
Senyuman Shin terlihat, dirinya sudah ada di ruangan rawat. Tika terus berdiri di sampingnya tidak meninggalkan sedetikpun karena khawatir ada yang menyakiti Shin.
"Tika, kamu banyak pikiran? jangan terlalu khawatir, semuanya akan baik-baik saja." Shin mengunyah buah apel dengan lahap.
"Makanlah yang banyak sebelum puasa, nanti kamu kelaparan." Tika memasukkan buah ke mulut Shin yang tertawa.
Pintu kamar terbuka kuat, Tika langsung mengusap dadanya melihat Keluarga datang semua.
Mam Jes langsung menangis memeluk Shin erat, menciumi seluruh wajah Putrinya yang masih tertawa.
"Mama, Shin baik-baik saja."
"Bagaimana bisa baik? kalian tega merahasiakan ini setelah sekian lama." Mam Jes menangis, mengusap wajah Shin yang masih menunjukkan senyuman manisnya.
Aliya dan Anggun juga masuk, kaget melihat kondisi Shin yang mengalami kebutaan, tetapi masih tersenyum menunjukkan kepada semua orang, jika dirinya baik-baik saja.
"Kak Shin buta, hebat sekali." Isel bertepuk tangan memperhatikan Shin yang langsung tertawa.
Ria memukul mulut Isel, memintanya menjaga ucapan. Kebutaan bukan sesuatu yang bisa dibanggakan.
"Kak Shin lagi sakit." Ria menarik Isel agar duduk diam.
"Kak Shin baik-baik saja Ria," Shin meyakinkan keluarga jika dirinya dalam keadaan baik.
"Kenapa ini bisa terjadi? hati-hati sayang." Anggun langsung memeluk Shin lembut.
Al juga sama cemasnya, menatap Tika yang hanya duduk diam menatanya. Al tidak memaksa Tika bercerita, jika memang berat baginya.
"Kamu baik-baik saja sayang." Al mengusap kepala Putrinya yang langsung memeluk pinggang.
Aliya mengerti Putrinya dalam keadaan tidak baik, perasaan sedang bercampur aduk. Cara satu-satunya mendewasakan diri dengan menyelesaikan masalah.
Tangan Al menggenggam tangan Shin, senyuman Shin terlihat. Wanita tangguh yang beberapa tahun lalu, bertengkar dengan Putrinya.
Tidak banyak yang berubah dari Shin, dia masih selalu tersenyum meksipun memiliki banyak masalah. Mengatakan kepada seluruh orang dirinya baik-baik saja.
"Kamu semakin cantik Shin, dan semakin dewasa. Lebih kuat lagi karena menjadi orang dewasa tidak mudah." Al menyatukan tangan Tika dan Shin.
Kepala Shin mengangguk, menggenggam balik tangan Tika. Dirinya memang harus lebih kuat lagi, jika dulu Shin menutup mata dan telinga, sekarang sudah waktunya dirinya bertindak untuk melawan.
Ketukan pintu terdengar, Isel langsung berlari memeluk Mamanya yang baru tiba setelah meeting bersama para Dokter.
__ADS_1
"Mama,"
"Minggir Isel, menganggu saja." Di menarik rambut Putrinya.
Pukulan Isel mendarat, marah melihat Mamanya yang suka marah-marah kepadanya.
"Besok Shin akan melakukan operasi, kita berdoa bersama-sama untuk kesembuhan dan kesehatan Shin seperti sediakala." Di menggendong Putrinya yang sudah cemberut.
Semua orang mengaminkan, Mam Jes sampai melakukan nazar untuk kesembuhan Putrinya. Tidak ada hal buruk di meja operasi.
Arjuna juga tiba bersama Papa Calvin, Juna meminta keluarga tidak terlalu khawatir. Meksipun operasi beresiko, Juna akan melakukan yang terbaik.
"Mama percaya Juna bisa mengobati Shin, harus bisa." Mam Jes memeluk Shin yang tersenyum manis.
Di depan pintu Genta hanya berdiri, dirinya ragu untuk masuk. Dirinya bukan siapa-siapa, tidak nyaman jika menggangu pembicaraan keluarga.
"Kenapa di luar?" Gemal berdiri di belakang Genta yang masih menundukkan kepalanya.
"Tuan muda, saya di sini saja."
Tangan Gemal langsung merangkul Genta, mengerti apa yang sedang Genta pikirkan. Apa yang Genta takutkan tidak ada yang salah, keadaan memang membingungkan.
"Sampai kapan kamu memanggil tuan? panggil saja Kak Gem."
Senyuman Gemal terlihat, beberapa minggu Gemal memperhatikan Genta tidak fokus di pekerjaannya. Gemal tahu ada konflik di hatinya.
"Hasil tes DNA kamu dan Shin berbeda, pasti kamu kecewa sekali karena tidak sesuai harapan." Gemal menatap Genta yang terkejut.
"Kak Gemal tahu dari mana?"
"Aku tahu tiga tahun yang lalu, wajah kamu dan Shin mirip dari dulu. Setelah kalian dewasa, wajah cantik Shin mirip Mama kamu." Helaan napas Gemal terdengar.
Kepala Genta mengangguk, ucapan Gemal benar jika Shin mirip Mamanya. Demi membuktikan hubungan darah, Genta melakukan tes dan hasilnya berbeda.
"Apa yang harus aku lakukan Kak Gem? Genta ingin melindungi Shin, tapi apa aku mampu?"
Senyuman Gemal terlihat, Genta memanggil Kakak sangat jarang Gemal dengar. Jika sudah menurut, artinya Genta dalam keadaan butuh bantuan.
Pintu ruangan terbuka, Gemal meminta Genta ikut bersamanya masuk ke dalam untuk melihat keadaan Shin yang sudah bisa becanda bersama Ria.
Genta menundukkan kepalanya saat melihat Mam Jes, meminta maaf karena dirinya terlambat tahu. Mam Jes sudah memperingati Genta untuk menjaga Putrinya.
__ADS_1
"Kak Genta, sini sebentar." Shin melambaikan tangannya di arah yang berbeda.
Genta langsung meringis, menyentuh dadanya. Papa Calvin langsung merangkul Genta yang melangkah mundur.
Perasaan Genta hancur sekali, dibalik senyuman Shin dirinya pasti kesulitan beraktivitas.
"Maafkan aku yang menyebabkan kamu menanggung sakitnya." Kepala Genta tertunduk.
"Shin baik-baik saja Kak, besok operasinya dan setelahnya Shin akan melihat kalian semua."
"Bagaimana jika gagal?" Genta melihat ke arah Juna.
Arjuna langsung menjawab, jika gagal tidak ada pilihan. Shin harus mendapatkan donor mata, dan melakukannya tidak semudah donor biasanya.
"Kenapa mengambil resiko? bukannya ini sangat berbahaya, lebih baik secara langsung saja donor mata." Genta tidak tega Shin menanggung sakit dua kali lipat jika melakukan operasi bekali-kali.
"Kak Genta ingin mendonorkan mata?" Juna menatap tajam.
"Genta sudah cukup, Juna seorang Dokter yang sudah mempelajari resikonya. Percaya saja kepada Juna." Papa Calvin mengusap kepala Genta.
"Jika memang resikonya lebih kecil, aku rela memberikannya. Kapan kamu membutuhkannya?" Genta bicara dengan penuh keyakinan.
Tika langsung berdiri saat mendengar Genta ingin donor mata, tidak ada yang berpikir ingin melakukan tetapi Genta rela menyerahkan penglihatan demi Shin.
Air mata Shin menetes, dirinya tidak bahagia mendengarnya tetapi semakin terluka. Shin tidak mungkin bisa hidup, jika melihat Kakaknya yang menderita.
"Jangan lakukan Ay Jun, Shin tidak ingin menyakiti siapapun." Shin menggelengkan kepalanya, tidak ingin Genta berkorban untuknya.
Arjuna menggelengkan kepalanya, langsung pamit untuk pergi. Juna melirik Genta yang bersedia memberikan matanya.
Juna belum pernah melihat Genta yang rela berkorban, dia pria dingin dan cuek dengan kehidupan orang lain.
"Aku tidak mengenal Genta yang sekarang, wanita bisa mengalihkan perhatian kamu." Juna bicara pelan, langsung melangkah pergi keluar.
Genta langsung mengikuti Juna, menatap Arjuna yang melipat tangannya di dada. Memohon kepada Juna untuk meyakinkan dirinya jika Shin akan baik-baik saja.
"Penyakit Shin akan menjadi urusanku, kesembuhannya menjadi tanggung jawab Juna. Tugas kak Genta, menjauhkan orang-orang yang ingin membunuhnya." Juna membentak Genta yang ingin donor mata.
Juna diberikan pilihan, menyembuhkan dan menyakiti orang dalam. Melihat Shin pulih, tapi Genta yang berada dalam kegelapan, sama saja Juna menggali lubang untuk menutup yang lainnya, tapi masih menyisakan lubang lain yang tersisa.
"Percaya saja kepada Juna, Shin akan melihat tanpa mata kak Genta. Kalian menyebalkan." Juna menatap sinis, langsung kembali ke ruangannya.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira