
Suara langkah kaki berlarian kecil terdengar memasuki rumah mewahnya, napas ngos-ngosan tapi tetap berlari kencang.
"Papa, itu ... Kakak ganteng punya istri. Kenapa Isel tidak diundang acara pernikahan seperti Tante Hilda." Isel duduk di kursi yang berhadapan dengan Gemal.
Kening Gemal berkerut, menatap Genta yang juga tidak paham dengan ucapan si kecil Isel yang berkeliaran tanpa bisa dihentikan yang selalu mendapatkan kabar apapun paling awal.
"Ada apa Isel?" Diana menuruni tangga, melihat putrinya yang sudah pulang.
"Kak Juna sudah punya Istri, tapi kita diundang." Bibir Isel monyong, meminta digendong.
"Juna, apa perjodohan dengan adiknya Helen disetujui?" Di menatap Gemal yang geleng-geleng kepala.
"Bukan Aunty Hanna, tapi namanya Rindi. Dia aneh sekali,"
Genta yang baru saja ingin minum langsung batuk, hampir menyemburkan minumannya saat Isel menyebut nama Rindi yang mengaku sebagai istrinya Juna.
Senyuman Genta terlihat, bersyukur karena akhirnya dirinya terlepas dari Rindi yang mengejarnya.
"Siapa dia Genta?" tatapan Gemal masih binggung
"Dia wanita kurang Kak,"
Genta menceritakan karakter Rindi, tidak paham juga penyebab Rindi bisa bersama dengan Tika dan Shin. Kedua wanita yang membenci Rindi, tetapi sekarang membawanya.
Suara langkah kaki Shin muncul sambil menghentak ke lantai, tawa Isel terdengar mengejek Shin yang baru saja bertengkar dengan Rindi.
"Assalamualaikum, di mana Papa dan Mama?"
"Baru saja pagi ini pulang, belum sempat mengabari kamu Gen. Tiba-tiba saja ada masalah di sana."
Genta berdiri dari duduknya, menatap Gemal dengan tajam. Dugaannya Lian orang dalam yang menyebabkan Kedua orangtuanya meninggal dan penculikan adiknya Shin.
Secara langsung Liana baru saja mengakui jika dirinya dan Maminya terlibat. Bahkan secara langsung meminta Genta menjauhi Shin juga memutuskan hubungan keduanya.
"Kak Genta sudah tahu soal Liana?"
"Iya, kamu juga tahu soal dia?" tatapan Genta dan Shin bertemu.
__ADS_1
"Alasan Rindi bisa bersama kita, karena dia sudah membocorkan hubungan antara Lian dan Melly." Shin mengambil ponselnya untuk menghubungi Mamanya.
Nomor Mam Jes dan Papa Calvin masih belum bisa dihubungi, Diana dan Gemal juga langsung tegang. Tidak mungkin tanpa alasan secara tiba-tiba ada masalah.
"Sebenarnya apa alasan penculikan kamu Shin?" Di meminta Isel pergi.
"Kawan ... ayo main." Rindi mengintip di rumah Gemal, mencari keberadaan Isel.
Tatapan mata Diana dan Rindi bertemu, melihat mata tajam Di, langkah Rindi langsung mundur teringat wajah Alina yang bisa membunuh tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Alina, aku harus memberitahu Papa. Alina masih hidup." Tangan Rindi gemetaran, Atika menahan lengan Rindi yang ingin melarikan diri.
"Tenanglah, dia tidak akan menyakiti kamu selama menurut." Tika tersenyum melihat Di yang mengubah cara pandangnya.
Kepala Rindi tertunduk, memberanikan diri untuk melihat Diana kembali. Tangan Diana terulur, menyapa Rindi yang sekilas pernah dilihatnya.
"Kamu Putrinya seorang mafia, Mami kamu bernama Iriana dan Papa kamu King. Bahkan aku mengetahui alasan kematian Mami kamu. Gadis kecil yang mengalami gangguan jiwa, ternyata masih hidup." Di tersenyum sinis, melipat tangannya ke dada.
Rindi gadis yang menyedihkan, tapi Papanya sangat mencintainya meksipun Putrinya sejak kecil mengalami gangguan kejiwaan.
"Kamu belum bisa disembuhkan, sedangkan Shin masih tanguh bertahan sendiri. Rencana kalian gagal." Di mulai memancing pembicaraan dengan Rindi yang memiliki ingatan kuat meksipun dia tidak normal.
Kepala Rindi menggeleng, Diana salah jika mengatakan rencana Lian gagal. Sejak awal dia sudah berhasil, bahkan berhasil membunuh Kedua orangtua Shin.
"Kamu tidak tahu Alin, bayi itu sudah tertanam benda yang dikendalikan oleh Lian. Hidup dan matinya di tangan Nenek sihir." Tawa Rindi terdengar, mengejek Diana yang tidak tahu apapun.
Tatapan Di melihat ke arah Genta, kepala Genta mengangguk dan memastikan Shin tidak memiliki benda yang Rindi katakan.
"Sebenarnya apa masalah Lian dan keluarga Shin?"
Kepala Rindi menggeleng, dia tidak tahu apapun soal Lian. Urusan Lian bersama Papanya yang selalu menyalurkan dana.
"Penculikan dan kecelakaan, semua terjadi secara tiba-tiba. Uniknya, Papa kamu juga terlibat?"
"Iya, soalnya aku membutuhkan ginjal Shin. Dan sudah mengambilnya saat dia berusia sepuluh tahun, Shin hidup hanya menggunakan satu ginjal." Rindi menatap Shin yang menyentuh perutnya, Shin tidak pernah tahu jika satu-persatu organ sudah hilang.
Atika menutup mulutnya, alasan Shin berada di rumah sakit jiwa sebenarnya sebagai tempat melakukan operasi pengambilan organ tubuh, Shin hidup hanya untuk mempertahankan Rindi.
__ADS_1
"Bagian tubuh apa saja yang sudah hilang dari Shin?" Tika menarik lengan Rindi untuk menatapnya.
"Semua, apa yang ada padaku milik Shin. Bahkan matanya juga."
Genta dan Gemal menggeleng kepalanya, jika Shin sudah kehilangan sebagian dari tubuhnya tidak mungkin dia masih tangguh dalam pertarungan, tidak pernah mengalami sakit.
Air mata Shin menetes, langsung duduk di sofa. Ucapan Rindi mungkin ada benarnya, karena selama ini Shin selalu mengalami sakit namun mengobati dirinya sendiri.
"Shin, jangan kecewa dulu. Kita lakukan pemeriksaan."
"Jangan khawatir Shin, aku hanya mengambil ginjal. Sisanya milik Dokter Rizal, dia Papanya Liana, suaminya Lian. Hatinya baik tidak seperti istrinya." Tangan Rindi menutup mulutnya, langsung menampar wajahnya yang mengingkari janji kepada Dokter yang menyelamatkan Papanya.
Rindi memukuli dirinya, dia tidak ingin Papanya mati karena sudah membocorkan rahasia Dokter Rizal yang mendonorkan mata, hati untuk Rindi, dan terakhir memberikan jantung untuk Papanya.
Hidup Shin selamat karena keberadaan Dokter Rizal yang memilih meninggalkan keluarganya demi bisa menjaga Shin.
"Rindi tenanglah, Papa kamu baik-baik saja. Dokter Rizal juga baik-baik saja. Kita semua baik." Tika menenangkan Rindi yang menyalahkan dirinya.
"Dokter Rizal, apa dia pengacara yang selalu mengurus setiap kasus Shin?" air mata Shin menetes, kasus terakhir yang diurus saat bertengkar dengan Tika.
"Apa Dokter Rizal mencintai Ibunya Shin?" Tika merasa ada Cinta segitiga.
Kemungkinan alasan Lian menculik Shin karena cemburu dengan Ibunya Shin yang bisa menikah dengan pria yang di cintai.
"Bukan, mereka sahabat. Dokter Lian, Dokter Rizal menikah tapi Dokter Rizal mencintai Adiknya Dokter Lian yang sudah meninggal."
"Aku binggung, Dokter Lian dan Rizal suami istri mencintai adik ipar, lalu apa sangkut pautnya dengan keluarga Shin." Suara Gemal meninggi, tidak ada kejelasan mendengar ucapan Rindi yang tidak jelas.
"Papa, Dokter Rizal mencintai Adiknya Dokter Lian, tapi dia meninggal akhirnya menikah dengan Dokter Lian. Masalahnya Dokter Lian mencintai Papanya Kak Shin, begitu tidak teman?" Isel berteriak dari lantai atas.
"Bukan, Adiknya Dokter Lian bunuh diri karena lelaki yang dicintainya menikah dengan Mamanya Shin, sahabat kakaknya." Rindi bertepuk tangan karena ceritanya tamat.
Tika, Shin dan Diana menganggukkan kepalanya.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1