
Diana kaget melihat rekaman CCTV karena Jessi mengejar Gemal yang mengurungkan niatnya untuk bersalaman dengan pengantin.
Mobil Di melaju dengan kecepatan tinggi mengejar taksi yang membawa Jessi, mencoba menghubungi Gemal namun tidak ada jawaban.
"Gem angkat, Mama kamu bisa dalam bahaya." Di mengumpat kasar.
Mobil Diana berhenti di pinggir jalan, melihat Gemal yang lompat ke bawah jembatan. Diana langsung keluar dari mobil, berlari kencang.
Gemal terkejut melihat wanita lompat ke dalam air berarus, menyelam untuk mencari sesuatu.
Tanpa berpikir dua kali, Gemal langsung lompat ke dalam air berenang untuk menarik tangan wanita yang sudah terseret arus.
Bersusah payah Gemal menarik ke pinggir, memeluk erat wanita yang menangis histeris.
"Lepaskan, kalung tidak boleh hilang." Jessi menatap ke air yang mengalir.
"Apa kalung itu penting daripada nyawa kamu!?" Gemal berteriak sangat kuat.
"Hanya itu yang anakku miliki, aku bahkan tidak tahu wajahnya saat lahir. Hanya kalung itu yang bisa mengenalinya." Jessi menatap wajah Gemal, memohon dilepaskan karena harus mencari kalung anaknya.
Gemal menunjukkan kalung, dia memang berencana membuangnya, tapi hatinya terlalu berat untuk mengakhirinya.
Jessi memeluk erat Gemal, menakup wajah anaknya yang sudah dua puluh lima tahun menghilang.
"Ini kamu, Aku mengenali wajah anakku yang sudah dewasa. Kamu pasti membenci Mama?" Air mata Jessi menetes, mencium kening Gemal yang sudah mencengkram kalungnya.
Diana dari atas jembatan hanya bisa meneteskan air matanya merasakan terharu, bukan hanya Diana yang melihat, tetapi Calvin juga meneteskan air matanya.
Gemal langsung menggendong Jessi untuk naik ke atas, dibantu oleh para pengawal yang juga langsung turun.
Tatapan Gemal dan Calvin bertemu, tapi Gemal mengalihkan pandangannya.
Calvin mendekati Gemal, mengambil ponselnya menunjukkan wajah kakek generasi pertama yang sangat mirip dengan Gemal.
"Kalian salah orang, aku tidak mengenal kalian." Gemal langsung menyerahkan Jessi melangkah pergi.
"Kamu pasti membenci kami, dan sulit menerima kenyataan ini." Tatapan Calvin sangat sedih melihat penolakan Gemal.
Jessi menahan tangan suaminya, mereka tidak boleh memaksa Gemal. Ucapan Diana benar, dia punya hak kapan dia siap untuk datang.
"Mama akan menunggu kamu, terima kasih sudah tumbuh sehat. Mama akan menunggu sampai mati Mama akan menanti kepulangan. Jangan terburu-buru, kamu memiliki banyak waktu nak." Tangisan Jessi pecah, melambaikan tangannya kepada Gemal yang tidak menoleh sama sekali.
__ADS_1
Diana menatap Gemal yang basah kuyup, tidak menoleh ke arahnya sama sekali. Di langsung menahan Gemal yang ingin menjalankan motornya.
"Kamu terluka?" Di melihat baju Gemal berdarah.
"Hanya luka kecil." Gemal melepaskan tangan Diana, memintanya segera pergi membawa Jessi ke rumah sakit.
Beberapa mobil berhenti, Calvin meminta para pengawal menangkap Gemal dan membawanya ke Mansion agar tidak bisa melarikan diri.
Diana dan Jessi sangat kaget, Gemal juga sama kagetnya saat kedua tangannya ditahan.
"Jangan Calvin, kamu tidak punya hak memaksanya."
"Dia harus kembali ke tempatnya berada, keluarga ini membutuhkan penerus." Suara Calvin meninggi membentak istrinya.
Diana menatap tajam, ingin sekali rasanya Diana menembak kepala Calvin yang selalu memaksa kehendaknya.
Jessi langsung menampar suaminya, seadanya dulu Calvin tidak egois. Menghargai Shima, tidak melakukan kekerasan dan pemaksaan mungkin sudah lama putranya dikembalikan.
"Aku yang mengandung dan melahirkan, kamu tidak punya hak memaksa dia untuk kembali." Jessi langsung berlari meminta pengawal melepaskan tangan Gemal.
Air mata Jessi menetes, mengigit tangan pengawal yang menarik Gemal untuk masuk ke dalam mobil.
