
Tatapan Jessi tajam, meminta Gemal dan Papanya makan terlebih dahulu baru boleh pergi. Diana juga menolak pergi sebelum makan, karena cacing di perut membutuhkan asupan.
Kebahagiaan terbesar Calvin dan keluarga bisa makan bersama dengan Gemal, meksipun membutuhkan waktu lama.
"Selamat makan." Diana tersenyum mempersilahkan orang tua lebih dulu.
"Selamat makan Diana, keluarga ini sama seperti keluarga lainnya. Kamu tidak harus terlihat sangat sopan." Nenek Chika tersenyum menyukai Diana yang tidak malu-malu.
"Iya nek, tapi Diana diajarkan Daddy untuk melakukannya."
"Masa iya? kamu kemarin sama Dean makan lebih dulu." Gemal menatap sinis.
"Itu keluarga aku, jadi terserah kita." Diana menjulurkan lidahnya.
Calvin menggelengkan kepalanya, Jessi hanya tersenyum melihat Diana dan Gemal berdebat berdua.
"Kalian berdua jika ingin ribut di luar." Calvin menatap dingin.
Gemal tersenyum, menatap Papanya yang sudah makan begitupun yang lainnya. Tatapan jahil Gemal terlihat langsung mengambil makanan, meletakan di piring Diana.
Kening Diana langsung berkerut, matanya melotot melihat tingkah Gemal yang menyebalkan.
"Makan yang banyak ... sayang." Sekuat tenaga Gemal menahan tawanya.
Calvin langsung batuk, mengambil air minum melihat sikap Gemal yang memalukan.
Gemal langsung mengambil tambahan lauk untuk Mamanya, nada pujian juga terdengar membuat Jessi tertawa gemes melihat putranya.
"Untuk ratunya Gemal, makan yang banyak Ma. Gemal tidak ingin mendengar kabar sakit, Mama harus sehat terus dan satu hal lagi ... Mama cantik sekali." Senyuman Gemal terlihat mengedipkan matanya.
Nenek dan kakek Gemal juga mendapatkan bagian, Gemal memberikan minum layaknya melayani.
"Sehat terus nenek cantik Gemal, dan kakek tampan Gemal. Ketampanan Gemal juga turun dari kakek, tidak heran banyak perempuan yang tergila-gila dengan Gemal." Tangan Gemal berjabatan dengan kakeknya.
"Sebanyak apa sayang? tapi pemenang tetap Diana." Mam Jes menatap Diana yang hanya tersenyum manis.
Tatapan Gemal melihat Diana, mata keduanya bertemu saling tertawa membuat Jessi penasaran.
"Tentu Ma, siapa yang bisa menolak wanita cantik seperti Diana, dia bukan hanya cantik tetapi pintar, baik dan penyayang. Calon ibu yang luar biasa." Tatapan Gemal melihat Papanya yang mengerutkan kening.
"Kalian sadar tidak jika Gemal mengejek, Diana calon ibu berarti dia mengejek kamu sudah tua. " Calvin tersenyum sinis melihat Gemal yang menatapnya tajam.
__ADS_1
"Pa, Mama setuju dengan Gemal. Diana calon menantu Mama."
"Sayang, kamu sadar tidak Gemal memuji kamu cantik, tapi coba kamu berkaca cantiknya dari mana? dia hanya ingin kamu sadar jika hari ini jelek. Sama juga seperti Papa dan Mama wajah sudah keriput, cantik dan tampan dari sisi mananya." Mata Calvin menatap sinis, melanjutkan makannya tanpa mempedulikan tatapan semua orang yang mematikan.
Jessi langsung memukul suaminya, menatap kesal karena sudah dihina jika dirinya jelek. Kakek juga memukul punggung Calvin, dan nenek menjambak rambutnya.
"Apa-apaan ini? kenapa kalian memukul aku?"
"Karena anda tidak sopan, dan tidak bisa menghargai perasaan orang lain." Gemal ingin sekali menendang Papanya.
"Kamu yang mulai duluan, memanggil sayang membuat geli saja."
"Papa iri, ini ada Mama langsung katakan saja. Istriku tersayang dan tercantik, I love you." Gemal mengambil air minum langsung menghabiskannya.
"Terserah kamu Gemal, papa tunggu kamu di mobil. Habiskan makan kamu, sekalian makan itu cinta." Calvin langsung melangkah pergi.
