ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
KELUARGA GESREK


__ADS_3

Satu minggu di rumah sakit akhirnya Aliya bisa pulang, begitupun dengan Juna. Helen sementara waktu libur kerja untuk pemulihan.


Anggun pulang ke rumah Dimas bersama Diana, Dimas juga menggunakan dokter pribadi untuk mengawasi Anggun agar cepat pulih.


Altha sekeluarga pulang ke rumah yang menyimpan banyak kenangan, Alt ingin membereskan semua barang-barang untuk pindah ke rumah baru.


"Ayang yakin ingin pindah?" Al masuk ke dalam rumah melihat Tika berlari kencang melihat seisi rumah.


Juna menghentikan langkahnya, dirinya langsung merinding saat mengingat Anggun terluka.


Alasan utama Altha tidak ingin Juna dan Tika mengingat kembali tragedi yang terjadi, dan satu hal lagi yang menjadi pertimbangan Altha agar anak-anak melupakan kenangan Citra untuk selamanya.


Di dalam kamar Tika, memasukkan semua bajunya ke dalam koper dan kardus. Al hanya tersenyum melihat semangat Tika yang ingin pindah rumah.


Juna juga dibantu oleh Altha memasukkan bajunya, Juna menatap bingkai foto bersama Mamanya sambil menatap Altha.


"Jika kamu ingin menyimpannya Papi izinkan Juna, tapi hanya sebagai kenangan kamu." Alt tersenyum melihat putranya yang juga tersenyum.


Arjuna meninggalkan semua foto bersama Mamanya, hanya membawa satu foto dirinya, Tika, Mora dan mamanya untuk kenangan.


Barang-barang yang tidak ingin dibawa akan Altha buang, karena rumah akan dijual. Juna tidak mempermasalahkan, baginya kenangan bersama Mamanya sudah lebih dari cukup.


"Papi tahu kamu kecewa, tapi jangan membenci."


"Iya Pi, Juna kecewa sangat kecewa. Mama membunuh Juna dan Tika, tapi kita harus tetap mengaggap Mama baik, karena tanpa Mama tidak ada kita di dunia ini." Senyuman Juna terlihat, Altha langsung memeluk putranya sangat bangga dengan kedewasaan Juna.


Barang-barang penting dibawa lebih dulu, Altha merangkul Juna untuk segera meninggalkan kamarnya.


Tika dan Aliya sudah menunggu di lantai satu, mereka juga membawa semua foto Mora. Hanya Citra yang mereka tinggalkan dan menganggapnya tidak pernah ada.


"Citra, kamu pasti akan menyesal seumur hidup kamu." Al tersenyum melihat Tika yang sudah menggendong tas ransel, menarik satu koper kecilnya.


Altha memasukan semua koper, langsung mempersilahkan Aliya masuk mobil diikuti oleh kedua anaknya.


Mobil yang Altha kendaraan melaju dengan kecepatan sedang untuk menuju ke rumah baru.


"Pi, rumah baru kita lebih besar tidak?"


"Emh ... sederhana sayang. Kebahagiaan tidak dinilai dari besar kecilnya rumah." Alt tersenyum melihat putrinya yang duduk di sampingnya sambil mengoceh.


"Kapan kita liburan Papi? katanya kita ingin ke pantai." Mulut Tika penuh makanan, tapi masih terus bicara.

__ADS_1


Alt meminta Tika makan pelan-pelan, menyerahkan susu agar berhenti mengemil.


"Papi minta maaf liburan kita undur, setelah pernikahan Uncle sama Aunty baru kita pergi." Alt tersenyum melihat Tika yang bersemangat.


Di kursi belakang Aliya sudah diam, Juna juga hanya diam mengusap kepala maminya yang terlihat lemas dan selalu tidur pagi.


"Pi, mami tidak punya niat kuliah?"


"Biarkan saja Juna, Mami selalu melakukan sesuka hatinya." Al melihat sekilas Aliya yang sudah tidur.


Sesampainya di rumah baru Tika langsung berlari masuk, rumah baru mereka ternyata tempat saat jenazah Mora dipulangkan.


Dimas menyerahkan rumahnya, dan dirinya tinggal di depan rumah Altha. Karena dia membutuhkan suasana baru bersama keluarganya.


"Lama sekali Alt?" Dimas membantu mengeluarkan koper.


Juna membangunkan Aliya jika mereka sudah sampai, langsung membantu Maminya turun dan langsung masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah sudah ribut, ada Diana yang membuat onar bertengkar dengan Dika. Kenan dan Susan juga membantu merapikan rumah.


Aliya langsung duduk menatap Diana yang sudah mengepel rumah, tapi pel terbang ke atas, balik lagi ke tangannya seperti penari.


Melihat tingkah Diana, Tika ikut-ikutan membawa kemoceng melakukan hal yang sama sambil berlarian.


Langkah kaki Susan berlari terdengar, kejar-kejaran bersama Diana diikuti oleh Atika. Anggun yang masih di kursi roda hanya bisa teriak meminta semuanya tenang.


"Mommy awas." Diana berlari kencang saat melihat sapu terbang di atas Anggun.


Aliya berteriak kuat, menendang sapu kuat menghantam kepala Kenan dan Dika yang sedang menarik koper.


Altha dan Dimas sudah menunduk, melihat Dika tergeletak mengusap kepalanya.


Atika mengusap dada, dirinya terlalu kuat melempar sapu sampai melayang tinggi dan hampir melukai Anggun.


"Ah ... kepalaku. Mau pulang saja, bisa mati muda aku di sini." Dika mengusap kepalanya yang sudah benjol besar membuat semua orang tertawa.


"Aku juga pamit pulang, tidak ingin gegar otak di sini." Kenan meninggalkan koper langsung lari mengejar Dika yang sudah marah-marah di luar rumah.


Diana sudah menghilang melarikan diri, hanya tersisa Tika yang memegang sapu pel, juga kemoceng.


Tatapan tajam terarah kepadanya, Tika menjatuhkan semua alat perang langsung berlari pergi mengikuti Susan dan Diana yang sudah menghilang.

__ADS_1


"Ini akibat kak Dimas terlalu memanjakan Diana, dia sudah besar tingkahnya seperti anak kecil." Al menatap tajam menendang sapu, langsung duduk di sofa.


"Kenapa kamu marah sama kak Dimas? Diana memang seperti itu tingkahnya, usia saja yang dewasa tingkahnya anak umur lima tahun." Dimas mengambil sapu, menyerahkan kepada Altha.


Anggun mendekati Atika yang terlihat sensi dan mudah marah, hal sekecil apapun bisa membuat Al mengamuk.


"Kenapa kamu Al? ada yang menggangu pikiran kamu?" Anggun memberikan minum, meminta Aliya menahan dirinya.


Al hanya menggeleng, kepalanya hanya pusing melihat keributan. Membutuhkan suasana tenang.


"Mami, Tika boleh beli es krim?" Atika mencium Aliya yang langsung memeluk putrinya.


Aliya berteriak kuat saat Tika mengigit punggungnya, Altha langsung menarik Tika yang membuat Aliya menangis.


"Kenapa mengigit Mami?" Alt sampai kaget melihat Aliya menangis histeris.


"Tika gemes sama Mami, pengen gigit." Senyuman Tika terlihat, memeluk Maminya.


Diana muncul memberikan Aliya es krim agar berhenti menangis, Al langsung mengambil dan mencoba es krimnya.


"Maafkan Tika ya Mami."


"Tidak boleh seperti itu lagi ya Tika?" Alt memperingati Atika agar tidak menyakiti Maminya.


"Boleh ya Papi, Tika suka menggigit Mommy." Tangan Tika memohon, mencium Aliya berkali-kali.


Altha menepuk jidat, Tika boleh mengigit dirinya asalkan jangan Aliya yang selalu menangis jika disakiti.


"Tika suka gigit Mami, kalau Papi pahit." Suara Tika tertawa terdengar, mengambil es krim Aliya dan menukar dengan punyanya.


Al hanya bisa pasrah, membiarkan putrinya mengambil miliknya yang masih banyak, sedangkan Tika menyerahkan miliknya yang sisa sedikit.


"Minta lagi." Al mengambil punya Diana yang masih sibuk mengoceh tanpa sadar es krimnya hilang.


"Diana, kamu mengambil uang Daddy ya?"


"Emh ... sepuluh lembar bayar es krim sosoknya untuk sedekah." Diana hanya senyum menunjukkan giginya, Dimas menarik nafas panjang menahan diri.


"Keluarga gesrek." Altha hanya bisa menggelengkan kepalanya.


***

__ADS_1


FOLLOW IG VHIAAZAIRA


__ADS_2