ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MENYELAMATKAN


__ADS_3

Mobil Juna tiba di hutan, Shin berjalan lebih dulu. Ada banyak orang yang hanya menatap ke bawah rerumputan liar dan siapa yang terjatuh di sana tidak mungkin selamat.


Tidak ada yang berani turun ke bawah, selain medan yang sulit, juga tidak ada ada jalur turun. Menggunakan alat bantu, tapi ada yang tahu hewan apa saja yang ada di bawah.


Beberapa mobil lainnya berdatangan, Gemal berlari menghentikan Shin yang tetap akan turun tidak perduli terjang yang harus dia lalui.


"Kak Gemal akan turun bersama kamu, bagaimana aku bisa lepas tanggung jawab? Mama tidak ingin kehilangan Putra dan Putrinya." Gemal membawa beberapa alat bantu


"Tunggu ... apa ini area akar merambat?" Juna menunjuk ke arah tumbuhnya yang tumbuh liar di setiap tempat, melihat tanah yang basah dan lembab kemungkinan di bawah ada genangan air yang ditumbuhi pepohonan sehingga terbentuk jurang.


Gemal sepemikiran dengan Juna, pantas saja tidak ada yang bisa turun ke bawah. Kemungkinan ada air karena tanah sekitar lembab.


Secara tiba-tiba Shin berlari ke dalam bangunan, menaiki tangga dan melihat ke arah posisi Kakaknya dan Tika jatuh.


"Di sini mereka jatuh?" Juna bisa melihat segala area yang sangat luas dari ketinggian.


"Mereka tidak jatuh, pasti sedang bergelantungan di antara akar dan tumbuhan merambat." Shin menyentuh tumbuhan, tersenyum lebar melihat Juna yang masih menatap sekitar.


Sebuah anting kecil Shin keluar, dipasang di telinganya mencari sinyal untuk menghubungi Tika. Berada di hutan membuatnya kesulitan untuk mendapatkan respon.


Dedaunan bergerak, Gemal tersenyum langsung menghubungi tim karena melihat pergerakan dari bawah.


"Tika, are you okay?" Shin bisa menghubungi Tika dan mendengar jelas udara Tika yang mengomeli Genta.


Air mata Shin menetes menutup mulutnya agar tidak terdengar menangis, Tika terlihat baik-baik saja masih bisa menjahili Kakaknya.


Sekuat tenaga tangan Genta bergelantungan di tumbuhan merambat, begitu dengan kakinya yang menopang di akar yang menjalar.


"Tik, kamu bisa diam tidak? kita jika jatuh langsung inalilahi. Kamu dari tadi bergerak terus." Genta mulai kesal karena Tika berada di punggungnya bukan berjuang untuk naik, tapi happy sendiri seperti tidak punya masalah.


"Tidak ada sinyal, halo Shin. Tika belum mati, jangan langsung mengirim doa, lebih baik mengirim helikopter." Suara Tika berteriak-teriak terdengar menggema membuat kesenangan.


"Ya Allah, kenapa ada wanita model seperti ini?"


"Yang, kita berdua romantis ya? pacaran sambil bergelantungan. Ini jarang sekali dilakukan." Senyuman Tika terlihat, berpegangan kuat kepada Genta.


Sinyal dari Shin datang kembali, Tika memastikan jika mereka masih bisa bertahan, tapi tidak yakin satu jam ke depan. Dia tidak ingin mati sebelum mematahkan tulang Dina, sekalipun menjadi hantu.

__ADS_1


Candaan Tika hanya untuk mengalihkan kecemasan Genta yang tubuhnya sudah penuh luka, belum lagi menanggung beban tubuh Tika.


"Yang, Tika berat tidak?"


"Menurut kamu, jangan tanya takut. Aku pastikan kita berdua selamat." Genta menenangkan agar Tika tidak terlalu khawatir.


Air mata Tika menetes, memeluk lembut tubuh lelaki yang dicintainya. Meskipun dirinya harus pergi setidaknya dipertemukan lebih dulu dengan Mami Papinya juga Kakak dan adiknya. Tika hanya ingin memberi salam perpisahan.


Diam Tika bisa rasakan jika sedang menangis. Akhirnya Genta jujur jika tangannya tidak akan mampu bertahan lagi, jika salah satu dari mereka jatuh. Tika orang yang harus selamat.


