ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
DEBAT HARTA


__ADS_3

Pembicaraan soal hubungan Hendrik di akhiri karena sudah mendapatkan restu dari semua keluarga. Rencana kapan keduanya melangsungkan pernikahan, hanya Hendrik yang berhak memutuskan.


Sudah larut malam, Papa Calvin berjalan bersama Shin dan Genta ke ruangan Kakek Ken yang sudah lama tidak dikunjungi.


"Papa ingin menunjukkan sesuatu kepada kalian berdua, anggap saja ini kenangan dari Kakek." Pintu ruangan terbuka, Shin memeluk lengan Kakaknya merasa ragu untuk masuk.


Senyuman Genta terlihat, meyakinkan Shin untuk melangkah bersamanya. Tidak ada yang perlu Shin takuti selama Genta masih bernapas.


"Sudah lama ya Gen tidak masuk ke sini? Papa rasa kamu lebih sering ada disini dibandingkan Papa." Senyuman Papa Calvin terlihat, duduk memperhatikan ruangan Kakek Ken yang masih tertata rapi.


Foto keluarga juga masih terpajang di ruangan, Shin hanya tersenyum mengagumi sosok Kakek Ken dan istrinya.


Papa Calvin membuka sebuah bungkusan besar, meminta Genta dan Shin mendekatinya.


"Apa ini Pa?"


"Bukalah, kamu lihat sendiri." Papa Calvin melangkah keluar ruangan, membiarkan Shin dan Genta hanya berdua.


Genta tersenyum menatap adiknya, membuka bungkusan yang menutupi sebuah bingkai besar. Sesaat Genta terdiam, tangannya meraba-raba foto Mama dan Papanya juga dirinya saat kecil.


Foto keluarga yang tidak pernah Genta lihat sebelumnya, dirinya tertawa dalam gendongan Papanya, sedangkan Mamanya tersenyum sambil memeluk perut besarnya yang sedang mengandung Shin.


Wajah Genta melihat ke arah lain, mengatur napasnya agar bisa mengendalikan diri juga menguatkan hatinya untuk tidak bersedih.


"Papa, Mama. Ini foto Papa sama Mama, ini Kak Genta dan Shin masih dalam kandungan." Air mata Shin menetes, mengangkat bingkai foto langsung memeluknya.


Suara tangisan Shin terdengar, Genta merangkul Adiknya untuk tidak menangisi kepergian kedua orangtuanya.


"Pa, sekarang Shin sudah besar. Mama apa kabar?" Air mata Shin tidak terbendung menetes di atas bingkai foto yang diambil tersisa.


Mata Genta melihat ke arah surat, Kakek Ken meninggalkan sebuah alamat yang suatu hari harus Genta kunjungi. Di dalam surat ada permintaan maaf dari Kakek Ken yang belum bisa membahagiakan Genta.


Sebuah penyesalan karena Genta tidak tumbuh sebagian harapan kedua orangtuanya, Papa Genta meninggalkan sebuah amanah jika ingin melihat Putranya menjadi orang bisa menjaga nama keluarga.


Sejak kepergian kedua orang tua Genta yang secara tiba-tiba, Kakek Ken terpaksa mengubah identitas Genta menjadi bagian dari Leondra demi keamanan Genta.


Kasus kematian kedua orangtuanya tetap misteri yang belum terpecahkan, terlalu banyak orang yang menutupi kecelakaan sehingga siapapun yang mencoba menyelidiki kasus pasti celaka.

__ADS_1


Keselamatan Genta segala-galanya bagi Kakek Ken, dia tidak bisa mengatakan kepada Genta jika memiliki seorang adik yang tidak pernah tahu keberadaannya, mungkin sudah meninggal atau hidup dalam penderitaan.


Nama keluarga Genta dihilangkan, dan Kakek Ken meminta Genta tidak pernah membawa nama keluarganya.


"Genta cukup tahu siapa orang tua dan adik Genta Kek, sebesar apapun kekayaan yang diperebutkan harta Genta bisa menjaga Shin." Senyuman Genta terlihat, mengusap kepala Adiknya.


Kecelakaan kedua orang tua mereka tidak sepenuhnya ada sangkut pautnya dengan Lian, tapi perebutan kekuasaan antar saudara sehingga Genta diasingkan, dan status kelahiran Shin juga dilenyapkan.


"Ini alamat apa Kak?"


"Mungkin tempat tinggal kita dulu, nanti kita ke sana untuk mengenang Mama dan Papa. Mulai sekarang jangan terlalu bersedih, Shin punya Kak Gen." Pelukan Genta sangat lembut, mengusap kepala Adiknya.


"Jangan pernah meninggalkan Shin Kak, jangan pernah terluka. Shin tidak ingin dipisahkan lagi." Pelukan Shin sangat erat, takut kehilangan Kakaknya.


Kepala Genta mengangguk, berjanji tidak akan pernah meninggalkan dan selalu menjaga Shin sampai menemukan pendamping hidup.


"Kak Gen, ada hubungan apa dengan Tika?"


"Hubungan? tidak ada apapun." Genta memasukkan kembali foto orang tuanya ke dalam bungkusan.


"Kak Genta punya pacar? atau wanita yang spesial?"


"Tidak ada Shin, Kak Genta tidak punya waktu untuk hal seperti itu." Genta mengacak-acak rambut Adiknya yang tertawa kecil.


"Kak Gen harus mulai mencari pacar, usia sudah tidak muda lagi. Shin ingin punya keponakan." Tangan Shin menimbang bayi, berharap Kakaknya memahami tujuannya.


"Aku masih muda Arshinta, kita baru saja bertemu. Kak Gen ingin menghabiskan banyak waktu bersama kamu." Genta melangkah keluar ruangan diikuti oleh Shin karena mereka akan menuju ke rumah kedua orangtuanya.


Shin meminta Genta menunggunya di mobil, ada barang yang harus Shin bawa sebelum pergi.


Tangan Shin menarik Tika yang matanya masih tertutup, Tika semalaman begadang melakukan sesuatu yang tidak diketahui oleh siapapun.


"Ke mana Shin? aku baru tidur lima menit." Tika menatap tangannya yang menunjukkan lima jari.


"Kita pergi bersama Kak Genta ke rumah lama." Shin teriak kaget mendengar teriakan Tika karena wajahnya tanpa riasan.


Suara Tika mengumpat terdengar, memukuli Shin yang sudah tertawa lepas melihat Tika menutupi wajahnya.

__ADS_1


Genta menjalankan mobilnya, hanya tersenyum kecil mendengar pembicaraan dua sahabat yang tidak pernah habis ceritanya.


Tika menggunakan paha Shin sebagai bantal, sedangkan tangan Shin mengusap kepala Tika yang terpejam.


"Kenapa kamu membeli restoran yang hampir bangkrut? bukannya itu merugikan." Tika mengingat restoran tempat makan kesukaan Rindi.


"Kamu tahu sendiri, mimpi aku memiliki seribu restoran di penjuru dunia. Salah satunya tempat makan kemarin, karena ke manapun Tika pergi dia akan menemukan tempat makan favorit." Shin tersenyum melihat Tika yang memeluk pinggangnya erat.


"I love you Shin, aku memang hanya bisa makan resep dari Arshinta musuhnya Atika."


"Dan aku bahagia jika kamu bisa mengunjungi semua restoran, apalagi melakukan investasi." Tawa Shin terdengar sangat bahagia.


Tika menjambak rambut Shin yang akhirnya tetap soal uang, meksipun memiliki banyak kekayaan, tidak peduli sahabat keduanya tetap perhitungan.


"Shin, kamu tahu jika Rindi memiliki kekayaan yang banyak?"


"Pastinya, dia Putri tunggal seorang mafia yang berkuasa pada masanya. Kemungkinan dia juga mempunyai segudang emas." Shin memikirkan lokasi kekayaan Rindi.


"Kita harus baik kepada Rindi, demi emas. Tika harus tahu berapa banyak kekayaan Rindi, siapa tahu kita bisa bagi tiga." Senyuman Tika terlihat, menghayal kekayaan.


Tawa Shin terdengar, memikirkan cara agar Rindi mengatakan lokasi atau surat-menyurat kekayaannya sehingga mereka tidak harus bekerja lagi.


"Pembicaraan kalian berdua hanya membuat dosa, buat apa menghitung kekayaan orang?" Genta geleng-geleng kepala.


"Tentu ada untungnya, Rindi gila. Dia hanya membutuhkan cinta, maka hartanya bisa dibagikan untuk Tika dan Shin. Om tua juga mau, kita bagi tiga."


"Terima kasih Tika, aku tidak membutuhkan kemewahan."


"Om tua munafik, cinta tidak butuh, harta juga tidak ingin. Lalu Om maunya apa? segala sesuatu di dunia ini membutuhkan uang." Tika menatap sinis Genta yang menatapnya sinis.


"Aku hanya membutuhkan keutuhan keluarga, karena mereka harta yang tidak ternilai harganya."


"Gaya Om, seperti punya saja calonnya!" Tika memalingkan wajahnya tidak ingin melihat Genta.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2