
Pelan-pelan Genta juga meletakkan istrinya di atas ranjang. Tendangan kaki Tika menghantam perut membuat Genta meringis kesakitan sampai terduduk di lantai.
Tangan Genta memegang perutnya yang sakit, saat tidur saja tendangan Tika seperti tendangan maut.
Senyuman Genta terlihat, mencium kening Istrinya langsung berjalan ke kamar mandi. Cukup lama Genta berendam melepaskan penat.
"Yang, Tika ingin buang air kecil." Ketukan pintu kamar mandi terdengar memasukkan kepalanya.
Tawa kecil Genta terdengar, berjalan keluar membiarkan Tika masuk dan menunggunya di luar.
"Yang, temenin." Wajah cemberut terdengar, bergelantung di lengan.
Kepala Genta mengangguk, berdiri di depan pintu. Wanita sekuat Tika takut ke kamar mandi sendirian, sungguh tidak bisa Genta percaya.
Setelah selesai keduanya keluar, Genta memeluk Tika dari belakang merasakan tubuh hangat istrinya. Rambut Genta masih basah, Tika mengacak-ngacak mengeringkan air.
"Yang, Tika bahagia sekali melihat Shin menerima Kak Juna, Tika bahagia Kak Hana menemukan kebahagiaan baru. Berharap kebahagiaan ini selamanya, dan tidak ada kesedihan." Senyuman Tika terlihat menyentuh rambut suaminya.
"Ayo tidur,"
"Yang,"
Kepala Genta menoleh, menyambut tubuh istrinya yang lompat ke dalam pelukan. Di atas tempat tidur, Tika berada di atas tubuh suaminya sambil dipeluk erat.
Sentuhan Genta lembut, menyentuh kepala Istrinya yang begitu baik terhadap sekitarnya. Tika tidak bisa bahagia sendiri saat Shin terluka, merasa bersalah juga kepada Hana yang dikecewakan.
Kebahagiaan Tika seakan terhambat jika dia bahagia sendiri, Genta belum memahami sepenuhnya istrinya. Banyak hal yang tidak dipahami, tapi begitulah istimewanya Tika.
"Sayang, jika ada masalah berbagilah. Aku ingin menjadi pilar untuk menopang kebahagiaan keluarga kecil kita." Pelukan Genta semakin erat, memanjakan istrinya.
"Maafkan Tika Yang, terbiasa meyelesaikan masalah sendiri, dan secara diam-diam. Hanya Shin tempat berbagi, melihatnya seperti itu Tika kehilangan akal sehat." Kepala Tika terangkat mengigit bibir suaminya yang memegang bibirnya karena sakit.
"Sakit, tadi ditendang sekarang main gigit." Tubuh Tika langsung dibalik karena mengigit tubuh Genta secara habis-habisan.
Suara teriakan keduanya terdengar, tawa Tika terdengar membuat Genta yang memegang tubuhnya kuat.
"Kamu pikir lebih kuat dari aku? Tika gigitan kamu sakit sekali,"
Sekuat tenaga Tika menarik tangannya agar terlepas, tapi upayanya sia-sia. Genta terlalu kuat, dan tidak bisa dibandingkan dengan tenaga Tika meksipun sama-sama kuat.
Senyuman Genta terlihat, mengejek istrinya yang memohon dilepaskan. Sekalipun sudah berjanji tidak akan mengigit lagi.
__ADS_1
"Tika, aku harap Putriku tidak nakal,"
"Jangan harap Genta, dia mungkin akan membuat darah kamu terus mendidih hingga stres dan gila." Tika menatap sinis.
"Emh ... meksipun begitu aku mencintainya." Pelan-pelan bibir Genta mendekati Tika, tapi cepat Tika berpaling menolak untuk dicium.
Tangan Tika dilepaskan, Genta langsung memejamkan matanya menghormati keputusan Tika yang belum ingin disentuh.
"Yang, Tika menginginkan anak cowok,"
Sesaat Genta terdiam, anak perempuannya saja sulit diatur apalagi jika anak laki-laki. Pastinya bukan hanya darah Genta yang mendidih, tapi rumahnya terguncang setiap hari.
"Ya, cowok juga oke." Senyuman Genta terlihat terpaksa, hanya bisa banyak berdoa lebih mirip dirinya daripada Tika.
"Yes, anak cowok nanti ganteng seperti Papanya, nakal seperti Mamanya." Senyuman Tika sangat lebar langsung bersemangat untuk membuat anak laki-laki.
