ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MENYEMBUNYIKAN HUBUNGAN


__ADS_3

Mendengar ungkapan hati Genta, membuat Tika diam. Tidak menunjukkan respon apapun, karena tidak ada ucapan lanjutan yang harus dirinya jawab.


"Terus Om?"


"Sudah, aku mencintai kamu." Genta menatap santai.


"Iya terus,"


"Tidak ada terusan, kamu paham tidak Tika?"


Kepala Tika langsung bersandar di kursi, menatap lemas Genta yang sudah mengambil minum. Tidak ada pikiran sedikitpun untuk mengatakan kelanjutan hubungan mereka.


Untuk apa ungkapan cinta, jika tidak ada pertanyaan balik perasaan Tika yang sebenarnya. Cinta tanpa status membuat Tika pusing saja.


"Ayo kita keluar, katanya ingin melihat pantai."


"Om tidak ingin tahu perasaan Tika?"


Tangan Genta menutup kembali pintu, melihat wajah Tika yang tidak bersemangat sama sekali. Terlihat lemas dan tidak berdaya.


"Apa aku melakukan kesalahan?"


Atika hanya menggelengkan kepalanya, mengacak-acak rambutnya, sesekali meremas kuat merasa murka melihat Genta.


"Alfian Gentara Leondra, setelah kamu mengatakan cinta pastikan juga apa wanita itu mencintai kamu. Apa gunanya kamu mengatakan cinta, jika tidak ada status?" Tika memukul dasbor mobil merasa kesal.


"HM ... untuk apa? paling penting aku sudah mengatakannya."


"Sudahlah, Tika benci Om tua." Kepala Tika tertunduk disembunyikan di antara kedua lututnya.


Tawa Genta terdengar, menarik tangan Tika. Menggenggam erat menyatukan jari-jemari keduanya.


Tangisan Tika terdengar, Genta langsung kaget mengangkat kepala Tika yang tangisan langsung pecah, memukuli Genta yang membuatnya kesal dan kecewa.


"Om bodoh, Pria tampan, sukses, pintar dan jenius banyak yang menginginkan Tika, tapi kenapa aku harus jatuh cinta kepada lelaki bodoh seperti Om tua." Pukulan Tika kuat menghantam lengan Genta, kaki Tika juga menendang membuat mobil bergoyang kuat.


Ketukan kaca mobil terdengar, Genta meringis kesakitan karena rambutnya dijambak-jambak oleh Tika.


"Apa yang kalian berdua lakukan di tempat umum?"


"Lihat saja sendiri, ini namanya KDRT." Genta menutupi kepalanya yang dipukul oleh Tika sambil menangis.


"Istrinya menyeramkan." Orang-orang yang mendekati mobil langsung menjauh.


"Om bodoh, Tika tidak akan memaafkan." Kedua tangan Tika ditahan kuat, Genta tersenyum menutup kembali kaca mobil yang terbuka.

__ADS_1


"Terima kasih untuk ungkapan cintanya, sejak kapan kamu mencintai aku?"


"Tika tidak cinta sama Om, Atika benci." Bibir Tika monyong, melepaskan tangannya dari Genta.


"Wajah aku terluka Tik,"


Tika melirik sebentar, wajah Genta berdarah karena dan hidungnya juga mengeluarkan darah. Tika langsung panik mengambil tisu, menahan darah agar berhenti keluar.


"Astaga, ini salah Tika." Wajah Tika panik, menutupi hidung Genta menggunakan tisu.


"Aku baik-baik saja Tika,"


"Maafkan ya Om, Tika memang keterlaluan." Air mata Tika menetes, langsung cepat ditepis.


Tangan Tika panas dingin, darah tidak ingin berhenti. Tangisan Tika masih terlihat, merasa bersalah.


Senyuman Genta terlihat, memeluk pinggang Tika memintanya untuk tenang. Hidung Genta biasa mimisan jika kondisi tubuhnya tidak sehat.


"Kak Genta lagi sakit?"


"Tidak Tika, aku hanya kurang tidur dan belum makan." Genta mengusap air mata Tika memintanya untuk duduk diam karena mereka harus mencari makan terlebih dahulu.


"Bagaimana Tika duduk? dari tadi dipeluk." Mata Tika melihat tangan Genta melingkar di pinggang.


Tawa Genta terdengar, melepaskan Tika agar duduk di sampingnya. Genta membersihkan hidungnya yang mengeluarkan darah cukup banyak dari biasanya.


"Biasanya kamu punya penawarnya, selain kata maaf." Kepala Genta menatap Tika yang langsung mencium hidungnya.


