ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
KEPERGIANNYA


__ADS_3

Diana duduk di samping ranjang Gemal, tidak tahu kapan tepatnya Gemal bangun. Dia tidak mengeluh sedikitpun.


"Kapan kamu sadar? kenapa tidak memanggil dokter?" Di menatap ke arah pandang Gemal yang masih melamun.


Tidak ada jawaban sama sekali, Diana langsung memeriksa kondisi Gemal yang stabil, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Seorang suster masuk menyapa Diana, menjelaskan jika Gemal sudah sadar beberapa jam yang lalu, tapi Di masih sibuk dan kondisi Gemal juga tidak menunjukkan gejala apapun.


"Kamu boleh pergi." Di menatap ke arah pintu.


Diana duduk di kursi, sudah bisa menebak apa yang Gemal pikirkan, karena sudah mendengarkan keluhan Diana soal kondisi ibunya.


"Bagaimana keadaan ibu?" Tatapan Gemal tertuju kepada Diana.


"Kamu sudah tahu jawabannya."


"Aku ingin mendengar penjelasan kamu sebagai dokter, bisa jelaskan lebih detail." Nada bicara Gemal sangat pelan hampir tidak terdengar.


"Tenggorokan kamu sakit?" Di melihat ke arah leher.


Tangan Diana menyentuh tekuk leher meminta Gemal mengatakan bagian yang terasa sakit, atau mungkin kepala yang dijahit terasa menyakitkan.


"Aku baik-baik saja."


"Aku rasa juga begitu." Tatapan mata Diana bertemu mata Gemal yang juga fokus ke wajahnya.


Diana langsung menjelaskan kondisi ibunya Gemal, obat yang sudah Di sempurnakan tidak bisa membantu mengurangi sebanyak apapun.


Pengobatan sudah terlambat, meskipun virus sudah hilang banyak bagian dalam tubuh yang sudah rusak.


"Apa virusnya sudah menghilang?"


"Aku pastikan sudah, tapi jantung, ginjal, mata, otak, bagian tubuh dalam lainnya sudah rusak Gem." Di menarik nafas panjang.


Besok pagi Diana akan melakukan operasi, satu-persatu akan diobati meskipun resikonya besar.


"Ibu menolak operasi, dia tidak ingin memejamkan mata saat operasi tapi tidak bisa bangun lagi." Di ingin meminta persetujuan Gemal juga Hendrik.


"Berapa persen harapannya Dok? jika bisa 50 banding 50 kita masih percaya diri."


"Maaf Gemal, kemungkinan baiknya hanya 25%. Ingatan ibu sudah jauh, dia bisa mengenali kamu dan Hendrik karena ada foto yang dia peluk, pendengaran juga sudah mulai tuli, penglihatan sudah mulai hilang." Di menunjukkan catatan kondisi ibunya Gemal.

__ADS_1


Mata Gemal terpejam, menarik nafasnya bekali-kali berusaha untuk tenang. Menurunkan kakinya dari ranjang, meskipun kesulitan untuk berjalan.


Diana hanya membiarkan, membantu memegang infus. Gemal melangkah keluar, diikuti oleh Diana yang menunjukkan ruangan ibunya.


Dimas, Altha dan Yandi yang melihat Gemal datang langsung tersenyum, bersyukur karena Gemal akhirnya sadar.


"Syukurlah, kamu sudah membuka mata Gem."


"Sudah berjalan pak." Yandi menatap Dimas yang binggung ingin menyapa seperti apa.


Gemal hanya tersenyum tipis, ingin menundukkan kepalanya namun Altha langsung melarang karena Gemal masih belum bisa banyak bergerak.


"Kenapa tidak menggunakan kursi roda saja?" Alt menatap Diana yang hanya mengangkat bahunya.


Gemal melihat ke arah Diana yang tidak menawarkan kursi roda, dirinya sudah lelah dan menahan sakit.


Yandi langsung melangkah untuk mengambil kursi roda, Gemal mengucapkan terima kasih karena sudah diistimewakan.


Pintu kamar terbuka, Diana mendorong kursi roda. Tatapan Gemal dan Hendrik bertemu.


Air mata Hendrik masih membanjiri pipinya, langsung menyingkir untuk memberikan ruang kepada Gemal bertemu ibunya.


"Hendrik, kamu kenapa terluka?"


"Oh Gemal, kamu lama tidak pulang nak, ibu tidak bisa melihat wajah kamu." Tangan ibu mengusap wajahnya Gemal yang tersenyum.


Ibu meminta Hendrik mendekat, meraba wajah kedua anaknya. Kedua mata ibu terpejam, merindukan masa kecil Hendrik dan Gemal.


