
Pintu dibuka dengan kuat, beberapa senjata di arahkan ke kamar hotel yang terlihat berantakan. Suara teriakan seorang wanita tanpa busana terdengar.
Tangisan dan mohon pengampunan sampai sujud, Al menarik selimut langsung melemparkan kepada wanita malam yang habis dipukuli.
"Di mana Hariz?" Dimas mengeledah isi kamar, tidak menemukan keberadaan Hariz yang sedang bermalam bersama seorang perempuan.
"Dia sudah melarikan diri." Al langsung berlari, melangkah mengejar dua orang yang melewati mereka mengunakan baju penyamaran.
Dimas yakin pasti ada seseorang yang membawa Hariz untuk keuntungan pribadi, Dimas meminta wanita menggunakan baju dan mengikutinya untuk di interogasi.
Di luar hotel, Aliya tersenyum menatap Hariz yang menatapnya tajam. Hariz tidak mengenal Al dan ini pertemuan pertama mereka.
"Tolong lepaskan saya, bantu saya untuk melarikan diri." Tangan Hariz memohon.
"Tidak semudah itu, aku tidak perduli urusan kamu dengan bisnis yang di jalani, lakukan perintahku maka kamu akan mendapatkan keuntungan." Al tersenyum menatap Kenan dan Dika.
Hariz tidak punya pilihan langsung masuk ke dalam mobil mengikuti Aliya, langsung berbicara berdua tanpa ada yang tahu apa yang Aliya inginkan.
Senyuman Al terlihat mendengar penjelasan Roby, meminta Kenan dan Dika mengikutinya untuk menjauhi hotel karena Altha sedang melakukan pengejaran.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, melewati Altha yang meminta mobil berhenti. Al meminta maaf dalam hati, karena harus mengambil keuntungan.
Mobil berhenti di bandara, Al meminta Hariz keluar dan meninggalkan begitu saja. Matahari sudah bersinar, Aliya tersenyum berjalan ke arah apartemen seseorang.
"Tempat siapa ini Al?"
"Seseorang yang harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan AT grup, aku tidak ingin hanya karena manusia sampah sebuah bisnis keluarga hancur." Al melangkah memasuki lift sambil tersenyum.
"Sejak kapan kamu perduli Al?" Kenan menatap tajam Aliya, memungkinkan Al sudah mulai jatuh cinta dengan suaminya.
Aliya tertawa, dirinya tidak akan pernah jatuh cinta, dirinya hanya ingin menjamin anak-anak tirinya tidak merasa apa yang dia rasakan untuk bertahan hidup dalam keluarga berantakan.
Pintu apartemen diketuk, Al menguap besar bertepatan dengan pintu terbuka. Citra kebingungan melihat Aliya datang, karena tidak banyak yang tahu letak apartemennya.
Al langsung masuk begitu saja, melemparkan map di atas meja. Kenan dan Dika langsung duduk tanpa dipersilahkan.
"Apa yang kalian inginkan? anak-anak kurang ajar." Citra meminta ketiganya keluar dari apartemen.
__ADS_1
"Baca saja map itu, kamu akan tahu apa yang terjadi." Al langsung melangkah ke kamar untuk mandi, kepalanya mulai pusing karena lelah.
Citra mengambil map langsung membaca isinya tanpa ada pertanyaan, Kenan memperhatikan wajah Citra yang terlihat sangat terkejut.
"Kamu wanita yang sangat cerdas, sehingga membaca dan memahami baru bertanya." Tangan Kenan bertepuk pelan.
Sampai Aliya selesai mandi, Citra langsung menatapnya. Panggilan dari nomor tidak dikenali masuk, Al meminta semuanya untuk diam dan tidak mengeluarkan suara.
Suara teriakan Atika terdengar, melakukan panggilan video bersama Aliya. Dirinya menangis karena bajunya tidak ditemukan, Al mengaruk kepala meminta baby sister mencarinya.
[Jangan menangis sayang, masih punya banyak waktu untuk pergi sekolah. Cari perlahan.]
[Mami cepat pulang, Tika tidak suka sama dia Mami.]
[Saat kamu pulang sekolah, Mami sudah ada di rumah jadi jangan nakal. Oke.]
[Mami janji, jemput Tika pulang sekolah.]
Aliya tersenyum menganggukkan kepalanya, berjanji akan datang menjemputnya.
Citra meneteskan air matanya, putrinya bisa sedekat itu dengan Aliya yang masih muda juga terlihat kekanakan.
"Kamu melakukan penipuan? bagaimana bisa saham milik Hariz sebegitu banyaknya bisa menjadi milik kamu?" Citra menatap tajam.
Aliya tertawa, pertanyaan bodoh, karena di sini bukan Aliya yang melakukan penipuan tetapi Hariz Purba pemimpi dari King grup.
Hariz mengakui jika dirinya melakukan penipuan atas saham milik Aliya, pengacara Al akan mengurusnya dan membalikkan kepada pemiliknya.
Aliya mengambil setengah dari saham, dan setengahnya dikembalikan kepada AT grup sebagai pihak yang dirugikan.
Al juga memasukan nama Arjuna di dalam pemilik saham, Juna bisa memilikinya disaat dia memasuki usia tujuh belas tahun dan mulai menjalankan perusahaan.
"Kamu membodohi banyak orang?"
"Iya, orang bodoh seperti kalian akan ada di bawah perintah orang cerdik seperti aku." Al tersenyum licik.
"Lalu apa yang kamu inginkan?"
__ADS_1
"Serahkan seluruh saham kamu atas nama Arjuna, jangan pernah ikut campur lagi soal perusahan."
"Aku menolak." Citra menatap sinis, tidak menyukai Aliya.
Al sudah menduganya, sehingga mempersiapkan sesuatu untuk Citra. Jika sampai Citra menolak, dia harus siap dengan tuntutan dari kejaksaan, karena sudah merugikan perusahaan dengan memanipulasi keberadaan pabrik, melakukan pencucian uang dan akan disingkirkan oleh para dewan dari perusahaan.
"Kebenaran kamu orang yang membahayakan perusahaan, setidaknya kamu harus mendekam di penjara selama lima tahun." Al tersenyum memberikan Citra waktu berpikir selama lima menit.
"Kak, kalian urus surat ini dan serahkan kepada kak Anggun. Aliya pergi sekarang."
Citra mengejar Aliya, langsung menahan tangannya ingin melayangkan tamparan, tapi Al lebih cepat menangkap tangan dan mencengkram kuat.
Saat ini Citra bukan hanya kehilangan banyak saham, bahkan keuntungan dari Hariz lenyap tetapi kehilangan anak dan suaminya yang diambil oleh wanita muda yang dia remehkan.
Aliya tersenyum licik, inilah akibatnya jika sampai merendahkan Al. Mungkin dia terlihat hanya wanita bodoh, tapi Al memiliki alasan untuk hidup salah satu alasan menghacurkan siapapun yang menyakitinya.
"Tinggalkan Altha dan anak-anakku."
"Belum saatnya, aku belum mendapatkan keuntungan dari Altha. Permainan baru di mulai Citra, wanita sombong seperti kamu tidak pantas untuk Altha, apalagi kamu tidak bisa menjaga diri sebagai seorang istri." Al menepis tangan Citra, mendorongnya kuat sampai terduduk.
Aliya meminta Citra menyelesaikan urusan dengan Roby soal anak, karena jika Altha tahu keadaan akan semakin buruk.
Pintu Al banting dengan kuat, hatinya kesal mendengar perintah untuk meninggalkan anak-anak, Citra tidak pantas menyebut dirinya ibu.
Melawan seorang Hariz saja takut, mengikuti perintah lelaki tua yang memiliki banyak selingkuhan.
"Kehidupan sungguh konyol."
Al menatap ponselnya, Dimas mengirim pesan kepada Al yang sudah membebaskan Hariz sampai bisa melarikan diri ke luar negeri.
"Maafkan Al, kalian boleh marah. Aku hanya membutuhkan sedikit waktu." Al tersenyum, membiarkan Dimas memarahinya.
Aliya hanya tersenyum, Hariz tidak pernah bebas, tapi dia sedang membawa sesuatu ke tempat awal agar bisa mengakhiri.
Citra benar, sekalipun Altha bisa menangkap Hariz kejahatan akan tetap berjalan, kecuali dengan menghacurkan sampai ke akarnya.
"Selamat datang di bawah genggaman aku Hariz, temui semua orang-orang yang terlibat agar kalian hancur bersamaan." Al bertepuk tangan, sekali tepuk semua lalat mati.
__ADS_1
***