
Tawa Shin dan Tika kembali terdengar, keduanya tidak peduli dengan tubuh mereka yang penuh cat. Juna hanya duduk melihat saja, tidak berniat memberikan bantuan, hanya menunggu Genta datang dari membeli peralatan.
"Shin, kenapa tidak meminta bantuan orang yang berpengalaman di bidangnya?"
"Sudah Shin katakan, pekerja di rumah ini meninggal terjatuh dari atas, tepat di tempat duduk Ay Jun." Shin menunjuk ke arah lantai.
Juna langsung berdiri, menarik kursinya untuk pindah tempat duduk. Tika hanya tertawa melihat Kakaknya yang ada takutnya juga.
Tawa Shin terdengar, dia hanya bercanda. Kecelakaan terjadi di bangunan belakang, ada jalur ke arah bangunan bawah tanah. Shin sudah memperingatkan jika tidak boleh masuk ke sana karena sudah direnovasi, tapi masih saja, ada kayu besar yang jatuh dari atas.
Tidak tahu awalnya kenapa bisa tersebar berita juga rumah sebenarnya kutukan, Shin yakin di manapun tempat pasti ada penunggu lain, selain manusia.
Kepercayaan orang-orang terlalu berlebihan, tidak ada orang yang ingin melanjutkan perkejaan sekalipun Shin membayar mahal.
"Mereka terlalu lemah, selama ini kamu tinggal di mana?"
"Restoran, tapi tadi pagi berantakan karena ada cicak." Tubuh Shin merinding membayangkan cicak.
Pintu terbuka, Genta melangkah masuk membawa peralatan untuk mengecat rumah. Hal yang mengejutkan Juna melihat pasukan kecil yang sudah berbaris rapi.
"Kenapa Isel, Gion, Iyan ada di sini?"
"Beberapa hari ini selalu murung, lebih baik bersenang-senang dengan bekerja sambil bermain." Genta tersenyum menatap Isel yang sudah melihat cat dengan mata elang.
"Isel, let's go." Shin dan Tika memintanya untuk bergabung.
Suara tawa Isel terdengar, langsung naik tangga membawa cat mengikuti Tika dan Shin yang sudah kotor lebih dulu. Tangan Isel menempel di dinding, bibirnya juga ikutan nempel.
Senyuman Tika terlihat, tawa Isel kembali memainkan cat mengotori tubuhnya. Tika gemes memeluk erat, dia sangat menyayangi si kecil yang sangat nakal.
"Kak Tika baik-baik saja?"
"Tentu, Kak Tika sangat baik. Ayo kita kerja,"
"Aunty Shin baik-baik saja, Ian khawatir Aunty tidak pulang. Jangan pergi lama-lama rumah terasa sepi." Ian tersenyum memeluk Shin yang juga langsung memeluknya.
Gion baru saja ingin memeluk, suara dia terhentak jatuh dengan keadaan telentang membuat Isel tertawa lepas, sedangkan Gion sudah menangis mengusap kepala, pinggang dan bodynya yang sakit.
Genta mengusap kepala, meniup setiap rasa sakit. Membantunya berdiri untuk membantu Ian mengecat beberapa ruangan yang masih kosong.
"Ngomong-ngomong, warna cat ini bisa hilang tidak jika tekena badan?" Juna masih memikirkan cara menghilangkan noda apalagi Isel bibirnya saja sudah warna pelangi, Tika dan Shin wajahnya sudah berwarna pelangi sampai rambut juga terkena cat.
__ADS_1
"Memangnya tidak bisa hilang?" Isel mengusap bibirnya.
"Di sini tulisannya permanen," Ian membaca tulisan yang membuat Isel panik.
Tika dan Shin saling pandang, memastikan jika pasti bisa hilang. Mereka punya caranya, Shin dan Tika bahkan pernah seluruh tubuhnya berubah warna merah karena jatuh ke dalam cat saat sedang bolos sekolah.
Mereka sudah biasa bermain dengan warna, dan apapun yang dibuat manusia pasti ada kekurangan dan kelebihan.
"Namanya saja Cat tembok, mana mungkin tahan lama di tubuh." Shin meyakinkan Isel jika bibirnya tidak perlu dipotong.
"Bagaimana jika tidak bisa?"
Semua orang meneriaki Juna agar berhenti menakuti mereka, lebih baik dia bekerja daripada berkomentar membuat panik dan kesal.
Pasukan kedua tiba-tiba muncul, Ria langsung bermain perosotan di lantai yang berwana pelangi.
"Rainbow, ini bagus sekali. Rumah warna-warni." Ria langsung membawa kaleng cat untuk ikut bermain.
"Tik, kamu mengotori baju sekolah," Tika menatap adiknya yang sangat santai.
"Besok beli baru, kenapa hidup harus di buat susah,"
"Versi anak orang kaya." Tawa Shin terdengar sangat lepas.
Sampai hampir malam mengecat rumah hampir selesai, semuanya mengerjakan serius karena bebas melukis apapun yang disukai.
"Ayo kita makan siang." Shin bertepuk tangan melihat indahnya karyanya.
"Tidak menyangka hasilnya sungguh luar biasa," Tika juga mengangumi sekeliling rumah yang sangat cantik.
"Di sini ada tanda tangan Isel, berarti rumah ini punya Isel." Tangan Isel memberikan coretan namanya Ghiselin atau Isel.
Mata Shin melotot besar, memonyongkan bibirnya melihat cucu Leondra yang suka menguasai apapun.
Segala sesuatu yang Isel sukai akan menjadi miliknya, Shin hanya bisa diam tidak ingin membantah sama sekali.
"Di mana kamar Isel?"
"Rumah ini tidak punya kamar, hanya satu ruangan saja." Shin hanya memiliki ruangan bawah tanah.
Ria mencari ponselnya, melihat keluar jendela yang sudah gelap. Mereka melewati makan siang, bahkan lupa sholat.
__ADS_1
"Kak Tika, ini sudah malam." Ria menunjuk ke arah luar.
Semuanya menatap kaget, mencari keberadaan para pria yang ternyata sudah pulang lebih dulu. Meninggalkan mereka yang keasikan melukis.
Beberapa mobil tiba, melihat dari mobil saja sudah tahu siapa yang datang. Senyuman lebar empat wanita terlihat.
Kepala Aliya geleng-geleng, belum ada yang mandi bahkan masih kotor penuh cat. Al meminta semuanya mandi, membersihkan badan.
"Mama, maafkan Shin yang sudah berbohong."
"Mandi dulu, Mama sudah membawakan baju ganti." Mam Jes menyerahkan paper bag untuk Shin.
Senyuman Shin terlihat, meminta Tika, Isel dan Ria mengikutinya, Shin melangkah keluar rumah langsung lompat ke dalam kolam renang.
"Shin itu kamar mandi ada di luar rumah?"
"Iya, rumah ini rencanakan aku buat untuk pameran saja, di bangunan bawah tanahnya ada perpustakaan."
"Kak Shin selalu saja membangun ruangan bawah tanah, tapi isinya buku semua." Ria menatap binggung, sikap Shin sama seperti Papa Calvin yang mempunyai istana buku.
"Kenapa memilih warna rainbow?" Isel langsung memeluk Shin.
Suara merintih kesakitan terdengar, suara menangis juga terdengar membuat Tika dan Shin saling pandang.
Pelukan Isel erat, merasa takut mendengar suara aneh yang baru pertama kali dirinya dengar.
"Suara apa itu? jika manusia berhentilah jahil, jika bukan jangan ganggu. Urus saja dunia kamu, jangan mengusik dunia kami" Ria dengan santainya mengusap tubuhnya dengan sabun yang Shin berikan.
Melihat keberanian Ria, Tika menarik kaki adiknya. Tika tidak berani naik ke atas kolam, merasa ada yang memegang kakinya.
"Kak Shin, Ria mendengar kabar lokasi ini baru saja ada kecelakaan, dan ada satu korban. Tempat ini sebelumnya menjadi tempat pembantaian, apa rumor itu benar?"
"Andriana, tolong Kak Tika." Rasa Tika ingin menangis karena Ria yang memancing suasana menakutkan.
"Lebih baik kita sudahi mandinya, tempat ini sepertinya tidak baik ditempati saat malam hari." Shin naik ke atas menggendong Isel yang sudah ketakutan.
Senyuman Ria terlihat, berjalan ke arah kamar mandi yang lampunya hidup mati. Tika, Shin dan Isel hanya menatap punggung Ria yang tidak takut sama sekali.
"Haruskah kita lari meninggalkan Ria?" Shin menatap Isel yang mengigit bibir bawahnya.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira