ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
BERSAMAMU


__ADS_3

Musim hujan yang selalu turun di tengah malam cukup menguji kesabaran, selain dingin yang menusuk tulang belulang juga suara angin ribut, kilat dan petir menjadi satu.


Bibir Aliya monyong, dirinya tidak bisa tidur mendengar suara menggelegar di atas langit. Al melangkah turun dari atas ranjangnya, membuka gorden dan menatap tajam hujan.


Tangan Al menyentuh kaca, tatapan matanya sayu mengigat kembali kejadian menyakitkan.


Di bawah tetesan hujan seorang anak kecil menangis sesenggukan mengejar seorang wanita sampai ke jalanan.


Sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi dan menghantam tubuh si kecil yang langsung terpental ke atas mobil, lalu tergeletak di tengah jalan.


Darah dan air menjadi satu, pintu mobil terbuka keluar seorang wanita dan tidak melakukan apapun, selain melangkah pergi meninggalkan si kecil yang penuh darah.


Suara ketukan terdengar, Aliya masih nyaman memejamkan matanya sambil tersenyum lucu membayangkan dirinya.


"Aliya, kamu sudah tidur?" Alt mengetuk pintu, dan membuka perlahan kenop, melihat Aliya yang berdiri dan menggenggam kuat tangannya.


Alt melangkah masuk, melihat Aliya yang tubuhnya tegang. Gorden perlahan ditarik, lalu menutup dengan rapat.


"Apa yang membuat kamu sangat tersakiti Aliya?" Alt menatap gadis muda di sampingnya yang masih bergumam meminta tolong.


Aliya membuka matanya, melihat Altha yang bersandar di kaca menatap wajahnya dengan ekspresi penasaran.


"Tidak ada yang bisa menyelematkan kecuali diri sendiri." Al tersenyum, menundukkan kepalanya.


"Apa itu sangat menyakitkan? kamu memiliki dendam Aliya, usia kamu masih sangat muda, tapi kehidupan kamu terlalu memiliki banyak konflik." Kepala Altha menggeleng.


Suara menggelegar terdengar kembali, Aliya memalingkan wajahnya membuat Alt menarik tangannya untuk menjauhi kaca.


Suasana rumah mereka sangat sepi, karena anak-anak sedang tidak ada di rumah. Altha tidak bisa tidur jika sedang hujan dan petir.


"Kenapa kamu belum tidur? mengkhawatirkan anak-anak yang mungkin ketakutan?" Al menatap Altha yang duduk di sampingnya.


"Iya, tapi aku tidak bisa menghubungi mereka. Aku dan Citra sudah terhalang tembok yang sangat besar dan tinggi, aku tidak mampu memanjat dan melompatinya." Suara hembusan nafas panjang terdengar, Alt berusaha untuk tetap tersenyum meskipun berat baginya.


Al menatap wajah Altha, mempertanyakan perasaan hatinya kepada mantan istrinya. Jika waktu berpihak Citra kembali ke dalam kehidupan seorang Altha.


Suara Altha tertawa terdengar, Al tersenyum melihat tawa Ayah tiga anak yang tidak mengetahui pengkhianatan istrinya.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup ini Altha."


"Mungkin." Senyuman Alt terlihat, merasa lucu dengan pertanyaan Aliya.


"Kamu akan menerimanya?"

__ADS_1


Altha terdiam sesaat, jika hari itu datang mungkin Altha harus meninggalkan pekerjaannya. Citra selamanya akan menjadi ibu untuk anak-anak, tapi hubungannya dengan Altha sudah berakhir.


"Kamu tidak akan menerimanya?"


"Berat Aliya, aku selalu mencintai dia sampai kapanpun dia ingin bersamaku, tapi jika dia memutuskan untuk berpisah maka cinta sudah seharusnya hilang. Mencintai dia yang sudah pergi hanya akan membuat luka semakin dalam dan menyakitkan. Aku ingin anak-anak bahagia, maka aku juga harus bahagia karena cinta milik anak-anak." Senyuman Alt terlihat, meminta Aliya tidur.


Senyuman Aliya terlihat, sungguh sedih sekali ada di posisi Altha. Kesetiaannya dikhianati dan disakiti, seandainya Altha tahu jika Mora bukan anaknya bersama Citra pasti sangat menyakitkan sekali.


Mungkin kemarahan Altha akan ada di puncaknya, atau bisa saja meyakinkan Citra dan Ayah kandung Mora.


"Aku tidak ingin bangun lagi, kepala Aliya pusing memikirkan semua ini."


"Kamu memikirkan apa?"


"You." Suara petir terdengar, Aliya langsung mendekati Altha membuat wajah mereka berdekatan.


"Tidurlah."


"Temani aku tidur sampai ...."


"Ya, aku akan tetap duduk di sini. Tidurlah."


Aliya ingin dipeluk, Altha mengerutkan keningnya tidak akan pernah mengabulkan keinginan Aliya.


"Tidur sekarang, jangan mencari kesempatan dalam kesempitan. Jika tidak ingin aku keluar sekarang." Alt mengancam Al yang langsung cemberut.


***


Pagi-pagi, suara berisik sudah terdengar memasuki rumah. Atika sangat bahagia bisa pulang ke rumah cepat.


"Pagi bibi, tuan ada di rumah?"


"Sepertinya ada nyonya, mobilnya ada di parkiran." Senyuman maid terlihat langsung pamit ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya.


Citra langsung melangkah ke kamar Altha, membukanya perlahan. Kamar sangat terang, berarti Altha sudah bangun.


"Mora sayang kamu duduk di sini sebentar." Citra mengecek Al di kamar mandi, di ruangan kerja, ruangan ganti baju, bahkan ruangan tempat nge-gym.


"Di mana Altha?" Citra binggung melihat kamar seperti tidak ada yang menidurinya.


Mora yang sudah belajar berjalan melangkah ke luar kamar, Citra langsung cepat menggendong putrinya.


Atika terlihat cekikikan tertawa, menarik kakaknya Juna untuk melihat sesuatu di dalam kamar.


"Ada apa Tika?" Senyuman Citra terlihat, menatap Tika yang sangat bersemangat.

__ADS_1


"Mami sama Papi tidur berpelukan, ayo kita intip sama-sama." Tika menutup mulutnya merasa lucu.


Juna langsung melihat ke arah mamanya yang terlihat emosi, Juna merapatkan pintu meminta Tika berhenti membuat masalah.


Citra langsung mendorong dan membuka pintu dengan kasar, Tika langsung teriak marah. Dia berniat mengejutkan maminya, tapi digagalkan oleh Mamanya.


Mata Citra melotot tidak percaya, melihat Altha dengan mudahnya menggantikan dirinya dengan wanita lain, bahkan bisa tidur berpelukan dengan tenang.


"Kapan terakhir kamu bisa tidur senyaman ini Altha? bahkan kita sudah lama tidak berciuman, bahkan berhubungan. Kamu lupa waktu dan mengabaikan aku dengan alasan pekerjaan, tapi setelah aku pergi kamu membawa wanita baru, dan tidur memeluknya dengan bahagia." Citra meneteskan air matanya, menurunkan Mora melangkah ke kamar mandi.


Arjuna menatap sedih mamanya, sejujurnya Juna juga kecewa, tapi semuanya salah mamanya yang memilih untuk pergi.


Mata Altha terbuka perlahan, melihat Aliya tertidur di dalam pelukannya. Pelan-pelan Alt melepaskan Al yang semalaman mengigau meminta tolong, sampai Altha menemaninya sampai subuh.


"Juna, bantu Papa ambil guling." Altha membiarkan Aliya memeluk guling dan melanjutkan tidurnya.


"Papa, kenapa tidur di sini?"


"Ayo kita keluar, kapan kalian pulang?" Altha tersenyum menggendong Mora yang duduk di lantai.


"Tika ingin membangunkan Mami, Papa silahkan keluar." Tika tersenyum langsung ingin lompat ke atas ranjang, Altha menahan tubuh putrinya untuk membiarkan Aliya tidur lebih lama.


Bibir Tika cemberut, langsung ingin menangis dan luluh saat mendapatkan ciuman dari Papanya.


Pintu kamar mandi terbuka, Citra baru selesai menangis menyiram Aliya dengan air sampai basah kuyup dan terbangun.


"Arjuna!" Al mengusap wajahnya.


Altha terkejut melihat perbuatan Citra, Juna dan Tika juga sama terkejutnya melihat kemarahan Mamanya.


"Bukan Juna Mi." Juna menggelengkan kepalanya.


"Perempuan murahan, kamu sampah." Citra langsung menampar Aliya, memukulnya di atas ranjang.


Aliya yang masih mengantuk terguling jatuh ke bawah, melihat darah menetes dari hidungnya. Altha melepaskan Mora langsung menarik Citra untuk berhenti.


Al menatap Citra yang berteriak kuat, langsung menampar berkali-kali lebih kuat. Altha melindungi Citra sampai dirinya yang tertampar.


"Berhenti!" Altha menahan Aliya dan Citra.


***


Jangan lupa like coment Dan tambah favorit


follow Ig Vhiaazara

__ADS_1


tambah vote hadiahnya.


***


__ADS_2