
Matahari belum terbit seluruh keluarga sudah sibuk semua untuk di make up, Shin bersama Tika masih terlelap tidur.
Mata Tika terbuka mendengar gedoran pintu, lemparan buku terdengar ke arah pintu membuat Tika tersenyum, menatap Shin yang menutup kepalanya menggunakan bantal.
"Shin, suara gedoran pintu menyebalkan, tapi selalu aku rindukan." Pelukan Tika erat ke arah sahabatnya.
Tangan Shin mengusap lengan Tika yang melingkar di pinggangnya, mata keduanya terpejam, namun ada air mata yang menetes.
"Apa kita masih bisa tidur seperti ini? bisa kita terus bersama, melakukan apapun berdua?" Tika mengeratkan pelukannya.
"Basa-basi kamu membuat geli, aku tahu pelukan yang paling kamu sukai hanya kehangatan Kak Gen." Shin menahan suara tangisannya.
Tawa Tika terdengar, mencium punggung Shin. Setelah Tika menikah, dia tidak mungkin tidur dengan Shin lagi, mungkin juga akan jarang melakukan kegilaan bersama.
"Shin, kamu masih ingat saat pertama bertemu. Aku mengagumi kecantikan kamu, wanita bertubuh tinggi, berwajah cantik, tapi sombong." Pelukan Tika lepas, menatap lampu yang ada di atasnya.
"Aku memang terlahir cantik, kamu jatuh cinta kepada Kak Gen karena dia tampan." Shin juga menatap ke atas, mengusap air matanya.
Keduanya mengingat kembali pertarungan mematikan mereka, bukan hampir mati saling menjatuhkan namun menyempatkan. Shin yang menolong Tika, lalu berbalik kembali Tika yang menyelamatkan Shin.
Dua gadis yang bertarung habis-habisan dengan lelaki, tidak melangkah mundur saat darah sudah mengalir di wajah. Rasa sakit tidak terasa karena hari itu pertama kalinya Tika merasakan memiliki tim, dan begitupun dengan Shin yang memiliki pelindung.
"Kita belum berkenalan hari itu, bahkan aku tidak tahu nama asli kamu?"
"Aku juga tidak tahu, Arshinta ataupun Shin itu nama yang menyakitkan, tapi pada akhirnya aku menyukainya." Tawa Shin terdengar, dia mengetahui nama asli Tika, dan tahu siapa keluarga Tika. Mereka berdua memang memiliki banyak harta, bedanya Tika memiliki keluarga berbeda dengan Shin yang hidup sendiri.
"Hari itu Kak Diana menjadi penonton, dan sekarang Isel pengacau,"
__ADS_1
"Kita dulu menjaga tiga bayi dalam kandungan sekaligus, Isel yang selalu membuat kita susah, Ian yang membawa kita ke tempat menyenangkan, sedangkan Gion kerjanya makan terus. Kak Di yang hamil kita yang membengkak." Tawa Shin dan Tika terdengar, mengenang masa indah yang tidak akan keduanya lupakan.
Tangisan Shin terdengar, memeluk Tika erat. Mereka pernah berpisah, dan Shin tidak ingin terjadi lagi. Sekalipun Tika sudah menikah, dan memiliki anak, Shin ingin selalu bersamanya.
"Janji tidak akan berpisah lagi?"
"Emh ... kita akan bersama. Shin akan menjaga Tika saat hamil nanti, kita akan bersenang-senang bersama dan menjaganya bersama." Tangan Shin mengusap air mata Tika yang menetes.
Di dalam hati Tika ingin Shin mendapatkan Kebahagiaanya, dia sudah terlalu lama terluka. Tika merasa dirinya terlalu jahat sehingga memilih bahagia sendiri.
"Shin, suatu hari akan ada hari bahagia untuk kamu. Dan saat hari itu datang, aku akan menjadi orang paling bahagia dan ingin menyaksikannya. Aku akan selalu menjadi bayangan, ingatlah luka kamu juga luka aku. Kebahagiaan kamu juga bahagia Tika." Keduanya tangan Tika menggenggam erat.
"Aku bahagia untuk kamu Tik, mulai sekarang ayo tidur bersama, bercerita sebelum tidur dan bangun tidur sampai tiba waktunya kamu bersama suami kamu." Air mata Shin menetes tidak kuasa menahan air mata bahagianya.
Kepala Tika mengangguk, dia tidak mungkin mampu melepaskan Genta dan tidak mungkin juga membiarkan Shin sendiri. Jika Juna lelaki yang Shin cintai, maka tidak bisa bahagia Tika jika hubungan keduanya gagal.
Dari balik pintu Aliya sudah meneteskan air matanya begitupun dengan Diana yang tidak sanggup menahan air matanya. Hubungan Shin dan Tika layaknya anak kembar, lahir di tahun yang sama, tanggal dan juga hari membuat keduanya sulit dipisahkan.
"Al hubungan kita saja tidak sedekat mereka, aku merasa iri." Di menutup matanya.
"Aliya juga merasa sudah berhasil menjadi ibu dan teman untuk Tika, ternyata Shin tersimpan di hati kecilnya. Al bahkan memiliki kembaran yang baru dipertemukan setelah puluhan tahun, hubungan kita tidak sedekat mereka Kak." Aliya duduk sambil menangis.
Diana meminta maaf tidak bisa menjadi kakak yang baik untuk Al, dia meninggalkan Aliya dan lepas tanggung jawab. Shin dan Tika berbeda darah, tapi memiliki ikatan kuat, sedangkan Alina dan Aliya musuh saling menyakiti.
Pintu terbuka, Tika teriak histeris memeluk Maminya. Shin memeluk Diana yang membenci Alina yang begitu jahat kepada adiknya.
"Mami kenapa?"
__ADS_1
"Kak Diana juga kenapa? tidak lagi bertengkar. Apa ada masalah dengan pestanya?" Shin merasa cemas.
"Di hanya iri sama persahabatan kalian, kenapa kalian tidak menikah bersamaan saja?" Di menatap Tika dan Shin yang langsung tertawa.
"Astaghfirullah, Tika pikir bertengkar lagi. Jika Mami dan Aunty Alina bertengkar bisa hancur dunia, itu hal yang paling kita takuti." Tika memeluk Maminya erat.
Persahabatan Shin dan Tika tidak sebaik yang dipikirkan, bahkan keduanya belajar arti sahabat dalam saudara diri si kembar Al. Shin selalu mengatakan ingin sehebat Diana dan Aliya.
Keduanya bukan hanya kembar wajah, tapi sukses di dalam pekerjaan juga keluarga secara bersama. Memiliki hobi yang berbeda, tapi tidak pernah membandingkan.
"Kak Di dan Mami Al sama-sama hebat dalam banyak hal, Shin ingin memiliki kemampuan bela diri sehebat Kak Di, sepintar Kak Di, saat melihat mami Aliya ingin juga menjadi wanita karir. Bukan hanya hebat dalam bisnis, juga sukses dalam keluarga bahagia." Senyuman Shin terlihat merasa iri dengan si kembar yang menjadi panutan baginya.
"Bagaimana perasaan kamu saat pertama melihat kita?"
"Tika saat pertama melihat Kak Di, merasa lucu. Dia mirip Mami, tapi versi jahat. Wajah tidak terlihat jahat, tapi nampak bodoh. Saat bela diri Tika langsung jatuh cinta, kemampuannya hebat sekali." Senyuman Tika terlihat menatap Di yang menarik telinga Tika yang memuji, tapi rasa menghina.
Shin juga merasa aneh saat pertama melihat Diana, dia sangat mengemaskan dengan perut buncitnya, konyol dan terlihat bodoh. Pertemuan dengan Aliya, Al seperti wanita jahat. Mata Aliya menunjukkan ketidaksukaan, sinis juga seperti ingin membunuh, tapi sesaat kemudian menangis, rasa takut Shin langsung hilang.
"Ayo Shin, kita siap-siap make up. Apa Dina juga terlibat dalam MUA?"
"Entahlah, kita lihat saja." Tika dan Shin turun ke lantai bawah.
Aliya dan Diana saling pandang, baru saja merasa di hina oleh keduanya. Pertemuan pertama yang mengesankan, ekspresi marah namun dianggap lucu.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1