ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
ANAKKU


__ADS_3

Suasana kediaman keluarga Diana ramai, acara pernikahan yang sisa menghitung jam sudah ada di depan mata.


Kehebohan para bocah juga tidak bisa dihentikan, mereka sangat bersemangat melihat acara pernikahan yang akan diadakan di hotel mewah.


Diana mengetuk pintu, suara Dika mempersilahkan masuk terdengar. Di langsung melangkah masuk membawakan sebuah kado.


"Selamat menempuh hidup baru kak Dika, Diana tidak bisa memberikan barang mewah."


"Yakin tidak bisa, kamu belikan mobil atau rumah juga bisa Di. Dasar kamu saja yang pelit." Senyuman Dika terlihat, menyentuh kadonya.


Diana langsung memukul kepala Dika, jika soal uang saja langsung bersemangat. Suara tawa keduanya terdengar saling mengejek.


"Terima kasih Di, kamu sudah banyak membantu hubungan kami." Senyuman Dika terlihat bahagia.


"Diana tidak membantu apapun, tapi kak Dika dan kak Salsa yang saling memperbaiki hubungan. Di ikut bahagia kak." Tatapan Diana melihat ke arah pandang Dika.


Dika akan segera meninggalkan rumah kakaknya, rumah yang memiliki banyak kenangan keluarga.


"Kak Dika jangan sedih, seharusnya bahagia." Di mengusap air matanya, menatap Dika yang meneteskan air matanya.


Dika tersenyum sambil mengusap air matanya, sejak kehilangan kedua orangtuanya usia muda, Dimas satu-satunya yang Dika miliki.


"Di, aku melihat kak Dimas bahagia, hancur, berantakan, berubah menjadi orang yang sangat dingin dan kasar, lalu dia bahagia kembali. Aku masih memiliki ketakutan, aku takut kehilangan." Dika tersenyum melihat foto kakaknya.


Diana merangkul Dika, seharusnya Dika sudah bisa melepaskan kakaknya karena Di yakin Daddy-nya sudah menemukan bahagia.


"Kamu kapan menemukan bahagia?"


"Kenapa mempertanyakan Diana? aku bahagia saat keluarga kita bahagia." Di tersenyum manis memeluk Dika sangat lembut.


"Di, seandainya aku tidak jatuh cinta kepada Salsa, mungkin aku jatuh cinta kepada kamu." Dika menahan tawa.


Diana langsung menendang Dika kuat sampai tersungkur ke lantai, suara tawa Dika terdengar melihat Diana yang kesal dibandingkan.


"Kak Dika mengejek Di!"


"Tidak heran kamu jomblo Diana, terlalu mudah mengamuk." Dika memegang pinggangnya.


Tatapan keduanya tajam, Dika meringis kesakitan karena tendangan Diana selalu mematikan.


"Gila kamu Di, aku bisa gagal malam pertama jika sakit pinggang."


Suara pintu terbuka terdengar, Ria melangkah masuk bersama Dean dan Juan. Ketiga bocah langsung berjalan masuk menatap Dika yang marah-marah.


"Malam pertama itu apa Uncle?" Ria menatap Dika yang mengungkit makam pertama.

__ADS_1


"Bukan urusan kamu Ria."


"Adriana ingin tahu untuk menambah wawasan." Ria duduk di samping Diana yang manyun.


Dika berpikir keras, dia binggung cara menjelaskan kepada Ria yang tidak boleh salah bicara.


"Malam pertama itu, hari pertama tidur dengan pasangan." Dika tersenyum mengerutkan keningnya menatap tiga bocah yang binggung.


"Pasangan apa Uncle?" Juan melipat tangannya di dada penasaran.


"Pasangan itu seperti aku dan Juan berpasangan, kita sekolah bersama, dan kita juga pernah tidur bersama. Iyakan Juan?"


Juan menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan Dean yang sebenarnya tidak nyambung.


Pintu terbuka sangat kuat, Tika masuk dengan wajah kesal dan manyun. Ria langsung tertawa melihat wajah kakaknya yang sudah pasti di marah oleh Papinya.


"Kenapa kamu Tika?"


"Daddy sama Papi sudah pulang sejak lama, tapi Uncle Gemal tidak pulang masih melakukan penyamaran selama berbulan-bulan." Tika kesal karena Gemal tidak menepati janji yang akan kembali saat pernikahan Dika dan Salsa.


"Kamu ada perjanjian apa dengan Gemal?" Diana sangat penasaran.


"Kak Gem ingin makan malam bersama Tika, kita mempunyai tempat makan rahasia."