"Papa, kenapa bicara seperti itu? memangnya sekarang tidak Cinta Mama lagi, Jessi sudah tidak cantik lagi?" Mam Jes mengejar suaminya sambil menghentak kakinya.
Diana menahan tawa, kejahilan Gemal membuat Calvin kesal dan ngambek tua. Nenek dan kakek Gemal tertawa.
Sudah lama suasana rumah sepi, kehadiran Gemal membuat rusuh di meja makan dan bisa membuat Calvin bicara.
Kakek langsung melangkah pergi, tubuhnya semakin tua dan membutuhkan banyak istirahat. Nenek juga meminta Gemal dan Diana harus bahagia, dan saling melengkapi.
"Kamu jahil sekali Gem?"
"Aku serius." Gemal berdiri mengandeng tangan Diana untuk pergi bersamanya bertemu dengan Salman.
Gemal dan Diana melihat Calvin yang memohon dihadapan istrinya dengan wajah memelas. Gemal yakin pasti Papanya meminta maaf.
"Indahnya cinta dari muda hingga tua." Di tersenyum melihat Mama dan Papa Gemal berpelukan.
Gemal pamitan untuk pergi, Diana juga langsung memeluk Mam Jes untuk menjaga dua lelaki Leondra yang hobi bertengkar.
"Diana, Mama titip mereka."
"Siap Ma, jika mereka bertengkar akan Diana jambak rambut keduanya." Di langsung masuk mobil.
"Berani kamu menjambak rambut aku?" Calvin menatap sinis.
Gemal langsung merangkul Diana, melarang Calvin untuk membentak apalagi memarahi Diana.
__ADS_1
"Tunggu, kenapa kita tidak jalan? siapa yang menyetir mobil?" Diana menatap Gemal yang duduk di sebelahnya, dan melihat Calvin yang duduk di depan Gemal.
"Kita tidak punya supir?" Gemal melihat ke arah Papanya.
"Kalian berdua meminta aku menjadi supir?" Tatapan Calvin tajam, meminta Gemal yang menyetir.
Diana langsung tertawa, bapak sama anak sama saja. Sikap konyol Gemal dapat dari Papanya.
Mobil langsung melaju dengan kecepatan sedang, Calvin fokus melihat tabletnya. Ada beberapa mobil pengawal juga mengikuti mereka.
"Diana, bagaimana kondisi Jessi?" Suara Calvin terdengar sangat lembut dan pelan.
Diana langsung mengambil ponselnya, menunjukkan perkembangan kondisi Mam Jes yang sangat baik.
Di mejelaskan metode yang dia dan beberapa dokter tetap, gagalnya pengobatan pasien karena perasaan yang tidak bisa move on dari rumah utama.
Pasien terlalu berlarut dalam kesedihannya, tapi saat ini Jessi terlihat bahagia dan normal. Selain kehadiran Gemal, dia juga bahagia karena ada orang-orang yang mendukung dan tidak kesepian.
"Di dan beberapa dokter gangguan jiwa sudah memastikan Mam Jes tidak membutuhkan perawatan khusus, dan bisa berhenti mengkonsumi obat tidur dan penenang juga obat lainnya." Diana menunjukkan bagian yang baru saja dia jelaskan.
"Ini kabar pertama yang paling baik soal kondisi Jessi, kamu memang dokter yang hebat. Terima kasih karena sudah menawarkan untuk pengobatan." Calvin mengembalikan ponsel Diana.
Gemal cukup kaget, Diana secara langsung menawarkan diri untuk pengobatan Mamanya.
"Kamu sudah mengenal Papa dan Mama sejak lama?" Gemal melihat Diana dari kaca.
Diana menggelengkan kepalanya, saat pertama bertugas di rumah sakit Diana melihat secara langsung kondisi Mam Jes dan tertarik menelitinya.
"Aku tidak tahu jika mereka keluarga terpandang, lebih tidak tahu lagi jika orang tua kamu." Di tersenyum, dan bahagia melihat kesembuhan pasiennya.
"Kenapa kamu tersenyum Di?"
"Entahlah, aku sangat penasaran apa cita-cita aku, dan satu yang aneh. Setiap ada pasien yang sembuh aku bahagia, dan jika ada berpulang dunia hancur. Aku tidak suka bekerja, tapi aku bahagia melihat orang lain bahagia."
"Kamu sudah tepat memilih cita-cita menjadi dokter, karena menjadi psikopat bukan pekerjaan." Calvin menutup mulutnya yang keceplosan.
Gemal dan Diana menatap sinis, mulut Calvin memang sangat jujur.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1