"Tika ingin menikah, bertahan sejauh ini bukan hal yang mudah bagi Tika. Kak Genta tidak tahu berapa kali Tika ingin menyerah? ada beberapa alasan Tika ingin mengakhiri pernikahan ini, memutuskan hubungan kita. Tetapi aku masih bertahan memilih egois untuk kebahagiaan diri sendiri, tolong jangan buat aku memilih." Tangisan Tika terdengar, dia tidak akan pernah melepaskan sekalipun harus jatuh.


"Kamu pernah ingin mengakhiri hubungan ini? kenapa? apa aku ada salah?"


Kepala Tika menggeleng, tidak ada yang salah dari Genta hanya saja ada takdir yang membuatnya binggung maju atas berhenti.


Dari atas Shin bisa mendengar jelas ucapan Tika, dia bahkan tidak pernah tahu jika Tika pernah berpikir untuk menghentikan pernikahan.


Beberapa tali diturunkan, Gemal turun secara langsung tanpa meminta bantuan bawahannya. Bahkan Juna juga meminta turun meksipun dia tidak sekuat Gemal.


"Ya, mereka ingin kembali melangsungkan pernikahan sesuai harapan. Turunlah Kak, tolong selamatan mereka, sudah banyak masalah yang terlewati hingga sampai ke titik sekarang." Shin mengusap air matanya.


"Shin, apa yang kamu inginkan sudah aku persiapkan,"


Kepala Shin mengangguk, menjatuhkan sesuatu memilih turun untuk memantau langsung proses penyelamatan.


Laptop Shin hidup, benda yang dia jatuhkan tepat berada di tangan Tika. Senyuman Shin terlihat menatap Tika menjulurkan lidahnya.


Beberapa bagian tubuh Tika terluka, dan kondisi Genta sangat parah. Darah ditubuhnya sampai mengering, terlihat sekali kondisinya yang sudah kesulitan untuk bertahan.


Teriak Shin terdengar pegangan tangan Genta terlepas, Tika menggantikan Genta untuk bergelantungan.


"Ada apa Shin?"


"Kak Genta jatuh, tubuhnya tidak mampu bertahan lagi." Shin menatap Altha yang menghela napasnya.


Tidak ada pilihan, Shin kembali ke dalam bangunan. Meraba-raba dinding. Dugaan Shin benar ada jalan keluar yang bisa dia gunakan sebagai jalan pintas untuk turun ke bawah jurang.

__ADS_1


"Kak, bertahanlah. Shin mohon." Tubuh Shin hampir jatuh saat terlihat ada tebing.


Akar kayu yang menahan bangunan agar tidak roboh terlihat menjalar ke bawah. Shin langsung terjun, turun menggunakan akar pohon.


"Shin, apa yang kamu lakukan? jalur atas tertutup tidak bisa turun." Juna mengulurkan tangannya meminta Shin naik.


"Ay, Shin harus menyelamatkan Kak Gen. Perhatikan akar ini, jika tidak bergerak lagi berarti Shin jatuh." Senyuman Shin terlihat meminta Juna menunggunya.


"Ada hal yang ingin aku bicarakan, tapi sepertinya kamu tidak ingin mendengarnya." Juna menatap Shin yang tetap turun hingga tidak terlihat lagi.


Dugaan Shin benar, Tika menarik pergelangan tangan Genta yang sudah tidak bertenaga. Senyuman Tika terlihat menatap Shin yang datang.


"Kakak, sadarlah. Bisa kita naik bersama, tidak meninggalkan satu sama lain." Shin mengulurkan tangannya sampai mengenggam tangan kakaknya.


"Ayo kita naik Shin, kamu sudah tahu jalannya." Tika melilitkan tangan di tumbuhan.


"Tika, Shin lepaskan aku. Kalian berdua naik masing-masing." Genta menatap akar pohon.


Secara bersamaan Tika dan Shin melepaskan tangan Genta yang bertahan sendirian, Shin turun di bawah Genta meminta kakaknya naik, dan jika jatuh Shin siap menahan.


Berapa jauh kita naik Dek?"


"Tidak lama, ada tali Kak." Shin tersenyum mendengar suara Juna meminta satu persatu naik.


Tangan Shin meraba antingnya yang terlepas, Genta naik lebih dulu dibantu oleh Juna dan Gemal.


"Kak Genta aman, sekarang kita berdua." Tika tersenyum memanjat akar diikuti oleh Shin.


"Kamu masih kuat Tik, dasar perempuan gila perhatian!"


"Aku sengaja membuat kamu turun, ayo kita turun ke bawah jurang. Aku penasaran apa sangkut-pautnya dengan bangunan ini?"


"Kamu saja, mungkin di bawah kuburan Dini. Kita harus naik untuk menghabisi Dina." Shin memanjat akar mendahului Tika.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2