
Senyuman Citra terlihat, duduk diam menatap Shin yang sedang memasak sambil bernyanyi kecil. Di tangan Citra masih ada infus terpasang, terlihat sekali jika dirinya sangat tidak berdaya.
"Shin, bisa dilepas tidak infusnya? Mama bantu Shin masak." Senyuman Citra terlihat, berharap Shin mengizinkan merasakan yang namanya masak.
Kepala Shin mengangguk, melepaskan infus membiarkan Mama Citra membantunya memasak.
Suara canda dan tawa Shin terdengar, tidak ada ketenangan sama sekali di dapur. Shin yang tidak bisa diam hanya mengoceh banyak hal sampai Citra tidak punya waktu untuk berpikir.
"Bagaimana rasanya?"
"Wow ini enak sekali, Mama Citra ternyata pintar masak." Shin memberikan dua jempolnya.
"Kamu pintar memuji, padahal tanpa kamu tidak mungkin seenak ini,"
"Ma, jangan bayangkan Shin menjadi Tika karena Atika tidak bisa masak, jika ingin melihat dapur kebakaran silahkan saja suruh Tika masak, dia mirip Mami Aliya tidak bisa masak." Shin tertawa mengingat sahabat yang hobi makan.
Tanpa sepengetahuan Citra Shin memasukkan masakan Citra ke dalam wadah dan menyimpannya di kulkas untuk Juna, separuhnya dibawa pulang untuk Tika. Keduanya harus merasakan masakan Mamanya, kemungkinan akan menjadi yang terakhir dirasakan.
Setelah semua masakan siap, barulah Shin makan dengan lahap bersama Citra yang memaksakan dirinya untuk makan meskipun tidak bisa merasakan nikmatnya makanan.
"Mama tidak tahu rasanya Shin? padahal Mama ingin sekali merasakan masakan kamu." Air mata Citra menetes, merasa sedih karena perasa juga sudah hilang.
"Lihat saja Shin, rasanya manis, asin, pahit, dan hambar." Shin juga tidak merasakan apapun karena sengaja tidak memberikan rasa.
Mata Shin melihat jam, mobil yang dia minta diantara sudah terparkir di depan apartemen. Shin membantu Citra memakai baju yang sopan untuk ziarah ke makam Mora.
"Izin sama Juna tidak Shin?"
"Jangan Ma, dia tidak mungkin mengizinkan. Percaya saja sama Shin,"
Mobil melaju pergi, Citra menatap jalanan yang ramai dan terkena macet. Shin juga mendadak diam, tidak mengucapkan sepatah katapun.
__ADS_1
Citra mengambil selembar foto ketiga anaknya yang masih kecil, senyuman Juna yang penuh kebahagiaan memeluk adiknya Tika, sedangkan Tika menggendong adik kecilnya yang baru lahir.
Air mata menetes, tangisan Citra terdengar memeluk selembar foto yang hanya menjadi kenangan.
"Jangan menangis, sebentar lagi kita sampai Ma." Shin mengambil ponselnya mengirimkan pesan kepada orang-orang yang seharusnya melihat ke dalam hati Citra yang membutuhkan pelukan.
Suara klakson mobil Shin tekan, kebiasaan buruknya yang emosian tidak sabaran. Menerobos jalanan yang macet meminta mobil menyingkir memberikannya jalan.
Beberapa polisi menghentikan Shin, tatapan mata Shin tajam meminta polisi menyingkirkan mobil karena dia harus cepat.
"Kamu tidak melihat panjangnya macet, di depan ada kecelakaan." Polisi memukul mobil Shin.
"Apa itu salahku? lakukan tugas kalian cepat, aku juga tidak punya waktu." Shin berteriak di hadapan polisi.
"Apa sibuk kamu?"
"Saya tidak lagi menuju rumah sakit, tapi langsung pemakaman! apa kalian ingin bertanggung jawab?"
Helaan napas Shin terdengar, terlalu banyak drama. Seandainya dia bersama Tika sudah lama bisa melewati macet tanpa harus melalui perdebatan tidak penting.
Senyuman Shin terlihat akhirnya bisa tiba di pemakaman, perasaan Shin tidak enak melihat wajah Citra yang semakin pucat.
"Amora sayang, Mama datang Nak." Tangisan Citra terdengar, berjalan tertatih menggunakan tongkat ke arah makan kecil yang selalu dijaga ih Tika dan Juna.