"Jangan sakit, Tika tidak mungkin sanggup melihat Om terluka." Kepala Tika tertunduk, meminta maaf karena lancang sudah jatuh cinta.


"Kamu tidak perlu mencintai aku karena aku yang akan berjuang, cukup diam saja sampai aku membawa hubungan kita ke pernikahan." Genta memeluk Tika lembut, mengusap kepalanya.


"Om ingin menikahi Tika, apa Shin akan memberikan izin?"


Genta melepaskan pelukannya, mengerutkan keningnya melupakan Adiknya yang memiliki hubungan baik dengan Tika. Hubungan persahabatan pasti sangat berharga, dan Shin mungkin juga takut kehilangan jika Tika dan Genta bersama.


Atika tahu, jika Shin dan Genta baru bersama, membutuhkan waktu untuk menghabiskan banyak waktu untuk bersama, Tika tidak ingin mengambilnya dari Shin.


"Aku sangat menyayangi Shin, dan aku juga mencintai kamu. Apa ini salah?"


"Tidak salah, tapi Shin baru saja menemukan keluarga, kehadiran Tika akan membagi waktu Kak Gen yang pastinya Shin kehilangan banyak waktu bersama." Tika mencoba membuat Genta mengerti perasaan Shin.


"Kamu menolak aku?"


"Bukan begitu Om, jangan berpikir buruk dulu."

__ADS_1


Tika tidak ingin Shin mengetahui hubungan dirinya dan Genta, sampai Tika siap mengatakan kepada sahabatnya jika mencintai Kakaknya. Demi persahabatan dengan Shin, juga rasa cinta Tika yang tidak ingin hubungan mereka renggang.


Kening Genta berkerut, menyembunyikan hubungan berarti Genta harus mengundur niatnya bicara dengan kedua orang tua Tika.


"Sampai kapan? aku tidak ingin membohongi banyak orang."


"Hanya sebentar, Tika akan bicara dengan Shin, lalu Mami dan Papi. Berikan Tika sedikit waktu, ini menakutkan jika keluarga besar kita menentang." Kedua tangan Tika memohon, Genta sudah memalingkan wajahnya tidak setuju.


"Aku tidak merasa ini baik,"


"Satu bulan,"


"Satu minggu saja sudah lama, aku akan bicara dengan Shin." Genta mengusap wajahnya.


Pelukan Tika erat, memohon agar Genta setuju. Mereka hanya perlu berpacaran diam-diam sebelum mengatakan kebenarannya. Tika ingin bicara sendiri untuk melihat respon semua orang.


Kepala Genta geleng-geleng, menatap ponsel Tika yang mendapatkan panggilan dari Shin. Jari Tika berada di bibirnya meminta Genta diam.


Tika menjawab panggilan, bicara hal tidak penting bersama. Shin berencana menyusul Tika, tapi dirinya tidak bisa menghubungi Genta.


[Kamu tahu Kak Genta di mana?]


[Tidak tahu, aku baru selesai penelitian.] Tika menatap Genta yang keluar mobil langsung membanting pintu.


Panggilan berakhir, Tika merasa bersalah karena meminta Genta menyembunyikan hubungan mereka padahal Genta ingin langsung serius, tapi Tika terlalu takut mengatakan kepada Shin dan juga Papinya.


Tika masih mengingat ucapan Papinya yang mengatakan jika Tika dilarang menikah muda, dan tidak memilih pria yang bekerja sama seperti Altha. Alt tahu resikonya menjalin hubungan dengan pekerjaan yang sibuk, dan tidak punya banyak waktu.


"Aduh ... kenapa sekarang Tika yang takut?"


Di luar mobil Genta menatap jauh ke arah pantai, melihat sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Ucapan kasar terdengar, bahkan diakhiri dengan kata putus.


"Ujian pernikahan saja berat, apalagi pacaran." Genta memejamkan matanya, memasang topi menutupi wajahnya.


Tika keluar dari mobil, berjalan mendekati Genta yang mengabaikannya. Kedua tangan Tika langsung memeluk meminta maaf jika mengecewakan.


"Ayang Gen jangan marah,"


"Aku tidak marah, jika kamu nyaman menyembunyikan maka kita lakukan, tapi aku tidak ingin lama berdiam tanpa kejujuran." Genta memeluk Tika, merangkul pundaknya untuk mencari makan.


Senyuman Tika terlihat, menyentuh hidung Genta membersihkan bekas darah.


"Tidak akan lama, Tika juga tidak ingin kehilangan Om." Batin Tika menatap punggung Genta yang berada di depannya.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2