ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
DISERANG


__ADS_3

Kepergian Genta tidak diketahui banyak orang, hanya Gemal Diana dan Aliya Altha. Demi keamanan agar rahasia tidak terbongkar, dan tidak menimbulkan kecurangan, apalagi perginya membawa Rindi.


"Ada apa Mami?" Juna masuk ke dalam ruangan yang berisikan beberapa orang.


"Jun, bukannya kamu ada perkejaan bersama Hendrik soal penelitian?" Di tersenyum melihat Juna yang muncul dengan wajah binggung.


Kepala Juna mengangguk, meskipun dia tidak tahu harus menanggapi apa? Juna tidak memiliki jadwal ke luar negeri.


"Oke, kalian berlima yang pergi." Gemal menatap Shin, Genta, Atika, Juna dan Rindi yang manis mengorok tidur.


Jari telunjuk Juna menunjuk ke arah dirinya sendiri, tidak ada alasan bagi Juna untuk pergi bersama.


"Kak Juna harus tahu, Om tua dan Shin saudara kandung." Tika menatap masih kesal, melihat ekspresi Kakaknya yang biasa saja lebih kesal lagi.


"Kamu sudah tahu Jun?" Altha hanya bisa tersenyum melihat Putranya yang diam-diam tahu segalanya.


"Astaghfirullah Al azim, Kak Juna juga tahu." Tika merengek memeluk pinggang Maminya.


"Arjuna orang pertama yang tahu," Genta tersenyum melihat Juna yang memijit pelipisnya.


"Kenapa Juna harus ikut?"


Aliya menatap Shin dan Tika yang harus dijaga, belum lagi keberadaan Rindi yang mengalami gangguan kejiwaan. Terlalu berat bagi Genta jika harus menjaga tiga wanita.


Al memutuskan Juna pilihan terakhir, Tika dan Shin dua wanita yang memiliki emosi sulit dikendalikan, sedangkan Rindi bisa saja mencelakai siapapun tanpa tahu rasa, demi menghindari kekacauan Arjuna diwajibkan ikut.


"Mi, kenapa wanita gila harus ikut?"


"Kalian membutuhkan dia Juna, Rindi memiliki kekurangan juga kelebihan yang bisa menguntungkan juga merugikan kalian, tergantung cara kalian memperlakukannya." Diana menjelaskan karakter Rindi yang dia ketahui.


Juna hanya bisa geleng-geleng kepala, binggung cara menolak. Kemapuan bela diri Shin dan Tika jauh di atas dirinya, sedangkan satu wanita gila hanya akan mengganggu ketenangan Juna.


"Bagaimana Jun?"


"Baiklah, tapi tolong jangan menganggu." Juna menatap Tika, Shin dan Rindi yang masih tidur.


Senyuman Gemal terlihat, keberangkatan dilakukan subuh. Penerbangan pagi karena bergabung dengan kelas bisnis, posisi duduk juga diberikan jarak agar tidak menimbulkan kecurigaan.


Genta melihat ke arah Rindi, melirik Adiknya Shin untuk mengurus Rindi karena Genta takut jika dicium lagi.

__ADS_1


"Kak Juna jaga Rindi, soalnya Dokter harus menjaga pasien." Tika tertawa memeluk lengan Kakaknya.


"Rindi bersama aku, Kak Gen dan yang Tika. Juna sendirian." Shin menatap Rindi yang masih saja tidur.


Mata Rindi terbuka, melihat Shin yang memaksanya untuk bangun. Diana duduk memperingati Rindi untuk menurut kepada Shin, jika dia ingin selamat dan bisa melihat Papanya.


Kepala Rindi mengangguk karena takut dengan Diana, dia akan menuruti perintah Shin tanpa penolakan.


Dua mobil melaju pergi menuju bandara saat tengah malam, Juna berhasil mendapatkan penerbangan lebih cepat dan aman untuk mereka.


"Ayang, kita mau bulan madu?" Rindi keluar dari mobil, terlihat sangat bahagia bisa bertemu Juna.


Senyuman Genta terlihat, mengusap dadanya karena selamat dari pengejaran Rindi. Atika sudah cengengesan melihat Rindi yang menyentuh baju Juna.


"Kenapa kamu bergelantungan di baju?" Juna menatap kesal."


"Kita suami istri,"


"Jangan paksa aku berbuat kasar, sadarlah. Wanita terhormat dia yang tidak mengejar laki-laki, jika kamu ingin dihormati maka jauhi aku." Mata Juna menatap tajam, menepis bajunya.


Shin yang melihat kekesalan Juna menjadi tidak enak, ucapan Juna seakan-akan menyindir dirinya. Shin jauh lebih lama menyukai Juna sebelum Rindi, berarti Shin bukan wanita yang pantas Juna hormati.


Wajah Rindi terlihat sedih, mengikuti Tika yang merangkulnya untuk menenangkan. Juna memang sangat sensitif kepada wanita yang tidak disukainya.


"Sudahlah, nanti aku Carikan suami baru." Tika tertawa mengusap kepala Rindi yang sudah menangis.


Senyuman Genta terlihat menatap Tika yang memahami perasaan Rindi, bahkan menjelekkan kakaknya sendiri demi memuji Rindi yang sedang bersedih.


Di dalam pesawat cukup ramai, Atika duduk bersama Rindi disebelahnya ada Genta. Juna berada jauh dari mereka begitupun dengan Shin yang memilih menyendiri.


"Shin, kamu duduk di dekat Tika, di sini banyak laki-laki." Genta mengusap kepala Adiknya yang memejamkan mata.


"Tidak apa Kak, lagian sudah setengah jalan. Shin bisa jaga diri." Senyuman Shin terlihat, meminta Kakaknya kembali.


Genta menatap Tika yang tidak tidur sama sekali, berbeda dengan Rindi yang sudah lama terlelap.


"Apa yang kamu pikirkan Tik?"


"Tidak ada, aku hanya ingin kita cepat sampai." Senyuman Tika terlihat, memejamkan matanya meksipun tidak bisa tidur.

__ADS_1


Arjuna juga hanya diam sambil mendengar musik, ada beberapa pria yang mulai membicarakan wanita cantik.


Perhatian beberapa lelaki melihat ke arah Shin yang duduk bersama pria asing, Shin hanya diam saja meskipun menyadari menjadi pusat perhatian.


Mata Shin terbuka melihat pria di sampingnya masih tidur, namun tangannya menyentuh dan meremas paha Shin. Cepat Shin menepis tangan yang tidak sopan.


"Permisi Nona, pria di belakang meminta Nona pindah ke sampingnya." Seorang remaja tersenyum melihat Shin yang berdiri.


Cepat Shin melangkah ke belakang, melihat sebelah kursi Juna kosong. Senyuman Shin terlihat, duduk di samping Juna yang jauh dari pusat perhatian orang.


Shin melihat ke arah Juna yang masih memejamkan mata, earphone ada ditelinga. Sikap Juna sangat dingin, tapi membuat hati Shin hangat. Tidak ada lagi suara yang membicarakan dirinya.


Akhirnya Shin bisa tidur dengan tenang, merasa aman bisa tidur di samping suaminya.


Suara berisik terdengar, Juna membuka matanya yang sempat tertidur. Melihat Shin yang tidur memeluk lengannya.


"Ada apa?" Juna langsung berdiri, melihat ke depan ada orang meninggal. Pesawat langsung mencari tempat pemberhentian darurat.


"Kak Juna, korban secara tiba-tiba meninggal." Tika menatap Rindi yang memeluk lengannya, sedangkan satu tangannya ada dalam genggaman Genta.


"Shin ...." Arjuna melihat sekitarnya, langsung melangkah cepat kembali ke tempat duduknya melihat Shin yang memalingkan wajahnya.


Atika, Genta dan Rindi melihat ke arah Shin, Juna meminta ketiganya kembali dan tetap tenang. Biarkan korban yang meninggal.


Juna duduk kembali, menatap Shin yang gemetaran. Tangan Juna menarik pergelangan Shin yang sudah penuh darah.


"Aku baik-baik saja,"


Juna hanya diam, membuka luka yang terlihat seperti adegan bunuh diri. Juna menutup menggunakan jaketnya, menarik tangan Shin untuk masuk toilet.


Di dalam toilet wajah Shin sudah pucat, Juna mengobati dengan cepat untuk menghentikan pendarahan.


"Mereka mengetahui pergerakan kita, aku semakin mengkhawatirkan Mama dan Papa."


"Pikirkan saja diri kamu sendiri, mereka hampir membunuh kamu dengan aksi bunuh diri." Juna membantu Shin berdiri untuk kembali ke tempat duduk.


Saat pintu terbuka, seseorang menggunakan senjata ada di depan pintu. Shin mendorong Juna ke belakang sampai terjatuh, sedangkan Shin sudah adu kekuatan untuk saling menjatuhkan senjata.


Kepala Shin menghantam mata pelaku sampai benda tajam jatuh, Juna berusaha menahan tangan Shin untuk tidak mengejar.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2