Shin tidak ikut turun ke makam, hanya melihat dari depan mobil. Jarak juga sangat dekat sehingga Shin bisa mendengar tangisan seorang Ibu yang sudah puluhan tahun merindukan Putrinya.
Seandainya Amora masih hidup, dia pasti tumbuh menjadi wanita cantik dan sudah memasukkan usia dewasa dan akan merasakan yang namanya perkuliahan.
Tangan Citra meraba makam Putrinya tidak pernah dikunjunginya, mungkin juga Mora tidak akan mengenali Ibu jahat seperti dirinya.
"Mora, maafkan Mama ya Nak. Kamu menjadi korban kejahatan Mama, hidup Mora sangat singkat dan memilih pergi bersama Papa. Maafkan Mama Mora." Pelukan Citra erat kepada makam Putrinya.
__ADS_1
Beberapa mobil datang, Juna keluar dari mobil melihat Shin duduk dia atas mobil. Mobil Tika juga tiba bersama Genta, barulah disusul oleh mobil Altha dan Aliya yang binggung.
Mereka mendapatkan pesan dari Shin jika ada yang mendesak di pemakaman Mora, dan saat tiba ada Citra yang sedang menangis.
"Apa ini Shin? kamu membuang-buang waktu." Tika ingin kembali ke mobilnya.
Pergelangan tangan Tika ditahan oleh Genta, memintanya mendengarkan Citra meksipun hanya sebentar. Dia juga punya hak untuk mendapatkan kesempatan dari anaknya.
"Sayang, kamu bahagia di sana. Mama sedang melewati hukuman atas pembuatan Mama. Selama di penjara, Mama sangat merindukan kamu, Kak Juna dan Tika." Citra tersenyum sambil menangis.
Setiap hari selama bertahun-tahun, Citra memikirkan anak-anaknya, menghitung setiap saat pertumbuhan Tika dan Juna. Saat Tika masuk sekolah dasar, Citra membayangkan betapa lucunya Putrinya, melihat Juna lulus sekolah dan menjadi pria dewasa.
Beribu kata maaf tidak akan bisa menghilangkan rasa bersalah apalagi mengurangi rasa sakit yang dirasakan Tika dan Juna. Citra mengerti alasan Tika sangat membencinya, dan dirinya memang tidak pantas mendapatkan maaf apalagi kesempatan untuk memeluk anak-anak yang sangat dirinya rindukan.
Sampai tiba kematian, Citra hanya berharap Tika menjadi wanita yang luar biasa, dan harus melupakan dirinya. Begitupun dengan Juna, dia harus melepaskan beban untuk menahan rasa sakit saat melihat keberadaan Citra.
"Maafkan Mama Mora, Maafkan Mama Tika, Arjuna. Seandainya kalian tidak lahir dari rahim Mama, tidak mungkin trauma besar itu kalian rasakan selama puluhan tahun, dan Mora pasti memiliki kehidupan yang lama." Bibir Citra gemetaran, mengusap nama anaknya yang sudah lama meninggalkan.
"Bahkan kamu juga menyesal melahirkan kami?" Tika mengusap air matanya sudah membasahi pipinya.
Citra menatap Tika yang ada di pinggir jalan, berusaha berdiri untuk mendekatinya. Tubuh Citra terduduk kembali, kaki bahkan sudah tidak mampu lagi untuk melangkah, jangankan mendekati Tika, berdiri saja tidak mampu.
Hanya air mata Citra yang menetes, tidak punya jawaban. Dia ingin berlari memeluk Putrinya, tapi kakinya tidak berdaya lagi.
"Kenapa duduk di situ? tidak mampu datang ke sini, kenapa tidak meminta kami yang datang?" Teriakan Tika sangat besar bersamaan dengan air matanya.
Bukan hanya maaf yang Tika inginkan, seharusnya sejak awal Citra mencari dirinya. Meksipun Tika masih kecil dia mengenal Mamanya, dan selalu bertanya-tanya kenapa Mamanya pergi?
"Sekali, satu kali saja kamu minta kami datang. Satu kali pun tidak pernah, bahkan Mami Aliya yang selalu menawarkan untuk kami berkunjung. Salah Tika berpikir jika kamu melupakan kami? sejahat itu Mama! Tika juga rindu, Tika ingin bertemu, tapi Mama tidak pernah meminta Tika datang, sekalipun tidak." Tangisan Tika terisak, memeluk kakaknya Juna juga meneteskan air mata karena Juna dan Tika harus menerima kenyataan bertemu Mamanya dalam keadaan paling menyedihkan.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira