ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
SIAPA KAMU


__ADS_3

Langkah Altha mendekati Aliya yang sedang bicara dengan Helen, Al meminta Elen menjaga anak-anak karena dia ingin pergi.


"Berapa usia kamu?" Alt menatap dingin.


"Tujuh belas tahun pak, nama saya Helen. Kita belum sempat kenalan." Senyuman Elen terlihat, menyapa Altha yang tidak senyum sedikitpun.


Suara Altha terdengar memperingati Helen, lebih mirip seperti ancaman karena Alt tidak mempercayai jika putrinya aman berada ditangan wanita bermasalah.


Sedikit saja Amora, dan Atika terluka Alt akan mengambil jalur hukum. Altha akan bersikap tegas jika bersangkutan dengan anaknya.


Senyuman Aliya terlihat, menepuk pundak Helen memintanya untuk mengawasi Mora dan Tika. Menyayangi dan menjaga keduanya seperti Elen menjaga adik kandungnya.


"Kak Al pergi Len, titip anak-anak." Al langsung melangkah pergi mengejar Altha yang sudah pergi lebih dulu.


"Hati-hati kak, Elen pastikan anak-anak aman."


Mobil Altha melaju dengan kecepatan tinggi, Aliya menatap suaminya yang terlalu keras sampai mengancam Elen.


Altha sudah terlalu kecewa sehingga putus sudah kepercayaannya, hancur sudah pondasi harapan untuk berpikir baik, semuanya tidak sesuai harapannya.


Aliya memutuskan untuk diam, melihat hasil laporan yang dia temukan. Korban tabrak lari sepasang suami istri dan putrinya yang baru berusia lima tahun.


"Kematian normal seperti kecelakaan biasanya, tidak ada tanda-tanda penganiayaan."


"Hasil otopsi juga mengatakan ini kecelakaan normal, tidak ditemukan sesuatu yang mencurigakan." Al mengigit bibir bawahnya.


Altha menatap Aliya yang sedang berpikir, tidak ada bukti dan juga saksi maka prasangka tidak ada gunanya.


"Aku mendengar kabar ada satu orang yang tidak percaya jika ini kecelakaan." Altha menceritakan apa yang dia dengar, ada seseorang ibu tua yang memaksa kepolisian untuk menyelidiki ulang.


"Aku tahu, dia nenek dari anak kecil itu."


"Sejauh mana kamu tahu dalam hitungan menit, kita harus bertindak berjam-jam untuk datang ke lokasi."


"Mudah sayang, aku tidak harus turun langsung. Seorang penjahat cyber mudah untuk menemukan rahasia kalian para aparat." Senyuman Aliya terlihat, menatap wajah kesal suaminya.


"Apa yang kamu lakukan ilegal? merusak nama baik para petugas."


"Resiko, sistem pertahanan mereka tidak kuat."


Mobil tiba di tempat dugem, Al membuka jaketnya hanya menggunakan baju seksi membuat mata Altha melotot.

__ADS_1


"Baju apa yang kamu pakai?" Alt melarang Aliya keluar jika hanya menggunakan baju yang memperlihatkan belahan dadanya, pusat bahkan celananya yang di atas paha.


Perdebatan keduanya terdengar dari dalam mobil, Aliya tidak punya pilihan kecuali mengalah. Altha terlalu keras jika terus dilawan.


Al keluar bersama Altha, menggunakan jaket jika tidak Alt melarang keluar mobil.


Suara musik mulai berdentum memecahkan gendang telinga, para orang-orang yang sedang bersenang-senang berkumpul, melepaskan rasa penat, sakit hati bahkan kecewa dengan keadaan.


Kebanyakan orang yang ada di tempat dugem memiliki masalah yang sama, berharap masalah hati bisa selesai hanya dengan menghamburkan uang, minum-minuman, main wanita, bahkan merusak diri dengan obat-obatan terlarang.


"Kak Anggun sama Dimas." Aliya menunjuk ke arah dua orang yang sedang duduk sambil minum.


Altha dan Aliya melangkah mendekat, melihat kedatangan dua Al membuat Dimas terkejut.


"Apa yang sedang kamu lakukan Dim?"


"Hanya bersenang-senang."


Altha celingak-celinguk kehilangan Aliya, secepat kilat Al sudah tidak ada lagi di sisinya. Alt langsung melangkah mencari keberadaan Aliya yang sudah berlari mengejar seseorang.


"Di mana Aliya?" Altha melihat ke tempat orang yang sedang berjoget.


Pintu kamar mandi terbuka, Aliya duduk di wastafel menunggu seseorang keluar.


"Apa kabar Hariz Yona?" Al tersenyum, dia sudah berbaik hati membebaskan bandar internasional yang menghirup udara kebebasan.


Bahkan istri mudanya bisa hidup dengan kemewahan, meskipun aset dan beberapa properti disita.


Kehancuran Hariz sudah direncanakan, sehingga Yona tetap memiliki segalanya tanpa takut jatuh miskin.


"Aku tidak perduli soal Hariz. Lakukan sesuka hati kamu, lagian kita tidak saling mengenal." Senyuman sinis terlihat meremehkan Aliya.


Tawa Aliya terdengar, kecelakaan yang baru saja terjadi semuanya palsu. Mereka sudah meninggal tiga puluh menit sebelum kecelakaan.


Tanpa Al harus melihat jenazahnya, dia tahu jika terjadi pembekuan darah di kepala akibat pukulan.


"Kamu tidak punya bukti jika memang ada pukulan?"


"Aku punya buktinya." Al menunjukkan sebuah suntikan, menancapkan kepada Yona yang langsung teriak histeris.


"Apa yang kamu lakukan?"

__ADS_1


"Balas dendam, aku hanya melakukan apa yang sudah kamu lakukan? anak kecil itu tidak bersalah, kalian orang dewasa bajingan." Al meludahi wajah Yona.


Al ingin melangkah pergi, tapi menghentikan langkahnya langsung berjongkok melihat wanita yang memegang dadanya, karena mengalami sesak nafas.


Pukulan kuat yang mengakibatkan kematian, uang bisa mengubah segalanya bahkan menjadikan orang lain tersangka.


Aparat yang tidak jujur, dokter yang berkhianat dengan sumpah dan janji sampai memberikan keterangan palsu.


Aliya tidak bertugas menangkap pelaku, dia hanya ingin menghacurkan siapapun yang menyakiti orang lain.


"Aku tidak pernah membunuh, tapi banyak orang yang cacat karena bermain-main dengan seorang Al." Senyum sinis Al terlihat.


Memberikan Yona waktu untuk mengungkap semua kebenarannya, jika tidak Aliya akan datang kembali dengan cara yang lebih mengerikan.


"Bukan aku pelakunya, kenapa kamu meminta aku yang bertanggung jawab?"


"Lalu siapa?"


Yona menceritakan jika yang melakukan, lelaki yang bermalam dengannya. Dia yang memiliki kekuasaan sudah memanipulasi semuanya.


"Aaaaa, ternyata kamu tidak bersalah. Sorry, lalu bagaimana dengan kasus kecelakaan pak Roby anak tiri kamu, dan hubungan dengan Citra. Hubungi nomor ini saat kamu siap mengungkap kebenarannya, ingat waktu kamu singkat." Aliya tertawa langsung melangkah pergi, meninggalkan Yona yang berteriak dengan cacian.


Altha sudah berdiri dan mendengar semuanya, bahkan memiliki rekaman bukti soal kecelakaan yang sebenarnya penganiayaan.


"Kamu tidak berniat mencari tahu soal kasus ini, tapi hanya menginginkan kebenaran soal Mora." Alt mengerutkan keningnya.


"Sudah aku katakan, apapun yang terjadi ada sangkut pautnya. Kebenaran perlahan akan terbongkar." Al tersenyum menepuk pundak Altha untuk segera menyelesaikan kasus penganiyaan.


Aliya langsung bergabung untuk berjoget, dirinya sangat banyak teka-teki. Yona dan Hariz sudah ada digenggamnya, hanya menunggu waktu untuk memanfaatkannya.


Altha baru saja menyelesaikan kasus penganiyaan, sedangkan Yona saksi mata untuk membuka kembali.


"Alt, Aliya mabuk." Dimas menunjuk ke arah Aliya yang masih berjoget.


"Kamu kirim Tim yang bertugas untuk melakukan penangkapan pelaku, aku akan membawa pulang Aliya." Altha tersenyum melihat Anggun yang pergi bersama Dimas.


Tatapan Altha tajam, menarik tangan Aliya untuk pulang. Al menolak masih ingin minum.


"Apa yang kamu lakukan?"


"Apa Aliya orang jahat? aku hanya membalaskan dendam orang-orang yang tersakiti, mereka tidak pantas mati. Aliya bukan seorang pembunuh, tetapi aku ... tidak tidak, ini rahasia." Al memeluk Altha yang sangat penasaran siapa sosok Aliya.

__ADS_1


Bibir Al mencium bibir Altha yang masih diam, ditengah kerumunan orang-orang yang sedang berjoget dengan musik yang sangat keras, ada pasangan yang sedang asik berciuman.


***


__ADS_2