Mata Genta langsung terpejam, berpura-pura tidur, menghindari Tika yang sudah mulai bicara ngelantur soal anak laki-lakinya.
Pukulan Tika mendarat, menatap suaminya yang berpura-pura tidur. Suara Tika menangis terdengar menangis karena menahan sakit.
"Kenapa?"
'"Dada Tika kena pukul, sakit." Kedua tangan Tika menutup dadanya, yang dipukul oleh tangannya sendiri.
Genta baru menyadari jika baju Tika terbuka, menarik selimut menutupi belahan dada yang terlihat putih.
"Bagaimana bisa memilikinya jika Ayang menghindar?"
"Bukan menghindar, tapi tidak terbiasa melihatnya. Tik, kenapa kita dari tadi berdebat saja?"
"Makanya sekarang ayo cepat bergerak, daripada banyak bicara!" Tika berteriak membuang selimut.
"Bergerak ke mana?" Genta mengusap punggungnya yang mendapatkan pukulan kuat.
Kedua tangan Tika meraba tubuhnya, Genta sampai merinding geli menyaksikannya. Cara Tika menggoda tidak menarik sama sekali, Genta bahkan takut dengan gerakan tangan Tika.
"Cepatlah Ayang, capek Tika menunggu berbulan-bulan tidak pernah disentuh. Apa kurangnya Tika? cantik sudah, putih iya, body seksi apalagi, dada saja yang kurang besar. Ayolah di raba-raba." Tika menahan tawanya melihat ekspresi suaminya.
"Perasaan body kamu rata." Genta menutup mulutnya keceplosan.
Mata tidak langsung menatap tajam penuh kegelapan, cepat Genta memeluknya memuji istrinya yang sangat cantik, body seksi dan dadanya lumayan.
__ADS_1
"Astaghfirullah Al azim, Tika baru ingat,"
"Apalagi sayang? kamu bulanan lagi. Jadi malam ini gagal lagi?" Genta langsung berguling-guling lemas.
"Mami meminta kita mempersiapkan pesta pernikahan secara bersama,"
"Astaga Tika, itu tidak penting." Tangan Genta menarik istrinya untuk masuk ke dalam pelukan.
Kaki Genta menarik selimut, menutup tubuh keduanya. Baju Genta sudah terlempar di lantai, membuka baju seksi Tika yang juga melayang dilantai.
Sentuhan bibir Genta terasa di tekuk leher Tika yang merasa nyaman, tangan Tika juga memeluk tubuh suaminya yang ada di atasnya.
Suara ketukan pintu membuat keduanya menoleh ke arah yang sama, saling pandang dan mendengarkan ketukan semakin kuat.
"Yang,"
Mulut Tika ditutup oleh Genta, memintanya untuk diam. Rasa penasaran Tika tidak bisa membuatnya fokus begitupun dengan Genta.
Tangan Genta meraih ponselnya, turun dari atas tubuh Tika mengecek rekaman CCTV yang berputar ke arah kamarnya.
"Siapa dia?" Genta mengerutkan keningnya.
"Apa yang dia lakukan?" Tika menatap wajah suaminya.
Selesai mengetuk kamar Tika dan Genta lanjut berjalan ke lantai atas. Genta pindah ke CCTV yang lain melihat seorang wanita mengetuk kamar Juna dengan sangat kuat.
"Apa ada orang normal yang masuk ke rumah orang pukul satu dini hari?"
"Ada sayang, itu buktinya,"
"Dia gila, Yang. Jika orang punya akal sehat tidak mungkin bertamu, wilayah rumah kita ini termasuk dijaga ketat." Kepala Tika geleng-geleng, melihat pintu kamar Shin tidak bergerak.
"Mungkin dia pasien Juna? kita abaikan saja. Terserah dia ingin melakukan apa? sekalipun mencuri, setidaknya jangan menganggu malam pertama kita." Genta melemparkan ponselnya ke sofa.
Tawa Tika terdengar, apa yang terjadi di kamar Shin sehingga tidak ada yang keluar padahal pintu digedor sangat kuat hampir menghacurkan pintu.
"Bisa kita lanjut nyonya Genta?"
"Silahkan tuan muda Genta yang tersayang." Ciuman Tika menyentuh bibir suaminya.
Suara barang jatuh terdengar, Tika dan Genta langsung tertawa mencoba konsentrasi dan mengabaikan yang diluar.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira