ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MENGHILANG


__ADS_3

Hujan rintik-rintik mengiringi pemakaman, Citra dimakamkan di samping makam Mora. Kini Amora sudah dikelilingi oleh Mama dan Papanya, keluarga mereka sudah berkumpul kembali.


Satu-persatu orang meninggalkan pemakaman, Juna merangkul Tika dan Ria untuk mengikhlaskan dan mengirimkan doa bukan air mata.


"Ayo kita pulang, sudah jangan bersedih lagi." Juna berdiri bersama Tika dan Ria yang masih sesekali meneteskan air matanya.


"Juna benar, kita pulang sekarang. Selesai tugas kita mengantarkan Mama, sebagai anak yang baik kirim doa." Altha mengusap air mata Tika, menguatkan Putrinya yang merasa kehilangan kedua kalinya.


Keluarga kembali, berusaha melepaskan kepergian Citra dengan sekuat hati mengikhlaskan.


Selama masa duka, Hana tinggal bersama Aliya untuk menemani Tika yang masih sering menyendiri dan melamun. Juna sudah sering menegur, tapi tidak bisa menghentikan kesedihan Tika.


Banyak hal yang ingin dia lakukan, tapi hanya tinggal kenangan. Tidak ada satupun keinginannya yang terwujud, entah waktu yang terlalu cepat atau dia yang terlambat.


Genta juga sudah berusaha untuk menghibur, tapi Tika lebih suka menyendiri. Tidak ceria lagi, lebih banyak diam dan selalu tidur.


Sudah satu minggu kepergian Citra, suasana duka masih menyelimuti keluarga. Biasanya setiap hari penuh kehebohan, tapi sekejap menjadi tenang.


Canda dan tawa mendadak hilang, anak-anak juga lebih banyak diam tidak membuat masalah lagi, semangat mereka juga mendadak lenyap menjadi anak-anak yang menurut juga patuh.


"Pagi Ana?"


"Pagi Tante Al, ayo duduk sarapan. Ana memanggil Tika terlebih dahulu." Senyuman Ana terlihat, melangkah ke kamar Tika.


Senyuman Aliya juga terlihat, merasa senang dengan kehadiran Ana. Dia banyak membantu juga memberikan sisi positif.


Belum sempat Ana mengetuk pintu, Atika sudah keluar dengan sendirinya. Dia menggunakan baju kerja untuk memulai harinya.


"Pagi Mami dan Papi, di mana Ria dan Juan?"


"Tika, mereka sudah pergi sekolah sayang." Alt merangkul Tika untuk menuju meja makan bersama.


"Tumben Ria bangun tepat waktu?" Tika tersenyum menatap Ana yang juga sarapan bersama mereka.


Aliya meletakkan makanan untuk Tika, belum masuk makanan ke dalam mulut tiba-tiba Atika langsung melamun.


"Ada apa sayang?"


Kepala Tika menggeleng, memasukkan makanan ke dalam mulutnya melihat sekitar rumah yang terasa sepi dan hening.


"Sudah satu minggu, kenapa Shin tidak pernah datang?" Tika mengunyah makanan sambil menatap Maminya.


"Shin ada di luar negeri, ada masalah dengan bisnisnya." Al hanya mengetahui Shin pergi bisnis.


Tawa kecil Tika terdengar, menggelengkan kepalanya. Mengantikan makannya berlari menuju rumah Diana.

__ADS_1


Keluarga Di juga sedang sarapan bersama, Tika berlari ke kamar Shin dan tidak menemukan keberadaanya.


"Atika, Shin ada di luar negeri." Di menghentikan Tika yang menggeledah kamar.


Senyuman Tika terlihat, menuju meja makan menatap Genta yang juga menatapnya. Tangan Tika langsung memeluk erat tidak peduli menjadi pusat perhatian.


"Kamu baik-baik saja?"


"Belum, Tika belum pulih sepenuhnya. Tika hanya merindukan kalian semua." Tika memejamkan matanya merasakan usapan lembut dipunggung.


"Jangan terlalu lama, aku sedih melihat kamu seperti ini. Kak Gen tidak tahu cara menghibur kamu, cepatlah kembali menjadi Tika yang kita kenal. Kamu tidak sendiri, ada banyak orang yang menanti Tika ceria kembali." Pelukan Genta erat merindukan kekasihnya.


"Di mana Shin?"


Mam Jes meminta Tika duduk sarapan bersama, Shin berada di luar negeri karena ada masalah bisnis. Dia akan segera kembali setelah semuanya baik-baik saja.


"Kenapa semua orang percaya jika dia ada di luar negeri? Shin tidak akan pergi jauh." Tika pamit untuk menemui Shin.


"Aku tidak memahami dua anak ini, sekarang apalagi. Di mana Shin? kenapa dia menghilang?" Gemal menatap Genta yang mengejar Tika untuk mencari Shin.


Pintu rumah Juna terbuka, sejak meninggalnya Citra rumah langsung kosong. Juna memilih tinggal di apartemennya, dan fokus bekerja. Hanya sesekali pulang, lalu pergi lagi.


"Shin, di mana kamu?" Tika membuka semua pintu kamar, tapi tidak menemukan.


"Ayang, Tika mengenal baik Shin. Saat bersedih, Tika dikelilingi orang-orang baik dan menyayangi, berbeda dengan Shin dia sendirian." Tika mencium pipi Genta yang langsung panik memikirkan Adiknya.


Teriakan Aliya terdengar meminta Tika sarapan, Ana akan menemaninya untuk pergi ke mana tujuannya.


Kepala Tika menggeleng, dia harus menemukan sahabatnya yang mungkin sedang bersedih sendirian. Tika masuk ke dalam mobil Genta.


"Ke mana kita pergi?"


"Restoran,"


Genta membenarkan tebakan Tika, kemungkinan besar Shin ada di restoran sedang melakukan kesibukannya.


"Bagaimana kondisi Kak Juna?"


"Dia baik-baik saja, setiap hari pulang tapi kembali lagi ke apartemennya." Genta sering melihat mobil Juna terparkir.


Tangan Genta menggenggam jari jemari Tika, Masih mengkhawatirkannya karena berhari-hari Tika tidak bicara sekalipun Genta datang mengunjunginya.


"Tik, kamu yakin ...."


"Telinga Tika sakit mendengar panggilan Tik tik tik, memangnya Tika itik?"

__ADS_1


"Lalu Panggil apa?"


"Ayang Tika, berhenti memanggil tak tik." Bibir Tika cemberut membuat Genta tersenyum.


Melihat Tika marah lebih baik, daripada melihatnya diam tanpa sepatah katapun. Genta bahagia melihat Tika mulai marah.


Saat sampai di restoran, Tika melihat karyawan Shin sudah bersiap-siap merapikan segala tempat.


"Apa kalian melihat Shin berkunjung ke restoran?" Tika menanyakan kepada semua orang, tapi tidak ada yang melihat Shin.


Tika melangkah ke lantai atas, tapi kondisi rumah kosong dan terbengkalai. Shin tidak mungkin tinggal di tempat yang tidak terawat.


"Di mana anak satu ini?" Tika mengaruk kepalanya.


Genta mengecek seluruh ruangan, keberadaan Shin benar-benar tidak terlihat. Tika melakukan panggilan, dan hanya mendengarkan dering.


"Kenapa ponselnya ada di sini?" Genta memegang ponsel Shin.


Tiba-tiba pesan masuk, Tika menerima balasan jika Shin sedang rapat di luar negeri. Dia akan segera kembali.


"Jika aku sampai menemukan kamu, aku pastikan babak belur." Tika mengumpat Shin kasar membuat dirinya khawatir.


Pilihan terakhir Tika menghubungi Juna, kemungkinan besar Juna melihat Shin yang mungkin sesekali mengecek keadaan Juna.


[Ada apa Tik?]


[Kak Jun tahu Shin di mana?]


[Tidak tahu,]


Tika menjelaskan Shin menghilang sejak kepergian Mama Citra, Tika juga baru menyadari jika beberapa hari sebelum kepergian Mama Citra Shin selalu bersama. Tika hanya mencemaskan jika Shin menyalahkan dirinya, atas kematian Mama Citra.


Dulu Shin selalu dijauhi banyak orang dikarenakan dia disebut anak pembawa sial. Siapapun yang dekat dengannya pasti akan bernasib buruk.


[Kenapa baru memberitahu sekarang? sekarang kamu di mana?]


[Restoran Shin, Tika tidak tahu kemungkinan besar Shin di mana?]


[Rumah masa kecilnya mungkin,] Juna hanya menebak saja, karena tiba-tiba memikirkan masa kecil Shin.


Tika mematikan panggilan, ucapan Kakaknya ada benarnya. Tika sangat yakin Shin berada di sana.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2