
Bunga masih ada dalam genggaman, Dimas langsung menyerahkan kepada Anggun yang mengerutkan keningnya.
Tidak ada kata-kata yang keluar, keduanya saling lempar bunga. Dika langsung mendekat dan merampas bunga pengantin membawanya pergi untuk menyatakan cinta.
Aliya langsung menjambak Dika, mengambil kembali bunga dan menyerahkan kepada Dimas.
"Dia tidak mau Al."
"Kamu masih miskin, belum boleh menikah. Kerja dulu, istri butuh uang bukan hanya tampang." Al melotot melihat sahabatnya yang cemberut.
Tamu undangan sudah berpergian, masih tersisa Aliya, Altha, Dimas dan Anggun. Juga ada Dika, Kenan, Susan, Helen yang masih bermain bersama anak-anak.
Dimas meletakan bunga di atas meja, menyerahkan kado kecil untuk Aliya untuk pertama kalinya.
Sejak pertama melihat Al, Dimas sudah menganggap seperti putrinya sendiri. Tidak banyak yang Dimas ketahui soal Al, tapi berusaha untuk menjaganya.
"Al, kamu masih muda dan kekanakan mulai sekarang belajarlah dewasa."
"Kak Dimas tidak perlu mengkhawatirkan Al, sebaiknya kak Dimas juga menikah. Jujur Al tidak memaksa, jangan menyesal saja jika terlambat." Al menatap Anggun yang masih memainkan ponselnya.
Altha hanya tersenyum melihat Dimas yang menghela nafasnya, dia masih takut untuk berumah tangga, tapi lebih takut jika kehilangan.
Pukulan Altha mendarat ke punggung Dimas, membisikkan sesuatu membuat Dimas melotot langsung merampas ponsel Anggun.
"Orang sedang bicara dengarkan Anggun, bukan main handphone." Dimas melihat chat Anggun bersama seseorang yang tidak tersimpan.
"Dia mungkin dokter yang merawat Anggun selama diculik." Al menujuk foto yang tertera.
"Kenapa mereka masih komunikasi? memangnya kamu masih berhutang sama dokter ini?" Dimas menghapus nomor dan memblokir.
Altha menutup wajahnya sambil tertawa, Dimas dari dulu memang sangat posesif melebihi Altha dan sikap cemburuan memang berlebihan.
Anggun mengambil ponselnya, melihat pesan yang sudah dihapus. Aliya langsung tertawa melihat Dimas.
"Umur Kak Dimas berapa? menyatakan cinta tidak mau, melamar ragu-ragu. Saat ada pria yang mendekati marah-marah, dasar laki-laki tua tidak dewasa." Al merangkul Anggun memberikan nomor baru agar bisa berkomunikasi kembali.
Dimas merampas ponsel Aliya, dia belum tua batu menginjak kepala tiga. Menikah tidak semudah yang Aliya pikirkan, karena dirinya bukan anak kecil yang hanya tahu cinta-cintaan.
"Lalu apa yang kamu tunggu Dimas?" Alt mengerutkan keningnya.
"Sudah cukup, lagian Anggun juga ada perkejaan ke luar negeri beberapa tahun, berhenti membahas pernikahan."
__ADS_1
"Tidak boleh, siapa yang memberikan izin. Tiga bulan saja aku kesepian, bagaimana bisa bertahun-tahun." Dimas menatap tajam Anggun yang kebingungan.
Kepala Aliya dan Altha hanya bisa geleng-geleng, Dimas memohon seperti anak kecil tidak ingin ditinggalkan.
Tika berlari mendekati Aliya, langsung duduk dipangkuan Maminya sambil tersenyum. Menatap Dimas yang mengomeli Anggun.
Tatapan Dimas dan Tika bertemu, keduanya adu pandangan tidak ada yang berkedip.
"Uncle kenapa melihat Tika seperti itu?" Tika memonyongkan bibirnya, dia tidak pernah mengatakan kepada Aunty Anggun jika Dimas menghilangkan cincin lamaran.
Anggun, Aliya dan Altha terkejut, Dimas sudah mengacak rambutnya ingin meremas wajah Tika yang tidak punya dosa.
"Kamu baru saja mengatakannya Tika."
"Tika mengatakan kepada Uncle bukan Aunty, jika Aunty mendengar salahkan saja kenapa Aunty duduk di sini. Tika tidak pernah salah." Mata Atika berkedip tersenyum manis ke arah Dimas yang sudah mengipas wajahnya yang menahan emosi.
Tika menyerahkan cincin kecil miliknya, mengizinkan Dimas meminjamnya. Tika mendengar sebuah pepatah siapa cepat dia dapat.
"Uncle tahu arti siapa cepat dia dapat?" Tika menatap Papinya yang tersenyum.
"Siapa cepat dia yang dapat adalah berusaha dengan cepat untuk mendapatkan sesuatu." Dimas menatap Anggun meminta pembelaan.
Altha menutup mulut putrinya yang bicaranya tidak sopan, terkadang pikiran orang dewasa berbeda dengan anak-anak.
Apa yang orang dewasa pikiran bukan hanya apa yang terjadi hari, tapi memikirkan kedepannya. Berbeda dengan anak muda yang pikirnya nikmati hari ini dan masalah ke depan akan menjadi urusan nanti.
"Tika tidak setuju Papi, pilihan awal menjadi penentu masa yang akan datang, jika dari awal sudah mensia-siakan kesempatan maka di masa yang akan datang hanya ada penyesalan." Tika menatap Anggun dan Aliya yang menganggukkan kepalanya.
Aliya setuju dengan apa yang Tika katakan, hal baik lebih baik tidak ditunda karena satu detik saja ketinggalan hanya menyisakan penyesalan.
"Aliya benar, Anggun setuju jika kak Dimas gagal dalam segala hal."
"Makanya Dim, kamu harus cepat." Altha menatap Dimas menahan tawa, karena laki-laki tidak pernah menang melawan perempuan.
Dimas memukul lengan Altha, awalnya membela sekarang membelok.
Tangan Dimas mengambil cincin kecil dan memejamkan matanya langsung melihat ke arah Anggun.
Sebenarnya Dimas sudah menyiapkan cincin untuk melamar, tapi tiba-tiba Altha menghubunginya dan saat kembali cincin sudah hilang.
"Semuanya ini salah Papi." Tika menghela nafasnya.
__ADS_1
"Maafkan aku yang mengundur banyak waktu ...."
Suara Juna memanggil terdengar, Anggun langsung berdiri dan berlari keluar sebelum mendengar ucapan Dimas.
Aliya juga kaget, Altha langsung menggendong Tika berjalan ke luar untuk melihat apa yang terjadi.
Langkah Anggun terhenti, menutup mulutnya kaget melihat apa yang ada di depan matanya.
"Wow, siapa yang melakukannya?" Aliya memeluk Altha sambil tersenyum.
"I Will you marry me." Tika bertepuk tangan untuk Anggun yang tersenyum lebar.
Dimas berjalan santai langsung menyambut pelukan Anggun, mungkin cincin yang dia siapkan sudah hilang, tapi masih ada kejutan yang lain untuk mengutarakan perasaannya.
"Kamu bukan wanita pertama yang aku cintai, tapi aku harap kamu wanita terakhir yang menjadi pelabuhan hati." Dimas tersenyum malu mendengar ucapan yang diajarkan oleh adiknya.
Anggun tersenyum, dia sudah bertahun-tahun menanti saat Dimas melamarnya dan memutuskan untuk hidup bersama.
Semuanya bertepuk tangan, pesta pernikahan Aliya Altha sukses penuh kebahagiaan, juga acara lamaran Dimas Anggun lancar tanpa hambatan sesuai rencana mereka.
Dari kejauhan Citra melihat putrinya tertawa bahagia, begitupun dengan putranya yang terlihat senyumannya.
Dibalik kebahagiaan rumah tangga baru Altha, ada Citra yang menyimpan sakit hati juga kesepian yang sangat dalam sehingga air mata saja tidak bisa menghilangkan rasa sakitnya.
"Kalian bahagia sekarang, tapi tidak nanti. Tersenyumlah Aliya sebelum senyuman itu lenyap." Citra langsung melangkah pergi.
Alt meminta supir untuk bersiap kembali ke rumah, Tika sudah terlihat sangat lelah.
"Alt, kamu langsung kembali? tidak malam pertama di sini."
"Tidak, kamar kami memiliki banyak kenangan dan lebih nyaman." Alt menyentuh hidung Aliya yang meminta Tika karena sudah mulai tidur.
Helen mendekati Aliya sambil menggodanya, malam ini Tika tidur bersama Helen agar tidak pindah kamar seperti biasanya sehingga Altha dan Aliya bisa menghabiskan malam berduaan.
***
Besok ya.
***
like coment Dan tambah favorit
__ADS_1