
Suara pertarungan antara dua orang terdengar di gelap malam yang disinari oleh bulan Purnama. Tika melayangkan tendangan kuat ke arah perut Genta yang ada lukanya, tanpa peduli suara Genta yang meringis kesakitan.
"Atika sakit,"
"Jauhi aku!" Tika berlari kencang meninggalkan Genta yang menyentuh perutnya sampai berdarah.
"Dasar perempuan aneh, salah aku di mana? kenapa Tika terlihat marah?" Genta membuka pintu mobilnya, mengambil topi dan jaket.
Langkah kaki Tika berlari sudah jauh meninggalkan Genta, air matanya menetes merasakan sesak dadanya karena patah hati.
"Mami, hati Tika sakit sekali." Tangisan Tika terdengar, mengambil ponselnya mencari nomor Maminya.
Tidak membutuhkan waktu lama, Tika sudah bisa mendengar suara Maminya yang terdengar cemas. Tika tidak menutupi kesedihannya karena akhirnya merasakan yang namanya patah hati.
[Tika mencintai dia Mi, tapi perasaan Tika tidak terbalaskan.] Tangisan Tika terdengar, memegang dadanya.
[Siapa lelaki yang sudah membuat Putri kesayangan Mami patah hati? apa dia setampan Altha? sebaik Alt, sehebat Alt, apa dia jauh lebih dari Papi Altha? jika iya kamu boleh menangisinya, tapi jika tidak maka dia tidak pantas untuk wanita sebaik Putrinya Altha dan Aliya.] Suara Al terdengar sangat lembut, meminta penjelasan Tika soal pria yang dicintainya.
Mendengar suara Maminya, Tika bisa bernapas tenang. Duduk sendirian memberikan ciri-ciri pria yang dicintainya. Tika tidak ingin secara langsung mengutarakan perasaannya karena masih ingin menjaga persahabatannya.
Jika hubungan Tika sampai berakhir, mungkin akan merusak persahabatan yang sudah dirinya jaga selama ini. Menjaga persahabatan jauh lebih berarti bagi Tika, meksipun tidak bisa dipungkiri jika hatinya terluka.
Tawa Aliya terdengar, tanpa menyebut nama ataupun ciri khusus. Aliya sudah mengetahui siapa pria yang berhasil mencuri perasaan Putrinya.
Lelaki yang memang jauh lebih tampan dari Altha, lebih dingin, tidak peka dan sangat sulit memahami pikirannya. Jika dulu Aliya mencintai lelaki berpengalaman, meksipun sulit mendapatkan perasaannya, berbanding terbalik dengan Putrinya yang mencintai lelaki tanpa tahu perasaan cinta yang sebenarnya.
[Tika membutuhkan bantuan Mami?]
[Memangnya Mami tahu? Tika ingin melupakan dia Mami.]
[Kenapa dilupakan Nak? berjuang juga belum. Menaklukkan lelaki polos seperti dia harus dengan cara lain, mungkin kamu harus belajar dari Mommy Anggun yang berhasil menaklukkan polisi gila yang sangat dingin.] Al tertawa memikirkan Putri kecilnya sudah tumbuh besar.
[Mami tahu siapa dia?]
[Haruskah Mami menyebut namanya? apa yang tidak Mami ketahui dari Putri kesayangan Mami. Dia memang tampan Tika, tapi masih tetap tampan Papi Altha.] Aliya tertawa mendengar suara pria yang menyapa Atika.
Ponsel langsung Tika turunkan, berdiri ingin pergi meninggalkan Genta yang sudah berkeliling mencarinya.
"Kamu kenapa sebenarnya Tik? aku tidak mengerti jika tidak bicara." Genta memasangkan jaket tidak ingin Tika kedinginan.
__ADS_1
Topi juga dipasang menutupi penglihatan Tika, tangan Genta menggenggam tangannya untuk mencari tempat duduk. Genta tidak ingin mereka pulang dalam keadaan Tika masih marah.
"Aku tidak akan bertanya, jika kamu ingin bicara. Aku bersedia mendengarkan."
"Misi kita sudah berakhir, Om jauhi Tika."
"Kenapa harus menjauh? salah aku apa? masalahnya apa?"
"Om tidak mengerti? tidak peka sama sekali." Tangan Genta langsung ditepis, Tika semakin kesal melihat tingkah laku Genta.
Tatapan mata Genta sinis, menyentuh dagu Tika untuk melihat kearahnya. Genta mengakui jika dirinya tidak peka, dia bukan pria yang bisa memahami pikiran orang, Genta tidak tahu apapun soal wanita.
"Kamu marah tiba-tiba, aku tidak mengerti masalahnya? kamu mengatakan aku tidak peka, jawabannya iya. Aku tidak peka, aku juga tidak mengerti. Maka solusinya katakan dan jelaskan." Genta menatap serius, memperhatikan mata Tika yang ada bulir air mata.
Melihat wajah sedih Tika, kepala Genta semakin pusing. Memeluknya lembut meminta maaf jika dirinya sudah melukai baik dari ucapan, ataupun tindakan. Tidak ada sedikitpun niat Genta menyakiti perasaan Tika, apalagi membuatnya marah.
Rencana mereka hanya mengakhiri misi secara baik-baik, bukan saling menyakiti dalam hal apapun.
"Maafkan aku Tika, aku yang salah." Kedua tangan Genta mengusap wajah Tika yang masih tertunduk.
"Om tulus meminta maaf, belikan Tika es krim." Kepala Tika tertunduk malu.
Mata Tika melotot melihat ponselnya yang masih melakukan panggilan dengan Maminya, Genta sudah pergi ke toko untuk membeli es krim sedangkan Tika terduduk lemas.
[Mami, kenapa tidak dimatikan?]
Suara Aliya dan Ria lompat-lompat sambil teriak-teriak histeris terdengar, suara Altha meminta istri dan Putrinya berhenti lompat-lompat terdengar.
Tika mengacak-acak rambutnya, Maminya sudah tahu apa yang Tika dan Genta bicarakan sehingga rumah heboh.
"Ini es krim strawberry, kamu suka apa?"
"Tika coklat bukan strawberry," jawab Tika mengambil milik Genta.
"Tik, aku malu memakan es krim warna pink, bisa ditukar tidak?" senyuman Genta terlihat karena dirinya tidak pernah makan es krim apalagi bersama wanita.
Kepala Tika geleng-geleng, memakan es krim coklat sambil mengejek Genta yang melihat sekeliling karena es krimnya berwarna pink.
"Kamu tunggu lagi, aku tidak mau makan warna pink." Genta menyingkirkan miliknya.
__ADS_1
"Ini hanya es krim Om, strawberry juga rasanya enak. Dicoba saja, dibalik warnanya yang feminim ada rasa yang luar biasa." Tika menyendok es krim, menyuapi Genta.
Kepala Genta mengangguk, mengambil es krim pink dan sedikit demi sedikit mulai memakannya. Atika sampai tertawa melihat lucunya pria di hadapannya.
Topi yang Genta berikan dikembalikan, tangan Tika merapikan rambut Genta agar tertutup topi. Semakin ditutup, ketampanannya semakin terlihat.
"Kenapa Om selalu menggunakan topi?"
"Emh ... aku malu menjadi pusat perhatian. Apa aku boleh menambah es krim lagi?"
"Ketagihan, biar Tika saja yang mengambilnya." Tawa kecil Tika terdengar, meminta Genta mencoba miliknya.
Senyuman Genta terlihat, hatinya bahagia bisa merasakan es krim yang dulunya sangat disukainya namun rasanya berbeda. Menikmati es krim bersama Tika, akan menjadi moments yang tidak akan pernah terlupakan.
"Hai cantik, butuh bantuan." Beberapa pria mengikuti Tika yang sedang membawa es krim.
"Jauhkan tangan kalian jika masih ingin hidup!" Genta menatap sinis, menatap dua pria yang langsung meninggalkan Tika.
Senyuman Tika terlihat, menatap tangan Genta yang sudah merangkul pinggang. Mempersilahkan Tika duduk kembali.
"Kenapa Om menatap Tika begitu?"
"Kamu sebaiknya tidak memoles wajah, memancing banyak lelaki." Genta mengerutkan keningnya, memberikan tisu untuk mengurangi warna lipstik Tika.
Tanpa menolak, Atika mengambil tisu mengurangi warna lipstik. Berada di tempat umum memang membuat Tika menjadi pusat perhatian.
"Sudah belum?"
"Lagi,"
"Tika jelek tidak menggunakan lipstik," bibir Tika sudah cemberut.
"Kamu cantik Tika, dan kamu jauh lebih cantik di mata lelaki yang menghargai kamu." Genta menatap bibir Tika yang semakin merah.
***
follow Ig Vhiaazaira
***
__ADS_1
masih mau lanjut 🤣