"Ibu bahagia saat kalian hadir, kedua anak ibu lelaki pintar. Jaga diri ya nak, kalian harus akur dan saling menjaga meksipun ibu tidak ada di sisi kalian." Air mata menetes, tidak bisa melihat wajah tampan kedua anaknya.


Diana langsung membalik badan, melepaskan jas putihnya memeluk erat Daddy-nya. Dimas juga tidak bisa menahan air mata, mengusap punggung Di yang gemetar.


Suara Hendrik menangis semakin kuat, Gemal terlihat lebih tegar karena dari awal Gemal yang tahu jelas kondisi ibunya.


"Gemal, maafkan ibu yang belum bisa membahagiakan kamu, maafkan ibu yang menjadi beban."


"Tidak Bu, ini sudah tugas Gemal untuk menjaga dan merawat ibu. Gemal yang berterima kasih karena ibu sudah merawat dan membesarkan Gemal." Senyuman Gemal terlihat menahan kesedihannya.


"Nak, maafkan kakak kamu. Ibu ingin pergi dengan tenang tanpa meninggalkan beban kepada kalian berdua."


Kepala Gemal mengangguk, dia sudah memaafkan karena memang tidak punya hak untuk menghakimi.

__ADS_1


"Ana, ibu minta tolong sampaikan pada Gemal. Jaga dia juga yang tidak bisa berhati-hati, tolong perhatikan dia untuk makan." Mata ibu terpejam, menggenggam kedua tangan anaknya.


Cukup lama suasana hening, Gemal sudah menundukkan kepalanya untuk menutupi rasa kehilangannya.


Hendrik sudah menangis histeris, Diana langsung mendekat melihat ke arah layar dan memeriksa nafas juga denyut nadi.


Permintaan maaf Hendrik memang sudah didengarkan, tapi tidak bisa menyelamatkan nyawa ibunya.


Mulut Diana tidak bisa mengeluarkan kata-kata, lidahnya terasa keluh, pahit. Bahkan Di tidak bisa menahan air matanya.


Salsa yang melihat kondisi di dalam ruangan langsung mengumumkan jam kematian mengantikan Diana, tangisan Diana langsung pecah karena dia sudah menghabiskan banyak waktu bersama ibunya Gemal.


Hendrik sudah tidak sadarkan diri, langsung dibawa ke ruangannya. Hanya Gemal yang masih berusaha menahan dirinya untuk kuat.


"Ibu, bangun Bu. Jangan tinggalkan Gemal, bahkan Gemal belum bisa membahagiakan ibu." Kedua tangan Gemal mengusap wajah ibunya.


Gemal mencium wajah ibunya yang terlihat tersenyum, meskipun tidak memiliki banyak waktu ibu bahagia bisa bertemu dengan anak-anaknya.


"Ibu tidak sakit lagi sekarang, Gemal ikhlas Bu. Hanya ini yang bisa Gemal lakukan, memberikan kesempatan kepada Hendrik untuk bertemu." Pelukan Gemal erat, memeluk ibunya yang sudah meninggal.


Dimas mengusap punggung Gemal, meksipun dari luar terlihat kuat, tapi Dimas tahu hati Gemal sebenarnya sangat hancur.


"Pak, Gemal yatim piatu lagi." Tatapan Gemal melihat Dimas, menunjukkan senyumannya meskipun matanya merah.


"Kamu kuat Gem, anak laki-laki harus kuat."


"25 tahun yang lalu aku ditemukan, dibesarkan, dicintai dan tumbuh menjadi yang sekarang. Tidak sekalipun ibu marah dan memukul Gemal." Air mata menetes, ucapan terima kasih sudah dibesarkan layaknya anak kandung.


Dimas memeluk erat Gemal, mengusap punggungnya untuk kuat, dan tidak putus asa. Dibalik ujian ada hikmah yang didapatkan.


Tangan Gemal menggenggam tangan ibunya, menemani ibunya sesaat sambil mengenang kembali masa kecilnya.


Setiap pulang sekolah Gemal selalu bertengkar, matanya biru, punggungnya merah, bibirnya pecah. Di rumah juga selalu main tonjok bersama Hendrik sampai Gemal kabur dari rumah.


Cinta ibunya yang besar, membujuk Gemal untuk pulang berbaikan dengan siapapun lawannya. Bahkan tidur juga masih dalam pelukan ibunya.


"Bu, Gemal ingin menjadi anak kecil lagi, tidur dalam pelukan ibu. Menjadi dewasa menakutkan, dan sekarang tidak ada tempat Gemal bersandar." Air mata menetes membasahi pipi.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


jangan lupa like coment Dan tambah favorit


vote hadiahnya ya


__ADS_2