergi ingin menikmati makanan.
Kepala Juan dan Dean hanya geleng-geleng, mereka mengikuti rencana Ria berpikir untuk menghibur, tapi ternyata demi uang taruhan.
"Putri siapa itu Altha?" Al mengusap air matanya menyesal sudah menangis karena make up bisa rusak.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1