
Langkah kaki Genta terhenti, berbalik badan mendekati Juna yang masih berdiri di depan pintu ruangan.
Tangan Juna terangkat meminta Li pergi lebih dulu, Juna masih ingin bicara dengan Genta soal kasus Mamanya.
"Duduk Kak Gen." Juna mempersilahkan duduk di ruang tunggu.
Cukup lama Juna dan Genta tidak saling bicara, meksipun saling mengenal sudah lama keduanya tidak bisa dekat. Genta sejak pertama bertemu sangat dingin begitupun dengan Juna.
Saat tinggal satu kamar, keduanya tidak saling menyapa meksipun berhari-hari. Keduanya tidak pernah ada selisih paham, tetapi memang es tidak bisa bertemu es.
"Bagaimana rasanya berkerja di sini Jun?"
"Entahlah, ada baik buruknya." Juna fokus melihat ke depannya.
Suara helaan napas Genta terdengar, Genta tidak tahu harus bicara apa lagi jika berurusan dengan Juna.
"Bagaimana kondisi Kak Gen?"
"Baik, aku harus segera membaik." Tatapan Genta juga fokus ke depannya.
Kepala Juna menoleh, melihat tangan Genta yang selalu ada luka. Setiap melihat Juna hanya bisa geleng-geleng.
"Juna tahu Kak Gen melakukan tes DNA, apapun alasannya Juna kepikiran." Juna mengeluarkan ponselnya.
"Kenapa? kamu juga binggung. Sama Jun, aku juga binggung dan tidak mengerti medis. Mungkin kamu jauh lebih paham." Kepala Genta menoleh melihat ponsel Juna.
"Kak Gen ingin jawaban apa dari Juna?" Mata Juna dan Genta bertemu.
Senyuman Genta terlihat, menepuk pundak Juna yang juga tersenyum melihatnya. Juna mengerti harapan Genta, tapi apa yang dia lakukan masih berbahaya.
"Jun, kita sudah kenal lama. Aku tidak pernah cerita apapun tentang aku, dan aku yakin kamu tidak ingin tahu. Rasanya tidak nyaman kita berbicara berdua." Genta membuka topinya, merapikan rambutnya.
Kepala Juna mengangguk, dirinya memang tidak pernah tertarik dengan kehidupan orang lain, tetapi secara diam-diam Juna mengangumi Genta.
Saat pertama bertemu usia keduanya masih belasan tahun, Juna tidak mengenal siapapun di keluarga Leondra rasanya sangat canggung.
Genta selalu mendekati kamar Juna, mengetuk pintu sebagai peringatan jika Juna harus makan. Meksipun Genta tidak bicara langsung.
"Kamu sangat dekat dengan Kak Hendrik, kalian berdua Dokter yang hebat."
__ADS_1
"Emh ... sesekali Juna memperhatikan Kak Genta yang bertarung di lapangan. Rasanya ingin sekali bisa bergabung, tetapi Kak Genta terlalu dingin." Senyuman Juna terlihat menatap Genta yang meminta maaf.
Sikap dingin Genta karena dirinya tidak pandai beradaptasi, tidak tahu cara memulai bicara. Gemal yang banyak bicara juga tidak bisa berbicara banyak dengan Genta apalagi Juna yang sama-sama dingin.
"Kapan Kak Genta kembali ke sana? bukannya ini sudah waktunya?"
"Tidak tahu Jun, masih terlalu banyak beban pikiran di sini. Kak Genta bisa meminta bantuan?" tangan Genta mengeluarkan sesuatu, memberikan kepada Juna.
Senyuman Juna terlihat, meminta Genta tidak terlalu berfokus dengan hubungannya dengan wanita yang sedang dia selidiki karena apapun hasilnya tetap menyakitkan.
"Siapa wanita itu Kak?" Juna tidak memaksa Genta memberitahu tetapi hatinya hanya penasaran.
"Arshinta, aku tidak puas dengan hasil pertama. Masih ada yang mengganjal di hati." Genta menepuk pundak Juna untuk diam karena Shin dan Tika keluar ruangan.
Juna langsung pamit pergi, Atika mengejar Kakaknya yang menuju ruangannya. Panggilan Tika tidak Juna hiraukan, Juna tahu bagaimana emosian Tika.
"Hei Arjuna ... aku ini adikmu bukan pengemar." Tika berteriak kuat, membuat banyak orang memperhatikannya.
Juna mengerutkan keningnya, masuk ke dalam ruangan diikuti oleh Tika yang sudah membanting pintu. Atika ingin tahu berapa lama lagi umur Citra?
"Tika, bicaralah yang sopan."
Mata Juna menatap tajam, Tika langsung melangkah mundur tidak ingin melihat mata Kakaknya yang mulai tersulut emosi.
"Bukan hanya kamu yang kehilangan, Kakak juga, Mama Citra juga merasakannya. Jangan seakan-akan kamu paling tersakiti Tika. Sekali lagi kamu bicara kasar soal Mama, jangan salahkan Kak Jun jika menampar mulut kamu." Pukulan kuat Juna menghantam meja, Juna meminta Tika keluar.
Pintu ruangan Juna terbuka dan langsung dibanting. Dokter Li yang ada di depan pintu menjadi sasaran Tika. Teriakan Tika kuat sambil mendorong Dokter Li.
Arjuna membuka pintu, melihat Dokter Li duduk di lantai. Wajah Li sangat ketakutan sampai tangannya berdarah.
"Maafkan Tika Li."
"Dia sepertinya tidak menyukai aku Jun." Li berdiri dibantu oleh Juna.
Dari kejauhan Tika melihat Genta dan Shin tertawa berdua, langsung mendekati keduanya. Shin kaget melihat wajah Tika yang merah menahan marah.
"Kenapa Tika?"
"Kak Juna ingin menampar aku, di mana otaknya?" Tika mengumpat kasar.
__ADS_1
Arjuna berdiri di belakang Tika sambil menggeleng kepalanya, Tika menatap sinis Kakaknya langsung masuk ke dalam mobil Genta.
"Keluar Tik, minta maaf kepada Li. Kamu semakin besar bertambah kurang ajar." Juna mengetuk pintu.
Genta menahan Juna, memintanya untuk menyelesaikan di rumah jangan menjadi pusat perhatian orang.
"Ay Jun juga kenapa membela Dokter itu?" Shin menatap Juna yang menarik pintu mobil.
Juna mengabaikan Shin seakan tidak melihatnya, suara Tika mengumpat Li terdengar membuat Juna semakin kesal.
"Kak Genta yang orang baru saja menyayangi Shin, tapi Kak Juna sudah tidak sayang Atika lagi." Tika memegang tangan Genta meminta pembelaan.
Tangan Genta menepis, bahkan tidak ingin menatap Tika sama sekali. Kemarahan Tika semakin membara.
"Masuk mobil Shin, atau aku bakar semua mobil di parkiran jika masih di sini." Tika menutup kaca mobil, menghidupkan musik sangat besar.
Shin masuk mobil, membanting kuat pintu membuat Juna dan Genta melangkah mundur karena kaget.
"Shin, kenapa kamu marah?" Genta menatap Juna yang mengangkat kedua bahunya.
Mobil melaju pergi, Shin mengendarai mobil sambil kebut-kebutan. Hatinya kesal sekali sejak Juna memutuskan untuk tidak merawatnya lagi, merambat sampai tidak saling mengenal.
"Apa salah aku? kenapa marahnya lama sekali? belum ada lelaki yang menolak aku selain kamu, bahkan banyak pria yang antri ingin bisa mendengar suaraku. Sialan." Shin mempercepat laju mobilnya.
"Shin ... Shin. Kenapa kamu ikutan marah? aku belum ingin mati." Tika berpegang kuat meminta Shin lebih hati-hati.
"Hati aku sakit Tik, kamu tidak tahu rasanya diabaikan. Tembus jantung, sampai ke ginjal." Pukulan terdengar di setir mobil.
Tika menendang kursi kemudi, Atika tahu rasanya mengangumi seseorang, mengkhawatirkannya, tetapi kehadiran Tika tidak penting baginya.
"Siapa pria itu Tik?" Shin menghentikan laju mobil, melihat ke arah Atika.
"Aku tidak mengatakan dia pria, kamu juga siapa pria yang membuat kamu marah-marah?" Tika balik menatap dengan banyak pertanyaan.
Senyuman Shin terlihat, dirinya juga tidak mengatakan pria. Shin hanya bicara sembarang, tetapi terbawa emosi.
Kepala Tika mengangguk, dirinya paham perasaan Shin karena Tika juga merasakannya.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira