
Gemal tiba di rumah sakit melihat Diana berlari kencang, langsung mengejarnya. Di membuka pintu ruangannya juga sudah kesulitan.
"Kodenya apa?" Gemal menatap Diana yang sudah pucat.
"Ulang tahun pernikahan Mommy." Di sudah bersandar di pintu.
"Aku tidak tahu ...." Gemal langsung menekan kode sandi sesuai yang Di ucapkan.
Gemal membantu Diana masuk ke dalam, mengacak obat-obatan membuat Gemal kebingungan.
Di mengambil suntikan, menancapkan ke lengannya baru jatuh pingsan bahkan belum sempat mencabutnya.
Gemal langsung menggendong dan meletakkan Diana di atas ranjang, Gemal melihat sesuatu yang Diana genggam dan mengamankannya.
Suara ketukan pintu terdengar, Gemal membukanya dan melihat seorang dokter masuk dan berlari melihat keadaan Diana yang sudah jatuh pingsan.
Di langsung diinfus, dan Salsa menghubungi Dika menggunakan ponsel Diana agar segera ke rumah sakit.
"Apa yang terjadi?"
"Aku juga belum tahu, Diana meminta seseorang memanggil aku untuk ke ruangannya. Kamu siapa?" Salsa menatap Gemal yang memperkenalkan diri jika dia seorang polisi.
Diana sadar setelah lima belas menit pingsan, tubuhnya masih lemas melihat Gemal dan Salsa.
"Tahanan meninggal, dan pihak keluarga bisa segera mengurusnya." Di menatap Gemal yang menganggukkan kepalanya.
Kondisi Diana masih memprihatinkan, Gemal langsung pamit untuk keluar. Langkah Gemal terhenti saat Diana menyebut nama Hendrik.
Salsa terkejut jika Hendrik yang menyebabkan tahanan meninggal, dia pasti tahu jika Diana akan meneliti kasus obatnya.
"Hendrik juga yang menyuntik aku sampai seperti ini." Di memejamkan matanya.
"Kamu istirahat saja dulu Di, kita bahas nanti."
Gemal langsung keluar perlahan, langsung menuju ke ruangan jenazah. Korban memang terlihat sangat aneh, tubuhnya membiru.
"Kenapa kamu selalu muncul di rumah sakit ini?" Hendrik menatap Gemal yang juga langsung menoleh ke arahnya.
"Bukan urusan kamu, aku tidak mengenal kamu." Gem memalingkan pandangannya.
Hendrik tersenyum sinis, meminta Gemal sebaiknya jangan pernah muncul. Jika sampai ibu Gemal tahu Hendrik ada di negara yang sama kondisinya semakin memburuk.
"Kamu sudah miskin, bodoh tapi masih sombong. Gemal apa yang aku lakukan demi ibu, tapi apa yang kamu lakukan hanya ingin membunuh ibu." Hendrik langsung melangkah pergi.
Gemal berteriak kuat langsung mendekati Hendrik, menatap sinis dokter yang tidak memiliki hati.
__ADS_1
"Aku dan ibu sudah hidup bahagia, sekalipun kepala aku di bawah dan kaki di atas, aku akan menjaga ibu dan menjauhkan dari anak durhaka seperti kamu yang ingin membunuh ibu sendiri." Tatapan Gemal tajam, mendorong Hendrik untuk menyingkir.
Tatapan Hendrik penuh kemarahan, dia pastikan Gemal akan menyesali ucapannya.
Jenazah langsung diserahkan kepada keluarga korban, Gemal dan anggota lain hanya bisa diam mendengar suara tangisan.
"Gem, kamu sudah melapor belum?"
"Sudah, aku akan mengurusnya."
"Kamu beristirahat saja, kita kehabisan jalan untuk mengusut kembali kasus ini karena saksi sudah tewas."
Gemal hanya menganggukkan kepalanya, melangkah pergi melewati ruangan Diana.
"Minggir." Dika membuka sandi ruangan Di langsung melangkah masuk.
Gemal juga ikut masuk, melihat kondisi Diana yang sudah bisa duduk meskipun wajahnya masih pucat.
"Apa yang terjadi Di? kenapa kamu ceroboh? ayo pulang kita periksa detail kondisi kamu." Dika ingin menggendong Diana, tapi langsung ditolak.
Diana tersenyum, Dika ada benarnya. Dia dulu sangat teliti dan berhati-hati, tidak ada yang bisa menyentuhnya, tapi sejak menjadi manusia dirinya mulai lengah.
"Siapa yang melukai kamu?" Dika melihat pergelangan tangan Diana yang membiru.
Diana menatap Salsa yang hanya tertunduk diam, menepuk pelan pundak Dika untuk menyapa Salsa.
"Kamu baik-baik saja? suntikan yang masuk ke tubuh kamu mungkin berbahaya." Gemal menyerahkan suntikan yang sempat Diana genggam.
Diana tersenyum meminta Salsa dan Dika menunggu sebentar di luar, ada hal penting yang ingin Diana bicarakan dengan Gemal.
Dika langsung keluar tanpa protes diikuti oleh Salsa yang tersenyum menatap Gemal.
"Aku tahu ini berbahaya, tapi seharusnya kamu tidak di sini." Di meletakkan suntikan yang akan dia teliti lebih lanjut.
Diana memiliki penawar yang sudah dia teliti selama beberapa tahun, dan hasilnya belum sempurna.
Pihak kepolisian kemungkinan akan menutup kasus, karena tersangka meninggal tanpa memberikan saksi.
"Gemal, kenapa kamu terlihat kecewa?"
"Entahlah, aku hanya ingin kasus ini cepat selesai dan bisa menemukan bandarnya." Kepala Gemal tertunduk.
Diana memukul punggung Gemal, meminta mengangkat kepala jangan seperti hidup segan mati tak mau.
"Di, kamu yakin memiliki penawar obat variasi terbaru ini?"
__ADS_1
"Iya ada, tapi belum sempurna dan memiliki efek samping." Di mengerutkan keningnya.
"Boleh aku minta atau membelinya?"
"Gila!" Diana berteriak, menarik kerah baju Gemal.
Tangan Gemal menahan tangan Diana, menceritakan jika Gem memiliki seorang ibu yang sedang sakit.
"Ibu kamu sakit, kenapa tidak dirawat di rumah sakit? apa dia pemakai?" Diana menghela nafasnya.
Gemal menggelengkan kepalanya, sebenarnya Gemal tidak tahu pasti, tapi ibunya sakit karena ulah kejahatan kakaknya.
"Bicara lebih jelas Gemal? apa sangkut pautnya ibu kamu dengan obat ini!" Mata Diana melotot mulai emosi.
Gemal menceritakan kejadian sepuluh tahun yang lalu, kakaknya seorang dokter yang sangat hebat, tapi kakaknya memiliki obsesi yang tinggi.
Kakak Gemal menciptakan sebuah obat dan meminta ibunya yang menjadi uji coba, selama lima tahun ibunya sakit dan dirawat di rumah sakit.
"Tunggu, kakak kamu menciptakan obat dan menggunakan ibunya sebagai korban?"
"Iya, ibu sudah membaik sekarang, tapi ada yang aneh Di. Ibu seperti memiliki halusinasi saat malam hari dan tidak tidur." Gemal sudah habis-habisan mengobati ibunya, sampai mereka kehilangan segalanya.
"Apa yang ibu kamu lakukan?"
"Bekerja? selama dua puluh empat jam, ibu hanya tidur satu jam kemungkinan karena efek obat." Mata Gemal terpejam menahan emosinya, saat keadaan ibunya memburuk kakaknya pergi.
Diana menghela nafasnya bekali-kali, memijit pelipisnya mendengar cerita Gemal jika kakaknya tidak memberikan penawar.
"Lima tahun ibu tidak tidur dan selalu bekerja, suatu hari akan ada saatnya ibu akan drop dan ini akhir dari gejalanya." Gemal mengembuskan nafas kasar.
"Aku sepemikiran, kemungkinan saat di uji belum sempurna, berbeda dengan sekarang." Diana menatap Gemal, memperhatikan wajahnya yang sekilas mirip dokter Hendrik.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Di, Gemal ingin membuka pintu, tapi Diana menahannya.
"Apa kamu adiknya dokter Hendrik? katakan tidak." Di menganga tidak percaya jika Gemal dan Hendrik bersaudara.
Gemal menganggukkan kepalanya, gedoran pintu semakin kuat. Gemal membuka pintu, melihat Dimas masuk menatap Diana tajam.
"Kenapa tidak menghubungi Daddy? kamu juga kenapa di sini Gem?" Dimas menatap keduanya.
"Tangkap dokter Hendrik Gemal, kemungkinan dia akan segera melarikan diri." Diana berteriak kuat membuat Dimas kebingungan.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1
jangan lupa like coment Dan tambah favorit
vote hadiahnya ya