Gemal langsung berteriak kuat, menendang dan melayangkan pukulan bertubi-tubi. Puluhan orang maju, dipukul habis-habisan.
"Siapa anda yang punya hak menahan? keluarga yang kalian pertahanan memalukan, aku malu lahir sebagai penerus anda." Tatapan Gemal tajam menatap Calvin, membantu Mamanya untuk berdiri.
"Kamu gagal Calvin menemukan dia selama dua puluh lima tahun, tapi kenapa sekarang kamu merasa memiliki hak atas dirinya. Biarkan dia hidup menjadi dirinya sendiri, kita gagal menjadi orangtuanya." Air mata Jessi tidak bisa berhenti menetes.
Calvin menarik nafas panjang, apapun yang Calvin lakukan cara dirinya untuk mempertahankan kehormatan dan kesejahteraan keluarga.
Dirinya memiliki tanggungan yang sangat besar, Jessi tidak mengerti sulitnya bagi Calvin bertahan selama ini.
"Kalian tidak tahu sulitnya aku." Calvin meminta pengawal membawa istrinya.
Diana masih duduk santai di atas jembatan melihat keributan, Calvin pergi bersama istrinya meninggalkan Gemal yang masih berdiri diam.
Tangan Gemal berdarah karena memukul habis-habisan meluapkan emosinya, kemarahan yang cukup lama Gemal tahan.
"Kenapa kamu hanya menonton?" Gemal menatap sinis Diana.
"Kamu masih berdiri kokoh, jika kamu sudah babak belur baru aku bantu." Di tertawa kecil karena pertama kalinya melihat Gemal marah, dan tidak ragu memukuli orang.
__ADS_1
Gemal duduk di samping Diana, menatap jalanan yang sepi dan jauh dari pemukiman.
"Sejak kapan kamu tahu jika mereka orang tua kamu?"
"Sudah lama, tapi lebih enak berpura-pura tidak kenal."
Gemal menoleh ke arah jembatan, dulu dirinya di buang di tempat yang kotor dan di ambil oleh orang yang sangat tulus.
"Kamu tahu dari mana Gem?"
Senyuman Gemal terlihat, dia mengetahui jati dirinya saat berusia tujuh belas tahun. Pertengkaran dengan Hendrik, mengungkap asal usul Gemal.
"Aku tahu sejak usia sepuluh tahun, tapi aku anggap itu bohong. Hendrik sialan yang mengungkap kenyataan jika aku hanya anak pungut." Gemal menggelengkan kepalanya, dendam dengan Hendrik pada masa remajanya.
"Bagaimana perasaan kamu saat tahu?"
"Hancur bodoh! aku lompat ke bawah jembatan, tapi tidak mati. Lalu aku ingin menjadi polisi untuk membalas Hendrik juga menuntut keluarga sialan yang membuang aku. Saat itu aku marah, sangat marah dan membenci dunia." Gemal tertawa melihat Diana yang tidak sedih, tapi tertawa lucu.
Diana sempat panik melihat Gemal terjun ke bawah jembatan, tapi ternyata Gemal sudah tahu jika jatuh tidak mati.
"Kamu marah saja lucu, masih terpikirkan untuk bunuh diri."
"Aku tidak bunuh diri, hanya kesal langsung naik dan lompat. Saat sadar juga menyesal, takut mati lalu jadi hantu penjaga jembatan." Gemal tertawa melihat tingkah lucunya saat kecil.
Suara tawa Gemal hilang, mengigat saat dia mulai mencari keluarganya. Saat lulus sekolah, rasa penasaran sangat besar sehingga nekat mengunakan jalur beasiswa untuk ke luar negeri.
Kenyataannya yang Gemal terima, dia terlahir dari keluarga yang menakutkan. Dan tidak ingin hidup dalam peraturan, apalagi penuh keegoisan.
"Kamu lahir dari keluarga kaya, seharusnya kamu senang?"
"Untuk apa kaya, jika tersiksa. Aku bahagia hidup seperti ini, tanpa harus berpura-pura bahagia. Meksipun ada rasa ingin memiliki keluarga." Kepala Gemal tertunduk merasa sedih melihat kondisi Mamanya.
Diana mengerti perasaan Gemal, sikap Calvin yang berpegang teguh dengan peraturan keluarga membuatnya tidak nyaman.
"Kamu harus kembali Gem, setidaknya demi Mam Jes."
"Saat kembali, kamu tahu apa yang Calvin pikiran? mencari jodoh. Bisa-bisa aku lompat lagi ke bawah jembatan, dan tidak muncul lagi." Gemal meminta Diana menemaninya ke pesta pernikahan Dika Salsa meksipun terlambat.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1