ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
PENYUSUP


__ADS_3

Senyuman Aliya terlihat menyambut kepulangan suaminya yang terlihat lelah, Alt juga membalas sambil tersenyum langsung melangkah mandi untuk membersihkan dirinya.


Al mengikuti Altha yang terlihat lelah, satu hal yang Al tidak bisa pahami soal Altha yang selalu diam saat dia terluka.


Punggung Altha mengalami luka sabetan benda tajam, bahkan darah juga masih terlihat di kulitnya.


"Ayang, Al tidak pernah bertanya soal apapun kasus yang Ayang tangani, tapi setidaknya cerita kepada Al jika terluka." Al melihat punggung suaminya yang terluka cukup parah.


Altha hanya tersenyum, memeluk erat istrinya yang wajahnya cemberut.


"Maaf, aku kurang berhati-hati. Sayang, aku baik-baik saja."


Kedua tangan Aliya memeluk erat, meminta suaminya secepatnya mandi agar lukanya segera diobati.


Suara Altha meringis terdengar, tubuhnya yang tengkurap rasanya remuk karena diobati Aliya tanpa kelembutan sama sekali.


"Ayang diam!" Al memukul punggung Altha yang membuat Altha teriak histeris.


Arjuna dan Atika sampai masuk ke dalam kamar mendengar suara teriakkan Papinya.


"Papi kenapa?" Tika naik ke atas ranjang melihat punggung Papinya terluka.


Altha tersenyum meminta Tika tidak berpikir hal buruk, melihat luka dipunggung memang sedikit menakutkan.


"Punggung Papi lucu sekali?"


"Apa lucu?" Aliya dan Altha kaget mendengar tanggapan Tika yang tidak ada tempat takutnya.


Juna melangkah mendekat mengambil obat dan mengantikan Maminya, Alt sedikit lega karena Juna sangat lembut.


"Sudah periksa ke dokter Pi?"


"Hanya luka kecil Jun, sakitnya hanya beberapa hari." Alt menatap Aliya dan Atika yang sudah tiduran berdua.


Altha duduk menatap putranya, mempertanyakan kejadian di rumah selama Alt tidak pulang dan sering lembur.


Juna menceritakan keluhan Maminya, beberapa kali adiknya bergerak dalam satu hari dan memastikan Mami adik-adiknya dalam keadaan aman.


"Pi siapa nama adiknya Tika?" Tatapan Tika tajam menatap Papinya yang masih mengobrol.


Altha pindah ke atas ranjang, mengusap perut Aliya yang semakin membesar membuat Al semakin sulit bergerak.


"Apa sudah waktunya kita membicarakannya?" Alt tersenyum melihat putra putrinya bersemangat.


Suara perdebatan Tika dan Juna yang membicarakan nama membuat Aliya dan Altha hanya bisa diam.

__ADS_1


Satunya sibuk membahas nama perempuan, sedangkan Juna juga merekomendasikan nama anak laki-laki.


"Mami, nama adiknya Tika Ariani dan Ariana ya?" Tika melihat Maminya yang sudah tidur dalam pelukan Papinya.


Juna juga melihat Papinya yang sudah tidur, langsung menghela nafas kasar. Juna meminta Tika masuk kamar masing-masing, karena Maminya sempit jika mereka ikut tidur.


"Sempit karena ada kak Juna, jika hanya Tika muat." Bibir Tika monyong, langsung tidur di tengah memeluk Maminya.


Juna hanya mengerutkan keningnya, meredupkan lampu menarik selimut langsung melangkah pergi kembali ke kamarnya.


Tatapan Juna langsung tajam melihat ke arah lantai satu, langsung bersembunyi kebingungan cara memberitahu Papinya.


Kebetulan lampu lantai satu tidak dimatikan, karena Maminya sering bangun malam dan mencari makanan.


Juna mengambil ponselnya, menghubungi Dimas agar segera menolong keluarganya yang sedang tidur.


"Ya Allah lindungi keluarga Juna." Tatapan Juna masih mengawasi pria yang menggunakan baju serba hitam.


Dimas menjawab panggilan, hanya terdengar suara Anggun yang mempertanyakan tujuan Juna menghubungi saat malam.


Panggilan langsung Juna matikan, mengirimkan pesan untuk membangunkan Uncle Dimas jika ada penyusup masuk rumah.


Juna tidak bisa kembali ke kamar Papinya, juga tidak bisa kembali ke kamarnya. Juna memilih untuk diam, karena melihat ada senjata.


Dimas yang baru olahraga malam, langsung menggunakan bajunya. Tidak ada sejarah orang bisa masuk area rumah mereka, karena penjagaan sangat ketat.


Dika juga terbangun, meminta menghubungi keamanan perumahan.


"Dika ikut kak."


"Diam saja di rumah, jaga Anggun." Dimas melangkah keluar rumah untuk menemui penyusup yang berani masuk ke rumah polisi.


Rumah Altha mendadak gelap, Juna langsung berdiri berjalan pelan mencari arah kamar kedua orangtuanya.


Tangan Arjuna sudah ditarik ke dalam kamar, suara Papinya sudah terdengar di telinganya.


"Kamu baik-baik saja Jun?"


"Iya Pi."


Aliya merangkul Juna, melihat sekitarnya yang gelap, satu tangan lagi mengandeng tangan Tika yang sudah terbangun.


Altha meminta Al tetap diam di dalam kamar bersama anak-anak, dia yang akan keluar untuk melihat siapa penyusup yang berani masuk.


"Ayang, hati-hati." Al mengunci pintu merangkul kedua anaknya.

__ADS_1


Perasaan Aliya tidak enak, jantungnya berdegup kencang. Perutnya yang awalnya tidak merasakan sakit mendadak tidak nyaman.


Juna bisa merasakan kegelisahan Maminya, apalagi dalam kondisi hamil besar yang hampir memasuki sembilan bulan.


"Mami, are you okay." Juna menggenggam tangan Maminya.


Aliya mengusap kepala Juna, memintanya diam dan tidak mengeluarkan suara apapun. Mereka tidak tahu siapa yang bisa masuk, dan melewati keamanan yang sangat ketat.


Rasa sakit perutnya tidak Al pedulikan, dia sangat mengkhawatirkan suaminya yang keluar sendirian.


Suara tembakan terdengar, bersamaan dengan lampu yang mendadak hidup. Al menatap kedua anaknya yang juga menatapnya.


Tangan Al memegang kenop pintu, tapi masih ragu untuk membukanya karena Al tidak tahu apa yang ada di balik pintu.


Juna memegang kenop pintu, meminta Mami dan adiknya melangkah mundur. Juna membuka sedikit pintu melihat sekitar yang tidak ada siapapun.


Pintu Juna buka lebar, melangkah perlahan menuju ke arah tangga. Tidak ada siapapun, bahkan Papinya juga tidak ada.


"Papi Tika di mana?" tatapan Tika melihat ke arah bawah.


Aliya juga melihat sekitar, tidak ada suaminya. Bahkan rumah terasa hening.


Arjuna berlari ke arah jendela, membuka gorden. Seluruh rumah di area tempat tinggal mereka mati lampu, hidup kembali dan mati lagi secara berulang.


"Ada apa ya?" Juna langsung melihat ke Maminya yang masih mengandeng tangan Tika.


Al masih menunjukkan senyuman meminta anak-anaknya untuk turun ke bawah menunggu Papinya pulang.


"Juna, kamu melihat orang yang masuk rumah kita?"


"Wajahnya di tutup Mi, hanya pakaian serba hitam, tapi ujung bajunya mirip baju tahanan yang ditutupi jaket." Juna menunjukkan posisi tempat orang berdiri.


Aliya mengerutkan keningnya, baju tahanan berarti seseorang yang melarikan diri dari kantor polisi.


"Mi, beberapa bulan yang lalu Mami dan Aunty ke kantor polisi menemui siapa?" Juna menatap Aliya, dia melihat sebuah kertas yang menunjukkan surat kunjungan, tapi tidak membacanya karena bukan miliknya.


Aliya kebingungan cara menjawab, meminta Juna tidak memikirkannya. Al yakin Citra tidak mungkin melakukan hal buruk lagi.


Tangan Al menyentuh perutnya, rasa sakit terulang kembali tapi masih berusaha menahannya.


"Mami berkeringat." Tika mengelap kening Maminya yang basah keringat.


"Mami, baik-baik saja sayang." Al memeluk erat Putri dan putranya yang terlihat cemas menunggu Papinya.


***

__ADS_1


jangan lupa like coment Dan tambah favorit


follow Ig Vhiaazara


__ADS_2