Diana memberikan ponselnya, meminta Tika menghubungi Gemal. Saat makan malam, Tika harus membawa Di sebagai bayarannya.


Beberapa kali panggilan tidak terjawab, saat ada suara Tika langsung memanggil Gemal.


"Kak Di, kenapa ponselnya kak Gem ada suara perempuannya?" Tika memberikan ponsel.


Diana langsung mematikan panggilan, melangkah pergi dengan wajah kesal.


"Ada apa dengan keturunan Dirgantara? dulu Daddy juga selalu menolak Mommy, Uncle Dika yang menghindari Aunty Salsa, sekarang kak Di juga sama terlalu gengsi." Tika geleng-geleng kepala.


***


Hari bahagia Dika dan Salsa tiba, seluruh keluarga sudah berkumpul untuk menjadi saksi pernikahan yang suci.


Dimas tersenyum melihat adiknya akhirnya memiliki pasangan hidup, lepas sudah tugas Dimas untuk menjaga adiknya.


Air mata Dimas menetes, Anggun mengusap punggung suaminya yang terlihat bahagia karena Dika bisa tertawa lepas.


"Insya Allah Dika bahagia Daddy."


"Amin ya Allah." Dimas merangkul istrinya.

__ADS_1


Diana berjalan sangat pelan karena menggunakan baju kebaya, wajah Diana yang cantik bekali-kali lipat.


Tamu undangan semakin ramai, penjagaan juga sangat ketat terutama penjaga Ria, Tika, Juan dan Dean.


Diana hanya duduk santai bersama Arjuna, tatapan orang banyak yang salah fokus ke arah Diana dan Juna yang tampan dan cantik.


"Juna tampan sekali, mengalahkan ketampanan Altha saat muda." Dimas tersenyum melihat Juna yang sangat dingin dan cuek berdiri menyambut tamu.


Tatapan Juna dan Diana melihat kedatangan keluarga Leondra, Jessi tersenyum melihat Diana begitupun dengan Calvin.


Dimas tersenyum menyambut kedatangan keluarga Leondra, mempersilahkan duduk di tempat makan yang sudah tersedia.


"Kak Di punya masalah dengan mereka?" Juna menatap Diana yang tidak menunjukkan senyuman.


"Mereka menyelidiki identitas lama kak Di, dan mengawasi keluarga kita. Aku tidak bisa bersikap baik kepada orang yang menyalahgunakan kebaikan." Di menunjukkan ekspresi tidak sukanya.


Tamu undangan semakin ramai, Jessi melihat sekeliling sambil memegang minumannya. Tatapan Jessi melihat seseorang langsung melangkah pergi mengejarnya.


Tidak ada yang mengetahui kepergian Jessi, saat Calvin sadar jika istrinya sudah tidak ada di sampingnya langsung terkejut menatap pengawal.


Beberapa pengawal berlarian mencari, Diana dan Juna mengerutkan keningnya mendengar pemberitahuan.


"Diana, Mam Jes menghilang." Calvin menatap Diana dengan wajah khawatir.


"Apa Mam Jes masih berhalusinasi?" Diana juga sama khawatirnya.


Calvin menggelengkan kepalanya, istrinya sangat sehat dan percaya jika anaknya akan kembali.


"Juna, cek semua rekaman dan hubungi kak Di. Gerakan semua pengawal untuk menemukan keberadaan Mam Jes." Diana langsung berlari untuk mencari Jessi.


Gemal membatalkan niatnya untuk memberikan selamat kepada Dika dan Salsa, melihat keluarga Leondra juga hadir menghilangkan semangatnya.


Motor Gemal berhenti di jembatan, menatap ke dalam air yang memiliki arus cukup deras mengeluarkan kalung yang Diana berikan.


"Sebaiknya kembali ke negara kalian." Gemal mencengkram kuat kalungnya.


Mobil taksi berhenti, Jessi keluar melihat Gemal memegang kalung identitas putranya. Air mata Jessi menetes bahagia.


"Anakku, kamu sudah besar." Jessi langsung mendekati Gemal.


"Aku memilih tidak memiliki keluarga." Gemal langsung membuang kalungnya di bawah jembatan yang berarus.


"Tidak, jangan." Jessi kaget melihat Gemal membuang kalung.


Jessi langsung berlari ke arah bawah jembatan, tidak memperdulikan semak belukar, batu dan besi yang melukainya.

__ADS_1


Gemal menatap kaget melihat Jessi yang berlarian histeria, lompat ke dalam air untuk mengambil kalung.


***


__ADS_2